Kamis, 15 Oktober 2015

Semarak Pawai Muharram 1437 H TPA/TPQ Se Kec. Bangilan


Bangilan, 14/10/2015 - www.4bangilan.blogspot.com - Momen pergantian tahun selalu mendapat sambutan yang istimewa dari masyarakat. Begitu juga kemarin saat tanggal 1 Muharram 1437 TPA/ TPQ Se Kecamatan Bangilan mengadakan pawai ta'aruf yang diikuti oleh sekitar tiga ribu santriwan dan santriwati yang berada di lembaga Taman Pendidikan Al Qur'an diseluruh pelosok desa-desa di Kec. Bangilan. 

Kegiatan pawai Muharram kali ini disemarakkan dengan tampilan atraktif group drum band dari TPA desa Kablukan, begitulah memang santriwan-santriwati di era modern tidak hanya mahir dalam mengaji namun juga mampu berkreasi dalam nada-nada permainan alat musik kotemporer agar santri tidak dianggap sebagai generasi kolot yang anti kemodernan zaman. Walau demikian alat musik khas pesantren semisal banjaran juga tidak boleh ditinggalkan, karena hal itu menjadi warna lokal dan penanda identitas khas dari pesantren, terbukti dari sebagian peserta pawai dengan asyiknya bershalawat dengan dengan iringan musik hadrohan.

Pawai Muharram yang mengambil tema "Dengan Semangat Muharram Kita Semarakkan Tuban Bumi Wali Dengan Mencetak generasi Yang Madani dan Qur'ani" mengambil start dari masjid  Mundri desa Sidodadi yang kemudian finis di kantor Kecamatan Bangilan. Peserta pawai semakin meriah ketika panitia membagi-bagikan door price kepada peserta.

Dalam sambutannya ketua NU ranting Bangilan Bapak Zubaidi mengatakan agar umat Islam mampu mengambil pelajaran dari makna bulan Muharram yang dimuliakan oleh Allah, dan agar umat Islam bisa meneladani pelajaran hijrah, yaitu hijrah dari perbuatan yang tercela menuju perbuatan yang terpuji. Karena dari spirit hijrah inilah penanggalan Islam di mulai. Sekian. Joyojuwoto.

Kamis, 08 Oktober 2015

Harta Karun Mata Air Krawak

Harta Karun Mata Air Krawak

Mata air Krawak berada di wilayah Kec. Montong berbatasan dengan Singgahan. Mata air ini berada di sebelah kanan jalan raya jalur Singgahan-Tuban. Mata air Krawak atau sumber Krawak  menjadi satu-satunya sumber yang menyuplai air menuju lokasi air terjun Nglirip. Tanpa sumber Krawak dapat dipastikan sungai yang mengalir ke arah air terjun akan kering. Padahal sungai ini menopang kehidupan masyarakat di sekitar Jojogan, Ngogro, dan Tanjungrejo.

Sungai yang melewati wilayah-wilayah tersebut mengalir sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Masyarakat petani tentu sangat diuntungkan dengan adanya sungai itu. Di penampungan air di lokasi air terjun Nglirip alirannya terbagi menjadi dua aliran. Satu aliran  air dialirkan ke lembah Nglirip yang menjadi air terjun dan satunya dialirkan ke arah barat dibuatkan kanal yang berada di bawah bukit maqomnya Mbah Jabbar dan dialirkan ke wilayah Jojogan bagian barat. Menurut salah seorang warga Jojogan kanal air itu sangat dalam  dibuat di era Belanda. Melihat debit air yang selalu mengalir sepanjang waktu dan aliran airnya cukup deras kemungkinan bisa dimanfaatkan warga sebagai alternatif pembangkit listrik tenaga air. Selain itu warga sebenarnya juga bisa memanfaatkan aliran sungai sebagai lahan untuk peternakan ikan sistem keramba.


Melihat potensi sungai-sungai yang berada di bawah aliran sumber Krawak yang dipakai untuk pertanian atau yang lainnya sebenarnya sangat disayangkan sekali jika pohon-pohon yang menopang mata air banyak ditebangi tanpa pilih. Hutan yang menjadi penyangga Daerah Aliran Sungai (DAS) pun tak lepas dari penebangan yang tentu ini dilakukan oleh institusi yangg memiliki wewenang  terhadap hutan.  

Aliran sungai  yang berada di atas sumber Krawak telah kering, saya pernah ke hulu hingga sampai di petilasan Kedung Banteng dan hutan-hutannya telah menjelma menjadi persil warga. Sebenarnya wilayah sepanjang aliran sumber Krawak memiliki potensi yang bagus untuk objek wisata keluarga. Apalagi di tempat itu ada icon maqom Mbah Jabbar yang selalu menarik perhatian para wisatawan. Pemerintah daerah atau desa setempat bisa bekerja sama untuk membuat konsep yang menarik agar wilayah sumber Krawak, air terjun Nglirip, dan maqom Mbah Jabbar menjadi satu paket destinasi wisata di Kab. Tuban.


Setiap melewati hutan Krawak saya selalu membayangkan, di sepanjang jalan pohon-pohon jati dibiarkan rimbun dan besar. Kera-kera bergelayutan di dahan-dahannya yang kokoh. Air sungai mengalir jernih bersamaan dengan ikan-ikan yang berkilauan di dalamnya. Di pinggir-pinggir jalan dibangun gazebo-gazebo tempat peristirahatan sambil menikmati sepoi-sepoi angin gunung yang menyejukkan. Serta semburat matahari di pagi hari, ataau menikmati sepenggal senja yang menggantung di cakrawala barat. Namun tentu saya tahu bahwa  ini hanya sebuah khayalan tingkat tinggi yang jauh dari realisasi. Saya mungkin terlalu mengikuti gelora romantisme yang berlebihan saja.  Karena pada kenyataannya pohon-pohon jati di sepanjang jalan sedang menggersang dan siap untuk ditebang. Pokok-pokoknya telah diteras, daunnya telah berguguran, gelamnya telah dikuliti, pohon jati itu siap diolah untuk memenuhi ambisi modernitas zaman.


Saya tidak hendak protes kepada siapapun jua, tidak pada para petani yang tidak punya lahan sehingga membuka hutan untuk dibuat persil, saya juga tidak hendak protes kepada perhutani yang harus menebang pohon-pohon jati itu. Namun menurut saya hutan dengan segala mata rantainya adalah harta karun yang tak terhingga yang harus  kita wariskan kelak. Pohon-pohonnya, flora dan faunanya, sumber air nya adalah titipan masa depan dan milik anak cucuk kita, dan sebenarnya kita sedang meminjam lingkungan ini dari generasi penerus. Oleh karena itu mari jaga dan lestarikan alam ini untuk kita kembalikan dengan kondisi yang baik jika masanya telah tiba. Joyojuwoto

Rabu, 07 Oktober 2015

Buku, Guru, dan Menulis

Buku, Guru, dan Menulis
Oleh : Joyojuwoto

Menulis adalah sebuah keniscayaan lebih-lebih bagi seorang yang berpropesi sebagai guru. Sebagaimana yang tercantum dalam UU No. 14 Tahun 2005 pasal 10 tentang guru dan dosen disebutkan bahwa seorang guru yang profesional  setidaknya harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Karena menurut PP. Nomor 74 tahun 2008 menjelaskan bahwa kompetensi profesional guru merupakan kemampuan guru yang berkaitan dengan penguasaan pengetahuan, teknologi, dan atau seni dan budaya atas bidang pelajaran yang diampunya.

Atas alasan inilah seharusnya seorang guru harus menulis. Dengan menulis seorang guru  dapat meningkatkan kompetensi profesionalnya, karena menulis sangat dituntut untuk menguasai bidang disiplin ilmu yang akan ditulisnya. Selain itu tentu guru yang penulis akan berusaha mencari, membaca, dan menela’ah berbagai referensi yang dipakai sebagai bahan untuk menulis.

Menulis dan menghasilkan sebuah karya buku memiliki multi manfaat bagi seorang guru. Salah satunya tentu memberikan tambahan kredit poin untuk kenaikan jabatan, promosi jabatan bagi seorang guru PNS. Manfaat lain dari menulis tentu ini menjadi salah satu cara untuk membuka pintu rezeki. Jika ketepatan buku itu best seller maka seorang guru akan mendapatkan keuntungan finansial juga. Dan yang paling penting dari aktivitas menulis adalah sebagai sarana untuk menebar manfaat dan menjadi ladang amal kebaikan dengan dakwah bil qalam, dakwah dengan pena yang pahalanya akan terus mengalir sepanjang buku itu dibaca dari masa ke masa.

Guru sebagai instrumen penting serta yang menjadi ujung tombak perubahan dan kemajuan suatu bangsa tentu harus selalu mengasah kemampuan dan skilnya guna berada di garda depan bagi proses penyerdasan kehidupan anak bangsa. Oleh karena itu dua hal penting sebagai tolak ukur maju mundurnya suatu kebudayaan bangsa adalah buku dan menulis. Sebanyak apa buku yang dihasilkan dan ditulis oleh warga negara Indonesia menjadi penanda masa keemasan bangsa ini. Mari menengok sejarah keemasan dunia Islam abad pertengahan, saat itu yang mana mesin cetak dan foto copy belum ditemukan tapi jumlah koleksi buku di perpustakaan Baitul Hikmah masa pemerintahan Harus Ar Rasyid menurut catatan sejarah sekitar dua juta jilid buku. Suatu jumlah yang luar biasa tentunya di masa itu, bahkan di masa sekarang.

Minat baca, buku, dan menulis berbanding lurus dengan peningkatan kompetensi seorang guru, namun sayang produksi buku di Indonesia sangat rendah. Menurut catatan www.kompas.com pada tahun 2011 produksi buku di Indonesia sekitar 20.000 judul buku. Jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 240 juta jiwa perbandingannya satu buku dibaca oleh 80.000 orang. Jumlah ini tentu sangat tidak ideal sekali dan imposible. Padahal seharusnya guru berada di garda terdepan dalam hal gerakan membaca, menulis, dan membeli buku. Rendahnya minat baca salah satunya tentu disebabkan kurangnya koleksi buku, jika koleksi buku minim maka sangat sulit diharapkan untuk bisa menulis.

Pemerintah dengan program sertifikasi guru yang fungsi sejatinya untuk meningkatkan kompetensi dan mutu guru ternyata jauh dari harapan. Dana yang diberikan pemerintah kebanyakan hanya menyasar pada fungsi kesejahteraan saja. Menurut pengamatan saya di tingkat lokal ternyata sertifikasi guru belum mampu mendongkrak dan meningkatkan daya beli buku bagi seorang guru guna menunjang profesionalitas guru sebagaimana yang dimaksud. Saya kira juga wajar jika dana sertifikasi bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, namun sisi peningkatan kompetensi guru juga perlu mendapatkan ruang dan perhatian.

Buku menjadi hal  penting bagi seorang guru, baik untuk dibaca ataupun untuk ditulis. Tentang membaca saya selalu teringat dengan dawuh Kyai saya di pesantren, beliau selalu berpesan untuk selalu membaca. Bahkan beliau mengatakan “Jangan mengaku menjadi santri ASSALAM, kalau belum cinta membaca”  begitu dawuhnya.

Menurut  Feuntas yang saya kutip dari WA salah satu teman “Buku tidak menulis dirinya sendiri. Juga tidak digodok dalam komite. Menulis adalah aksi seorang diri yang kadang menakutkan.”  Jadi perlu keberanian, tekad,dan komitmen bagi seorang guru untuk memproses pengetahuan dari buku untuk diolah menjadi buku-buku yang lainnya.  Oleh karena itu menurut saya fardlu ‘ain hukumnya seorang guru harus menulis buku, setidaknya menulis artikel, makalah, PTK, dan model-model tulisan ilmiah lainnya guna meningkatkan dan memberikan keteladan dalam dunia akademik di dunia pendidikan agar kelak pendidikan di Indonesia benar-benar mampu mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu  manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.


Saya kira tidak berlebihan buku, guru, dan menulis, menjadi bagian penting bagi sebuah proses metamorfis perubahan bangsa yang berperadaban. Sekian.  Joyojuwoto