Rabu, 07 Oktober 2015

Buku, Guru, dan Menulis

Buku, Guru, dan Menulis
Oleh : Joyojuwoto

Menulis adalah sebuah keniscayaan lebih-lebih bagi seorang yang berpropesi sebagai guru. Sebagaimana yang tercantum dalam UU No. 14 Tahun 2005 pasal 10 tentang guru dan dosen disebutkan bahwa seorang guru yang profesional  setidaknya harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Karena menurut PP. Nomor 74 tahun 2008 menjelaskan bahwa kompetensi profesional guru merupakan kemampuan guru yang berkaitan dengan penguasaan pengetahuan, teknologi, dan atau seni dan budaya atas bidang pelajaran yang diampunya.

Atas alasan inilah seharusnya seorang guru harus menulis. Dengan menulis seorang guru  dapat meningkatkan kompetensi profesionalnya, karena menulis sangat dituntut untuk menguasai bidang disiplin ilmu yang akan ditulisnya. Selain itu tentu guru yang penulis akan berusaha mencari, membaca, dan menela’ah berbagai referensi yang dipakai sebagai bahan untuk menulis.

Menulis dan menghasilkan sebuah karya buku memiliki multi manfaat bagi seorang guru. Salah satunya tentu memberikan tambahan kredit poin untuk kenaikan jabatan, promosi jabatan bagi seorang guru PNS. Manfaat lain dari menulis tentu ini menjadi salah satu cara untuk membuka pintu rezeki. Jika ketepatan buku itu best seller maka seorang guru akan mendapatkan keuntungan finansial juga. Dan yang paling penting dari aktivitas menulis adalah sebagai sarana untuk menebar manfaat dan menjadi ladang amal kebaikan dengan dakwah bil qalam, dakwah dengan pena yang pahalanya akan terus mengalir sepanjang buku itu dibaca dari masa ke masa.

Guru sebagai instrumen penting serta yang menjadi ujung tombak perubahan dan kemajuan suatu bangsa tentu harus selalu mengasah kemampuan dan skilnya guna berada di garda depan bagi proses penyerdasan kehidupan anak bangsa. Oleh karena itu dua hal penting sebagai tolak ukur maju mundurnya suatu kebudayaan bangsa adalah buku dan menulis. Sebanyak apa buku yang dihasilkan dan ditulis oleh warga negara Indonesia menjadi penanda masa keemasan bangsa ini. Mari menengok sejarah keemasan dunia Islam abad pertengahan, saat itu yang mana mesin cetak dan foto copy belum ditemukan tapi jumlah koleksi buku di perpustakaan Baitul Hikmah masa pemerintahan Harus Ar Rasyid menurut catatan sejarah sekitar dua juta jilid buku. Suatu jumlah yang luar biasa tentunya di masa itu, bahkan di masa sekarang.

Minat baca, buku, dan menulis berbanding lurus dengan peningkatan kompetensi seorang guru, namun sayang produksi buku di Indonesia sangat rendah. Menurut catatan www.kompas.com pada tahun 2011 produksi buku di Indonesia sekitar 20.000 judul buku. Jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 240 juta jiwa perbandingannya satu buku dibaca oleh 80.000 orang. Jumlah ini tentu sangat tidak ideal sekali dan imposible. Padahal seharusnya guru berada di garda terdepan dalam hal gerakan membaca, menulis, dan membeli buku. Rendahnya minat baca salah satunya tentu disebabkan kurangnya koleksi buku, jika koleksi buku minim maka sangat sulit diharapkan untuk bisa menulis.

Pemerintah dengan program sertifikasi guru yang fungsi sejatinya untuk meningkatkan kompetensi dan mutu guru ternyata jauh dari harapan. Dana yang diberikan pemerintah kebanyakan hanya menyasar pada fungsi kesejahteraan saja. Menurut pengamatan saya di tingkat lokal ternyata sertifikasi guru belum mampu mendongkrak dan meningkatkan daya beli buku bagi seorang guru guna menunjang profesionalitas guru sebagaimana yang dimaksud. Saya kira juga wajar jika dana sertifikasi bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, namun sisi peningkatan kompetensi guru juga perlu mendapatkan ruang dan perhatian.

Buku menjadi hal  penting bagi seorang guru, baik untuk dibaca ataupun untuk ditulis. Tentang membaca saya selalu teringat dengan dawuh Kyai saya di pesantren, beliau selalu berpesan untuk selalu membaca. Bahkan beliau mengatakan “Jangan mengaku menjadi santri ASSALAM, kalau belum cinta membaca”  begitu dawuhnya.

Menurut  Feuntas yang saya kutip dari WA salah satu teman “Buku tidak menulis dirinya sendiri. Juga tidak digodok dalam komite. Menulis adalah aksi seorang diri yang kadang menakutkan.”  Jadi perlu keberanian, tekad,dan komitmen bagi seorang guru untuk memproses pengetahuan dari buku untuk diolah menjadi buku-buku yang lainnya.  Oleh karena itu menurut saya fardlu ‘ain hukumnya seorang guru harus menulis buku, setidaknya menulis artikel, makalah, PTK, dan model-model tulisan ilmiah lainnya guna meningkatkan dan memberikan keteladan dalam dunia akademik di dunia pendidikan agar kelak pendidikan di Indonesia benar-benar mampu mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu  manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.


Saya kira tidak berlebihan buku, guru, dan menulis, menjadi bagian penting bagi sebuah proses metamorfis perubahan bangsa yang berperadaban. Sekian.  Joyojuwoto

Minggu, 27 September 2015

The Power Of Duet Hudanoor-Zadit

The Power Of Duet Hudanoor-Zadit
Oleh : Joyojuwoto

www.4bangilan.blogspot.com -24/09/2015 Angin Pilkada Kab. Tuban telah berhembus, umbul-umbul yang bergambar paslon berkibaran disetiap sudut-sudut jalan, baliho kedua paslon pun tampak mejeng serasi bergandengan kiri dan kanan. Jika Hudanoor di sisi kiri tentu Zadit di sisi kanan begitu sebaliknya Zadit di sisi kiri Hudanoor di sisi kanan sangat paralel, serasi, ideal dan akur. Hal ini tentu berdampak pada kondisi masyarakat yang positif dan konstruktif. Lebih-lebih dan  sungguh sangat menggembirakan jika saya melihat foto kedua paslon yang ada di baliho-baliho yang sudah didrop oleh KPU menunjukkan wajah sumringah dan kelihatan grapyak semanak. Tidak seperti pada pilkada-pilkada sebelumnya, jangan pernah berharap baliho paslon bisa berjejer akur, salah satunya tentu ada yang dirusak oleh masing-masing pendukung atau kalau tidak begitu akan saling menutupi dengan cara membuat baliho tandingan yang lebih besar dari lawan politiknya.

Melihat dan mengamati hal ini tentu masyarakat Tuban akan merasakan aura kedamaian dan ketentraman di era pilkada tahun 2015, tahun keberuntungan masyarakat Tuban. Karena suhu politik ditingkat grass root terasa adem ayem dan tentren meminjam istilah bung Karno kadya siniram banyu sewindu lawase.  Mengapa demikian, karena kita tahu bahwa sikap politik masyarakat bawah sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh perilaku dan sikap elit-elit politik ditingkat atas.  

Jika para elit politik eyel-eyelan ditingkat bawah juga akan eyel-eyelan, jika mereka ribut masyarakat juga ribut, bahkan akan menyulut kerusuhan massal dan kekerasan politik. Tapi di tahun ini kita bisa bernafas lega, setidaknya tidak terlalu was-was kejadian pilkada Tuban tahun 2006 akan terulang kembali. Walau demikian bapak-bapak Polisi harus  waspada dan tetap menjalankan tugasnya sesuai dengan standart pengamanan pilkada agar pilkada tahun ini tetap kelihatan pantas dan prosedural dan tentu tidak cacat hukum.

Sikap positif yang ditunjukkan oleh kedua paslon ini layak untuk kita move kan, setidaknya agar masyarakat tahu bahwa elit politik kita sudah dewasa. Jika Gus Dur masih ada dan sempat berkunjung ke Tuban, atau setidaknnya membaca tulisan saya tentu beliau akan bilang “Delok’en kae wong Tuban rebutan dadi Bupati tapi akure ra karuan” J Padahal secara historis Tuban termasuk wilayah yang hampir selalu mengalami pergolakan ketika menyangkut dengan suksesi kekuasaan, setidaknya ini pernah ditunjukkan oleh Adipati Ranggalawe yang menentang pengangkatan Nambi menjadi patih Amangku bumi di kerajaan Majapahit.

Tapi ya sudahlah sejarah tidak surut ke belakang, dan sejarah telah terjadi tentu tidak bisa kita hakimi dan kita salah-salahkan. Namun sejarah bisa memberikan edukasi dan inspirasi yang berharga bagi masyarakat di era sekarang. Kekuasaan yang cenderung sewenang-wenang tentu akan menimbulkan dampak yang merusak khususnya di level bawah. Oleh karena itu pilkada tahun ini saya menyebutnya sebagai “The Power Of Duet Hudanoor-Zadit” untuk membawa Tuban yang maju dan berkelanjutan. Maju untuk kedua paslon, berkelanjutan untuk Hudanoor jilid II. Sekian. Joyojuwoto

Sabtu, 26 September 2015

Jawara-Jawara Lembah Khaibar

“Jawara-Jawara Lembah Khaibar”
Oleh : Joyojuwoto

Sorak-sorai pasukan umat Islam membahana memenuhi lembah Khaibar, perang berkobar antara pasukan umat Islam melawan kaum Yahudi. Khaibar memiliki benteng-benteng yang kuat dan pasukan yang banyak dan pertahanan yang berlapis-lapis. Selain itu mereka juga memiliki jawara-jawara pilih tanding yang siap mempertahankan tiap jengkal tanah Khaibar. Oleh karena itu orang-orang Yahudi merasa yakin bahwa pasukan umat Islam tidak akan mampu mengalahkan mereka.

Walau dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW namun pasukan umat Islam kesulitan untuk menembus setiap benteng di Khaibar. Jawara-jawara Yahudi dengan penuh semangat memobilisasi pasukannya untuk menghalau setiap serangan dari lawan. Sallam seorang pemuda Yahudi bersama prajurit-prajurit pilihan yang berada di front depan mati-matian mempertahankan kehormatan klan Yahudi. Tidak mau kalah dengan keberanian dan kepahlawanan pasukan Yahudi umat Islam dengan semangat jihad yang membara bagai air bah melibas pasukan Sallam, korban berjatuhan termasuk Sallam sang komandan yang gagah berani.

Dengan tewasnya Sallam ternyata pertahanan Yahudi tidak mengendor, umat Islam masih kesulitan untuk menaklukkan Khaibar yang dilindungi beteng-benteng yang kokoh. Dari balik benteng muncul kembali seorang jawara Yahudi yang mengobrak-abrik pasukan umat Islam. Marhab seorang jawara yang memiliki kekuatan setara dengan ribuan pasukan menantang jago-jago dari pasukan umat Islam. Ia berteriak-teriak dengan congkak dan menyombongkan diri :

Khaibar tahu adalah Marhab
Senjata ampuh pahlawan kawakan

Tidak mau pasukan Islam diremehkan oleh Marhab, Amir turun ke gelanggang menyambut tantangan Marhab :

Khaibar tahu adalah Amir
Senjata ampuh pahlawan di medan laga

Terjadi perang  tanding antara Amir dan Marhab, saling serang, saling menusuk, bergulung-gulung hingga debu-debu beterbangan memenuhi medan laga. Hingga akhirnya pedang Marhab menebas Amir, namun Amir berhasil menangkis dengan perisainya, Amis terdesak ia berusaha membalas serangan Marhab dengan membabatkan pedangnya ke arah kaki Marhab, namun sayang pedang Amir terlalu pendek, pedang itu tidak mengenai sasaran justru pedang itu mengenai urat nadi di lengannya, hingga akhirnya Amir gugur.

Marhab tak terkalahkan ia kembali menantang jago-jago dari umat Islam. Tampillah Mahmud saudara Muhammad bin Maslamah menyambut Marhab, namun lagi-lagi jago dari umat Islam terbunuh. Melihat saudaranya terbunuh Muhammad bin Maslamah keluar menantang Marhab. Terjadi perang yang dahsyat diantara keduanya hingga mereka keluar dari arena perang. Diantara pohon-pohon mereka saling serang, pada suatu kesempatan pedang Marhab menebas Muhammad, dengan sigap Muhammad berhasil menangkisnya dan dengan gerakan kilat Muhammad membalas serangan Marhab, ia membabatkan pedang ke arah kaki, naas bagi Marhab ia tidak sempat menghindar. Marhab sang jagoan Yahudi pun roboh bersimbah darah.

                Muhammad bin Maslamah membiarkan Marhab sekarat tak berdaya. Ia tidak membunuhnya walau Marhab telah meminta-minta untuk dibunuh karena ia tak sanggup menahan malu dan penderitaannya. Saat itu Ali bin Abi Thalib datang dan untuk mengakhiri derita Marhab, Ali pun membunuhnya.

Dengan terbunuhnya para Jawara Yahudi tidak serta merta benteng Khaibar dapat ditaklukkan. Rosulullah memerintahkan Abu Bakar dan Umar bin Khattab untuk memimpin pasukan menaklukkan benteng Khaibar, namun kekokohan benteng masih tak mampu ditembus oleh pasukan umat Islam. Kemudian Rosulullah mengatakan besok pasukan umat Islam akan dapat menaklukkan Khaibar, dan komandannya adalah lelaki yang mencintai Alllah dan Rosul-Nya, begitu juga Allah dan Rosul-Nya pun mencintainya.

Pada malam harinya para sahabat sama berfikir siapa kira-kira yang dimaksud oleh Rosulullah, masing-masing berharap merekalah yang akan diserahi bendera komando itu. Pada pagi harinya para sahabat sama berkumpul bersama Rosulullah menanti siapa kira-kira yang akan ditunjuk oleh beliau. Kemudian Rosulullah mencari Ali bin Abi Thalib yang saat itu sedang sakit mata. Setelah diobati oleh Nabi, sakitnya Ali sembuh seketika. Dan Ali ditunjuk oleh Rosulullah untuk memegang bendera itu.

Setelah bendera komanda ditangan Ali bin abi Thalib, pasukan umat Islam pun melanjutkan pertempuran untuk menaklukkan Khaibar. Pertempuran  kembali berkobar, disalah satu pintu benteng Ali bin Abi Thalib bertempur habis-habisan melawan pasukan Yahudi hingga salah satu prajurit Yahudi berhasil menebas Ali dan perisainya terlempar. Dalam kondisi yang terjepit Ali bin Abi Thalib dengan sigap dan penuh kejutan berhasil menjebol salah satu daun pintu benteng dan dijadikan sebagai perisai. Ali terus bertempur dengan gagah berani menerjang musuh dengan perisai daun pintu. Padahal dua puluh orang belum tentu kuat mengangkat daun pintu itu. Banyak pasukan Yahudi yang terbunuh. Dengan jebolnya pintu benteng akhirnya pasukan Yahudi dapat dikalahkan oleh umat Islam. Khaibar pun takluk di bawah panji-panji Islam. Sekian. Joyojuwoto