Sabtu, 06 Februari 2016

Menghadapi Kesulitan Hidup

Menghadapi Kesulitan Hidup

Anak-anakku yang saya cintai
Jika kelak kalian telah terjun di tengah-tengah masyarakat jadilah kalian semua perekat umat,  agar kehidupanmu diberkahi dan mendapatkan rahmatnya Allah SWT.

Perlu anak-anakku camkan bahwa kehidupan di masyarakat tidak seperti kehidupan di pondok yang semua serba sama baik cara berfikirnya, kebiasaannya, bahkan ideologinya. Sedang di tengah-tengah masyarakat kehidupan ibarat  di tengah rimba raya, di sana hidup berbagai macam karakter dan beragam manusia,  ada yang jinak dan ada yang buas, ada yang tidak punya rasa malu, ada yang suka menjilat, ada yang suka menekan, ada yang amanah, ada yang suka khianat, ada yang suka keburuk-burukan dan berbagai macam sifat kejelekan lainnya, namun ingat dalam kondisi yang demikian tentu masih ada kebaikan-kebaikan di dalamnya.

Ingat jika kondisi yang sedemikian itu kamu sebagai santri harus bisa menjaga diri, jangan terbawa dan jangan terseret oleh situasi dan kondisi, sikapi dengan bijak, perbaiki dirimu, instropeksi, tata hati dan niat serta jangan lupa berdo’a, pasrah, inabah, ridho, dan ikhlas terhadap takdir dan ketentuan Allah SWT.

 Ingat-ingatlah selalu dawuh dan petuah para Kyai serta para alim Ulama :
دع الايّام تفعل ما تشاء وطب نفسا اذا حكم القضاء وتلك الايّام نداول بين النّاس
Artinya : “Biarkanlah hari-hari berjalan sekehendaknya dan perbaikilah diri, jika takdir Allah telah diturunkan, hari-hari pasti akan dipergilirkan atas diri manusia”

            Tidak selamanya hidup kita di atas ada saatnya akan turun ke bawah, tidak selamanya bunga itu mekar, pada saatnya akan layu juga, tidak selamanya hidup dalam kesukaran karena pada saat itu pula Allah SWT akan memberikan kemudahan. Dan ingat selalu bahwa hidup hakekatnya memang untuk mengatasi kesulitan, jadi jangan mundur jika ada masalah, hadapi dengan sepenuh hati dan sekali lagi ingat selalu bahwa kebahagiaan itu letaknya pada celah-celah kesulitan.

            Strugle For Life, hidup untuk berjuang, berjuanglah untuk kehidupanmu, maju terus pantang mundur, rawe-rawe rantas malang-malang putung. Selamat Berjuang Allahu Akbar.

Cinta Samin

Cinta Samin

Malam yang gelap tanpa bintang, angin malam diam seakan menahan nafasnya, belalang, jangkrik  dan hewan-hewan di sekitar hutan di pinggiran desa Bate seakan senyap, khusyu’ mendengarkan mantra pelebur sukma yang dibacakan oleh Mbah Rati. Mantra yang tersusun dalam bentuk tembang wiwitan guna memulai pertunjukan kentrung. Tampak para penduduk desa berkumpul di sebuah tanah lapang, di bawah pohon trembesi raksasa yang umurnya sekian ratus tahun lamanya. Obor-obor dari bambu di pasang di setiap sudut lapangan cukup menerangi malam yang magis.

Mbah Rati adalah satu-satunya dalang kentrung di desa Bate, di setiap malam bersih desa ia selalu menggelar pertunjukan kentrung dan masyarakat akan sama datang berduyun-duyun untuk mendengarkan cerita yang akan dibawakan oleh Mbah Rati. Gending kawitan sebagai pembuka ritual kentrung telah selesai dirapal, angin seolah kembali mengalir, belalng, jangkrik dan hewan-hewan di sekitar hutan kembali menabuh orkestra semesta, menyenandungkan kidung-kidung pepujian kepada Sang Tuhan.

“Dulur-dulur malam ini Mbah Rati akan membawakan cerita Sarahwulan-Jowarsah” Kata Mbah Samijo di hadapan para penonton.

“Huuuuu !!!!

Teriakan para penonton senang, khususnya dari kalangan muda-mudi, karena mereka akan mendengarkan kisah percintaan legendaris antara Sarahwulan dan Jowarsah. Kisah percintaan dua sejoli itu seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bate. Mereka percaya jika kisah itu dimainkan, maka para pemuda atau pemudi yang sudah saatnya menikah namun belum ketemu jodohnya atau mungkin sudah ketemu namun tidak direstui oleh kedua orang tua mereka maka setelah pertunjukan kentrung yang digelar setiap setahun sekali  itu selesai, kisah cinta mereka pun akhirnya  akan sampai pada muaranya. Nikah.

Begitu memang yang telah menjadi kepercayaan dan tradisi masyarakat, oleh karena itu ketika Mbah Rati akan mendalang kentrung dengan lakon Sarahwulan-Jowarsah lapangan di pinggiran desa menjadi ramai. Sudah lama  Mbah Rati tidak membawakan lakon cinta dua sejoli yang ditentang oleh Mbok Wandan Sili ibu dari Sarahwulan walau akhirnya keduanya diperteemukan di pelaminan.

“Kang tadi pada saat Mbah Rati merapal mantra pelebur sukma Kang Samin berdo’a meminta apa ? tanya Sami dengan malu-malu kepada kekasihnya Samin.

Samin masih diam, dia memandangi kekasihnya itu. Sudah lima tahun mereka menjalin hubungan cinta namun sayang kedua orang tua Sami tidak merestuinya. Samin pemuda Bate yang hidup pas-pasan bahkan kekurangan dengan Ibunya yang sebatangkara, sedang Sami adalah kembang desa dari desa sebelah. Samin dan Sami saling  mencintai dengan sepenuh cinta, namun cinta mereka terhalang oleh penolakan orang tua Sami.

“Tentu aku berdo’a semoga cinta kita direstui dan sampai ke muaranya, yaitu menikah denganmu Dik” jawab Samin.

“Oleh karena itu perhatikan dengan baik-baik nanti pas Mbah Rati mendalang ya Dik ? jangan lupa sambil terus berdo’a kepada Gusti Allah” lanjut Samin membisiki telinga kekasihnya.

Sementara itu Mbah Rati telah menghadap ke arah timur, sebagai tanda ia akan memulai mendongeng dalam bentuk tembang, tangan tua yang telah keriput itu tampak terampil memainkan kendang kecil, sambil suara rentanya menembangkan bait-bait syair tentang cinta Sarahwulan dan kekasihnya. Sementara itu Mbah Samijo menabuh rebana besar, sedang Mbah Setri menabuh ketimplung. Tiga alat musik itu menyentak-nyentak berpadu suara magis Sang Dalang membentuk harmoni musik pedesaan di pinggiran hutan yang khas.

“Kasihan ya Kang Dewi Sarahwulan, ia begitu mencintai kekasihnya Jowarsah, namun Nyi Wandan Sili tidak menyetujuinya”

“Benar Dik, kisah Sarahwulan ini sangat mirip dengan kisah cinta kita Dik” Samin menimpali ucapan kekasihnya.

“Iya kang, kau seperti Jowarsah dan aku seperti Dewi Sarahwulan, semoga kisah cinta kita berakhir indah sebagaimana Sang Dewi yang akhirnya menikah dengan Sang pujaan hatinya ya Kang” bisik Sami kepada kekasihnya.

“Iya walau kisah cinta mereka berdua harus diperjuangkan dengan pengorbanan dan tekad yang kuat dari sepasang kekasih sejati itu”

Malam semakin larut langit tampak gelap tak ada secuil bintang ataupun rembulan pun yang tampak. Bait demi bait tembang yang menceritakan kisah Sarahwulan-Jowarsah telah dilantunkan oleh Mbah Rati, iringan musiknya pun menyesuaikan suasana dan alur dalam cerita. Jika suasananya menyedihkan musiknya pun seakan mengiris-iris kalbu para pendengarnya, namun jika ceritanya menggemberikan, musiknya pun rancak riang gembira, dan penonton pun bertepuk tangan penuh suka.

Mbah Rati Sang Dalang Kentrung beserta dua orang panjaknya seakan mampu menyihir suasana malam itu, mereka dengan sepenuh jiwa membawakan irama-irama dari tembang-tembang yang mereka bawakan. Kadang guyonan dari Mbah Rati, Mbah Setri ataupun dari Mbah Samijo pun ikut membuat hangatnya suasana malam pesta bersih desa di pinggiran hutan jati itu.

Akhirnya tembang pungkasan sebagai tanda berakhirnya pertunjukan Kentrung pun dibawakan oleh Mbah Rati. Akhir yang bahagia walau awalnya harus diperjuangkan dengan uraian air mata cinta Sarahwulan-Jowarsah berakhir dititik bahagia.

“Kang pertunjukan Ketrungnya sudah selesai, saya tak pulang dulu ya itu temanku sudah menunggu” Kata Sami kepada Kang Samin.

“Iya hati-hati di jalan Dik, semoga perjalanan kita sampai pada akhir yang baik sebagaimana kisah Sarahwulan yang dibawakan oleh Mbah Dalang” Jawab Samin.

Sami pun pergi meninggalkan Samin yang masih duduk di lapangan, orang-orang pun sama bubar meninggalkan kerlap-kerlip cahaya obor yang mulai redup. Malam makin dingin dan gelap namun hati Samin seakan bersinar, entah karena apa.


Jumat, 05 Februari 2016

Memburu Cahaya Lentera di Kota Langitan Tuban

Memburu Cahaya Lentera di Kota Langitan Tuban
(Ketika karya,cita,cinta dan promblematika dihadapi)
Oleh : Muhammad Fajar Syafiqul Amidan (Siswa MA ASSALAM Bangilan)

Pic : Investasituban.blogspot.com
            Masih percayakah kita kepada harapan, mimpi dan keajaiban di kehidupan ini? Mungkin di umur yang masih belia ini saya masih percaya akan hal tersebut dan saya harap kita tidak akan kehilangan semua itu ketika di tengah perjalanan nanti.
            “Semua berawal dari mimpi’’ itulah istilah yang mungkin tak terdengar asing di telinga kita, memang kebanyakan dari kita selalu menggunakan istilah tersebut dalam setiap keinginan yang belum kesampaian saat ini dan mungkin juga banyak dari kita yang sekarang ini hanya terus bermimpi dan mempertanyakan kapan mimpi itu bisa jadi kenyataan ? hal itu juga berlaku kepada saya dan teman-teman saya disini, yang mencoba meniti harapan di bumi para wali ini (Tuban).
            Berbicara soal Tuban, itulah kota kelahiran saya, mungkin saya satu dari beribu anak yang mencoba merubah kota saya ini menjadi lebih baik, secarakan kota sendiri. Pengetahuan saya soal Tuban gak terlalu banyak oleh karna itu saya mohon maaf kalau ada kesalah fahaman ataupun kata yang menyinggung, maklum ini hanyalah pendapat dari seorang pelajar asal Tuban.
            Seperti kota-kota di Indonesia yang lain yang slalu mempunyai problematika dan banyak hal yang harus dibereskan, Tuban menjadi salah satunya, menurut saya ini seperti sama halnya mencari bercakantinta hitam di atas selembar kertas putih. orang berkata, “mencari kesalahan dari sesuatu itu amatlah mudah’’ memang hal itulah yang akan saya paparkan kali ini.
 1.Globalisasi sang pelahap era
            Zaman sudah berubah, tak seperti dulu lagi, masa lalu memang tidak akan terulang kembali, hal itulah yang sedang melanda kota ini. Membahas soal globalisasi dari sudut pandang saya &mungkin dalam benak kalian pernah terbesit ataupun bertanya-tanya ,apakah mungkin kita bisa bersosialiasi seperti dulu, bermain bersama, tertawa, menangis? setelah era globalisasi melanda dunia tak terkecuali TUBAN. Memang sih globalisasi itu banyak menguntungkan tapi kalau di lihat dari segi sosialbagi saya sendiri dan kalian juga mungkin pernah merasakannya yaitu untuk ketemu atau berkumpul denganorang-orang sangat memprihatinkan, faham kan maksud saya, semasa dulu kecil adalah masa yang mungkin kita akan selalu ingat. Coba liat anak-anak masa sekarang sudah disibukkan dengan gadget yang mereka pegang, entah itu pagi,siang,malam gadget tidak akan lepas dari tangan, mainan zaman dulu sudah tergerus zaman digantikan dengan mainan online yang ada di depan layar, memang seru sih saya akui tapi untuk dalam aspek sosial sama teman amatlah kurang.
Beberapa kejadian lagi yang sering para remaja alami bukan hanya di Tuban sendiri sebenarnya tapi juga seluruh negeri  yaitu apakah kebudayaan lokal dan seni tradisional akan ditinggalkan dan dilupakan?  jikalau sudah tak ada pemuda yang mau meneruskan dan sibuk belajar mapel sekolah yang seolah-olah bertujuan ingin membentuk mereka menjadi robot tenaga kerja saja, apakah kita para pemuda sudah enggan dan malu ketika mengakui bahwa budaya tersebut warisan nenek moyang kita?ketika tren-tren baru zaman sekarang melanda dilingkungan kita, apakah warisan budaya lokal sudah tak dianggap penting lagi bagi generasi muda? Namun dilain sisi, saya masih yakin ada segelintir orang yang mencoba melestarikan hal tersebut dengan cara pewarisan yang berbeda dan unik agar mampu menambah minat bagi generasi zaman sekarang. penyesuain kondisi anak muda sekarang amatlah penting, dengan ide-ide kreatif anak bangsa mungkin akan lahir perpaduan serta metode baru dalam pewarisan budaya ini. Saya harap pemerintah kota Tuban juga harus terus menyemangati dan menyokong  orang-orang tersebut baik dalam segi finansial maupun non-finansial.
Sebenarnya banyak sekali budaya di kota Tuban ini yang unik dan sangat khas yang mungkin sebagian dari kita yang jarang mendengarnya dan terdengar asing, kali ini saya hanya akan membahas salah satunya saja yaitu budaya sandur.
            Sandur merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional kerakyatan yang langka, bahkan dapat dikatakan hampir punah, mengingat durasi pementasan kesenian tersebut semakin memurun. Sandur sebenarnya tidak hanya terdapat di wilayah Lamongan saja, tetapi juga terdapat di daerah-daerah lain, seperti daerah Bojonegoro, Probolinggo, Pamekasan, Bangkalan, Jombang, Surabaya, Tuban dan Lamongan. Secara pragmatis menurut pengamatan penulis, dewasa ini di daerah, daerah yang disebutkan di atas, hampir tidak pernah ada durasi pementasan kesenian sandur tersebut. Jika dimungkinkan ada, maka durasinya sangat kecil bila dibandingkan dengan daerah Lamongan.
Kesenian sandur di daerah Lamongan ini mempunyai kesamaan dengan kesenian sandur yang ada di daerah lain (Tuban dan Bojonegoro). Kata sandur berawal dari sebuah artikel yang berjudul “Seni Sandur Saya Mundur”. Dengan kata lain bahwa sandur berasal dari kata mesisan ngedur atau beksan mundur, karena sandur dipentaskan semalam ngedur (semalam suntuk).
Kesenian sandur merupakan kesenian yang terminologinya diambil dari anonim sandur: isane tandur (sa’wise tandur) yang berarti selesai bercocok tanam. Dengan kata lain bahwa seni sandur adalah salah satu bentuk ekspresi seni masyarakat agraris yang dilakukan selesai bercocok tanam. Disamping itu cerita yang ada dalam sandur, berbicara tentang gambaran kehidupan petani dalam menjalankan aktifitas agrarisnya.
Membicarakan kesenian tradisional kerakyatan yang berupa kesenian sandur. Seolah memasuki lorong gelap sejarah kesenian yang berbasis sinkretisme ini. Kesenian yang terminologinya lahir di tengah masyarakat agraris ini hampir punah keberadaan dan eksistensinya. Sehingga perangkat dan materi pertunjukannya banyak menyimbolkan idiom-idiom pertanian. Misalnya dalam dialog, pertunjukan sandur tema cerita yang diangkat bertemakan sawah, ladang dan kehidupan para petani yang ada di pedesaan. Inilah salah satu keunikan budaya lokal bangsa yang ada di Tuban.
             Generasi muda boleh saja berorasi dimanapun dan menggemborkan bahwa dia cinta akan budayanya, namun tindakan untuk melakukan perbaikan sangatlah diharapkan oleh kota Tuban ini bukan hanya omong kosong belaka termasuk dalam hal kebudayaan. Anak muda tidak harus menghilangkan kebudayaan lama jikalau ingin mengikuti tren masa kini, justru memadukan tren dulu dan sekarang akan menambah keragaman budaya dalam negeri, Globalisasai bukanlah sesuatu hal yang bisa kita hindari tapi merupakan hal yang bisa kita kendalikan dan kita saring segi positifnya.
2. Trilogi penting  antara Politik,ekonomi dan alam
            “Harapan dimana hidup akan terus mulia dan terus mendapatkan hal yang dimau”, mungkin istilah yang cocok untuk kekuasaan yang telah didapat bagi orang yang menang dalam berpolitik. Suara rakyat mulai menggelora dalam negeri ini, ketika rakyat menutut kemaslahatan dalam hidup mereka.
Tuban adalah kota di ujung utara pulau Jawa, dimana politik juga menjadi perebutan disana, tidak bisa di pungkiri seperti kota-kota lainnya di Tuban masih banyak diantara orang yang mengikuti Pilkada atau Pemilu maupun lainnya akan sulit mendulang suara tanpa politik uang. Rakyat sudah terlanjur diajari politik uang, sehingga rakyat akan memberikan suaranya jika ada uang. Bahkan, mereka enggan datang di TPS jika tidak ‘dibayar’Meski ini tidak semua, tapi realita di tengah-tengah masyarakat seperti itu.
Kecenderungan tentang hal tersebut sudah tidak sesuai dengan asas Pemilu yang Jujur, Adil dan Terbuka. Namun, kenyataan mau tidak mau harus diterima karena rakyat sudah terlanjur diajari politik uang. 
Di Negeri ini rakyat diajari berdemokrasi yang salah. Semua ditentukan oleh siapa saja yang mempunyai banyak uang. jangan salahkan rakyat kalau kemudian menuntut konpensasi uang untuk hak suaranya, jika semua stake holder pemilu tidak bersungguh-sungguh menghentikan politik uang seperti itu, politik tetap bakal memakan biaya tinggi (high cost politic). Akibatnya, politisi cenderung mencari keuntungan pribadi untuk mengembalilan modal yang telah mereka keluarkan.Untuk saat ini tidak menjadi rahasia lagi, untuk menang dalam Pemilu mayoritas ditentukan oleh seberapa banyaknya uang yang disebar ke pemilih, oleh karena itu harapan besar bagi generasi mendatang akan mampu membenahi hal tersebut di Kota tercinta dan negeri kebanggaan ini.
Jika ada hal yang jelek dari kota saya ini pasti juga ada yang positifnya, Tuban sekarang dalam sektor ekonominya sudah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun pemerintah yang dipilih memang diharuskan untuk merubah apa yang dia pimpin, demi kemaslahatan rakyatnya dan bukan untuk kepentingan individu saja.
Tuban juga memiliki kawasan industri ada beberapa perusahaan industri diantaranya PETROCHINA (di kecamatan Soko) yang menghasilkan minyak mentah serta PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia (TPPI) & PERTAMINA TTU (di kecamatan Jenuh) dan Pabrik Semen Holcim & Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang dibangun di daerah Jenuh. Kawasan industri mencapai 50 ribu hektar yang tersebar di 10 kecamatan. Zona 1 di kecamatan Bancar dengan luas 5,802 hektar dan zona 2 34,00 hektar dan zona 3 9,225 hektar.
Di sektor ekonomi utamanya adalah perdagangan industri pengolahan dan pertambangan. Perdagangan menyumbang output sebesar Rp 3 Triliun sedangkan industri pengolahan dan pertambangan masing-masing sebesar Rp 2,9 Triliun dan Rp 1,8 Triliun. Pertumbuhan ekonomi pada 2010 mencapai 6,39% dimana angka pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor pertambangan sebesar 11,8%.
            Dibalik ekonomi Tuban yang maju tentunya juga ada fakta ironi yang diderita oleh lingkungan di Kota Tuban sendiri. Alam Tuban sudah tak seperti dulu lagi setelah banyak lahan yang digunakan untuk perumahan dan industri, kalau misalnya itu disebut dengan pengorbanan untuk memajukan  kemaslahatan masyarakatnya maka kerusakan alam disini menjadi taruhannya.
            Sudah banyak bukti bahwa orang – orang di era sekarang yang tak memperdulikan alam lagi, kerusakan alam dimana-mana, di otak manusia sekarang hanyalah bagaimana bisa hidup sejahtera ekonominya, tanpa berfikir kerusakan yang diperbuat olehnya. ‘’Ekonomi itu yang terpenting’’ adalah kata-kata yang cocok untuk pedoman bagi manusia perusak alam ini.
            Alam adalah anugerah Tuhan yang harus di jaga,kita boleh saja memanfaatkan sesuka kita namun harus juga dibarengi dengan usaha untuk kelestarian lingkungan. Tuban termasuk kota dengan panorama alam yang menakjubkan, diantaranya yang terkenal: pantai Boom,pantai Sowan, pantai Jenu, pantai cemara, goa ngerong,goa akbar, air terjun nglirip dan lain lain. Namun tanpa disadari masyarakat masih banyak yang belum mengerti apa arti dari menjaga lingkungan, akibatnya banyak dari lingkungan alam yang sudah kotor dipenuhi dengan sampah,limbah industri dan eksploitasi besar-besaran yang hanyabertujuan untuk menambah pundi-pundi materi saja.
             Manusia adalah makhluk yang bergantung pada alam, tanpa kita sadari alam telah berbaik hati melindungi manusia dari berbagai ancaman bencana, contohnya seperti: tanah longsor,banjir,erosi,abrasi,pemanasan global dan berbagai hal lainnya. Tanpa manusia, alam bisa hidup, alam mempunyai mekanisme dan tata cara pembenahan terhadap dirinya sendiri, sedangkan kita sebagai manusia hanya perlu menjaganya agar tidak rusak. Jikalau peningkatan ekonomi sangat diperlukan bagi pembangunan pendidikan dan infrastruktur daerah Tuban,sedangkan alam lah sebagai taruhannya, sekarang apakah siap manusia menanggung semua dampak dari kerusakan alam yang terjadi? Pikirlah kembali!
Usaha untuk perbaikan alam ini mungkin akan sulit untuk diwujudkan, seperti halnya di awal teks yang saya tulis, masihkah harapan itu ada dan keajaiban akan terjadi? Mungkin memang saatnya perbaikan untuk semua hal itu, disini merupakan penentuan diantara 99% usaha dan 1% keajaiban nan apabila kedua tersebut direalitakan itu butuh usaha keras. Aktivis alam kota Tuban yang mencurahnya hidupnya untuk perbaikan alam ini pasti sudah berusaha keras untuk menjaga alam, sekarang yang menjadi permasalahan tentang kesadaran masyarakat Tuban sendiri dalam menyadari pentingnya menjaga alam.
Percayalah bahwa selallu ada cara yang lebih baik dalam penanganan masalah yang kita tanggung, disini bukan dituntut wacana setinggi langit yang hanya mengombar janji akan tetapi mengambang direalitanya, calon pemimpin yang baik dan rakyat yang baik pula harus memikirkan ini bersama-sama, ini bukan masalah perorangan saja tapi kita semua sebagai warga Tuban.