Minggu, 03 Desember 2017

Nabi Muhammad Yang Terpuji

Nabi Muhammad Yang Terpuji
Oleh : Joyo Juwoto

Akhlaq dan perilaku Rasulullah Saw adalah teladan utama bagi umatnya, beliau mencontohkan sifat-sifat dan perilaku yang mulia. Nabi Muhammad adalah manusia yang terpuji nan sempurna, ma’sum terjaga dari segala dosa, dan selalu di jaga dan dibimbing oleh Allah Swt melalui bisikan wahyu. Nabi Muhammad adalah sosok yang agung, ibarat permata diantara batu-batu lainnya. Seorang penyair  berkata :

محمد بشر لا كالبشر # بل هو كالياقوت بين الحجر"

“Kanjeng Nabi Muhammad iku manungsa, tapi ora kaya jenise manungsa
Tapi Kanjeng Nabi iku kaya inten, kumpul karo jenise watu-wati item”

“Muhammad adalah manusia
tetapi tidak seperti manusia
melainkan bak permata diantara batu-batu lainnya”

Begitulah gambaran Nabi Muhammad, bak permata diantara batu-batu lainnya, sebagaimana nama yag disandangnya, Muhammad berarti terpuji nama yang mewakili sifat-sifat dan perilakunya.

Nabi Muhammad tidak hanya dipuji oleh penduduk bumi saja, namun penduduk langit pun sama memuji beliau, tidak hanya manusia, batu-batu dan kayu pun senantiasa mengucapkan salam dan shalawat kepadanya. Nama Nabi Muhammad tidak hanya terpuji semasa hidupnya saja, namun sesudah beliau tiada nama Nabi Muhammad selalu semerbak harum dan senantiasa disebut-sebut sepanjang masa. Bahkan sebelum kelahirannya, Nama Nabi Muhammad telah maujud dan menjadi sumber cahaya dan kehidupan semesta.

Semua makhluk memuji Nabi Muhammad yang mulia, beliau terbebas dari segala aib dan cela, tidak peduli kawan maupun lawan, semua mengakui keagungan Rasul yang mulia. Hassan Ibn Tsabit bersyair dengan sangat indah :

“Dan yang lebih baik darimu belum pernah terlihat oleh mata, dan yang lebih indah darimu belum pernah dilahirkan oleh para wanita”
Engkau diciptakan bebas dari segala aib, seakan-akan engkau dicipta seperti apa yang engkau inginkan”

Jangankan makhluk-makhluk, Tuhan pun memuji akhlak dan perilaku Nabi Muhammad Saw, dalam kalamnya yang mulia Allah berfirman :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤)

Artinya : “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.

Mari mengagungkan Nama Nabi Muhammad dengan senandung shalawat, agar kelak kita mendapatkan syafa’atnya.



Sabtu, 02 Desember 2017

Meniti Jejak Sang Rasul

Meniti Jejak Sang Rasul
Oleh : Joyo Juwoto

Di dunia ini sosok manusia yang paling mulia, yang paling agung dan layak untuk kita ikuti jejaknya adalah Nabi Muhammad Saw.  Kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad Saw tidak hanya pada saat beliau hidup dan ada, namun sesudah beliau tiada pun kemuliaannya tiada tergantikan. Bahkan kemuliaan Nabi Muhammad telah ada sebelum jagad raya dan alam semesta ini ada. Nama beliaulah yang menjadi alasan Allah Swt menciptakan semesta raya.
Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Ta’ala berfirman :

اوّلُ ماَ خَلَقَ الله تّعّالّى نُوْرِي.ْ

Artinya : “Pertama-tama yang dijadikan Allah Swt, adalah cahayaku (nur-ku)”.

Oleh karena itu seluruh semesta raya senantiasa mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, para malaikat juga bershalawat kepada beliau, Allah Swt menegaskan hal ini di dalam surat AL Ahzab ayat 56 yang artinya : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.

          Jika Allah dan malaikat-malaikat-Nya sama bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, tentu kita pun harus senantiasa menyenandungkan shalawat kepada beliau, baik itu shalawat yang berupa ungkapan lisan maupun shalawat yang berupa meneladani segala uswah hasanah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, karena beliau adalah sebaik-baik teladan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)

Artinya : :Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.

Lalu pertanyaannya sudahkan kita mencontoh perilaku Nabi Muhammad dalam kehidupan kita sehari-hari? Tak perlu kita menjawab secara lisan, mari kita muhasabah diri, bercermin dan melihat diri kita sendiri, sudah sejauh mana kita meniti Jejak Sang Rasulutusan Allah Swt.

Tidak perlu kita muluk-muluk mengaku sebagai umat Nabi Muhammad, jika dalam hati kita masih menyimpan iri dan dengki, tak perlu kita berkhutbah dengan gagah di atas mimbar-mimbar menyatakan diri paling mencintai dan meneladani Kanjeng Nabi Muhammad jika diri ini masih merasa paling benar sendiri, dan mengabaikan segala perbedaan.

Mari bersama meniti jejak sang rasul dengan terus berlatih dan berproses menjadi muhammadiyyin sejati. Jika kita NU maka NU kita adalah NU Muhammadiyyin, jika kita Muhammadiyah maka harus lebih Muhammadiyyin, menjadi FPI, Persis yang Muhammadiyyin, dan semuanya bersatu dalam barisan Muhammadiyyin yang rahmatan lil ‘alamin karena  Nabi Muhammad Saw diciptakan oleh Allah sebagai pembawa misi rahmatan lil ‘alamin bukan laknaatan lil ‘alamin.

Dalam surat Al Anbiya’ ayat 107 Allah Swt berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (١٠٧)

Artinya : “ dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Rahmat di ayat tersebut berasal dari kata Rahima, yang berarti kasih sayang. Kasih sayang di sini menjadi titik point penting dalam ajaran Nabi Muhammad Saw, yaitu menebar kasih sayang kepada alam semesta. Ajaran kasih sayang ini diajarkan dan dicontohkan Nabi Muhammad Saw dalam kehidupannya sehari-hari.

Mari bersama meneladani kepribadian agung Nabi Muhammad Saw, mari meniti jejak-jejak Sang Rasul agar kelak kita diakui sebagai umatnya, dan mendapatkan karunia berupa syafa’atul udzma. Aamiin... Aamiin ya rabbal ‘alamin. Shalluu ‘alan Nabi Muhammadin.


Rabu, 29 November 2017

Kembali ke akar kembali ke asal

Kembali ke akar kembali ke asal
Oleh : Joyo Juwoto

Kampung halaman adalah sumber air bening asal muasal kehidupan anak manusia, kampung halaman adalah kemurnian udara yang kita cecap yang kemudian mengalir bersama darah dan denyut nadi kita, Kampung halaman adalah matahari yang menjadi penerang bagi derap langkah manusia ke depan, kampung halaman adalah ibu bumi pertiwi yang melahirkan anak-anak manusia menjadi yang sekarang.

Kampung halaman adalah tanah tumpah darah di mana kesetiaan janji primordi digantungkan. Di manapun manusia berada tentu ia akan sangat merindukan kampung halamannya. Sejauh dan setinggi apapun manusia mengepakkan sayap-sayapnya ia akan selalu terbayang dan terkenang jua di mana ia berasal dan dilahirkan.

Kampung halaman ibarat tanah subur di mana akar-akar kehidupan mencecap hara kesucian dan tempat air kehidupan tersimpan. Setinggi apapun pohon tidak akan pernah lepas dari tanah dimana ia berpijak.  Kampung halaman menyimpan sejuta cinta dan selaksa rindu yang tersimpan di relung jiwa, yang pada saatnya akan terurai dalam pertemuan agung yang dikenal dengan nama pulang kampung.

Kampung halaman adalah tempat di mana kakang kawah adi ari-ari, getih dan puser kita bersemayam, terpendam di kedalaman bumi yang kita pijak, di kesunyian bumi batin yang terdalam dalam diri manusia. Maka ingatlah selalu kawah, ari-ari, getih dan pusermu, urip kuwi aja lali marang udele dewe, agar engkau tidak tersesat, karena pada dasarnya hidup haruslah mengerti sangkan dan paran. Sangkan Paraning Dumadi.

Sangkan berarti darimana engkau berasal, siapa engkau sesungguhnya, dan paran berarti akan kemana engkau kelak, untuk apa engkau dicipta, tujuan apa yang akan engkau capai di bayang-bayang kehidupan yang sementara ini, dan bagaimana akhir dari kehidupanmu.

Yang dari tanah kembali ke tanah
yang dari api kembali menjadi api
yang dari air kembali menjadi air
yang dari angin kembali menjadi angin
semuanya kembali menjadi cahaya
cahaya putih, cahaya kuning, merah, dan hitam
tenggelam, menyatu dalam cahaya kesejatian
kembali, kembali dalam kesejatian
Kun ma’allah


Setiap fase kehidupan pasti memiliki muara untuk kembali ke asal, kembali ke akar, kembali ke sumber, orang Jawa mengatakan bali marang mula mula nira, kembali kepada asal muasal kita. Dari tidak ada menuju ketiadaan, hanya yang sejati yang selalu ada dan tidak pernah hilang. Kesejatian itu hayyun la yamut, Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati. Orang yang lupa jalan kembali akan tersesat dan kehilangan kesejatian, karena pada dasarnya kesejatian adalah puncak dari segala tujuan hidup manusia. Kun Ma’allah.