Oleh: Joyo Juwoto
Denting jam menandai terbitnya sang fajar, mega merah merona di ufuk timur, udara masih dingin, suara kokok ayam berpadu dengan lenguhan sapi bersautan dari kandang rumah tetangga. Bu Sulastri baru saja terbangun, matanya masih sayu menandakan kantuknya belum sepenuhnya hilang. Pada malam hari, Bu Sulastri berjualan kopi hingga larut malam, sebelum matahari merekah ia juga harus sudah bangun tidur, bahkan sebelum lelahnya terbayar lunas.
Di sebuah meja kecil, irisan tempe, adonan tepung, irisan wortel, daun kol telah siap menunggu untuk digoreng dijual bersama nasi pecel guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Semenjak Bu Sulastri ditinggal pergi suaminya yang entah ke mana, ia harus berjuang menegakkan tulang punggungnya guna menyangga dapur agar terus bisa mengepul.
Bu Sulastri melangkah menuju dapur, di pojokan di bawah meja ia sorongkan tangannya, ia mengambil tabung LPG berwarna hijau muda, ia goyang pelan, tabung yang bertuliskan hanya untuk masyarakat miskin itu terasa ringan. Saat kompor di atas meja ia nyalakan, api itu redup, dan sebentar kemudian padam. Hati Bu Sulastri sendu. Tabung itu telah kosong.
"Ah, kenapa LPG-nya cepat habis?" gumamnya pelan.
Bu Sulastri masih berusaha meyakinkan dirinya, ia guncang kabupaten tabung itu, ia tata kembali regulatornya, siapa tahu kendor. Kemudian ia coba menyalakan kompor itu kembali, namun usahanya sia-sia, kompor itu tetap tidak bereaksi apa-apa.
"Perasaan baru beli, mengapa sudah habis ya?" keluh Bu Sulastri.
Bu Sulastri menghela napas dalam, ia segera meraih tabung itu kemudian bergegas menuju warung kelontongnya Pak Bakri yang berjarak beberapa depa dari rumahnya. Namun warung Pak Bakri masih tutup, tidak seperti biasanya. Bu Sulastri mengetuk pintu warung sambil mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum, Pak, kenapa warungnya masih tutup? Pak Bakri, saya mau beli LPG!" teriak Bu Sulastri agak gugup.
"Walaikum salam, Bu. Iya, Bu, sebentar saya buka dulu pintunya," kata seorang lelaki paruh baya dari dalam.
"Ini mau beli LPG, sekarang LPG kok cepat habis ya, Pak, tidak seperti biasanya. Baru juga saya beli, eeh... ini sudah habis lagi."
"Wah! Maaf ya, Bu. Persediaan kosong. Ini ada satu juga untuk keperluan masak sendiri. Belum dikirim, ndak tahu kenapa," jawab Pak Bakri.
Hati Bu Sulastri gundah, ia harus segera menyiapkan jualannya, namun nasib malang tak dapat ditolak, stok LPG di pangkalan habis. Ia tak tahu harus mencari ke mana, hari pun mulai beranjak siang.
"Lho, kok habis, lha saya masak pakai apa nanti? Tak mungkin pakai kayu, apalagi mendadak begini," keluh Bu Sulastri pilu.
Pak Bakri pun hanya diam. Dia pun tak bisa apa-apa, jika distributor tidak mengirim dipastikan jualannya juga berhenti. Bu Sulastri kemudian bergegas kembali pulang, hari ini sepertinya ia tidak akan jualan, jika tidak jualan dipastikan tidak ada uang masuk, dan itu artinya ia dan keluarganya harus menahan perihnya perut karena menahan rasa lapar.
Bu Sulastri duduk terdiam di sudut dapur, tak ada bunyi minyak mendidih, tak ada suara piring yang berdenting, tak ada aroma gorengan yang menggoda lidah, sunyi. Bu Sulastri memandangi irisan tempe yang masih mentah, adonan tepung yang tergeletak di wadah, dan juga bumbu-bumbu dapur lainnya yang berserakan di atas meja lusuh.
"Bu, apakah sarapannya sudah matang?" seru salah satu anaknya sambil mengucek mata keluar dari kamar.
"Ibu belum masak, Nak. LPG habis. Kita sarapan nasi sisa tadi malam ya," jawab Bu Sulastri sambil memeluk anaknya yang paling bungsu.
Hari pertama tidak buka warung menjadi hal terberat bagi Bu Sulastri, karena warung adalah satu-satunya harapannya untuk menafkahi anak-anaknya. Hari ini harapannya pudar bagai embun diterpa sinar matahari pagi, belum lagi kerugian yang harus ditanggung karena tempe-tempe yang tidak jadi dijual, apalagi ia tidak punya kulkas untuk mengawetkan tempe-tempe itu. Kalaupun bisa diawetkan rasanya tentu sudah beda, tidak seenak tempe segar.
Bu Sulastri berharap kelangkaan LPG hanya di hari itu saja, namun dugaannya salah. Sore harinya tidak ada truk distributor LPG yang parkir di depan Warung Pak Bakri. Bu Sulastri hafal jadwal kedatangan truk itu, pada jam lima sore menjelang magrib biasanya deru truk itu melewati depan rumahnya.
Biasanya jika truk itu datang, ibu-ibu akan berbondong-bondong untuk membeli LPG. Sore itu suasananya lenggang, tidak ada deru suara truk, tidak ada ibu-ibu yang ngobrol kesana kemari di depan warung Pak Bakri.
"Bu, Ibu, LPG sedang langka, ini di medsos banyak yang upload kabar bahwa LPG langka!" teriak Rani putri sulungnya yang sudah di tingkat SLTA.
"Bahkan ini harganya juga melonjak tinggi, Bu. Ada yang beli dengan harga tiga puluh lima ribu," lanjut Rani heboh.
"Apa betul itu, Nak?" tanya Bu Sulastri pada Rani.
"Ya Allah, kok sampai segitu harganya? Bisa-bisa kita tidak bisa jualan selamanya ini."
Pada esok hari, tersiar kabar dari mulut ke mulut bahwa LPG sedang langka, harganya pun gila-gilaan. HET yang ditetapkan pemerintah delapan belas ribu rupiah, tapi faktanya di pangkalan ada yang dijual dua kali lipatnya, bahkan lebih. Hal ini tentu membuat masyarakat menjadi heboh.
Sejak pagi orang-orang sudah mengantri di sebuah pangkalan di ujung desa, tersiar kabar hari itu LPG akan datang. Antrian sudah mengular panjang, padahal belum jelas kapan truk pembawa tabung gas itu datang.
"Katanya stoknya sekarang dibatasi, jadi kita harus ngantri awal," kata seorang ibu-ibu.
"Wah... bagaimana kalau nanti habis? Sudah capek-capek ngantri ternyata tidak kebagian," sahut ibu yang lainnya dengan panik.
Setelah matahari meninggi, sebuah truk dengan muatan LPG pun datang. Orang-orang mulai gaduh berdesakan, bahkan ada yang sampai bertengkar karena saling mendahului dalam antrian.
"Tenang-tenang, jangan rebutan antrian, masing-masing hanya dapat jatah satu tabung, tidak boleh lebih, karena stok terbatas," kata pemilik pangkalan sambil menenangkan orang-orang yang mulai tak sabar menunggu antrian. Ia khawatir akan terjadi kericuhan.
Bu Sulastri yang baru datang menatap antrian panjang yang ada di depannya. Dia cemas, apa mungkin ia bisa mendapatkan jatah LPG, sedang yang mengantri sangat banyak. Jika hari ini ia tidak dapat LPG itu berarti warungnya akan kembali tutup. Bu Sulastri hatinya merasa sedih.
Satu jam, dua jam, tiga jam, antrian masih juga belum selesai, matahari semakin panas menyengat. Orang-orang mulai ricuh, karena ternyata jatahnya tidak cukup. Pemilik pangkalan pun meminta agar orang-orang segera bubar, karena stok telah habis. Besok kalau ada bisa datang kembali. Orang-orang yang sudah mengantri lama tentu tidak terima, mereka membuat kegaduhan. Suasana menjadi semakin panas.
Bu Sulastri hanya diam membisu, ia tak dapat jatah setelah mengantri berjam-jam lamanya. Ia pun pulang dengan gontai menenteng tabungnya yang masih kosong. Matanya basah, hatinya perih, ini kali kedua tak akan ada lagi pemasukan di dompetnya.
Sesampainya di rumah, Rani adiknya menyambut dengan penuh harap.
"Dapat LPG, Bu?" tanya Rani penuh semangat.
Bu Sulastri hanya diam sambil menggeleng pelan. Guratan kesedihan tampak di wajahnya yang semakin menua.
Hari itu tidak ada gas LPG kembali, Bu Sulastri harus tetap masak untuk anak-anak, ia akhirnya menata tumpukan bata merah di belakang rumah untuk dibuat pawon. Kemudian ia memanggil Rani sulungnya.
"Nak, ayo mencari ranting kayu untuk memasak, di belakang dekat rumpun bambu kayaknya ada ranting kering," ajak Bu Sulastri.
Hari itu Bu Sulastri memasak dengan tungku dari bata merah, hal yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Asap mengepul memenuhi dapur, matanya yang mulai tua memerah karena asap, perih. Tangan dan rambutnya kotor oleh abu, ia menahan napas sambil sesekali terbatuk pelan.
Kabar tentang kelangkaan LPG menjadi berita yang menghebohkan masyarakat, di mana-mana orang-orang sama membicarakan hal itu, di media sosial pun tak kalah ramainya, banyak yang berspekulasi mengapa LPG kok langka. Ada yang mengaitkan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat saat hari raya Idulfitri, ada yang bilang UMKM yang nakal, pangkalan menimbun stok LPG, bahkan ada yang mengatakan ada oknum-oknum yang bermain curang, mengoplos tabung warna hijau dioplos dengan warna pink, dan spekulasi-spekulasi lainnya. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengan kelangkaan ini.
"Kapan situasi kembali normal ya? Idulfitri sudah selesai namun gas LPG masih langka," ujar seorang ibu saat ngerumpi di depan rumah Bu Sulastri.
"Iya, bagaimana ini, warung ku susah seminggu ini tutup, kalau terus berlanjut kita makan apa? Rejekiku hanya dari warung ini," keluh Bu Sulastri.
"Benar, Bu. Saya juga rugi, nggak bisa bikin kue lagi," sambung ibu lainnya.
Ibu-ibu itu saling pandang dalam diam. Wajah-wajah mereka letih penuh kecemasan.
*
Keesokan paginya, warga satu kampung berkumpul di balai desa. Para ibu membawa tabung kosong sebagai simbol protes. Mereka menyuarakan keresahan tentang LPG yang hilang dari pasaran, harga yang melonjak, dan dugaan adanya penimbunan.
Kepala desa menerima mereka dengan wajah serius.
“Kami sudah lapor ke kecamatan,” katanya. “Katanya distribusi dari pusat sedang bermasalah, tapi kami juga akan cek kalau ada penimbunan.”
Hari itu warga pulang dengan sedikit harapan.
Dua hari kemudian, sebuah truk besar masuk ke desa membawa ratusan tabung LPG. Kabar cepat menyebar seperti angin. Semua orang berlari menuju pangkalan.
Bu Sulastri ikut antre lagi, kali ini sejak sebelum subuh.
Ketika akhirnya tabung hijau itu sampai di tangannya, ia hampir menangis.
Ia memeluk tabung itu erat seperti memeluk harta paling berharga di dunia.
Sesampainya di rumah, ia langsung memasangnya ke kompor. Saat knop diputar dan api biru menyala, matanya berkaca-kaca.
Rani tertawa kecil. “Ibu senang banget lihat api.”
Bu Sulastri tersenyum.
“Kalian nggak ngerti, Nak. Kadang kita baru sadar betapa berharganya sesuatu kalau hampir kehilangannya.”
Hari itu dapurnya kembali hidup. Wajan kembali berdesis. Aroma gorengan memenuhi rumah kecil mereka. Anak-anak membantu membungkus dagangan sementara Bu Sulastri menggoreng dengan semangat baru.
Meski pelanggan sempat berkurang karena beberapa hari tutup, perlahan usaha Bu Sulastri kembali berjalan.
Namun pengalaman itu meninggalkan bekas di hatinya.
Kini setiap melihat nyala api biru dari kompor, Bu Sulastri tak lagi menganggapnya biasa. Api kecil itu bukan sekadar nyala untuk memasak. Ia adalah sumber penghidupan, harapan, dan tanda bahwa keluarganya masih bisa bertahan.
Malam itu, setelah selesai membereskan dapur, Bu Sulastri duduk sendiri menatap kompor yang sudah dimatikan. Ia tersenyum kecil.
Di dunia ini, pikirnya, orang-orang sering sibuk mengejar hal besar hingga lupa menghargai hal kecil yang menopang hidup sehari-hari. Padahal bagi orang-orang sederhana seperti dirinya, satu tabung gas bisa berarti makan hari ini, sekolah anak bulan depan, bahkan keberlangsungan hidup seluruh keluarga.
Bu Sulastri menatap langit dari jendela dapur. Gelap malam terasa damai.
Api memang telah kembali menyala.
Namun ia tahu, selama hidup masih sulit dan kebutuhan pokok bisa sewaktu-waktu menghilang, perjuangan rakyat kecil tak akan pernah benar-benar padam.
Bangilan, 10 April 2026
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar