Selasa, 31 Oktober 2017

Merantau

 Merantau
Oleh : Joyo Juwoto

Matahari kemarau membakar jalanan, debu-debu beterbangan memerihkan mata, langit membiru tua berkilat-kilat bagai kaca raksasa tak bertepi. Seorang lelaki muda paruh baya berambut panjang digelung ke belakang. Lelaki itu berjalan dibawah terik matahari yang membakar sambil sesekali mengusap dahinya yang berkeringat. Angkutan umum, dokar, dan bus-bus beradu cepat dengan truk-truk berlalu-lalang memenuhi pandangan matanya yang tajam. Mata itu bagai burung celepuk yang menunggu mangsa di kegelapan malam.
“Hari semakin panas, tak ada uang sepeserpun di kantong sakuku bagaimana aku harus melanjutkan perjalanan ini ?, Gumam lelaki itu.
Walau sebenarnya lelaki itu juga belum tahu kemana ia akan berjalan dan menitipkan asa, hanya mata kakinya yang sekarang menjadi penerang otaknya beku mengikuti kemana langkah-langkah itu dilepas.
Lelaki itu kemudian berhenti disebuah pertigaan yang menjadi tempat berhentinya angkutan umum, orang-orang menyebutkan pertigaan Bakalan. Pemuda itu meraba kembali sakunya seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia memang tak membawa uang serupiahpun. Ia sandarkan punggungnya di sebuah lincak di bawah pohon waru. Pikirannya menerawang menghadirkan kembali saat-saat ia harus pergi meninggalkan kampung halamannya. Kampung yang dicintainya.
***
“Maling-maling !!!”“Maling-maling !!! Tolong… Tolong !!!Maling !!!”
Suara teriakan membelah sepertiga malam dari ujung kampung. Suara itu bersumber dari sebuah rumah besar yang menghadap ke jalan raya. Sesosok bayangan hitam berlari sambil membawa bungkusan yang entah apa isinya. Dengan gesit ia melompati pagar kayu setinggi orang dewasa yang mengelilingi rumah sumber suara tadi. Karena pekatnya malam, dan banyaknya rumpun bambu serta perdu sehingga dengan mudah bayangan hitam itu hilang bagai menyatu dengan gelap itu sendiri.
Penduduk kampung yang mendengar teriakan gaduh itu serentak semburat menuju ke arah titik suara, petugas ronda yang kebetulan lewat di jalan dekat rumah besar itu pun berlarian mengejar bayangan hitam, namun bagai mencari jejak hantu tidak ada petunjuk ke arah mana bayangan hitam itu lenyap tiada meninggalkan bekas.
Sementara itu di tengah sawah di pinggiran desa, sesosok pemuda dengan berkerudung sarung sedang berjalan dengan tergesa. Langkahnya panjang-panjang agar segera sampai kerumah sebelum fajar kadzib muncul di ufuk timur. Fajar kadzib adalah fajar yang membentuk garis vertical dari arah ufuk timur yang berwarna putih, namun dalam fiqh Islam ini belum saatnya subuh. Sebab setelah fajar kadzib ufuk akan kembali gelap dan sebentar kemudian akan disusul fajar sadik yang membentang horizontal sebagai penanda waktu subuh tiba.
Ketika pemuda itu memasuki pinggiran desa, ia tidak sadar kalau banyak mata sedang mengawasi langkah-langkahnya. Tepat di sebuah gang jalan pemuda itu terhenyak, tiba-tiba ia telah dikepung oleh beberapa orang laki-laki dengan senjata terhunus di tangan.
“Hai…. !!!berhenti kamu, siapa kau sepagi ini berjalan tergesa-gesa !
“Owh..mengagetkan aku saja paman-paman ini, aku Cipto. Tadi aku baru saja dari tegalan di tepi hutan” Memangnya ada apa paman ? mengapa paman-paman menghadang saya dengan senjata terhunus ?”
“Hah.-.siapa yang percaya di pagi buta ini kau dari tegal anak muda, kau pasti maling yang mencuri di rumah juragan Sutik tadikan ? Ayo mengakulah sebelum kesabaran kami habis !
“Maling… pencuri… ah ! tidak paman, aku bukan pencuri lagian aku kan juga penduduk sini paman. Untuk apa aku mengotori kampungku sendiri”.
Iya.. iya… pasti kaulah malingnya anak muda” seru salah seorang yang membawa pentungan dari bambu.
“Ayo tak usah banyak cing-cong kita tangkap pemuda ini, dan kita serahkan kepada juragan Sutik”
Serentak beberapa tangan-tangan kekar memegangi pemuda malang tadi, kemudian ia diseret kearah rumah besar di ujung kampung. Di halaman rumah tampak seorang bertubuh gemuk, bercambang lebat. Lelaki itu mondar-mandir gelisah, sesekali ia mengumpat resah.
“Juragan… juragan !!! ini tadi saya tangkap seseorang yang mencurigakan di ujung kampung sana” teriak salah seorang dari mereka.
Juragan Sutik berkacak pinggang, “Heh..bajingan! kaukah yang tadi memasuki rumahku ?” bentak lelaki tambun itu.
“Ampun juragan, bukan aku pelakunya, tadi memang aku dari arah sawah di ujung kampung tapi sumpah bukan aku pelakunya”.
“Mana ada maling yang ngaku juragan! sela Parto anak buah juragan Sutik.
“Ikat dia disitu!,  paksa agar dia mau mengaku, kalau perlu siksa dia” bentak juragan Sutik sambil meludah kearah pemuda malang itu.
***
Setelah kejadian yang menggegerkan kampungnya, Cipto pemuda yang dituduh melakukan pencurian di rumah juragan Sutik terpaksa harus pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Pedih dan hancur perasaannya, ibarat pepatah Jawa “Ora melu mangan nangkane, tapi melu kenek dadake”. Bukan dia yang melakukan perbuatan itu namun justru dirinya yang tertuduh dan menanggung malu.
Belum lagi Cipto digelandang keliling kampung diarak dan dipermalukan di depan umum. Setiap garis wajah penduduk desanya tergambar kesinisan dan kejijikan melihat pada dirinya. Cipto hanya tertunduk diam, dia mampu menahan pedih hatinya karena telah dihinakan sedemikian rupa, namun hatinya teriris pedih manakala ia melihat Nilam, gadis pujaannya berdiri mematung memandangi dirinya seperti orang asing.
***
Dengan wajah lesu Cipto beranjak dari tempat duduknya, ia melangkahkan kakinya ke jalan raya dan melambaikan tangannya kearah truk yang lewat. Siapa tahu ada sopir yang berbaik hati mau memberinya tumpangan. Tak berselang lama ada sebuah truk yang berhenti.
 “Ayo Kang naik, memang mau kemana Kang ?” Tanya sopir truk.
“Kemana saja lah Pak, saya ngikut saja, sampai bapak menurunkan saya”.
“Baiklah ayo naik !, ketepatan kenekku libur, jadi sekalian bisa menjadi teman ngobrol di jalan”
Kemudian Cipto naik dan duduk di samping sopir truk yang hampir mendekati senja. Rambutnya telah memutih, namun badannya masih tampak kekar berotot. Truk itu melaju dari arah barat, membawa batu-batu yang ditambang dari daerah Sale Jawa Tengah, mungkin batu itu sebagai bahan mentah untuk membuat kapur, juga sebagai bahan untuk membuat piring, atau mungkin digunakan untuk mengguruk tanah. Batu pedel merupakan batu berwarna putih yang memang banyak terdapat di gugusan pegunungan kendeng utara.
Di tengah perjalanan sopir truk itu bercerita tentang tempat kerjanya yang ada di Sale, tentang gunung-gunung yang habis dibolduser, tentang hutan yang meranggas karena tanah dan batu-batunya diambili dengan liar tanpa perhitungan, semua masuk ke dalam perut keserakahan manusia. Sebenarnya ia juga menyadari tentang lingkungan yang rusak akibat penambangan liar tersebut, namun mau bagaimana lagi memang itu yang menjadi mata pencahariannya untuk menghidupi istri dan anak-anaknya.
“Mau tak kasih makan apa keluargaku kalau aku tidak kerja Kang”
Truk terus menderu menerjang siang, sesekali sambil menyedot sigaretnya sopir tua terus bercerita tiada habisnya. Seakan sedang mendongengi cucunya agar cepet-cepet terlelap dalam boboknya. Setelah selesai bercerita tentang batu-batu pedel, sopir itu bercerita tentang wana wisata Semen. Sebuah sumber air yang dijadikan objek wisata local masyarakat Sale dan sekitarnya. Di dekat sumber air Semen terdapat sebuah goa yang diberi nama goa rambut.
Goa rambut menurut legenda masyarakat sekitar terkait dengan cerita rakyat mengenai seorang brandal budiman yang masyhur disebut sebagai Naya Gimbal. Nama aslinya adalah Naya Sentika. Karena rambutnya sangat panjang maka ia lebih dikenal dengan sebutan Naya Gimbal.
Naya Sentiko telah bersumpah tidak akan memotong rambutnya sebelum kompeni enyah dari bumi pertiwi. Dia adalah salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro dalam perang Jawa. Karena perlawanan Pangeran dari goa Selarong berakhir oleh kelicikan Belanda, maka sisa-sisa pasukan Diponegoro secara seporadis melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Termasuk Naya Gimbal sang Robinhood dari gunung Genuk Tawunan Sale. Karena pengkhianatan saudara seperguruannya Bejo, misi perlawanan Naya Gimbal terhadap kolonial Belanda kandas di tengah jalan.
“Pengkhianatan seperti apa yang dilakukan oleh Bejo saudara seperguruan Naya Gimbal itu pak ? “ Tanya Cipto.
“Rasa iri, dengki “lan ora seneng marang kamulyaning liyan” memang benalu yang menggerogoti hati setiap insan, hanya orang-orang yang ikhlaslah yang akan selamat Kang”
“Ditambah lagi persoalan perempuan selalu membumbui setiap kisah yang tertoreh oleh tinta sejarah”. Hal ini selalu membutakan  mata setiap manusia kang”.
Naya Sentika dan Bejo sama-sama murid dari seorang sakti dari goa Nglengkir Ki Samboro namanya. Karena menurut Bejo Naya Sentika selalu beruntung, selain disayang oleh gurunya Naya Sentika juga mempunyai istri cantik bernama Dyah Ayu Sumarti. Pada suatu ketika Naya Sentika mengutarakan maksudnya untuk terus melawan Belanda. Oleh Gurunya Naya Sentika disarankan untuk bertapa di puncak Gunung Genuk.
Naya Sentika harus bertapa sampai genuk atau gana ( genuk, wadah air dari tanah liat ) yang dijaganya rebah. Kemana pun arah rebahnya gana tadi ia harus memulai peperangan dari arah situ. Karena terdorong oleh rasa irinya Bejo gelap mata dan tega melakukan kebodohan terhadap saudara tunggal banyunyaitu.Dengan diam-diam ia rebahkan mulut genuk kearah barat. Kemudian Bejo pun bersembunyi. Setelah Naya Sentika melihat genuk itu rebah kearah barat maka pulanglah ia untuk menggelar perang melawan Belanda. Dengan membawa pusaka kebanggaannya pedang Kyai Sadak Naya Sentika mengajak pasukannya menyerang Belanda dari Lasem.
“Hehe..hehe.. begitulah ceritanya, ada yang mengatakan Naya Gimbal ketangkap Belanda kemudian dimasukkan drum dan dibuang di laut. Ada versi lain yang menyatakan perjuangan Naya Gimbal berakhir di goa rambut Sale. Ia bersembunyi di dalam goa kemudian goa itu di tutup dengan batu oleh pihak Belanda dan tidak jelas bagaimana kesudahannya. Namun sampai sekarang di dalam goa itu banyak rambutnya, entah dari mana mungkin itu rambut dari Naya Gimbal tadi Kang”.
“Wah, sayang ya pak, pastinya Naya Gimbal gak jadi potong rambut kan ?hehe…. “ gurau Cipto.
“Ya begitulah kang, perjuangan yang dilakukan secara kedaerahan hampir selalu gagal di tengah jalan”
“Betul pak, tapi setidaknya Naya Gimbal telah menunjukkan baktinya pada ibu pertiwi, tempat dimana ia tlah meminum airnya, menghirup udaranya, tempat dimana jiwa dan raganya diukir dan dicatat oleh zaman”.Tambah Cipto penuh filosofis.
Percakapan pun berhenti, ketika truk yang ditumpangi Cipto berhenti di terminal Bojonegoro, Sebuah terminal yang menghubungkan daerah-daerah kabupaten di sekitarnya. Terminal yang berada di timur jalan raya itu menjadi pemberhentian bus dari berbagai jurusan, Seperti Jatirogo, Tuban, Jurusan Ngawi, Jurusan Nganjuk, dan jurusan Surabaya.
“Saya turun sini pak”, ucap Cipto kepada sopir truk yang telah berbaik hati memberikannya tumpangan.
Matahari tlah bergeser di ufuk barat, lembayung senja tersenyum meriah, memerah bagai gincu kaum hawa, angin sore mendayu lembut membelai wajah Cipto yang kelam seakan membisikinya tentang hidup yang kadang panas membakar bagai udara siang, dan kadang lembut selembut angin sore yang memeluknya di pinggir terminal. Cipto melangkah memasuki gerbang terminal.Ia melangkah tanpa arah yang kemudian membawanya ke sudut terminal. Di sebuah mushola kecil ia membasuh mukanya dari air  kran yang tersendat-sendat alirannya, seperti jalan hidup yang sedang dilaluinya. Asar sebentar lagi hilang ditelan cakrawala barat. Cipto bersimpuh mengadukan nasibnya kepada sang pemegang takdir dan garis hidup. Ia menyadarinya banyak masalah dan ketentuan Tuhan yang kadang tak perlu diselesaikan. Biar waktu sendiri yang akan menjelaskan semuanya kepada zaman.
Matahari sore telah tenggelam di ufuk barat, gelap mulai merayap, kendaraan berlalu – lalang mengejar waktu. Kondektur berteriak-teriak mencari penumpang. Cipto melangkah ragu menaiki sebuah bus. Kondektur segera menariknya masuk karena bus telah bergerak meninggalkan terminal. Bus itu menuju Surabaya. Di kaca depan tergantung tulisan Bojonegoro-Surabaya. Namun Cipto tidak peduli mau kemana tubuhnya dibawa, ia mengikutinya saja, karena memang pada dasarnya ia tidak memiliki tujuan yang pasti.
Entah berapa lama Cipto tertidur di bis, dia baru terbangun saat bis sudah berhenti di terminal Bungurasih. Cipto di bangunkan oleh kondektur bis.
“Mas bangun, bangun! sudah sampai terminal. Kata bapak kondektur setengah tua sambil menggoyangkan tubuh Cipto.
Cipto berdiri dari kursi duduknya, ia turun perlahan dari bis. Melangkah ragu di tanah yang belum pernah dipijaknya. Kota Surabaya, sebuah kota besar yang belum dikenal seluk beluknya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan di tanah rantau yang jauh dari kampung halamannya.
Tak ada uang sepeserpun di saku bajunya, padahal ia butuh makan, tak ada tempat tinggal, tak ada sanak saudara, tak ada seorang pun yang ia kenal di belantara kota itu. Cipto berdiri mematung di tepian terminal, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai diterpa angin sore, dilihatnya orang-orang sama berlalu lalang dengan tujuan masing-masing.
Tiba-tiba terminal menjadi gaduh, ada teriakan seorang perempuan muda yang tasnya dijambret, “tolong, tolong...!!! jambret...jambreett!!!


Kunjungan Kapolres Tuban Ke Bangilan

www.4bangilan.blogspot.com - Kapolres Tuban yang baru saja dilantik sekitar akhir bulan September 2017, Bpk AKBP Sutrisno HR, SH, S.IK, M.Si mengadakan kunjungan kerja ke berbagai jajaran kepolisian tingkat kecamatan di wilayah Kabupaten Tuban, termasuk diantaranya adalah berkunjung ke wilayah Bangilan.

Lawatan yang dilaksanakan hari Selasa, 31 Oktober 2017 mendapatkan sambutan yang hangat dan meriah dari para pejabat pemerintahan di Bangilan. Kapolsek, Danramil, dan Bapak Camat Bangilan beserta jajarannya. 

Selain para pejabat yang ada di pemerintahan Kec. Bangilan, kunjungan Kapolres Tuban Bapak AKBP Sutrisno juga dihadiri para pemangku pondok pesantren, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat kecamatan Bangilan.

Tidak ketinggalan group drum band Gema Nada ASSALAM (GNA) yang diikuti oleh para santriwan dan santriwati ASSALAM Bangilan ikut meemriahkan penyambutan kapolres Tuban.

Pengasuh Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, KH. Yunan Jauhar, M.Pd.I yang ikut hadir dalam acara tersebut sangat mengapresiasi sinergitas yang cukup baik antara pihak kepolisian, Danramil, Kecamatan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat Bangilan yang guyup dan rukun dalam menjaga keharmonisan dan kedamaian di wilayah Kec. Bangilan.

Langgar Tua dan Kenangan Tentangnya

google.com
Langgar Tua dan Kenangan Tentangnya
Oleh : Joyo Juwoto

Kususuri kelokan sepanjang kali kening yang membelah kotaku di suatu senja, airnya jernih berkilap-kilap di terpa warna jingga senja. Pantulan gedung-gedung tua yang berdiri di pinggiran sungai tampak kokoh dan megah, indah bagai lukisan naturalistik yang sempurna. Di dam dekat pasar Bangilan, tepatnya di utara pasar kambing, air kali kening dibendung oleh Dinas pengairan. Air itu dipakai untuk keperluan pengairan sawah penduduk. Dibagi-bagi dengan sistem pintu air menuju arah selatan, dan timur.

Air Kali Kening ini ibarat darah bagi kehidupan masyarakat Bangilan, dari air itu telah mengairi berbagai macam tanaman yang tumbuh disepanjang alirannya, dari waktu ke waktu tiada henti-hentinya. Menghidupi penduduknya dari generasi ke generasi.  Belum lagi air kali kening dipakai untuk keperluan mandi dan mencuci. Jika musim kemarau tiba, kali kening memberikan hadiah berupa ikan, udang, dan juga kijing kali.

Di dam itulah, dulu biasanya aku mandi, menghabiskan senja hingga burung-burung berkejaran pulang ke sarangnya. Dan tepat saat cericit kelelawar pertama yang terbang di atas sungai, saya pun pulang ke rumah. Mega merah melukis langit barat, angin sore bertiup sepoi-sepoi dari arah persawahan penduduk. Kususuri pematang kali dengan rumputnya yang menghijau, suara adzan menggema dari arah langgar di kampungku, kampung yang bersebelahan dengan pasar.

“Ayo, segera ke langgar, Ali! masukkan dulu ayam-ayammu ke kandangnya, jangan sampai terlambat jama’ah magrib! Seru bapak, saat kakiku memasuki pelataran rumah.

Bapak memang selalu begitu, jika sore hari, saat mega di ufuk barat memerah, beliau pasti segera menyuruhku bergegas ke langgar. Tanpa banyak bicara, segera ku masukkan ayam-ayam peliharaanku ke kandangnya, kemudian kuambil sarung dan songkok, dan aku pun berlalu menuju langgar yang tidak jauh dari rumahku.

Sedang bapak sendiri telah siap berangkat ke langgar, beliau selalu menjadi orang pertama yang kakinya menginjak batas suci lantai langgar. Dengan surban yang melilit di lehernya, beliau mendahuluiku berangkat menjadi muadzin shalat magrib di langgar yang berada di tepian sungai kali kening di dekat dam pasar Bangilan.

Setelah mengumandangkan adzan, bapak biasanya melantunkan pujian sambil menunggu para jama’ah datang memenuhi langgar. Suara bapak yang tua menggema dari toa langgar yang ditaruh di atas wuwungan langgar.

Cilik-cilik diulang ngaji
mbesuk gedhe supaya ngerti
ngerti iku akeh syarate
aja eman karo bandhane

agama Islam agama suci
ora bisa ngaji mbesukke rugi
rugi dunyo ra dadi apa
rugi akhirat bakal cilaka

Sholatullah salamullah 'ala Thoha Rasulillah
Sholatullah salamullah 'ala yasin habibillah

Bisa dikatakan dari langgar itulah cerita kehidupanku selalu ku kenang. Langgar yang telah memberikan kenangan yang tak pernah lekang oleh waktu, walau kini aku telah jauh namun rindu akan langgar dan kampungku tak pernah lekang oleh waktu. Langgar menjadi pengikat hati dan pusaka jiwa yang kubawa mengarungi kerasnya tanah rantau di kota metropolitan.

Dari langgar tua yang ada di tepian kali kening itu masa kanak-kanak dan remaja ku lalui dengan indah. Sebuah langgar panggung yang memberikan dekapan hangat seperti seorang ibu yang mengasuh anak-anaknya. Langgar tua yang memberikan senyum kedamaian bagi kami anak-anak kampung di pinggiran kali kening.

Bersama teman-teman kami biasa mengaji turutan setelah bakda magrib. Bapakku sendiri yang mengajari anak-anak membaca huruf hijaiyyah. Setelah mengaji biasanya kami mendapat cerita dari bapak tentang Nabi Sulaiman, Nabi Dawud, Nabi Ibrahim, cerita konyol Abu Nawas, dan kisah-kisah sakti para Wali Songo di tanah Jawa.

Bapak memang pandai bercerita, hal ini pula yang menjadi daya tarik anak-anak senang dan betah mengaji di langgar. Cerita-cerita bapak selalu ditunggu anak-anak.

Sudah menjadi kebiasaan di kampungku, anak laki-laki biasanya kalau malam sesudah shalat isya’ tidak pulang ke rumah. Mereka akan bermain di halaman langgar, apalagi saat purnama lima belas, mereka akan bermain hingga cahaya bulan redup di ufuk barat. Langgar juga menjadi rumah kedua bagi anak-anak, mereka biasa tidur di langgar dan pulang sesudah shalat shubuh. Langgar memberikan kehangatan dan kenyamanan bagi anak-anak kampung kami.

“Ali, nanti setelah ngaji turutan, bapakmu mau cerita soal apa? ayo aku ikut ke langgar ya! sapa Arman, temanku saat kami bertemu untuk berangkat shalat magrib juga.

Sore itu aku menapaki kembali kenangan di tepian kali kening, setelah puluhan tahun lamanya kutinggalkan kampung halamanku. Langgar itu masih berdiri di tempatnya. Hanya saja kondisi langgar itu telah berubah, bersolek mewah menuruti kemajuan zaman. Langgar itu tampak kokoh dan indah dengan gemerlap warna cat dindingnya yang eksotis. Langgar panggung itu telah tiada, dan  direhap menjadi bangunan permanen yang lebih baik.

Hanya saja kemeriahan langgar seperti masa kecilku telah pudar. Tidak ada suara anak-anak mengaji turutan setelah magrib, tidak ada teriakan gaduh anak-anak yang bermain di halamannya sambil melihat bulan purnama, tidak ada anak-anak yang tidur di pelukan lantai kayu serambi langgar. Langgar itu kesepian, sendu dan tak bergairah.