Minggu, 21 Oktober 2012

Menjaga Kearifan dan budaya Lokal


 Menjaga Kearifan dan budaya Lokal

                Dalam lingkaran hidup masyarakat Jawa sering diadakan selametan mulai sejak dalam kandungan, terlahir ke muka bumi, menikah hingga menapaki jenjang kehidupan selanjutnya. Selametan banyak memuat simbol-simbol yang kadang kita kesulitan untuk memahaminya. Biasanya upacara-upacara keagamaan/kepercayaan tersebut dilaksanakan dalam rangka menghadapi saat-saat krisis saat genting, gawat, dan penuh dengan marabahaya baik secara fisik maupun batiniah dalam kehidupan seseorang yang dalam istilah antropologinya disebut crisis rites (upacara-upacara waktu krisis) atau rites de passage (upacara-upacara untuk melalui waktu krisis).

                Oleh karena itu masyarakat Jawa memiliki banyak pantangan dan aturan dalam kehidupannya yang kadang-kadang sukar untuk kita nalar dengan akal pikiran kita. Bahkan mungkin sesuatu itu kita anggap remeh dan hanya sekedar mengada-ada saja.

                Namun  wewaler nenek moyang Jawa setelah kita telaah secara mendalam dan bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan modern ternyata apa yang menjadi pamali orang jawa tidak hanya sekedar mitos belaka ada sisi-sisi ilmiah yang kadang belum mampu kita ungkap.

                Karena orang jawa banyak menggunakan simbol untuk membeber kawruh dan ngelmu adiluhungnya kepada anak cucu mereka. Simbol-simbol itu tersembunyi dalam kiasan atau sinamun ing samudana yang hanya mampu ditangkap oleh orang yang landep pikirnya orang yang tanggap ing sasmita.

                Oleh sebab itu seharusnya orang jawa harus njawani dan mengerti hakekat apa yang menjadi ajaran leluhurnya, tidak hanya sekadar ikut-ikutan tanpa mengerti maknanya sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam batinnya.

                Sudah saatnya kita nguri-nguri budaya bangsa kita dan menyelamatkan ajaran leluhur yang edi peni dan adiluhung ini dari kepunahan akibat gencarnya modernisasi yang melanda negeri ini. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati ajaran leluhurnya dan tidak lupa akan jasa-jasanya yang telah mengukir jiwa dan peradapan kita semua. Salam. jwt

Asal Mula Desa Demit Kec. Jatirogo


Asal Mula Desa Demit Kec. Jatirogo


                Dahulu kala ada suatu daerah terpencil yang mana daerah tersebut masuh berupa hutan belantara. Duceritakan suatu ketika ada seorang wali bersama dengan para pengawalnya melewati daerah itu. Tepat pada saat itu datang waktu untuk melakukan sholat dhuhur. Wali itu pun mencari tempat yang dapat digunakan untuk sholat dhuhur. Akan tetapi tidak ada tempat yang layak digunakan untuk sholat, hingga akhirnya salah satu pengawalnya mengusulkan untuk membuka daerah itu menjadi sebuah padepokan. Sang wali pun menyetujui saran dari salah satu pengawalnya itu. Dan saat itu juga dimulailah pembabatan hutan hingga akhirnya menjadi tanah yang lapang yang luas.
                Untuk melengkapi sarana padepokan maka sang wali berfikir untuk mendirikan masjid di tempat tersebut agar kelak dapat digunakan untuk beribadah bersama sekaligus tempat untuk belajar para santri-santrinya. Sebelum proses pembangunan masjid dilaksanakan sang wali akan melaksanakan sholat terlebih dahulu guna meminta petunjuk kepada Allah SWT. Namun ketika akan mengambil air wudlu ia mencari-cari sumber air disekitar padepokan namun tidak menemukan sumber air hingga akhirnya sang wali berjalan ke arah selatan dari padepokannya. Dan ternyata disitu ditemukan sebuah sendang besar, beliaupun menuju ke Sendang itu dan mengambil air wudlu. Pada saat wali mengambil air wudlu beliau merasakan sesuatu yang aneh, air di sendang itu ternyata sangat dingin sekali yang dalam bahasa Jawa disebut“ademe amit-amit”.
                Akhirnya masjid yang direncanakan pun dibangun didekat sendang tersebut. Lama kelamaan daerah itu menjadi ramai dan banyak orang yang sama menetap disana. Hingga akhirnya daerah itu oleh sang wali diberi nama “DEMIT” sebuah nama yang diambil dari sebuah sendang yang airnya dingin sekali atau “ademe amit-amit”. Sendang tersebut masih dapat kita jumpai hingga sekarang di Dusun Demit Kec. Jatirogo.



Dikisahkan oleh :

ULFA ROMADHOTUL FATIMAH Siswi Kelas XII MA ASSALAM Bangilan

Sabtu, 20 Oktober 2012

“ 11 T” Konsep Kejawen Untuk Meraih “Kawruh dan Ngelmu”



“ 11 T”  Konsep Kejawen Untuk Meraih “Kawruh dan Ngelmu”
            Para leluhur kita orang Jawa mewejang bagaimana agar kita mampu meraih kawruh dan Ngelmu guna mengarungi samudra kehidupan dan melanglang jagad gedhe maupun jagad cilik yang telah dibentangkan oleh Tuhan dihadapan kita.
            Salah satunya adalah kita harus menempuh jalan strategi   dengan apa yang disebut “11 T” yakni :

1.      Tekad yang bermakna punya niat untuk melakukan sesuatu yang baik
2.      Teguh adalah gigih dalam mewujudkan niat tersebut
3.      Taat disiplin terhadap apa yang telah kita niatkan
4.      Tabah berarti berani dan sabar
5.      Taberi yang bermakna rajin
6.      Tlaten atau tekun terhadap niat yang telah kita canangkan
7.      Teliti
8.      Tanggen, tahan dan tidak goyah terhadap halangan dan rintangan
9.      Tanggon, memiliki kepercayaan diri yang kuat
10.  Takonan, berani bertanya baik secara lisan maupun dengan banyak membaca
11.  Tirakat atau laku prihatin

Dalam Serat Wedhatama yang ditulis oleh Mangkunegara IV dinyatakan bahwa untuk memperoleh ngelmu manusia harus menempuh laku, “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” laku disini adalah mesubudi dan mesuraga. Mesubudi berarti membersihkan pekerti atau kelakuan dengan mengekang hawa nafsu dan angkara murka, sedang mesuraga berarti membersihkan badan dari kekotoran dan segala unsur negatif.
Melaksanakan tirakat dengan mesubudi dan mesuraga dengan jalan mengurangi kesenangan lahiriah maupun batiniah seperti makan, minum, tidur, mengendalikan segala nafsu yang tidak baik, dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah semata. Semua itu harus ditempuh untuk hamemasah, hamemasuh tajeming kalbu (mengasah, mensucikan ketajaman kalbunya) guna mencapai kawaskithaning cipta (kewaskitaan cipta/ intelegensi hati).
Semoga dengan langkah-langkah tersebut diatas kita mampu menjadi manusia yang utama, berbudi luhur, selaras lahir dan batinnya. Jwt