Sabtu, 15 Maret 2014

Ketika Si Jabang Bayi dilahirkan

Bulan Maret 2014 adalah bulan kelahiran putriku yang ke dua. Setelah menunggu jadwal kelahiran yang diberikan bidan dan dari data foto USG yang seharusnya di prediksi lahir tanggal 28 pebruari, namun saat almanak di bulan itu habis si jabang bayi tak kunjung juga lahir. Setelah menunggu satu minggu ke depan tepatnya tanggal 7 Maret buah hatiku disarankan oleh dokter untuk dilahirkan. 

Menurut hasil pemeriksaan USG kelahiran anakku bisa normal namun lebih cenderung ke arah tindakan operasi, karena perkiraan bobot janin sekitar 4.4 Kg, dan kondisi kandungan over air ketuban sehingga jika nekat melahirkan normal dikhawatirkan terjadi pendarahan. Mendengar kata operasi, mendengar kata pendarahan kedua kata tersebut aku timbang-timbang. Melihat riwayat melahirkan anakku yang pertama juga berdarah-darah dan termasuk level sulit maka semua keputusan untuk melahirkan dengan cara apa aku tawarkan kepada istriku. Akhirnya setelah berunding dengan emakku dipilihlah jalan operasi untuk kelahiran anakku yang kedua.

Dengan cara apapun sebenarnya saya tlah siap, begitu kataku kepada istriku dengan tujuan untuk menenangkan dan memberikan motivasi serta suntikan moril agar ia tidak down dengan apa yang menjadi pilihannya. Saat perjalanan ke Ibnu Sina Bojonegoro yang saat itu aku naik sepeda motor, sedang istriku dan emak naik travel tak henti-hentinya aku berdo'a dan memohon kepada Allah akan hal yang terbaik. Keselamatan Ibu dan si jabang bayi yang terpenting, masalah cara biar Allah yang mengaturnya. Seribu jalan menuju Roma, namun hanya ada dua jalan untuk melahirkan, lahir secara normal atau lewat jalan operasi. 

Hari itu adalah hari Jumat, hari yang banyak orang menganggapnya keramat dan do'a pun insyallah mustajab. Dalam perjalanan ke Bojonegoro yang berjarak lebih kurang 40 Km saya menyempatkan diri untuk bermi'raj kehadirat Allah, berhenti dari satu masjid ke masjid yang lain disepanjang perjalan antara Bangilan-Bojonegoro guna berdo'a atas kelancaran proses kelahiran anakku. Ada sebanyak tujuh masjid yang saya singgahi untuk meminta berkah dengan wasilah sholat dan do'a di dalamnya. Begitulah yang jamak terjadi pada diri manusia, energi spiritual seakan menguat ketika ujian datang, dan surut seiring dengan berakhirnya ujian yang menimpanya. Mumpung saat itu energi spiritual saya sedang berada di puncak, Saya berdo'a dan  berharap kelak anak-anakku menjadi generasi yang dekat dengan masjid dan menjadikan bumi yang dipijak menjadi tempat sujud dan lapangan ibadah baginya. 

Tepat pukul 08.00 WIB istriku masuk ruang operasi. Belum sempat selesai nasi bungkus yang aku makan pintu terbuka, ada seorang perawat yang menggendong bayi merah kemudian memanggilku yang memang duduk di dekat ruangan itu. Alhamdulillah bayiku telah lahir dengan selamat. Seorang putri merah yang cantik aku timang kemudian aku adzani, saat itu jam menunjukkan pukul 08.55 WIB. Selang tiga puluh menit kemudian istriku menyusul keluar dari ruangan operasi lengkap dan selesai sudah penantianku.

Jumat, 7 Maret 2014, pukul 08.55 WIB bayi merah dengan berat 4.1 Kg dan panjang 53 Cm terlahir ke dunia di RS. Ibnu Sina Bojonegoro. Semoga menjadi anak yang sholehah. Amien. Jwt

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar