Minggu, 15 Desember 2019

Mbah Dalhar dalam Dalang Kentrung Terakhir

Mbah Dalhar dalam Dalang Kentrung Terakhir
Oleh: Joyo Juwoto

Tak pikir-pikir, saya ini termasuk santri yang merugi, Jian santri model apa saya ini ya? Mbah Dalhar seorang ulama Kharismatik yang juga waliyullah saja saya tidak mengenalnya. Sungguh sebuah kerugian ketika kita tidak mengenal sejarah dan keteladanan dari orang-orang Sholeh.

Tapi Alhamdulillah, berkat silaturahmi dan dolan-dolan dengan saudara saya, kang mas Saya, Mas Mujoko Syahid saya mendapatkan sebuah kisah menarik tentang sosok Mbah Yai Dalhar, yang kemudian saya tuliskan dalam cerita pendek di buku Dalang Kentrung Terakhir.

Kisah dari mas Syahid ini yang kemudian menjadi inti sebuah cerpen yang berjudul "Jalan Pulang". Secara singkat isi dari cerpen tersebut akan saya ulas agar bisa bisa dipahami, karena jika membaca ceritanya secara langsung saya khawatir tidak bisa dipahami. Bukan apa-apa, sebabnya saya memang sering kesulitan menerjemahkan sebuah ide tulisan menjadi tulisan yang benar-benar enak dibaca dan dipahami oleh pembaca.

"Jalan Pulang" ini sebagaimana yang dikisahkan Mas Syahid berkenaan dengan salah satu dari periode kehidupan ayahnya sendiri, yaitu pak Muzadi. Ceritanya, Muzadi muda termasuk pemuda berandalan. Walau bertubuh kecil, Muzadi dikenal sebagai perampok sakti yang telah banyak malang melintang di dunia hitam.

Hampir seluruh perbuatan molimo telah dilakukan oleh Muzadi muda. Daerah yang menjadi target operasi kejahatannya berada sekitar Solo, Jogja, dan Magelang. Begitulah yang menjadi adat perampok jaman dahulu, mereka tidak mau bertindak jahat di daerahnya sendiri.

Ada hal unik yang dilakukan oleh Muzadi ini.  Sebagaimana satu teori yang menyatakan bahwa tempat yang paling aman untuk mencuri adalah di dekat kantor polisi itu sendiri. Dan ini dilakukan oleh Muzadi, walau perbuatannya melanggar ajaran agama, tapi demi penyamarannya dalam melakukan kejahatan, ia justru bersembunyi di pondok pesantren. Tepatnya di pondok watu congol yang saat itu diasuh oleh Mbah Dalhar.

Muzadi muda pura-pura menjadi santri Watu Congol. Layaknya seorang santri, Beliau juga ikut mengaji bersama santri-santri lainnya. Walau nyantrinya hanya pura-pura saja, sekedar menyamar dan menyembunyikan identitasnya.

Tak disangka oleh Muzadi, pada suatu kesempatan ia dipanggil untuk sowan ke ndalemnya Mbah Dalhar. Bukan main takut dan bingungnya Muzadi saat itu. Dia khawatir identitasnya terbongkar. Tapi sebagai santri Muzadi memberanikan diri untuk bertemu Mbah Dalhar.

Ketika memasuki ndalemnya Mbah Dalhar, Muzadi pasrah, ia sama sekali tak menyangka Mbah Dalhar akan memanggilnya. Apalagi dia bukan santri ndalem dan bukan santri yang menonjol, Muzadi hanya ngaji nguping di setiap pengajian Mbah Dalhar.

Panggilan Mbah Dalhar inilah yang akan mengubah jalan hidup yang selama ini digeluti oleh Muzadi. Bahkan mengubah seluruh perjalanan hidupnya hingga akhirnya menikah dan bisa memiliki keturunan, padahal Muzadi telah divonis oleh seorang dokter  bahwa ia tidak akan memiliki keturunan.

Apa yang didawuhkan oleh Mbah Dalhar dan apa yang dilakukan oleh Muzadi sesudah dipanggil Mbah Dalhar ada baiknya bisa dicek sendiri di buku saya saja ya. Haha...mohon maaf saya gak jadi bercerita secara komplit cerita tentang Jalan Pulang. Capek ngetiknya, lha ini pakai hape soalnya.

Yang jelas saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada mas syahid yang telah membeberkan sedikit kisah dari Mbah Dalhar. Dan tak disangka dan tak sengaja saya kok bisa sowan dan berziarah ke makam mbah Dalhar yang berada di area Maqam Raden Santri yang berada di Gunung Pring Magelang. Alhamdulillah, saya menyempatkan sambung hati dan sambung rasa dengan beliaunya.

Semoga hal ini menjadi jodoh yang baik bagi saya pribadi khususnya. Aamiin aamiin ya rabbal 'alamin. Demikian sedikit hubungan Mbah Dalhar dan Buku Dalang Kentrung Terakhir yang saya tulis. Terima kasih. Salam bahagia Indonesia raya,  jayalah Nusantara tercinta.

*Puncak Gunung Pring*
15/12/19

1 komentar:

  1. Kurang lengkap ceritone dadi Gung sempat bosen wis bar mocone dan penasaran

    BalasHapus