Jumat, 06 Februari 2026

Pram: Cahaya dari Blora untuk Indonesia

Pram: Cahaya dari Blora untuk Indonesia
Oleh: Joyo Juwoto


Pada suatu ketika, saya ke Blora menziarahi rumah peninggalan keluarga Pak Mastoer. Rumah di pojokan Jalan Sumbawa itu tampak tua dan nyaris terlupakan oleh waktu. Di halaman rumah banyak ditumbuhi semak belukar dan rumput-rumput liar dan terkesan tidak terurus. Hewan peliharaan tuan rumah, Mbah Soesilo Toer—adik kandung sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer, atau yang akrab dipanggil Pram—dibiarkan berkeliaran tanpa tali pengikat. Ada beberapa ekor kambing yang ikut menghuni dan meramaikan rumah legendaris itu.
Dari rumah sederhana itu, cahaya dari Blora melesat ke langit-langit literasi dunia, menjadi mercusuar bagi kesusastraan Nusantara. Dari kota itu, Pram terlahir, menikmati masa kecil dalam dekapan kemiskinan dan penderitaan. Dari tanah itu, Pram bertumbuh dan menjalani takdirnya kelak menjadi salah satu penulis yang dikenal oleh dunia. Selain Pram, dari kabupaten penghasil kayu jati ini juga banyak terlahir tokoh-tokoh yang luar biasa, seperti Eyang Samin Suro Sentiko, Mas Marco Kartodikromo, Tirto Adhi Soerjo, seorang pahlawan nasional dan tokoh pers perintis jurnalistik bumiputera.
Setiap saya ke Blora, saya selalu berpikir dan merenung: apakah hari ini orang Blora masih mengenal Pram? Apakah anak-anak sekolah juga mengenal sosok yang terlahir dari kota sate ini? Atau, lebih luas lagi, apakah generasi bangsa ini mengenal sosok yang pernah dimusuhi oleh salah satu rezim yang pernah berkuasa di negeri ini? Bahkan lebih jauh lagi, saya juga berpikir: jangan-jangan Pram telah dilupakan oleh masyarakat, telah dilupakan oleh bangsanya sendiri, dan telah hilang dari pusaran sejarah? Kalau iya, tentu ini sungguh satu peristiwa yang sangat tragis bagi peradaban kita.
Dalam sebuah kata-katanya, Pram pernah menuliskan: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Mari kita uji apakah kata-kata Pram ini masih sakti. Apakah kata-kata Pram ini mampu menyelamatkan dirinya dan mengabadikan namanya dalam lembaran sejarah? Pram telah banyak meninggalkan warisan dan nilai bagi bangsa ini; tentu seharusnya, sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh dengan mudah melupakan apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita. Bung Karno secara tegas mengatakan: “Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah.”
Jika kalian bertemu orang Blora, silakan tanya apakah mereka mengenal Pram. Jika kalian sebagai seorang pendidik, coba tanyakan kepada anak didik panjenengan, seberapa tahu mereka dengan sosok Pram ini. Apakah nama Pram masih disebut-sebut oleh mahasiswa? Apakah karya-karya Pram masih dibaca dan menemani ruang diskusi mahasiswa? Ini semua bisa menjadi parameter seberapa jauh nama Pram masih melekat di benak masyarakat.
 
Masa seabad Pram telah usai. Ia lahir satu tahun lebih awal dari ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Pram terlahir pada 6 Februari 1925 dan meninggal dunia kurang lebih 20 tahun silam. Pram adalah penulis yang hanya satu lahir dalam satu generasi, bahkan satu dalam satu abad. Kita, bangsa Indonesia, layak berbangga dengan Pram. Pram adalah penulis produktif; lebih dari 50 karya ia persembahkan untuk bangsa ini. Karya-karya Pram banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan tersebar hampir di seluruh dunia. Sangat naif sekali jika kita tetangganya, jika kita yang satu kota dengan Pram, satu negara dengan Pram, tetapi tidak mengenal sosok beliau ini.
Ayo para pelajar, ayo para pemuda, mahasiswa, DPR, para pejabat, silakan cari dan gali buku-buku Pram. Silakan baca buku-buku Pram, silakan diskusikan di kafe-kafe, di aula kampus, di perpustakaan sekolah, bahkan di pinggir jalan dan trotoar. Silakan buku-buku itu dikritik, dibedah, ditelanjangi, bahkan dibantai sekalipun. Takdir buku-buku Pram memang demikian. Buku-buku itu dulu pernah dilarang peredarannya oleh rezim. Buku-buku itu, yang dulu jika kamu menyimpannya kemudian digeledah oleh rezim, telah bisa menjadi alasan buat kamu untuk masuk penjara. Buku-buku Pram sering menjadi sasaran tindakan barbarianisme, dengan dibakar dan dimusnahkan. Tidak hanya itu saja, bahkan penulisnya pun dijebloskan ke dalam penjara dari satu rezim ke rezim lainnya, dengan tanpa proses peradilan yang adil.
Sebagai generasi yang berpikir, kita jangan mudah percaya dengan propaganda, jangan mudah percaya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak jelas, dengan tuduhan-tuduhan yang tidak beradab. Ada yang bilang bahwa buku-buku Pram berbahaya, bahwa buku-buku Pram mengajarkan komunisme, bahwa buku-buku Pram adalah buku porno, dan sebagainya dan sebagainya. Generasi muda hari ini harus sudah adil sejak dalam pikiran, jangan cepat menyimpulkan kalau memang belum membaca dan menjelajahi isi pikiran Pram. Saya tidak sedang mendewa-dewakan Pram; beliau adalah manusia biasa, buku-bukunya juga bukan kitab suci yang tidak boleh salah dan tidak boleh dikritisi. Justru ini tugas kita untuk membaca dan mengkritisi serta mengkurasi karya-karya Pram, agar kita tidak menzalimi Pram dengan berbagai prasangka dan tuduhan yang tidak berdasar.
Bisa jadi Pram adalah seorang komunis karena keterlibatannya di Lekra, bisa jadi Pram adalah seorang atheis, bisa jadi Pram sesuai dengan yang dituduhkan kepadanya selama ini, namun kita sebagai manusia tetaplah harus menghargai nilai kemanusiaan itu sendiri. Gus Dur pernah mengatakan: “Sebelum beragama kita harus mengenal kemanusiaan”, setidaknya ajaran bapak humanisme ini perlu kita renungkan kembali, demi menjaga martabat serta nurani kemanusiaan serta membangun masyarakat yang adil dan beradab, berdasarkan nilai-nilai agama dan Pancasila tentunya. Saya menulis ini bukan sebab membenarkan atau menolak pandangan Pram, kita hanya perlu bersikap dewasa, bersikap adil, kritis dan tidak mengedepankan emosi dan kebencian dalam menilai sesuatu.
Sebagai penutup, tulisan ini hanya sekadar renungan, hanya sekadar memberikan sudut pandang yang berbeda tentang apa yang kadang disalahpahami oleh kebanyakan orang. Bagi saya, membaca Pram adalah bagian dari menyelami nilai-nilai kemanusiaan yang komprehensif dan mendalam, yang terekam dalam karya-karya beliau. Akhir kata, selamat membaca, selamat bertemu, selamat berkenalan dengan Pram dalam karya-karya beliau; semoga membawa manfaat dan keberkahan untuk kita semua, untuk seluruh masyarakat Indonesia, dan untuk bumi manusia dengan segala persoalannya. Terima kasih.

Joyo Juwoto, Penulis Buku Tiga Menguak Pram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar