Kamis, 09 Juni 2016

Resensi Buku “Jejak Sang Rasul”

Resensi Buku “Jejak Sang Rasul”
Identitas Buku
Judul Buku      : Jejak Sang Rasul
                          Sebuah Tarikh Singkat Nabi Muhammad SAW
Penulis             : Joyojuwoto
Penerbit           : Dreamedia
Cetakan           : Mei 2016
Tebal               : 177
Kategori          : Nonfiksi
ISBN               : 978-602-6226-09-9

Ulasan buku
Buku Jejak Sang Rasul adalah buku yang menjadi jejak pertama saya dalam menulis sebuah buku. Sebagaimana lazimnya yang pertama, ada nuansa romantis dan keindahan yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang mengalaminya, ya pengalaman batiniyyah semacam ini memang kadang susah disampaikan dalam bentuk tulisan. Saking senangnya, sampai buku ini harus saya resensi sendiri.

Buku ini hadir sebagaimana yang saya tulis sebagai sebuah bentuk lain dari shalawat kepada Nabi, sebuah ungkapan yang tulus, serta rasa cinta yang berbunga, serta kerinduan yang mendalam kepada beliau Rasulullah SAW, dengan harapan dan pamrih kelak kita termasuk umat yang diakui oleh beliau Rasulullah SAW, umat yang berada di bawah bendera dan panji-panjinya.

Buku itu saya tulis dalam rentang waktu yang cukup lama, dalam artian naskah itu lama tidak saya tulis-tulis, saya bingung, ragu-ragu, dan sejumlah perasaan lain yang tidak menentu Ibaratnya buku adalah anak ideologis kita, buah pikiran, perenungan, serta cerminan dari diri dan jiwa kita, jadi sebelum kita melahirkan anak itu, tentu ada berbagai macam perasaan yang menghantuinya. Kalau dalam istilah Jawa seorang yang hampir melahirkan didera rasa sakit yang berkepanjangan yang dikenal dengan istilah mar marti, begitu juga dengan saya, - saya harus melawan berbagai macam rasa itu, akhirnya pada tahun 2015 saya menemukan momentum untuk berani melahirkan. Dengan bergabungnya saya dengan Komunitas Sahabat Pena Nusantara yang digagas dan diketuai Oleh : Ustadz M. Husnaini saya akhirnya punya keberanian untuk meneruskan program menulis saya.

Saya berusaha rutin menulis agar naskah itu segera selesai, alhamdulillah berkat dorongan semangat, dan bimbingan dari para guru, sahabat semua di Komunitas Sahabat Pena Nusantara akhirnya naskah saya bisa diterbitkan, walau  tentu saya sangat menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan yang perlu perbaikan di sana-sini.


Mengenai ulasan buku “Jejak Sang Rasul” saya kutipkan testimoni dari para pembaca, monggo disimak :
Testimoni Pembaca

“Segala “Proses menjadi” harus bermula dari dasar. Dan buku yang sedang dalam genggaman Anda ini adalah sebuah dasar kuat untuk mempelajari sejarah dan kebudayaan Islam secara keseluruhan. Jika dihayati, saya yakin buku ini akan menginspirasi umat dalam melanjutkan perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.”
Mohammad Haris Suhud
Penulis Buku Best Seller “Bening Senja”

“Sebagai sebuah karya perdana, buku ini patut diapresiasi. Penulis menuturkan kisah tentang sejarah hidup Rasulullah SAW secara runtut, gamblang dan tidak berbelit-belit sehingga memudahkan pembaca dalam menelusuri Sirah Nabawiyyah. Semoga buku ini  menginspirasi pembaca semua.”
Yuniarta Ita Purnama, S.Pd, M.Pd
Dosen IKIP PGRI Bojonegoro


“Di tengah-tengah mental yang sering mulai goyah akibat kehidupan duniawi. Buku ini hadir untuk mengingatkan kembali perjuangan dan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW.”
Endrik Safudin
Penulis Buku “Langkahkan Kakimu”



“Buku yang sangat layak untuk di telaah! Racikan tulisan penulis terasa renyah. Iqra’ tafham, bacalah! Maka anda akan faham bahwa buku yang ada ditangan anda ini terlalu sayang untuk dilewatkan!

Farichatul Aulia
Mahasiswi PBA UIN Surabaya

Buku ini berisi tentang kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Kemurahan hati, kesetiaan, keramahan, kejujuran, kedamaian, sifat pemaaf, dan semua kebaikan dalam diri Rasulullah SAW patut untuk kita teladani. Semoga kelak kita diakui sebagai umat-Nya di hari kiamat. Amiin.”

Didik Jatmiko
Ketua Komunitas Blogger Bojonegoro


"Sebuah karya yang layak dibaca bagi mereka yang  punya waktu sempit namun ingin mendapat gambaran umum tentang figur dan perjuangan Rasulullah SAW.” 

Rita Audriyanti - Ibu Rumah Tangga dan Penulis Buku "Haji Koboi. Catatan Perjalanan Haji Backpacker"

“Buku sejarah biasanya tebal, melihatnya saja sudah enggan, apalagi menikmati. Buku ini berbeda, kisah manusia utama pilihan Allah Swt diulas dengan ringkas, padat, dan renyah. Sangat bermanfaat dan mencerahkan.”
Hidayati Nur, Ketua Forum Lingkar Pena Tuban

Demikian sekilas mengenai buku saya “Jejak Sang Rasul” semoga bisa membawa manfaat, dan berbuah syafaat untuk saya khususnya, dan para pembaca tentunya. 

Terima kasih saya sampaikan kepada para guru dan sahabat saya semuanya yang telah ikut membantu terbitnya buku ini, terima kasih untuk Ustadz Husnaini, Kang Haris Suhud, Yuniarta Ita P., Mas Endrik Safudin, Aulia, Mas Didik Jatmiko, Ibu Rita Audriyanti, Mbak Hidayati Nur, dan semua saja yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu. Dan akhirnya Tegur dan sapa dari pembaca sangat saya harapkaan demi perbaikan tentunya. Salam. Joyojuwoto

Resensi Buku “Quantum Ramadhan”

Resensi Buku “Quantum Ramadhan”
Identitas Buku
Judul Buku      : Quantum Ramadhan
                          Cerdas Meningkatkan Kualitas Diri di Bulan Suci
Penulis             : Joyojuwoto dkk (Sahabat Pena Nusantara)
Penerbit           : Genius Media
Cetakan           : 2015
Tebal               : 180
Kategori          : Nonfiksi-Populer/Agama
ISBN               : 978-602-1033-10-4
Ukuran buku   : 13.5 x 20.5 cm

Ulasan buku
Quantum Ramadhan adalah buku perdana dari Komunitas Sahabat Pena Nusantara yang terbit tahun 2015 silam. Buku ini ditulis dalam rangka menyambut bulan yang penuh berkah yaitu bulan ramadhan, kapanpun bulan ramadhan hadir buku ini bisa menjadi salah satu referensi untuk memperbarui dan meningkatkan kualitas diri di bulan suci. Apalagi bulan ramadhan adalah bulan iqra’ maka sangat tepat jika kita memperbanyak membaca baik itu membaca Al Qur’an ataupun membaca buku-buku yang dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.

Berikut saya kutipkan beberapa kalimat yang luar biasa yang ada di dalam buku ini :
“Ramadhan, sebuah kata yang mengingatkan kita pada suatu bulan yang penuh dengan segala rahasia kebaikan dan keutamaan. Bulan yang mampu mengubah orang-orang menjadi lebih tertata, peduli terhadap lingkungan, dan bahkan peduli terhadap akidahnya sendiri” (Mutiara Ramadhan, Abdul Halim Fathani. Hal. 1)

“Semoga kita disucikan oleh Allah dari segala dosa, sehingga ketika menyambut Idul Fitri, kita benar-benar berjiwa pemenang, jiwa yang sukses mengalahkan nafsu yang bersarang dalam dirinya. Aamin. (Apakah Ibadah Ramadhanku diterima?, Ahmad Rifa’i Rif’an, hal. 11)

“Puasa mempunya arti penting dari segi ruhani. Tanpa itu maka puasa seperti tempurung kosong tanpa isi. (Ramadhan Bulan Pencerahan, Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. hal. 99)

“Jangan sampai umur kita sampai di bulan ramadhan sedang jiwa kita kosong dari mengharap ampunan Allah SWT. (Ramadhan Bukan Basa-basi. Joyojuwoto, hal. 97).

Demikian beberapa kutipan yang saya ambil dari beberapa penulis di buku Quantum Ramadhan, semoga memberikan sedikit peta mengenai isi buku tersebut.

Yang pasti buku ini hadir ke tangan pembaca sebagai ikhtiar para penulis “Saahbat Pena Nusantara” dalam rangka membumikan “makna” ramadhan agar terinternalisasikan dalam kehidupan kita umat Islam, agar umat Islam dalam beramadhan tidak hanya sekedarnya saja namun benar-benar mampu meraih derajad ketaqwaan di sisi Allah SWT sebagaimana yang menjadi tujuan dari puasa itu sendiri, la’allaqum tattaquuna. Joyojuwoto

Selasa, 07 Juni 2016

Dalam Pelukan Ramadan

Dalam Pelukan Ramadan

Hari ini tepatnya tanggal enam, bulan enam, tahun dua ribu enam belas (6/6/2016) adalah hari yang sangat dinanti dan dirindukan oleh umat Islam. Jauh-jauh hari aroma kehadirannya telah terasa di tengah-tengah kita umat Islam, khususnya umat Islam tradisional yang menyambut tamu agung ini dengan berbagai tradisi maupun kegiatan keagamaan seperti tradisi mapak (kenduri menyambut bulan puasa) dan ziarah kubur. Tamu yang ditunggu itu adalah bulan ramadan, bulan di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Puasa itu sendiri adalah sebuah ritual ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT bagi orang-orang yang beriman.

Sejatinya ibadah puasa bukanlah hal yang baru, sejak zaman dahulu orang-orang juga telah menjalankan ibadah ini dengan model dan hitungan yang berbeda-beda tentunya. Dalam Al Qur’an disebutkan Kutiba ‘alaikum as-syiyaamu kama kutiba ala al-ladzina min qablikum (diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu), ayat ini memberitahukan bahwa puasa bukan monopoli milik umat Islam, karena kaum terdahulu juga telah diwajibkan untuk berpuasa. Baik itu kaum Yahudi, Nasrani, maupun kaum-kaum yang lainnya.

Puasa adalah salah satu dari model peribadatan tertua dalam sejarah manusia, oleh karena itu puasa sangat erat dengan sisi kemanusiaan itu sendiri. Jadi puasa pada hakekatnya bukan masalah ibadah individual namun juga menyangkut ibadah sosial kemasyarakatan. Jika puasa seseorang baik dan benar tentu memberikan imbas bagi habituasi seseorang yang  lebih baik dan bermanfaat. Oleh karena itu Rasulullah SAW mengatakan banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya lapar dan dahaga semata, ini mengindikasikan bahwa puasa seseorang itu hampa belum menyentuh hakekat dari puasa itu sendiri dan belum bisa memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan masyarakatnya.

Puasa sebenarnya bukan istilah yang dipakai oleh Islam, karena dalam Al Qur’an maupun hadits istilah yang dipakai adalah Siyam, yang berakar dari kata Sha-wa-ma yang artinya “menahan” yang secara kontekstualnya adalah menahan diri atau mengendalikan diri dalam rangka menjadi  apa yang disebut  la’allakum tattaqun (semoga kalian menjadi orang yang bertaqwa).

Istilah puasa menurut penulis buku Atlas Walisongo KH. Agus Sunyoto berasal dari istilah Sansekerta  yaitu dari kata upa dan wasa. Upa berarti dekat, sedang wasa artinya Tuhan. Jadi upawasa yang kemudian diucapkan menjadi puasa artinya mendekat kepada Tuhan. Para Walisongo dalam berdakwah memang menggunakan pendekatan kultural masyarakat sehingga mereka memakai istilah yang dekat dan lazim dipakai oleh masyarakat kala itu. Menilik dari arti dan maknanya tidak ada pertentangan antara kata Sha-wa-ma dengan kata upawasa bahkan cenderung sama, yaitu puasa sama-sama dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan yang dalam bahasa Al Qur’an disebut sebagai taqwa.

Orang yang mencapai derajad taqwa di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 2-5 telah dijelaskan secara rinci yaitu :
  
2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
5. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Sebagaimana yang dijelaskan pada ayat di atas bahwa ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah : mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, beriman kepada kita-kitab Allah dan yakin akan adanya (kehidupan) akhirat, memiliki dimensi ibadah vertikal (habl min Allah)- hubungan manusia dengan Tuhan. Sedang menafkahkan sebahagian rezki memiliki dimensi ibadah horisontal (habl min al-nas)- hubungan manusia dengan manusia. Jadi ketaqwaan pada hakekatnya memiliki implikasi dengan keimanan dan kemanusiaan.

Jika seseorang hanya baik ditingkat keimanannya saja dia belumlah layak disebut orang yang bertaqwa, begitu juga jika seseorang hanya baik di sisi kemanusiaannya maka jelas juga bukan orang yang bertaqwa. Karena taqwa adalah konsekuensi dari dua hal tadi, habl min Allah (hubungan manusia dengan Tuhan) dan habl min al-nas (hubungan manusia dengan manusia). Beriman kepada Allah serta bekerja untuk kemanusiaan.

Taqwa inilah sebenarnya yang menjadi puncak penghambaan seorang hamba kepada Tuhannya, yang mana dengan taqwa seseorang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah di surat Al Baqarah ayat 5 yang disebut sebagai orang-orang yang beruntung. Jadi startnya puasa adalah pengendalian diri dan finisnya adalah keberuntungan baik di dunia maupun keberuntungan di akhirat.
Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang dijanjikan oleh Allah SWT akan mendapatkan kemenangan dan keberuntungan, sebagaimana yang termaktub dalam surat Al Naba ayat 31 :
إنّ للمتّقين مفازا

. Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan

Dengan demikian, dengan menjalankan ibadah puasa memberikan kesempatan istimewa bagi umat Islam untuk mendapatkan janji Allah SWT, yaitu menjadi orang yang bertaqwa yang dapat meraih kemenangan di hari di mana umat Islam kembali kepada kesucian atau dikenal dengan istilah ‘id al-fithr (idul Fitri). Idul fitri ini bermakna kembali kepada fitrah atau kembali kepada kesucian seperti di mana manusia terlahir kembali ke muka bumi.

Hari raya idul fitri inilah yang kemudian dirayakan secara meriah dan besar-besaran oleh umat Islam diberbagai belahan dunia, bukan saja karena mereka telah terbebas dari kewajiban puasa selama satu bulan, namun juga sebagai momentum di mana mereka telah kembali kepada kesucian di mana dosa-dosa pada hari itu terbasuh oleh ibadah puasa selama sebulan penuh.

Momen idul fitri ini adalah momen ishlah, rekonsiliasi baik rekonsiliasi dengan Tuhan maupun dengan manusia lain, momen di mana kita saling memberi dan saling menerima maaf dengan penuh ketulusan, baik diantara maupun antara umat manusia agar terjalin suatu hubungan yang baik di muka bumi guna menciptakan kedamaian dan rahmatan lil’alamin.

Bangilan, 1 Ramadan 1437 H