Rabu, 13 Juli 2016

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Ungkapan sepi ing pamrih rame ing gawe mengandung afirmasi positif terhadap gerak laku peradapan yang mengarah kepada dinamisme hidup yang penuh dengan makna dan nilai-nilai yang membangun kehidupan masyarakat yang madani. Sepi ing pamrih berarti kosongnya nafsu-nafsu duniawi dyang membelenggu kehendak manusia dalam rangka menuju nilai-nilai ketuhanan. Sepi ing pamrih berarti memurnikan niat hanya kepada Tuhan saja segala bermuara.

Pamrih adalah penyakit hati yang sangat mengganggu gerak laju peri-kehidupan di tengah-tengah masyarakat, karena pamrih  berarti hanya mengusahakan kepentingan sendiri individualnya tanpa memperhatikan kepentingan-kepentingan bersama. Pamrih pada dasarnya adalah tindakan mengacau dan mengganggu keselarasan kepentingan sosial, karena sikap pamrih hanya berusaha mengeksiskan dan memutlakkan diri,  ego dan keakuannya belaka.

Sikap pamrih ini akan tampak pada orang yang selalu ingin menjadi orang yang terdepan, nomor satu  atau nepsu menange dewe, menganggap diri selalu benar, sedang yang lain salah, atau nepsu benere dewe, dan tentu orang yang suka pamrih hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan kolektif masyarakat, atau nepsu butuhe dhewe.

Orang yang telah dikuasai nafsu pamrih akan kehilangan akal budinya, orang semacam ini tidak saja berbahaya bagi keselarasan harmoni kehidupan namun juga akan mengancam lingkungannya serta menyulut konflik-konflik serta menimbulkan ketegangan-ketegangan yang membahayakan ketentraman masyarakat.

Oleh karena itu menyepikan dan menyuwungkan hati dari tujuan pamrih adalah satu kearifan dan kebajikan sikap yang perlu dipelihara dan dihidupkan agar manusia nantinya bisa rame ing gawe. Jika manusia rame ing gawe karena mengerti tujuan penciptaan dirinya oleh Tuhan dalam rangka beribadah maka saya kira manusia akan memurnikan niatnya hanya untuk penyembahan kepada Tuhan semata, bukan sebab harta, jabatan, kemuliaan yang semu dan tujuan-tujuan keduniaan lainnya.

Ketulusan niat dalam hati dan pikiran adalah kunci dari rame ing gawe, jumbuhing lahir lan batin menjadi piranti penting dalam rangka mewujudkan cita-cita kenabian yang terpapar dalam istilah rahmatan lil’alamin atau memayu hayuning bawana dalam konsep kejawennya.

Sikap sepi ing pamrih rame ing gawe mengajari kita sikap keikhlasan, ketulusan serta pengharapan semata-mata hanya kepada Tuhan saja. Ilaahii Anta Maqsuudii, Wa Risdhooka Madluubii. Joyojuwoto

Selasa, 12 Juli 2016

Perayaan Kupatan antara Bid’ah dan Produk Kebudayaan

Perayaan Kupatan antara Bid’ah dan Produk Kebudayaan

Kupat adalah makanan tradisional yang  terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa muda atau dikenal dengan nama janur yang dianyam sedemikian rupa hingga menbentuk model-model tertentu sesuai dengan kebutuhan. Ada model kupat pasar, kupat bawang, kupat luwar, kupat sungu dan lain sebagainya. Namun biasanya kupat yang sering dibuat masyarakat adalah model kupat pasar dan kupat bawang. Kupat biasanya disajikan dengan opor ayam atau sambal bumbu dari parutan kelapa dan akan terasa lebih nikmat jika bumbu itu dipadukan dengan ikan teri.

Setelah perayaan hari raya Idul Fitri masyarakat Jawa khususnya memiliki tradisi hari raya lagi yaitu  kupatan. Menurut Clifford Geertz dalam bukunya yang berjudul Agama Jawa, kupatan dilaksanakan tujuh hari setelah hari raya Idul Fitri. Pada mulanya tradisi perayaan kupatan ini dianjurkan bagi keluarga yang memiliki anak kecil yang telah meninggal dunia. Biasanya kupatan dilaksanakan pada pagi hari sekitar jam tujuh, selaian dipakai selametan kupat juga ada yang digantung  di pintu-pintu masak agar supaya arwah sianak kecil tadi bisa pulang dan menikmati makanan kupat tanpa perlu mempedulikan siapapun yang ada di dalam rumah.

Pendapat Geertz mungkin merujuk pada prosesi selamaten yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada umumnya, tanpa meneliti lebih mendalam tentang sebuah prosesi kupatan. Geerrtz hanya berhenti pada sebuah pengertian bahwa kupatan adalah upacara untuk memberi makan arwah anak kecil. Tampaknya Geertz ia tidak begitu paham akan proses akulturasi yang terjadi pada sebuah nilai kupatan yang telah digagas oleh Walisongo khususnya Sunan Kalijogo. Ini terbukti Geertz di dalam bukunya sama sekali tidak menyinggung makna dari kupatan itu sendiri.

Disadari atau tidak kemungkinan Geertz memang sengaja ingin meninggalkan dan membiarkan polemik di tengah masyarakat tentang sebuah  ritual kupatan. Karena Geertz sendiri juga punya misi untuk memisahkan dan membuat kesenjangan dengan membuat istilah santri abangan dan santri putihan. Jika kupatan dihubungkan dengan pemberian makan terhadap arwah tentu hal ini akan dianggap sebagai perbuatan bid’ah menurut santri putihan, sehingga diharapkan akan terjadi kesenjangan antara santri abangan sebagai pelaku dari ritual kupatan dengan santri putihan yang berusaha melindungi ajaran Islam dari perilaku bid’ah tadi.

Oleh karena itu kita harus lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan paham akan sebuah nilai dari tradisi kupatan. Jangan sampai kita selalu diadu domba oleh sebuah kepentingan untuk merusak ukhuwwah dan persatuan umat Islam. Ada baiknya umat Islam menyadari akan upaya orang-orang yang tidak suka dengan Islam sehingga berusaha memperuncing perbedaan faham diantara kita. Termasuk diantaranya adalah pelintirisasi terhadap perayaan kupatan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Walisongo dengan dakwahnya berusaha mengikat dan mempersatukan masyarakat dalam jalinan persaudaraan dan silaturrahim diantara sesama dengan berbagai cara yang sangat unik dan  tentu cara itu mencontoh serta meneladani ajaran Rasulullah SAW. Seperti ajaran silaturrahmi, ajaran saling memaafkan, ajaran saling tolong menolong, serta ajaran sedekah. Hal ini pula yang terkandung dalam tradisi kupatan yang diadakan pasca hari raya Idul Fitri. Mungkin secara bahasa Walisongo tidak mengatakan hal seperti itu namun nilai-nilai dakwah walisongo jelas-jelas mencerminkan ajaran yang sangat mulia.

Jika ada yang mengatakan bahwa perayaan kupatan adalah bid’ah, sesat, dholalah, an-naar, dan lain sebagainya, kayaknya kita perlu duduk bersama sambil menyeruput secangkir kopi dan menikmati sajian kupat di hari idul fitri, sambil bersama merendahkan hati untuk  saling memahami dan saling memaafkan. Saya kira semua tahu makna dari bid’ah itu sendiri, berbagai dalil juga telah dijelaskan bahwa bid’ah itu sesat dan tempatnya di neraka. Lalu jika kupatan itu tidak pernah diajarkan Rasulullah dan tidak pernah beliau contohkan mengapa hal itu kok masih dilakukan dan tidak segera saja ditinggalkan ?

Kupat sebenarnya bukan sebagai produk agama, namun hanya sebagai produk budaya suatu masyarakat yang diinisiasi dengan nilai-nilai religi khususnya ajaran Islam, jadi kita jangan hanya memandang perayaan kupatan ansich yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Kita harus melihat kesejatian dari kupatan tadi, jadi jangan hanya terjebak pada nilai-nilai profan semata dan melupakan hakekat. Perayaan kupatan adalah profan sedang nilai kesejatian dari kupatan adalah sebagaimana yang saya ungkapkan di atas Seperti ajaran silaturrahmi, ajaran saling memaafkan, ajaran saling tolong menolong, serta ajaran sedekah. Lalu manakah yang bid’ah dari perayaan kupatan ini ?

Jadi menurut saya yang tidak mau kupatan monggo, yang kupatan ya monggo saja yang terpenting kita tidak saling olok-mengolok dengan tuduhan-tuduhan yang tendensius dan tidak berdasar, apalagi sampai merenggangkan tali silaturrahim dan perpecahan diantara umat Islam. Jika kita mau membuka wawasan berfikir kita dan tidak selalu sumbang dalam menyanyikan koor bid’ah...bid’ah...bid’ah maka persoalan itu akan selesai. Ayo bersama rendahkan hati belajar dan mencoba memahami dengan seksama dawuhnya para Rasul dan ulama terdahulu.  Menurut As-Syaikh as-Sayyid Muhammad Alawi dalam kitabnya ‘al-ihktifal bidzikro mualidin nabi beliau menyatakan :

قال الإمام الشّافعي رضي الله عنه : ما أحدث وخالف كتابا أو سنّة أو إجماعا أو أثرا فهو البدعة الضّالة, وما أحدث من الخير ولم يخالف شيئا من ذلك غهو المحمود.

Artinya : Imam Syafi’i berpendapat : Bahwa amalan apa saja yang baru  diadakan dan amalan itu jelas menyimpang dari kitabullah, sunnah rasul, ijma’ shahabat, atau atsarut tabi’in, itulah yang dikategorikan bid’ah dhalalah/sesat atau tercela. Sedangkan amalan baik yang baru diadakan dan tidak menyimpang dari salah satu dari empat hal tadi, maka hal tersebut termasul hal yang terpuji.

Dari pendapat yang diuraikan oleh Imam Syafi’i ini Sayyid Alawi menyimpulkan bahwa setap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan mengadakannya tidak ada maksud menyimpang dari aturan syariat serta tidak mengandung kemungkaran, maka hal itu termasuk “ad-din” (urusan agama).


Begitu pula nilai-nilai yang terkandung dari perayaan kupatan sama sekali tidak menyelisihi dari ajaran mulia baginda Rasulullah SAW seperti ajaran silaturrahmi, sedekah, saling memaafkan dan tentu dalam rangka menjalin persaudaraan dan ukhuwwah islamiyah. Itulah kelebihan dan keunggulan walisongo dalam menerjemahkan bahasa nubuwwah ke dalam bahasa kearifan lokal masyarakat nusantara sehingga tidak  mengherankan jika dalam jangka waktu yang tidak lama Nusantara bersinergi dan dengan sukarela memeluk ajaran Islam. Salam. Joyojuwoto

Senin, 11 Juli 2016

Tafsir ala Syekh Denny Siregar

Tafsir ala Syekh Denny Siregar

Jangan pernah menganggap dan berfikir bahwasanya kebenaran itu adalah Denny Siregar, beliau mungkin pandai dan mencengangkan pemahamanmu selama ini namun ingatlah selalu dawuhnya para sesepuh kita “Dadi uwong kuwi ojo gumunan lan ojo kagetan” (menjadi manusia itu jangan cepat terpukau dan jangan mudah terkejut). Kemungkinan Denny Siregar ini sangat paham filosofi ini,  bahwa orang itu mudah terpukau dengan sesuatu yang dianggap baru menurut pemahaman berfikirnya, dan orang itu juga mudah terkejut dengan pola-pola komunikasi yang nyleneh ala kopi pahitnya Bang Denny.

Setahu saya Denny Siregar adalah seorang penulis yang lahir dan dibesarkan di tanah tumpah darah dunia facebook, dari para pahlawan pengeshare-nya lah saya mengenal sosok yang dianggap fenomenal ini. Saya biasa membaca tulisannya, namun ya biasa-biasalah tulisannya saya tidak gumun ataupun kaget, karena sebagian besar tuisannya berisi rangkaian kata sindiran-sindiran terhadap kontra perilaku dan pemikiran yang dibela dan diemongnya. Saya sama sekali tidak ingin menyalahkan apalagi menjadi hakim bagi tulisan beliau, apalah saya kok mau jadi hakim, jangankan kuliah di jurusan hukum, gedung perguruan tinggi yang melahirkan para hakim saja saya belum pernah tahu.

Sejatinya penulis memang tidak ada yang netral pasti ada yang dibela maupun yang dijadikan lawan, itu sangat wajar sekali dan tidak berlebihan. Saya menulis ini pun dalam rangka membela sekaligus  melawan. Saya tertarik menulis tentang Denny Siregar ini karena sebuah tulisan beliau yang berjudul “Ayat Yang Terabaikan” di situ dengan gaya satirnya beliau yang mulia mengilustrasikan percakapan  dengan seorang temannya mengenai keyakinan tentang masuk surga atau tidaknya seorang non muslim.

Dengan gagah berani bagai bersenjatakan kitab seribu ilmu pengetahuan Bang Denny yang serba tahu dan serba bisa ini menafsirkan ayat suci Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 62. Namun sayang dalam menafsirkan ayat itu Bang Denny kesannya ragu-ragu dan tidak tegas menyatakan bahwa Al Qur’an menjamin surga bagi semua pemeluk agama. Itulah kepandaian beliau agar jika ada yang memberikan keterangan yang gamblang mengenai tafsir ayat itu tentu beliau bisa menyangkal bahwa ia hanya mengatakan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang penuh toleransi.

Dalam tulisannya Bang Denny hanya menampilkan gambar surat Al Baqarah ayat 62 beserta artinya tanpa menyertakan penafsiran dari ulama’ tafsir yang telah diakui otoritasnya di dunia tafsir Al Qur’an.

Apa Bang Denny lupa atau memang sengaja bahwa untuk menfasirkan sebuah ayat di dalam Al Qur’an tidak bisa sembarang orang memiliki otoritas untuk itu. Banyak persyaratan yang perlu dipenuhi dan tentunya persyaratan itu tidak ada pada diri sosok yang mulia sang penghidang kopi itu. Bagaimanapun juga seperti di awal saya singgung saya tidak akan menyalahkan dan menjadi hakim bagi tulisan Bang Denny, saya Cuma menyanyangkan lha tafsir ala Syekh Denny Siregar kok ya laris manis dan di bagi-bagikan serta di like oleh mereka yang mungkin lebih “pintar” dan lebih otoratif dibanding Bang Denny sendiri. Haha...lucu saja kan, seorang santri pondok pesantren semisal Alex Umarouw yang notabenenya dalam penguasaan ilmu tafsir lebih jos kok ya na’am dan ngikut saja dengan tulisan dan tafsir ala Syekh Denny Siregar. Tapi alhamdulillah di beberapa komentar ada juga akun Facebook yang mengingatkan agar Bang Denny merujuk pada ulama ahli tafsir semisal Prof. Quraish Shihab. 

Saya sebenarnya tidak yakin Bang Denny belum membaca kitab tafsir yang mu’tamat semisal tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu katsir, tafsir al Misbah, namun saya yakin kalau beliau memang belum pernah tahu dan belum pernah mendengar tafsirnya Kyai Bangilan AL Aklil yang ditulis oleh KH. Mishbah Zainil  Musthofa mengenai surat Al- Baqarah ayat 62.

Dalam tafsirannya Kyai Misbah menerangkan tentang Surat Al Baqarah ayat 62 dengan jelas bahwa yang dimaksud ayat : 

Dalam keterangannya Kyai Misbah menjelaskan ayat di atas dengan bahasa Jawa yang berbunyi :
“Wong-wong kang podo iman karo Nabi-Nabi sakdurunge Nabi Muhammad SAW, lan wong-wong Yahudi, lan wong-wong Nasrani, lan wong-wong agama Shabi’in, iku sopo-sopo bae wong kang mau kang ana ing zamane Nabi Muhammad SAW hingga kiyamat , gelem pada iman dawuh-dawuhe Allah lan percaya dina akhir lan gelem amal sholeh nganggo syariat-syariate Kanjeng Nabi Muhammad SAW, wong-wong iku bakal oleh ganjaran ono ing ngersane Allah Ta’ala. Wong-wong iku ora bakal wedi lan ora bakal susah.”

Dari penafsiran Mbah Misbah sangat jelas bahwa orang mukmin, Yahudi, Nasrani, dan para pemeluk Shabi’i akan mendapatkan pahala dari Allah jika mereka menjalankan syariat-syariatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dalam arti lain mereka mengakui agama Islam sebagai jalan hidupnya.

Jika ada yang bertanya dan mengatakan lha orang-orang jaman sebelum Nabi Muhammad kan tidak Islama ? apakah mereka juga akan masuk neraka ? saya kira jawaban yang tepat untuk orang-orang seperti ini  adalah  memberinya secangkir kopi pahit racikan dari Bang Denny sang pakar yang serba tahu ini. Ah ! Semoga pagi ini kopi Bang Denny tidak terasa hambar, hanya siAnida yang tahu. Salam. Joyojuwoto.