Jumat, 07 April 2017

Membaca Cerpen “Alia Ingin Pergi Ke Angkasa” Karya Mbak Linda

Membaca Cerpen “Alia Ingin Pergi Ke Angkasa” Karya Mbak Linda
Oleh : Joyojuwoto

Senja yang gerimis tipis-tipis, cukup membuat dingin suasana. kunikmati semangkok mie ayam hangat di pinggiran jalan raya santren, tepatnya di baratnya pom mini.
Sambil membaca cerpen di HP dari mbak Linda yang di-share di group WhatsApp Komunitas Kali Kening.
Mbak Linda memang memiliki naluri resah melihat nilai kemanusiaan dikoyak moyak oleh tangan-tangan jahat. Perhatiannya dengan realisme sosial sangat tinggi, hal ini tentu tidak terlepas dari latar belakang beliau sebagai seorang Pramis. Tidak heran jika karya-karya yang beliau tulis banyak menyoroti masalah-masalah ketimpangan sosial yang terjadi di sekitarnya.
 Begitupula dengan cerpen yang ditulis oleh Mbak Linda dengan judul ““Alia Ingin Pergi Ke Angkasa” Cerpen ini mengisahkan tentang perilaku menyimpang seorang anak manusia, karena pengaruh negatif dari sebuah teknologi kebablasan yang merajalela.
Cerpen ini juga menggambarkan kondisi lokalitas suatu dusun yg jauh dari keramaian. Namun ternyata pengaruh jahat dari media yang tk terfilter masuk juga ke desa di pedalaman. Tidak hanya di kota-kota besar, ternyata dusun di celah gunung pun tidak lepas kejahatan media.
Sambil sesekali menyendok mie ayam, saya membayangkan seorang gadis kecil yg mengalami kekerasan seksual. Tentu ini adalah pengalaman menyakitkan yang tidak mudah hilang, membekas dan akan dibawa hingga dewasa.
Kasihan Alia, seorang gadis cantik yang mempunyai impian menjadi seorang angkasawati, seharusnya Alia menghabiskan hari-harinya dengan penuh keceriaan, memandang langit yang cerah, bermain dengan lincah bersama teman-temannya, menikmati masa bahagia yang kadang tak ditemukan pada orang-orang dewasa, namun Alia harus menanggung beban perasaan yang berat. Menjadi korban kekerasan dari kakak kelasnya sendiri, Harno.
Belum lagi, Alia yang seharusnya mendapatkan advokasi dan perlindungan, karena sebagai korban kekerasan seksual, namun justru ketika Alia menceritakan tindakan asusila dari Harno, anak kepala desa, justru ia dianggap berbohong dan harus menanggung malu, dihukum dengan cara direndam di sebuah sumur keramat, sebagai hukuman adat bagi orang-orang yang bertindak tidak sesuai dengan norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.
Membaca cerpen Alia ini membuat air mata berderai bagai gerimis sore itu, menyedihkan sekaligus nggregetke ati. Kita juga akan dibuat mengelus dada, sambil berucap “amit-amit jabang bayi” kejahatan-kejahatan yang dulu hanya ada di layar televisi, sekarang nyata di depan mata. Walau cerpen adalah sebuah karya fiksi, namun saya yakin ada pijakan fakta yang melatarbelakanginya.

Demikian sedikit ungkapan dan kesan saya dalam membaca cerpen mbak Linda, semoga beliaunya terus bisa berkarya. Salam literasi.

Selasa, 04 April 2017

Kartini dan Gerakan Literasi Kaum Perempuan

Kartini dan Gerakan Literasi Kaum Perempuan
Oleh : Joyojuwoto

Bulan April adalah Kartini, dan Kartini bisa bermakna beragam, mulai dari lomba memasak, memakai sanggul, berkebaya, memakai jarit, dan berbagai hal yang berkenaan dengan kaum perempuan Jawa. Semua perayaan-perayaan dalam rangka memperingati hari Kartini yang saya sebutkan di depan tentu tidak ada salah, namun tentu kita tidak ingin peringatan hari Kartini yang kita klaim sebagai hari emansipasi kaum perempuan hanya berhenti pada tataran seremonial berdandan dan berpakaian seperti Kartini semata.

Ada makna lebih yang perlu kita kembangkan dari sekedar trend kartinian di negeri ini dengan segala pernak-perniknya. Kita harus memandang Kartini utuh sebagai pribadi wanita Jawa, sekaligus juga memandang Kartini sebagai seorang yang mempunyai tekad dan semangat yang kuat untuk mengubah nasib perempuan. Saya tekankan kembali, bahwa Kartini adalah sosok yang berani menentang ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang telah diwariskan secara turun temurun dalam tata hirarki kehidupan masyarakat Jawa kala itu.

Jadi jangan sampai kita memandang Kartini hanya dari sanggul dan kondenya, jangan hanya melihat Kartini dari jarit dan kebaya yang dipakainya, jangan hanya menilai Kartini dari sampul luarnya saja, kita harus mulai masuk ke dalam, melihat jatidiri dan apa yang menjadi cita-cita besar dari Putri R. M. Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara ini. Coba sekarang kita mulai membuka cakrawala berfikir kita, mari dengan arif kembali membuka lembaran ke masa di mana Kartini hidup.

Kartini adalah seorang anak perempuan, di masa itu nasib kaum perempuan terkungkung oleh adat, begitu pula dengan Kartini. Ia walaupun anak seorang Bupati, nasibnya tidak begitu jauh dari perempuan-perempuan kebanyakan. Perempuan menjadi kanca wingking, menjadi subordinasi bagi kaum laki-laki. Kartini sadar betul, ia tidak memiliki apa-apa untuk melawan ketertindasan kaumnya. Namun Kartini harus melawan arus besar dan membebaskan kaumnya dari perbudakan yang dibungkus atas nama adat.

Menurut apa yang ditulis olehPram, dalam “Panggil Aku Kartini Saja”, bahwa Kartini tidak memiliki masa, tidak memiliki uang, Kartini hanya memiliki kepekaan dan keprihatinan dan ia tulislah segala-gala perasaannya yang tertekan itu. Iya, ketika Kartini dalam ketidakberdayaan yang dilakukan adalah menulis, dan tulisannya inilah yang akhirnya menjadi peluru yang menerjang tembok dinding penghalang kemajuan kaumnya.

Sebagaimana yang diucapkan oleh Sayyid Qutub bahwa, satu tulisan ibarat peluru yang mampu menembus ribuan bahkan jutaan kepala. Inilah yang dilakukan oleh Kartini, ia menulis dan menulis, sehingga tulisannya mampu melambungkan namanya dan berguna bagi nasib kaumnya dan bagi masa depan bangsanya. Jadi jika kita tidak punya senjata apapun untuk mengubah dunia, maka gunakanlah ujung pena untuk mengubahnya.

Menulis adalah tugas sosial, sebagaimana tugas-tugas lain dalam membentuk dan mengembangkan peradaban umat manusia, sehingga tak ada kata berhenti untuk menulis. Jeda boleh, berhenti jangan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Stephen Leigh, “You may be able to take abreak from writing, but You won’t to be able to take a break from being a writer.” (Anda boleh jeda dari menulis, namun jangan pernah berfikir untuk berhenti sebagai penulis).

Kartini banyak menulis karya sastra, puisi, prosa, dan surat-surat. Sayang tidak semua karya Kartini terbukukan dengan baik, banyak karya tulis Kartini yang hilang. Walau demikian masih ada pula yang terselamatkan hingga sampai kepada kita. Dari karya-karya Kartini inilah yang akhirnya menjadikan ia sebagai icon gerakan emansipasi kaum wanita. Bukan karena sanggul dan kondenya, bukan karena jarit dan kebayanya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Pram, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” Kartini menulis dan mengabadi bersama karyanya “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Sehingga jika dilihat dari kiprah Kartini dalam menulis, saya ingin memberikan julukan baru bagi Kartini, yaitu sebagai Pahlawan Literasi Kaum Perempuan.

 Menjadi perempuan adalah keniscayaan, dan menulis adalah sebuah pilihan. Wahai Perempuan, mari memperingati hari Kartini dengan semangat gerakan berliterasi. Salam Kartini, salam literasi untuk Indonesia yang berperadaban.


Minggu, 02 April 2017

Bincang Sajak, Menempuh Pucuk Ilalang

Bincang Sajak, Menempuh Pucuk Ilalang
oleh : Joyojuwoto

Langit sore yang cerah, saat matahari senja sedang lembut-lembutnya mengusap wajah-wajah bahagia anggota komunitas kali kening, Sore itu kali kening membincang sajak dalam ngaji literasinya yang ke-15. Kali ini sajak yang diperbincangkan adalah karya seorang penulis berbakat dari hulu kali kening, tepatnya dari tlatah Jatirogo.

Jika teman-teman ingat sebuah event yang digelar oleh Gerakan Tuban Menulis (GTM), beberapa bulan silam, yaitu event menulis surat cinta untuk Bupati Tuban, pemenangnya tidak lain adalah yang sore ini tadi mengisi bincang sajak “Menempuh Pucuk Ilalang.” Beliau adalah mbak @i_lalang, penulis buku “Pucuk Ilalang” yang sebentar lagi akan rilis ke pembaca.

Selain menulis sajak, mbak i_lalang ini juga menulis essai dan cerpen. Salah satu cerpen mbak dari Sugihan, Jatirogo ini, yang pernah dimuat di radar berjudul “Kembang Melati.” Demikian sedikit stalking yang saya lakukan di instagramnya mbak i_lalang.



Dipandu moderator handal Mas Ical, bincang-bincang sajak yang diikuti oleh anggota dari kali kening ini berjalan cukup ceria. Saya sendiri telat hadir, sehingga secara detail saya kurang bisa menuliskan apa yang telah dibincangkan oleh mbak i_lalang. Namun dari apa yang saya tangkap diakhir-akhir bincang, bahwa sajak itu mewakili perasaan si penulisnya. Sajak ibarat komposisi dari emosi, emajinasi, kiasan, dan citraan, dari penulisnya itu sendiri.

Untuk sajak “Menempuh Pucuk Ilalang” yang ditulis oleh mbak i_lalang bergenre romantisme. Sajak ini sebenarnya oleh penulis diproduksi dan dihasilkan dari Instagram. Oleh karena itu struktur sajaknya pendek-pendek. Walaupun demikian sama sekali tidak mengurangi kejernihan dan ketajaman dari sajak yang ditulis oleh arek Jatirogo ini.

Berikut saya kutipkan sebuah sajak dari mbak i_lalang yang dijadikan DM di instagramya :

“Di depan senyummu aku diam-diam bersumpah
Akan kuterjemahkan kamu,
pada bahasa yang tidak bisa dimengerti
selain oleh jantungku dan degub dadaku”

Sajak yang ditulis oleh mbak i_lalang ini memang sangat singkat, namun sebagaimana lazimnya sajak, memang ia ditulis bukan dengan deskripsi yang jelas dan panjang lebar, sajak bukanlah pintu yang bebas terbuka, namun sajak ibarat jendela bertirai kain tembus pandang, menampilkan siluet-siluet kata-kata yang kadang-kadang memancing rasa penasaran bagi yang melihatnya. Begitupula dengan deretan dari rajutan sebuah sajak.

Bagaimanapun keindahan dalam membuat sajak, jangan sampai sajak hanyalah kumpulan kata hampa dan kosong makna. Sajak sejatinya adalah sebuah karya seni estestis dan bermakna, sehingga sajak bukan hanya menjadi sebuah bualan semata. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mas Rohmat, bahwa sajak yang bagus adalah sajak yang memiliki ruh untuk membela nilai kemanusiaan. Sebagaimana sajaknya Wiji Thukul, pungkasnya.

Demikian sedikit apa yang saya tangkap dan apa yang saya pikirkan dalam bincang sajak “Menempuh Pucuk Ilalang” sore itu bersama kawan-kawan anggota Komunitas Kali Kening.  Semoga ada manfaatnya.