Selasa, 19 Januari 2016

Warning Gafatar telah memasuki Kota Tuban

Warning Gafatar telah memasuki Kota Tuban

Masih ingat dengan hilangnya seorang dokter cantik dari Yogyakarta Rica Tri Handayani dan anaknya yang masih balita, dari hasil investigasi aparat kepolisian ternyata banyak korban-korban  hilang yang modusnya hampir sama dengan ibu dokter tadi. Pergi tanpa pamit sambil meninggalkan pesan akan mengubah nasib yang lebih baik, atau juga akan pergi berjihad.

Tidak hanya di Jogja, peristiwa itu ternyata juga terjadi di kota Kabupaten saya Tuban. Bersumber dari sebuah fans page masyarakat Tuban MIOT (Media Informasi Orang Tuban) terdapat sebuah foto dan video yang diunggah oleh seorang akun facebook yang bernama Iksan Fauzi menyatakan bahwa “Warga Tasikmadu, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban Ikut Gafatar, Orang tuanya setiap hari menangis. Videonya bisa dilihat di link ini.” katanya pemilik akun facebook tersebut.

Disinyalir Wawan beserta istrinya Yuanita Wulansari bersama balitanya pergi ke Kalimantan untuk pergi bekerja di perkebunan sawit dan peternakan, namun sebelum itu keluarganya mau diajak semuanya dan menyuruh orang tuanya untuk menjual rumah yang mereka tempati. Orang tuanya tidak mau, lalu Wawan beserta istri dan anaknya pergi tanpa pamit dengan menjual semua perhiasan dan motornya dan digunakan pergi ke Pontianak.

Menurut salah satu teman korban, baik Wawan maupun istrinya orangnya baik bermula dari pengaruh temannya Wawan dari Lamongan entah karena dijanjikan apa Wawan mau dan tertarik untuk bergabung dengan organisasi Gafatar. Dan ia memaksa istrinya ikut serta dengannya, kalau tidak mau Wawan akan menceraikan Yuanita, begitu tutur Eza Vina Selalu dihatimu di laman facebooknya.

Akhirnya pasutri dan balitanya yang tinggal di Jl. Cendana III No. 23 Perum Tasikmadu  Palang Tuban itu  berangkat ke Kalimantan tanpa berpamitan kepada keluarganya hingga sekarang keluarganya berharap Wawan dan istrinya segera kembali ke kampung halamannya kembali.

Peristiwa ini hendaknya menjadi pelajaran buat kita semua khususnya orang-orang yang memiliki idealisme berlebih dan orang-orang yang labil baik karena dijanjikan kesuksesan duniawi maupun orang-orang yang ingin instan untuk masuk surga. Waspadalah !. Joyojuwoto



Sumber

Jumat, 15 Januari 2016

Sumpah Mati Sang Kyai

Sumpah Mati Sang Kyai

“Duh Gusti Yen Menawi Anggen Kulo Gesang Ing Alam Dunyo Meniko Mboten Manfaati Monggo Enggal-Enggal Panjenengan Pundut Kulo, Nanging Yen menawi Anggen Kulo Gesang Ing Alam Dunyo Meniko Manfaat Kulo Nyuwun Umur Ingkang Panjang”
(KH. ABD. MOEHAIMIN TAMAM)

Di salah satu ruangan gedung pesantren*  yang baru saja didirikan, di hadapan para santri yang duduk khusu', kurang lebih lima puluh tahun yang silam sebuah perjanjian suci antara hamba dan Sang Maha Kuasa diikrarkan. Dari kedalaman jiwa dan kemurnian hati Sumpah Mati itu diucapkan. Dari keikhlasan dan kesucian niat proposal kematian itu dikirimkan kepada Tuhan.

Tidak ada rasa khawatir dan gentar bahwa Tuhan akan serta-merta mencabut nyawanya saat itu juga, karena beliau yakin dengan jalan yang sedang ditempuhnya. Jalan  yang selalu beliau harap-harapkan di setiap untaian do’a-do’anya, di kedalaman sujudnya, di samudra munajatnya kepada Tuhan dan di dalam setiap sholatnya. Jalan ihdinas shirotol mustaqim. Jalan lurus itulah yang memberikan keberaniannya untuk tawar menawar dengan Tuhan. Walau pada dasarnya kematian bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawarkan.

Jika kita mendatangi Tuhan dengan kemurnian niat dan kejujuran jiwa, tentu kita akan diterima di altar suci-Nya. Tuhan akan memperkenankan segala do’a-do’a dan permohonan kita. Jangankan hanya meminta hal-hal yang bersifat keduniaan, surga dan segala isinya pun akan Tuhan berikan. Jadi jangan pernah takut untuk menjalani hidup ataupun kematian itu sendiri. Jika kita bertekad untuk berani mati Allah akan memberikan kehidupan kepada kita, karena perasaan kematian itu telah terlampaui.
Jiwa perjuangannya telah bergelora, berkobar-kobar membakar segala halangan dan cobaan dalam merintis dan mendirikan pesantren di kampung kelahirannya. Tidak peduli apa kata dunia, tidak peduli apa kata orang-orang, bendera jihad telah dikibarkan pantang surut ke belakang. Semboyan perjuangannya cetar membahana, mengangkasa dan berkobar-kobar dalam jiwa santri-santrinya, Sir Wa la Taqif, Ever on word never retret, maju terus pantang mundur.

Pesantren ASSALAM Bangilan, sebuah nama pesantren yang memiliki arti keselamatan, sebuah pesantren yang dinamai mirip seperti almamater dimana beliau mondok “Gontor Darussalam.” Rintangan demi rintangan, kesusahan-demi kesusahan, kesulitan dan demi kesulitan beliau anyam, beliau rajut dengan penuh keistiqomahan sehingga menjelma menjadi benang-benang keberhasilan, hingga berdirilah sebuah pesantren yang kelak akan diperhitungkan oleh dunia “Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.”

Pesantren ASSALAM beliau belani hingga toh-tohaning nyowo, beliau belani hingga toh-tohaning raga, bahkan beliau belani hingga toh-tohaning keluarga. Tidak salah jika Abah Moehaimin Tamam ngucap sabda : “ASSALAM berdiri di atas landasan dan linangan air mata Moehaimin Tamam.”

Pesantren yang baru seumuran jagung ini beliau belani dengan sepenuh jiwa dan raga. Tetesan air mata, keringat, dan perjuangan yang keras menjadi saksi akan berdirinya pesantren yang kelak bisa menjadi ladang ibadah bagi seluruh umat Islam seluruhnya“ASSALAM Lana Wa Lil Muslimin” begitu dawuh beliau.

Kini pesantren ASSALAM yang dulu diperjuangkan oleh beliau Abah Moehaimin Tamam telah menginjak dewasa, estafet tali kepemimpinan telah diwariskan pada genersi selanjutnya. Tuhan telah memeluk kekasihnya dalam kasih dan cinta-Nya. Semoga beliau Abah Moehamin Tamam tersenyum bahagia melihat taman surga membumi, semoga beliau bangga melihat bunga-bunga pesantren yang dulu ditanamnya kini telah bermekaran mewangi semerbak memenuhi bumi Persada Nusantara. Amin. Joyojuwoto

*ada dua versi tempat menurut Mbak Ana di lokasi masjid Bangilan dan Gus Yunan di Pondok Weden


Minggu, 10 Januari 2016

Pak Soes Sang Rektor

Pak Soes Sang Rektor

Pak Soes adalah seorang kakek tua yang membara, berambut putih, kumis dan cambangnya pun sama putihnya. Umurnya sekitar tujuh puluh sembilan tahunan, namun semangatnya tak pernah padam. Semangat untuk terus berkarya walau ia harus menempuh jalan kesunyian. Ia tak memiliki cita-cita dan keinginan yang macam-macam, cukup menulis, menulis, dan menulis. Tidak lebih dan tidak kurang. Menulis adalah jiwanya, menulis adalah semangat hidupnya, dan menulis adalah salah satu alasan ia untuk terus ada.

Soesilo Toer, adik dari penulis Pramodya Ananta Toer yang juga seorang doktor lulusan Institut Plekhanov Uni Soviet yang sekarang tinggal di rumah warisan keluarga besar Mastoer dan mengelola perpustakaan PATABA (Pramodya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) adalah seorang pribadi yang hangat, terbuka, apa adanya, tidak dibuat-buat dan sangat original. Kemarin saat liburan sekolah saya bersaya teman-teman menyempatkan diri dolan ke kediaman beliau yang berada di Jalan Sumbawa No. 40. Karena baru pertama kalinya kami ke PATABA, kami sempat bertanya-tanya kepada orang-orang yang saya temui. Namun sayang  dari beberapa orang yang saya tanya ternyata tidak kenal yang namanya Soesilo Toer. Padahal menurut perkiraan saya pasti orang seluruh Blora atau setidaknya masyarakat sekitar alun-alun Blora kenal dengan yang namanya perpustakaan dan rumah dari keluarga besar Mastoer.

Lha gaung Pram saja tidak hanya selevel nasional bahkan sudah dikenal dari lima benua masak tetangganya saja kok tidak kenal. Kayaknya faktor ideologi yang menjadikan Pram tidak begitu populer di tanah kelahirannya sendiri. Pemerintah daerah kelihatannya juga tidak memiliki perhatian terhadap apa yang diwariskan oleh anak biologisnya itu. Namun penilaian saya ini pun hanya sepintas lintas saja, karena saya di situ juga hanya beberapa jam saja, tentu terlalu dini jika digunakan sebagai acuan penilaian.

Kembali kepada Pak Soes panggilan akrab Pak Soesilo Toer, adalah pribadi yang kuat dan tegar. Beliau juga sosok yang sangat menyenangkan. Di usia yang boleh dikatakan senja beliau masih sangat giat menulis. Banyak buku yang telah ditulisnya disela-sela kesibukannya berternak kambing dan mengurusi pekarangan rumah yang digunakan untuk menghidupi keluarganya. Diantara karya-karya beliau banyak mengulas mengenai sosok kakaknya semisal buku yang berjudul Pram dari Dalam, Pram dalam Kelambu, Pram dalam Bubu, Pram dalam Belenggu, dan Pram dalam Tungku. Selain sibuk menulis dan beternak beliau juga yang mengurusi PATABA.  Jika ada pengunjung beliaulah yang menemani para pengunjung untuk menikmati buku-buku yang ada di perpustkaan itu. Bahkan kita akan dibuat betah dan senang dengan cerita-cerita beliau tentang Pram, tentang Indonesia, dan tentang berbagai hal yang sangat menyenangkan.

Pak Soes ibarat ember kata beliau. Sekali dipukul akan berbunyi berkali-kali. Pak Soes sangat antusias dan sangat senang sekali jika ada orang yang mengunjungi perpustakannya. Ini terlihat dari sambutan beliau kepada kami yang sangat luar biasa. Pancaran wajah beliau sumringah, tawanya renyah, dan senyumnya merekah. Kami yang baru kenal merasa sudah sangat akrab dengan beliaunya. Seakan-akan kedatangan kami ibarat kedatangan seorang cucu yang datang bertandang ke rumah kakeknya. Sungguh-sungguh sangat menyenangkan.

Pak Soes akan sangat senang menceritakan sejarah-sejarah bangsa kita masa silam. Ada banyak hal yang beliau ceritakan dan dijamin kita akan dibuat tertawa ngakak, kadang pula kita akan dibuat terheran-heran dengan cerita beliau yang belum pernah kita dapati di buku-buku. Dan kadang kita juga akan dibuat terbengong-bengong dengan pengetahuannya yang lintas negara. maklum selain pernah sebelas tahun di Rusia beliau juga memiliki referensi buku yang sangat banyak dan beragam jenisnya.

Selain sibuk menulis Pak Soes ternyata adalah seorang “rektor”  dan ini adalah hobi yang dijalaninya semenjak kecil. Dengan status kerektorannya ini beliau merelakan waktu malamnya untuk keliling kota Blora mencari sisa-sisa sampah hotel atau restoran untuk di rektorinya. Korek-korek barang kotor itu adalah salah satu hobi beliau. Hingga meminjam istilah dari Rene Descartes “egito ergo sum” Saya berfikir maka saya ada. Sedang Pak Soes bilang “Lelesa Ergo Sum” Saya memulung maka saya ada.

Itulah sedikit kesan yang saya dapatkan dari seorang Pak Soes yang memiliki ketegaran dan kekuatan untuk memilih jalan kesunyian. Jalan yang hanya mampu ditempuh oleh orang-orang yang memiliki komitmen dan kebesaran jiwa. Saya turut mendo’akan semoga beliau diberi kesehatan dan umur yang panjang, agar salah satu dari cita-cita beliau terkabulkan yaitu mengalahkan kakaknya Pram dalam umur, walau mungkin itu hanya sehari saja. Sekian. Joyojuwoto