Kamis, 26 Oktober 2017

Pesta Lumpur Sawah

Pesta Lumpur Sawah
Oleh : Joyo Juwoto

Setelah beberapa bulan hujan turun membasahi bumi, tanah-tanah menjadi gembur, petani di kampung-kampung mulai menggarap ladang dan sawah yang sekian waktu menganggur, karena tanah kering kerontang dan mengeras. Tidak ada tumbuhan yang bisa diharapkan dan dapat tumbuh subur di musim kemarau yang panas membara.

Namun kali ini para petani sama sibuk menggarap sawah dan ladangnya, hujan telah turun dari langit mengakhiri kemarau panjang dan menghidupkan tanah-tanah yang mati. Air hujan menjadi berkah yang berlimpah bagi penduduk desa, khususnya petani dengan sawah dan ladangnya yang siap digarap.

Rumput-rumput mulai tumbuh berseri, daun-daun pepohonan mulai menghijau, pohon jati di belakang rumah kakek pun daunnya mulai bersemi kembali, setelah beberapa waktu beradaptasi dengan alam dengan cara menggugurkan diri, agar bisa bertahan di musim kemarau yang panjang. Dahaga kemarau telah usai, dan kini musim tlah berganti.

          Pagi-pagi sekali kakek membawa sapi-sapinya ke sawah, hari itu kakek mulai membajak sawahnya setelah semalam hujan lebat. Saya yang saat itu sedang di rumah kakek, membantu nenek memasak di dapur menyiapkan sarapan pagi. Nanti jika sarapan telah siap, nenek yang akan mengantarkannya ke sawah untuk sarapan pagi kakek di persawahan.

          “Nek, nanti kalau ke sawah Naila ikut ya? pintaku kepada nenek yang sibuk menggoreng tempe di dapur.

“Iya nanti kamu bawa renteng panci sarapan untuk kakekmu yang di sawah” jawab nenek sambil membolak-balikkan tempe yang ada di wajan agar tidak gosong. “Sekalian saja nanti kita sarapan bersama di gubuk.”

“Hore...asyik, nanti saya ajak mbak Agis sama mbak Windi sekalian, ya nek? kataku pada nenek. “ini kan hari libur.” lanjutku.

Nenek mulai mempersiapkan bekal sarapan pagi, membungkusi nasi dengan daun pisang, menyiapkan air minum di botol pastik dan tentu tidak lupa membuat sambel trasi dengan lauknya tempe goreng.

“Semuanya telah siap, ayo kita ngirim sarapan untuk kakek di sawah! ajak nenek sambil memberesi bungkusan yang akan dibawanya ke sawah.

Naila, Agis, dan Windi segera bergegas membantu nenek membawa barang-barang bawaan. Mereka bertiga sangat gembira, di pagi yang sejuk setelah semalam diguyur hujan, matahari bersinar cukup cerah. Sinarnya berkilau kekuningan menyebar menghangatkan suasana.

          Sawah Kakek Naila tidak terlalu jauh, dari rumah hanya dibatasi sungai kecil yang airnya cukup jernih. Namun jika musim penghujan airnya sering keruh, karena sungai itu juga meluap dan menjadi banjir cukup besar. Naila dan teman-temannya juga sering bermain di sungai pada musim kemarau.

          Setelah menyeberangi sungai dan menaiki sebuah tanjakan, sampailah rombongan itu di sawah, di mana kakek Naila membajak sawah. Di pinggir sawah terdapat sebuah gubuk kecil tempat istirahat dari teriknya matahari. Di gubuk itulah mereka meletakkan barang bawaan untuk sarapan pagi.

          “Kakek, ayo sarapan dulu! teriak Naila memanggil kakeknya yang sedang bergelut dengan lumpur bersama sapi-sapi membajak tanah agar gembur. Tanah itu nantinya jika telah siap akan ditanami padi.

          “Sebentar lagi, sekalian ini selesai, biar nanti bisa pindah di kedokan sawah satunya” jawab Kakek Naila sambil terus mengatur sapi-sapi yang menarik bajaknya.

          “Ayo Nel, Gis, kita main lumpur dulu? ajak Windi.

          Kemudian Naila, Agis dan Windi ke tengah sawah menginjak lumpur yang dalamnya sampai betis. Mereka mendekati Kakek yang sedang naik di atas bajak sambil melantunkan aba-aba kepada sapi-sapinya dengan cara ditembangkan.

“Hook..hyaa, hyaa...jak, jak..her..her..howe” suara sang kakek melengking tinggi sambil mengendalikan sapi agar jalannya teratur mengikuti pola yang dibuat oleh kakek.

“Kek, Kek...kami ikut naik bajaknya! Tanpa menunggu jawaban dari kakeknya, mereka bertiga segera naik bajak. Wah, seru ya Win! teriak Agis kegirangan.

Bajak itu terus berjalan dengan pelan ditarik oleh sapi-sapi yang gemuk dan kuat, sekalipun dinaiki tiga anak, sapi itu tidak terasa kepayahan. Sedang kakek turun dari atas bajak, membiarkan cucunya naik dan bermain di lumpur sawah. Mereka bertiga sangat gembira sekali di atas bajak. Melihat lumpur dan air tersibak tergerus gerigi bajak yang terbuat dari kayu jati.

“Gis, lihat itu ada yuyu! tunjuk Naila melihat seekor yuyu berlari menghindari garukan gerigi bajak yang meratakan lumpur-lumpur sawah. Setelah beberapa putar, mereka pun disuruh Kakek untuk turun dan sarapan pagi terlebih dahulu.


“Ayo turun, kita sarapan pagi dulu.” ajak Kakek sambil melangkah menuju gubuk di mana nenek menunggu di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar