Jumat, 22 Januari 2016

Legenda Bledug Kuwu dan Keajaiban Padang Garam Bumi Grobogan

Legenda Bledug Kuwu dan Keajaiban Padang Garam Bumi Grobogan

Kabupaten Grobogan Jawa tengah termasuk wilayah yang sudah sangat tua, setidaknya menurut legenda masyarakat wilayah ini menjadi bagian dari awal peradapan tanah Jawa. Di desa Kuwu Kec. Kradenan Kab. Grobogan terdapat keajaiban alam yang menakjubkan. Hamparan tanah tanpa tanaman seluas + 45 Ha yang disertai adanya letupan-letupan gelembung lumpur menjadi fenomena alam yang mengagumkan. Masyarakat setempat menamakan tempat ini sebagai Bledug Kuwu.

Menurut legenda masyarakat setempat terjadinya Bledug Kuwu tidak terlepas dari kedatangan Ajisaka ke tanah Jawa untuk datang ke kerajaan Medang Kamolan. Sesampai di suatu desa di wilayah Medang Kamolan Ajisaka bertamu di rumah Kaki Grenteng yang memiliki seorang gadis cantik bernama Rara Cangkek. Diceritakan setelah Ajisaka yang ditemani sahabatnya Dora menikmati jamuan dari tuan rumah Ajisaka pamit ke kamar kecil untuk buang air seni. Di pemandian inilah Ajisaka bertemu dengan Rara Cangkek. Singkat cerita Ajisaka buang air kecil, di luar kamar kecil ada seekor ayam jago yang sedang haus meminum air yang bercampur dengan air seninya Ajisaka. Keajaiban muncul ayam jago itu akhirny bertelur dan telurnya menetas menjadi seekor ular raksasa.

Ular itu ternyata bisa berbicara layaknya manusia, dan mengatakan ia adalah anak dari Rara Cangkek dan Ajisaka. Ular itu kemudian pergi untuk mencari ayahnya di Medang Kamolan. Dari perjalanan ular raksasa dalam mencari pengakuan diri sebagai anak Ajisaka inilah keajaiban Bledug Kuwu muncul. Konon Bledug Kuwu muncul dari bekas di mana ular raksasa itu masuk ke dalam tanah.

Dari legenda tersebut menurut saya kejadian-kejadian yang kelihatannya tidak masuk akal sebenarnya adalah sebuah peristiwa yang sebenarnya atau fakta. Walau tidak dipungkiri banyak pula hanya sekedar dongeng saja. Seperti pertemuan Ajisaka dan Rara Cangkek kemungkinan benar-benar terjadi, kemudian peristiwa Ajisaka yang membuang hajat hingga air seninya diminum ayam jago hingga kemudian bertelur dan menetaskan seekor ular raksasa adalah sebuah peristiwa kiasan. Begitulah halusnya masyarakat Jawa berkisah mengenai seorang Raja yang menjalin hubungan dengan seorang gadis cantik dari kalangan rakyat jelata yang akhirnya melahirkan anak yang tidak diakui secara sah. Si anak digambarkan hanya sebagai seekor ular, karena ayahnya adalah orang besar maka ularnya digambarkan sebagai ular raksasa. Kisah tentang seorang Raja yang menikahi kembang desa adalah hal yang lumrah dan banya terjadi di masa lampau hingga ada istilah lembu peteng, yaitu seorang anak hasil dari perkawinan dari seorang raja dengan istri yang tidak sah atau dari garwa selir.

Terlepas dari legenda masyarakat, secara ilmiah dapat dijelaskan bahwa fenomena alam Bledug Kuwu adalah fenomena alam yang terjadi ratusan bahkan jutaan tahun yang silam di mana kemungkinan tempat ini adalah dasar lautan yang akhirnya menjadi daratan, hal ini dibuktikan dengan keluarnya gelembung-gelembung lumpur yang bercampur dengan air yang mengandung kadar garam.

Di Kuwu inilah Salt Lake (Padang Garam) tanah Jawa, masyarakat sekitar memanfaatkan air garam ini diolah menjadi garam dapur yang konon kemasyhuran garam Bledug Kuwu pernah tercatat dalam sejarah keraton Surakarta. Selain di Kuwu di Kec. Sulursari tepatnya di Bumi Kesongo juga terdapat fenomena Bledug, namun skalanya lebih kecil tidak sebesar Bledug yang ada di Kuwu. Selain itu di daerah-daerah sekitar juga banyak ditemui sumber-sember air yang mengandung garam, seperti di desa Jono Kec.  Tawangharjo, di Crewek, Banjarsari, dan tempat lain di Ngramesan Kec. Ngaringan.

Dari fenomena sumber garam yang begitu banyak di wilayah Kab. Grobogan membuktikan bahwa dulu wilayah tersebut adalah dasar lautan yang telah menjadi daratan. Jika anda penasaran silahkan kunjungi tempat-tempat tersebut yang telah dijadikan objek wisata daerah, khususnya Bledug yang ada di Kuwu. Joyojuwoto

Kamis, 21 Januari 2016

Mewariskan Wisdom Lokal di Era Modernitas Zaman

Mewariskan Wisdom Lokal di Era Modernitas Zaman

Sumber : Infoblora.com
Masyarakat Indonesia memiliki ribuan hasanah kebudayaan suku bangsa yang beragam, baik berupa adat-istiadat, sistem kemasyarakatan, bahasa, kepercayaan, foklore dan lain sebagainya. Indonesia merupakan surga dan laboratorium kebudayaan yang paling lengkap di dunia. Oleh karena itu kita sebagai warga negara perlu bangga dengan cara mensyukurinya dan mengembangkan potensi budaya itu dengan sebaik-baiknya.

Keragaman budaya di bentangan bumi Nusantara kita ini merupakan warisan budaya leluhur yang perlu kita lestarikan dan layak untuk kita abadikan. Sekecil apapun mutiara-mutiara kebudayaan yang ada di tengah masyarakat perlu mendapatkan perhatian yang serius khususnya di kalangan generasi muda sebagai penerus peradapan bangsa agar kelak tidak kehilangan jatidiri.

Di lingkungan sekitar kita mungkin masih banyak kearifan lokal yang luput dari perhatian kita, baik itu berupa pamali, cerita-cerita, legenda, permainan tradisional dan lain sebagainya. Ini menjadi tugas kita semua untuk menyelamatkan dan mewariskan kembali wisdom lokal itu kepada generasi sesudah kita. Jangan sampai terjadi lost civilisation sehingga anak cucu kita tidak mengenali budayanya sendiri.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk melindungi dan mengkonservasi nilai-nilai budaya adalah dengan menggiatkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat khususnya kaum terpelajar guna mengikat makna dan mengabadikan khasanah kebudayaan bangsa. Cara lain yang lebih efektif adalah dengan membuat desa budaya pada masing-masing daerah yang menjadi pusat dari kebudayaan itu. Namun cara kedua ini saya agak pesimis karena ini tentu melibatkan banyak komponen khususnya peran langsung yang  berkesinambunan dan terarah dari banyak pihak khususnya pemerintah daerah tentunya.

Contoh kongkritnya semisal di daerah pegunungan Kendeng yang meliputi Tuban-Bojonegoro, dan Blora dulu kita mengenal peradapan Samin yang dipelopori oleh Eyang Samin Surosentiko. Sebuah kelompok masyarakat yang berusaha mempertahankan nilai-nilai agung warisan nenek moyang di Kab. Blora.

Untuk melindungi dan melestarikan ajaran Saminisme ini pemerintah perlu menetapkan satu wilayah sebagai laboratorium budaya dari masyarakat Samin. Semisal Perkampungan Karang Pace di Blora, di mana adat dan budaya masyarakat Sedulur Tunggal Sikep ini dilestarikan oleh para penganutnya. Pemegang kebijakan di wilayah yang dihuni oleh masyarakat Samin tentu dituntut untuk memahami karakter dan budaya masyarakat sehingga dalam mengambil kebijakan tidak berseberangan dengan nilai-nilai lokal masyarakat.

Bukan berarti dengan membangun laboratorium budaya di suatu wilayah menjadikan masyarakat stagnan dan anti kemajuan. Masyarakat budaya harus tetap ditransformasikan menjadi masyarakat yang modern tanpa kehilangan jatidirinya. Ini menjadi tugas besar bagi para pemikir dan para ilmuan untuk mengawinkan dua variabel yang kelihatannya saling berlawanan. Antara masyarakat budaya yang dianggap udik dengan masyarakat yang telah disentuh oleh warna modernitas zaman.

Kasus penolakan pembangunan pabrik semen di Pati dan Rembang menjadi bukti yang tidak terbantahkan bahwa pemerintah tidak peka dan kurang memahami  sosiokultural yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Kadang kebijakan pemerintah memang bukan terlahir dari rahim kerakyatan, namun lebih mengikuti selera kaum borju sehingga mengabaikan nilai-nilai kerakyaatan itu sendiri. Tidak aneh memang kebijakannya jauh dari akar rumput dan bumi di mana dipijak. Padahal jika pemerintah memahami potensi kearifan lokal suatu masyarakat tentu pemerintah lebih  arif dan bijaksana dalam mengatur, mengelola, dan membuat kebijaksanaan yang menyangkut hajat kerakyatan.

Kita berharap wisdom lokal masyarakat di manapun berada di bumi Nusantara ini mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat penyangga kebudayaan itu sendiri, sehingga kelak mata rantai kebudayaan bangsa tidak terputus dan dapat kita wariskan kepada generasi selanjutnya. Karena pada dasarnya eksistensi dan kebesaran suatu bangsa bersumber dan berpijak pada nilai-nilai lokalitas kemasyarakatan itu. Joyojuwoto

Rabu, 20 Januari 2016

Biografi Singkat KH. Abd. Moehaimin Tamam

Biografi Singkat KH. Abd. Moehaimin Tamam


± 50 km ke selatan dari kota Tuban ada sebuah desa Bangilan namanya, di desa tersebut terdapat seorang kepala keluarga yang bernama Abu Bakar Wustho dan beliau mempunyai tujuh anak, tiga putra empat putri dan salah satu anak beliau bernama Bapak Badrut Tamam, beliau mempunyai istri bernama Ibu Mutmainnah dari kota Tuban, leluhur Bu Mutmainnah ada yang keturunan Tiong Hua. Pak Tamam dengan Ibu Mutmainnah dikarunai dua anak, Abdul Muhaimin dan Siti Azizah, sejak kecil sudah meninggal dunia. Tidak lama kemudian Ibu Mutmainnah pun menyusul wafat, pada saat itu umur Abdul Muhaimin Tamam + dua setengah tahun, kemudian Abdul Muhaimin kadang diasuh oleh seorang pembantu yang dapat dipercaya saat Pak Tamam sibuk berdagang. Tak lama kemudian beliau memperistri seorang wanita dari desa Baorno Timur Kabupaten Bojonegoro bernama Ibu Halimah, sehingga Abdul Muhaimin Tamam di asuh oleh Ibu Halimah. Dalam asuhan ibu Halimah inilah Abdul Muhaimin Tamam dibesarkan, dididik dan diarahkan, juga dipondokkkan, mengaji dan belajar dipondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Indonesia.
Di Pondok Darussalam yang dikenal dengan Pondok Gontor inilah Pak Muhaimin diajar, diasuh dan digembleng sampai tamat dan pulang serta beliau bertekad untuk mendidirikan balai pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren.
Tekad tersebut dituangkan dalam pernyataan tertulis yang dihaturkan kepada  Bapak K.H. Imam Zarkasyi pendidiri dan direktur KMI Pondok Modern Gontor Ponorogo (bahwa beliau ingin pulang serta mengabdikan ilmunya dikampung) serta membantu program yang didawuhkan oleh Bapak K.H. Imam Zarkasyi bahwa harus ada seribu Gontor di Indonesia.

Pernyataan tekad yang biasa dilaksanakan oleh setiap santri kelas enam di KMI Darussalam Gontor Ponorogo itu dijawab oleh Pak Zar ( Panggilan K.H. Imam Zarkasyi) dengan jawaban positif artinya Pak Zar setuju bahwa Pak Muhaimin direstui untuk pulang ke kampung halamannya dan mengabdikan ilmunya dimasyarakat, yang mengandung arti bahwa ridho Kyai itu penting.
Di Bangilan beliau mulai mengajar di Madrasah yang telah ada rintisan para sesepuh yaitu MI Salafiyah Bangilan. Saat itu kedaaan gedungnya sangat memprihatinkan , karena itu beliau menggoda Bapaknya, tidak mau mengajar kalau gedungnya tidak direhab. Bapak Tamam mengajak para pengurus  bertekad untuk merehab bentuk gedungnya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Kemudian sebab prestasinya beliau diangkat oleh sidang pengurus  menjadi Ka di MI Salafiyah tsb. (periode th 61 – 65 ). Pada saat itu, beliau juga bermaksud mendirikan MTs dengan membuat Kls VII di madrasah ini tetapi hanya kuat 1 tahun dan gagal.
Karena dikawinkan dengan istri dari desa Weden yang berada di sebelah selatan desa Bangilan, tahun 1965 beliau pindah ke Weden merintis berdirinya Madrasah di Desa ini serta mengilhami berdirinya sebuah gedung Madrasah.
Sebelumnya, Madrasah dimulai dengan membuat TPA di rumah mertua. Caranya, 7 orang anak diajak dan diajak bermain-main di halaman rumah mertuanya. Anak-anak lain yang tahu, kemudian ikut main dan didaftarkan oleh orang tuanya. Hari demi hari muridnya bertambah banyak sehingga pada th 1965 ia berhasil mendorong Bapak Kandung , Bapak mertua dan masyarakat setempat mendirikan gedung MI dan beliau namakan MI Al-Iman, buku utama yang digunakan pegangan mengajar ialah : SINAHU MAOS HURUF AL-QUR’AN, oleh K.H. Imam Zarkasyi. Walau banyak mendapat cemooh dan tiupan-tiupan isu bohong yang mengatakan bahwa weden bukan lahan untuk pendidikan, sehingga keluarga rumahpun menjadi goyah hatinya yang menyebabkan Pak Moehaimin mengajar dengan tertekan serta menderita batin. Tetapi kesabaran, ketabahan, serta keuletan beliau, tegaklah MI Weden hingga sekarang.
Karena pindah tempat, maka tahun 70 an kepengurusan Madrasah diserahkan dan diteruskan oleh masyarakat Weden, walau semula masyarakat memprekdisikan bahwa Weden tak mungkin didirikan Balai Pendidikan.
Untuk kesejahteraan keluarga, beliau beliau pindah mengontrak rumah di desa Santren yang berada di sebelah  utara desa Bangilan. Didesa baru ini beliau mendirikan perusahaan kayu jati dengan maksud apabila sudah berhasil menyusun ekonomi, baru akan mengajar lagi. Usaha ini berkembang dengan pesat, sayang beliau selalu sibuk didunia bisnis, tenggelam dalam kenikmatan duniawi lupa jati diri serta belok dari jiwa dan tujuan aslinya, mendidik dan mengajar. Toh sewaktu dipondok Gontor beliau di  pesan oleh Pak Zar agar mampu menyisihkan waktu untuk mendidik dan mengajar di tengah-tengah kesibukan bisnis. Karena itu Allah mengingatkannya dengan cara beliau bangkrut dari dagangannya, perusahaan terpaksa tutup dengan menanggung hutang yang tidak sedikit.
Alhamdulillah beliau memahami dan menyadari. Karena itu walau dengan penuh derita pada tahun 1977 beliau pindah meninggalkan Santren menuju desa Sidokumpul, untuk memulai dunia yang baru sesuai dengan jiwanya serta ingat kembali dan melaksanakan wejangan lama Pak Zar. Karena itu beliau mulai kiprah lagi dibidang dibidang pendidikan dan pengajaran sambil membuka usaha kecil-kecilan yaitu membuat sabun cream. Mengingat kecilnya kapital maka beliau bertindak sebagai pimpinan, pegawai pengedar sekaligus penjual berkeliling dari desa satu ke desa yang lain untuk menjual sabun sambil mendirikan Masjid Al-Ihsan di desa Ngrojo serta mengajar, juga merintis Madrasah Tsanawiyah dan berhasil mendirikan sebuah gedung didesa Sidokumpul dekat rumah kediamannya yang beliau namakan MTs ASSALAM sedang bisnis sabun cream hanya berjalan 1 (Satu) tahun saja. Selanjutnya beralih dalam kesibukan menterjemah kitab pada dunia percetakan.
Gedung Madrasah Tsanawiyah yang baru ini, didirikan diatas tanah milik seseorang. Karena kurang kefahaman antara Ka Guru (Pak Moehaimin) dengan penguasa tanah, menyebabkan kesulitan demi kesulitan , akhirnya setelah Madrasah komplit dengan murid dan segala sarana, terpaksa beliau tinggalkan dan diserahkan kepada Umat Islam setempat. Nama ASSALAM pun mereka rubah dengan nama lain.
Peristiwa gagalnya MTs ASSALAM di desa Sidokumpul Kec. Bangilam mengilhami berdirinya Madrasah Tsanawiyah, Aliyah dan Pondok Pesantren ASSALAM baru di lokasi baru.
Istikhoroh Pak Moehaimin serta mujahadah dan perihatin yang dalam, menyebabkan pada tahun 1983 beliau mampu membeli sebidang tanah + 1 ha di jantung kota Kec. Bangilan. (lokasi Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah ASSALAM yang sekarang ini), dan berhasil mendirikan 1 (satu) gedung Madrasah tiap tahun, di samping berhasil membeli tanah di belakang masjid Jami’ Bangilan. Di Desa Suwalan Jenu Tuban dan Di Desa Banjarworo Bangilan Tuban.
Tetapi karena beberapa sebab, Pak Moehaimin belum mampu untuk berdomisili di tengah-tengah lokasi ASSALAM baru. 12 tahun kemudian baru ditempati sebab masih berumah tangga di desa Sidokumpul yang jaraknya + 1 km dari lokasi Madrasah. Karena itu, Madrasah dipimpin dari kejahuan yang menyebabkan jalannya pendidikan dan pembangunan mengalami kelambatan.
Mengingat cerita Ust. Mahrus pimpinan Pondok Darunnajah yang diperintah Pak Zar agar bertekad segera pindah ke lokasi Madrasah dan pertukangan ke lokasi Pondok di ‘Ulu Jami’, maka pada tahun 1993 Pak Moehaimin memberanikan diri untuk mendirikan rumah di tengah-tengah lokasi Madrasah agar dapat hijroh meninggalkan rumah lama menuju daerah baru, berdomisili dan beristiqomah sebagai Kyai, memimpin membangun ASSALAM yang baru di tengah-tengah Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah ASSALAM yang baru  pula. Rencana ini terlaksana mulai tahun 1995.

Jadi baru sekitar + 10 tahun akhir-akhir ini ASSALAM baru dan memiliki jati diri, sehingga mampu untuk maju dalam  mendidik dan mengembangkan pembangunan setiap tahunnya sebab di tengah-tengahi dan di istiqomahi oleh pendiri (Kyai) nya, setelah dengan gigih sabar dan tawakal menghadapi terpaan pasang surutnya gelombang hidup menuju ASSALAM sukses. Doc. PP. ASSALAM Bangilan 2005.