Minggu, 08 November 2015

Santri Kreweng

Santri Kreweng


Syahdan di sebuah pesantren di pelosok desa Bangilan, hiduplah santri-santri di lingkungan pesantren nan asri. Pohon-pohon kelapa melambai-lambai, matahari sore terasa ramah menyapa, desir angin turut serta menyegarkan suasana senja.

Di pojok belakang gotha’an pesantren, tampak seorang santri sedang mengaduk-aduk panci di atas tungku yang menyala-nyala. Dul, santri baru sore itu mendapat giliran memasak nasi liwet untuk teman-teman gotha’annya. Di dekatnya Mad sibuk memarut kelapa yang akan dibuat sambel kreweng.

Sambel kreweng adalah paduan dari parutan kelapa yang dicampur dengan sambel pada umumnya, sambel itu tidak digoreng memakai minyak tetapi cukup dengan membakar pecahan genting (kreweng) hingga membara. Setelah itu kreweng dibaurkan dengan parutan kelapa tadi. Rasanya nyam...nyam... boleh dicoba.

“Sebentar lagi adzan magrib Dul”

Kata Mad kepada Dul yang sedang asyik mengaduk-aduk masakannya.

“Iya Mad, ayo kita segera mandi, nanti terlambat jamaah lho !” Jawab Dul.

Mereka berdua bergegas menuju sungai tempat mandi para santri putra. Di sana telah ada beberapa santri lain yang lebih dulu mandi. Ada juga yang hanya mengambil air wudlu atau sekedar ngobrol di tepi sungai dengan santri-santri lainnya sambil menunggu bedug magrib tiba.

Sungai yang berada di sisi barat pesantren itu jerih, walau tidak terlalu lebar dan dalam sungai itu mengalir sepanjang waktu. Apalagi dimusim penghujan. Jika kemarau datang air sungai sedikit surut, namun kedungnya masih menyimpan cadangan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan santri untuk mandi dan mencuci.

Dul adalah santri baru di pesantren itu. Ia datang dari kota. Kedua orang tuanya mengirimkannya ke pesantren agar Dul bisa berlatih hidup sederhana, apa adanya, dan jauh dari kedua orang tuanya, sehingga membentuk watak dan karakter yang mandiri tanpa tergantung dengan kedua orang tuanya, walau tentu tiap bulan Dul masih mendapat kiriman uang dari orang tuanya guna memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Di rumah Dul adalah anak yang manja, semua serba mudah, fasilitas lengkap, mulai dari kamar mandi yang bagus, kamar tidur yang be AC, ada televisi, bantal, guling dan kasur yang empuk, makan yang serba enak dan lain sebagainya. Tak perlu mencuci baju, tak perlu bersih-bersih kamar mandi, tempat tidur karena itu sudah dikerjakan oleh ibunya.

Tentu kondisi itu sangat kontras dengan kehidupan santri di pesantren. Santri hidup dengan sederhana, menempati gotha’an yang apa adanya, tidur beralaskan tikar atau bahkan tidur di lantai, mandinya di kali, mencuci baju sendiri, bersih-bersih kamar sendiri, belum seabrek kegiatan yang meemras keringat dan otak. Namun begitulah pesantren mengajarkan kemandirian kepada anak didiknya. Karena alasan-alasan itulah Dul dikirim oleh kedua orang tuanya yang sadar akan pendidikan anak.

Sedang Mad adalah anak kampung dekat pesantren. Ia di pondokkan karena sudah menjadi tradisi dalam keluarganya bahwa anak laki-laki yang sudah menginjak akil baligh harus mondok. Atau setidaknya dikirim ke surau untuk belajar mengaji. Walau Dul dan Mad baru bertemu namun mereka telah akrab kayak saudara layaknya.

Dul dan Mad masih menikmati kesegaran air sungai, mereka bergabung dengan santri-santri lain bergurau di sungai, bermain semprot-semptotan air, menyelam, berenang dan lain sebagainya. Untung sungainya tidak dalam sehingga santri yang tidak bisa berenang macam Dul bisa ikut mandi tanpa harus khawatir tenggelam.

Lamat-lamat dari arah pesantren adzan magrib berkumandang. Santri-santri yang mandi bergegas meninggalkan sungai yang tidak seberapa jauh dari pesantren. Begitu juga dengan Dul dan Mad.
“Mad ayo buruan, adzan magrib telah dikumandangkan” teriak Dul dari pinggir sungai.

Setelah mengambil air wudlu, mereka berdua segera menuju gotha’an, berganti pakaian ala santri. Sarungan, memakai kemeja dan berpeci. Setelah itu mereka menuju mushola pesantren untuk menunaikan ibadah sholat magrib.

Di mushola telah banyak santri yang sama duduk berbaris rapi membentuk shof-shof menghadap kiblat. Mereka dengan khusu’ melantunkan puji-pujian kepada Tuhan. Syair Abu Nawas yang sering dipakai untuk pujian di mushola itu. Seperti paduan suara yang menggetarkan dinding-dinding pesantren, hingga menembus langit-langit di sidrotul muntaha. Lembut, syahdu, dan menggetarkan jiwa siapa saja yang mendengarkannya.


Ilahi lastu lilfirdausi ahla
Walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi
Fahabli taubataan wagfir dzunubi
Fainaka ghafirudz dzanbil azhimi

Dzunubi mitslu a’daadir rimali
Fahabli taubata ya dzal jalaali
Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi
Wa dzanbi zaaidun kaifa –htimali 

Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataaka
Muqirran bi dzunubi wa qa da’aaka
Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun
Wa in tadrud faman narju siwaaka 


Walau belum begitu hafal dengan syair-syair pujian itu, namun tetap saja Dul bergetar hatinya. Ia sendiri tidak tahu entah karena apa. Sedang Mad yang sudah terbiasa melafalkan pujian itu tampak begitu khusu’ menikmati dan meresapi makna-makna yang terkandung dalam setiap bait-bait syair Abu Nawas itu.

Setelah menuaikan sholat magrib Dul dan Mad bersama-sama santri lainnya tadarus Al Qur’an. Para santri dibagi menjadi beberapa kelompok menurut kemampuannya membaca huruf-huruf hijaiyyah.

Setelah bertadarus Al Qur’an para santri bergegas meninggalkan mushola menuju gotha’an. Dul mencari Mad yang sudah selesai dan menunggunya di luar mushola. Ini adalah saat yang ditunggu oleh para santri. Selesai tadarus mereka akan menikmati makan malam yang mereka masak sendiri. Begitu juga Dul dan Mad, mereka berdua segera kembali ke gotha’an dan mempersiapkan pesta makan malam.

Selembar daun pisang yang diambil dari belakang pesantren telah digelar. Nasi liwet yang mereka masak tadi sore dihidangkan dengan lauk sambel kreweng. Dul dan Mad serta beberapa santri lainnya segera mengerubuti jamuan makan malam. Mereka makan dengan lahap, dan wajah-wajah polos para santri itu tampak puas menikmati pesta ala santri. Joyojuwoto.

Jumat, 06 November 2015

Petualangan Inspiratif Sambil Menyapa Negeriku


SUKA berpetualang? Atau punya ketertarikan di dunia pendidikan Indonesia? Acara ini tepat untukmu!
Kemristekdikti mengajak kamu untuk mengunjungi berbagai daerah di Tanah Air melalui kegiatan “Menyapa Negeriku”. Selama maksimal enam hari (disesuaikan dengan jadwal penerbangan dan lokasi), peserta kegiatan akan melihat langsung potret pendidikan Indonesia melalui petualangan seru dan mengasyikkan. Tidak hanya itu, peserta juga akan diajak berpartisipasi untuk berbagi inspirasi di wilayah yang dikunjungi, bisa dengan berbagi cerita maupun menularkan berbagai keahlian kepada masyarakat dan pelajar setempat.
Peserta Menyapa Negeriku akan didampingi alumni Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T), yang selama setahun telah mengabdi sebagai guru di pelosok negeri. 
Kegiatan ini dijadwalkan dengan daerah tujuan sebagai berikut: 
1. Kabupaten Simelueu, Aceh Barat 
2. Kabupaten Aceh Timur, Aceh 
3. Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau
4. Kabupaten Berau, Kalimantan Timur
5. Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara 
6. Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) 
7. Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) 
8. Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat
9. Kabupaten Sorong, Papua Barat 
10. Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat 
11. Kabupaten Jayawijaya, Papua
Berminat menjadi peserta Menyapa Negeri? Pastikan kamu memenuhi persyaratan berikut:
1. Warga Negara Indonesia (WNI)
2. Terbuka untuk semua kalangan dan profesi
3. Pendaftar kategori Umum: pria/wanita berusia 18-27 tahun
4. Pendaftar kategori profesional: pria/wanita berusia 18-35 tahun
5. Sehat jasmani dan rohani, serta bisa tinggal beberapa hari di pedalaman
6. Bersedia mendokumentasikan pengalaman perjalanan selama program Menyapa Negeriku untuk dibukukan dan berbagi di sosial media yang dimiliki.
Fasilitas:
1. Semua biaya perjalanan ditanggung sepenuhnya oleh Kemristekdikti
2. Uang saku selama program Menyapa Negeriku
3. Penginapan dan akomodasi.
4. Tulisan terpilih milik peserta akan masuk dalam buku Menyapa Negeri.
5. Seragam
6. Asuransi
7. Sertifikat
Unduh dan lengkapi formulir pendaftaran berikut serta kirimkan ke email layinberdaya@ristekdikti.go.id, diterima paling lambat 20 November 2015.
Nama peserta yang lulus seleksi akan diumumkan 20 November 2015 pada website ristekdikti.go.id dan media sosial @dikti. Peserta terpilih akan diundang mengikuti workshop pembekalan pada 29-30 November. Sedangkan pelaksanaan Program Menyapa Negeriku pada 5-10 Desember 2015.
Ayo, segera mendaftar, ya!
Unduh Formulir Pendaftaran Peserta Program Menyapa Negeriku
Unduh Di sini....!!!!
- See more at: http://www.kopertis12.or.id/2015/11/05/petualangan-inspiratif-sambil-menyapa-negeriku.html#sthash.7kATwvSW.dpuf

Selasa, 03 November 2015

Konsepsi Bocah Angon dan Kepemimpinan Bangsa

Konsepsi Bocah Angon dan Kepemimpinan Bangsa


Saya kira Sunan Kalijaga tidak sedang bergurau atau sedang bermain-main kata ketika menyebutkan sosok “Bocah Angon” dalam bait-bait tembang Lir ilir. Bocah angon atau anak gembala yang ditunjuk untuk memanjat pohon belimbing sering dimaknai sebagai pemimpin yang sederhana dan merakyat. Pemimpin yang melekat pada dirinya sosok Ratu Adil yang dinanti-nantikan kedatangannya oleh masyarakat. Ialah sosok messiah yang akan menyelamatkan nasib jutaan manusia dari kesewenang-wenangan dan keserakahan. Ia ibarat mentari yang menyobek tirai kegelapan malam menuju secercah sinar harapan.

Bocah angon, bocah angon...
Dan bukan Pak Jendral... Pak Jendral...
Mengapa bocah angon dan bukan pak Jendral, mengapa bukan Pak Yai, mengapa bukan yang lainnya, kata Cak Nun.

Siapapun boleh menafsirkan sosok bocah angon ini, bocah angon bisa jadi Kyai, Ilmuwan, Birokrat, Seniman, Sastrawan dan bahkan siapapun dia, asal dalam diri mereka ada avatar bocah angonnya. Ini adalah pakem yang dibuat oleh Kanjeng Sunan. Saya kira hal ini tidaklah berlebihan, dan Kanjeng Sunan Kalijaga tidak sedang ngawur dalam menetapkan kriteria pemimpin yang hebat haruslah beravatar bocah angon.  

Sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW yang dinobatkan menjadi pemimpin paling sukses dunia akhirat dalam segala bidang kehidupan adalah sosok bocah angon. Beliau mulai menggembala kambing ketika dalam asuhan keluarga  Bani Sa’ad. Dari angon inilah jiwa kepemimpinan Nabi Muhammad terbentuk, selain tentu faktor nubuwwah yang melekat pada diri beliau. Bahkan seluruh nabi yang diutus oleh Allah ke dunia mereka juga sosok-sosok bocah angon. Sosok-sosok penggembala. Hal ini disampaikan oleh Nabi kepada para sahabat-sahabatnyanya.

مَا مِنْ نَبِيٍّ اِلَّا قَدْ رَعِيَ الْغَنمَ, : قَالُوْا وَاَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : وَأَنَا

Artinya :“Tidak seorang Nabi pun yang tidak menggembala kambing, ketika beliau ditanya “ “Apakah anda juka demikian ya Rosulallah ?” Nabi pun menjawab : “Aku pun demikian”

Nabi Muhammad SAW dengan sangat gamblang mengatakan bahwa tidak ada seorang Nabi pun di dunia ini melainkan ia adalah seorang Bocah Angon. Bahkan beliau pun menyatakan sebagai seorang Bocah Angon. Jadi bocah angon sangat dekat dengan nur nubuwwah, Bocah Angon dipakai Tuhan sebagai perantara untuk menurunkan cahaya kenabian kepada hamba-hamba-Nya.

Dalam hasanah kebudayaan masyarakat Jawa Bocah Angon memang memiliki nilai magis dan sakral, seperti yang termaktub dalam Jangka Jayabaya yang menyebutkan ciri-ciri Satria Piningit adalah :
“Berparas seperti Batara Kresna, berwatak seperti Baladewa, dan bersenjata Tri Sula Wedha”

Lalu siapa itu Kresna ?
Kresna adalah Bocah Angon, ia juga disebut Govinda, yang berarti Yang melindungi sapi-sapi di daratan dan lembah-lembah, ia juga sering disebut sebagai Gopal yang berarti Sang Penggembala, dan Gopalpriya, Yang gemar menggembala. Dari sini jelas pemilihan kata bocah angon dalam bait-bait tembang Lir Ilirnya Kanjeng Sunan Kalijaga memiliki makna dan filosofi yang tinggi.

Baik dari apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW mengenai kenabian yang berhubungan dengan bocah angon, ataupun dalam Jangka jayabaya yang juga mengambil idiom bocah angon untuk menggambarkan sosok Satria Piningit yang jelas kita harus bisa menghadirkan sosok bocah angon ke dalam diri kita, dan tentunya juga ke dalam hasanah kepemimpinan bangsa.

Bocah angon adalah sosok yang bersahaja, bertanggung jawab menggiring ternak-ternaknya ke padang rumut yang hijau, dan menggembalikannya ke kandang jika petang telah tiba, sosok bocah angon adalah sosok yang berani menderita, berani glepot lumpur dan tletong,  dan tentu harus berani menjadi pelayan dari ternak yang ia gembalakan. Karena hakekatnya kepemimpinan adalah soal pelayanan
سيّد القوم خادمهم
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan dari kaum itu sendiri”


Apakah pemimpin-pemimpin bangsa ini  sudah menampilkan sosok Bocah Angon ? Wa Kafaa billahi Syahiidan... Semoga. Joyojuwoto