Senin, 03 Agustus 2015

Mubes Perdana Sahabat Pena Nusantara

Musyawarah Besar Sahabat Pena Nusantara (Mubes SPN) terselenggara pada Sabtu, 1 Agustus 2015. Berkat kemurahan hati Dr Taufiqi Bravo Viec, salah satu anggota SPN, Mubes perdana ini akhirnya berhasil diselenggarakan di kediaman beliau di Malang. Dihadiri 21 peserta yang merupakan utusan dari beberapa daerah, Mubes berjalan lancar dan meriah. Alhamdulillah. Semoga keramahan dan keakraban yang ditawarkan Mr VQ beserta istri, selaku tuan rumah, dicatat Allah sebagai amal jariyah.
SPN adalah komunitas penulisan yang saya gagas pada pertengahan Maret 2015 lalu. Ketika itu, saya menyampaikan kepada sahabat saya,Haidar Musyafa, agar ada suatu komunitas yang menjadi tempat berkumpulnya penulis. Boleh jadi komunitas semacam itu sudah banyak, misalkan Forum Lingkar Pena (FLP). Tetapi tidak ada salahnya jika ditambah lagi. Tentu dengan ciri dan keunikannya sendiri nanti.
Mas Haidar lalu membikin grup WhatsApp. Segera saja terkumpul 100 orang penulis dan pemikir. Omong punya omong, tiba-tiba terpikir untuk membuat logo. Setelah melewati diskusi panjang, logo berhasil dibuat. Perancangnya adalah Masruhin Bagus, salah satu anggota SPN dari Tuban. Grup WhatsApp kemudian diresmikan dengan nama “Sahabat Pena Nusantara”, dan Minggu, 29 Maret 2015, ditetapkan sebagai hari kelahiran komunitas ini. Dengan demikian, Mubes kemarin adalah langkah awal untuk menetapkan kepengurusan dan menata administrasi.
Visi dari komunitas ini adalah: “Menjadi pelaku, pembangkit, dan pembangun masyarakat literasi Nusantara.” Adapun misinya adalah: (1) Melakukan kerja literasi, (2) Melakukan gerakan literasi, (3) Membangun masyarakat literasi. Tentu saja dibentuk kepengurusan untuk mengawal program-program literasi yang telah diputuskan bersama. Berikut adalah susunan pengurus SPN Pusat:
DEWAN PENASIHAT:
1. Prof Dr Muhammad Chirzin
3. KH Muhammad Dawam Saleh

KETUA:
2. Dr Ngainun Naim

SEKRETARIS:

BENDAHARA:

DIVISI-DIVISI:
DIVISI PENULISAN 

DIVISI PENERBITAN 

DIVISI TEKNOLOGI INFORMASI
1) Ira Cahaya D Aini 
2) Ahmad Syairozi

DIVISI PELATIHAN DAN PENJUALAN
1) Dr M Taufiqi 
3) Febrian Taufiq Sholeh

DIVISI HUMAS
1) Hayat
2) Ahmad Fahrudin

DIVISI KEORGANISASIAN
1) Haidar Musyafa
2) Syahrul

@Sahabat Pena Nusantara

Minggu, 02 Agustus 2015

Renungan Halal Bihalal Temu Kadang Lintas Organisasi dan Perguruan di Bumi Bangilan

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Filosofi ini saya kira sangat relevan sekali dengan kondisi carut-marutnya bangsa kita. Persatuan adalah harga mati yang seharusnya dijaga dan dilestarikan oleh seluruh elemen masyarakat diseluruh tanah air tercinta. sekecil apapun bentuk dan usaha untuk menjaga persatuan dan kesatuan layak untuk mendapatkan apresiasi dan angkat topi dari kita semua.

Pada moment bulan syawal dimana energi silaturrahmi dan  saling berkunjung bisa dijadikan sebagai momentum untuk mempererat tali persatuan antara anggota masyarakat baik secara personal individual maupun secara organisasi dan perkumpulan. Sangat mudah untuk mempengaruhi emosi massa dalam jumlah yang besar. Jika pengaruh yang diberikan positif tentu energi itu akan sangat bermanfaat bagi keberlangsungan kerukunan dan persatuan serta persatuan yang akhirnya menciptakan satu ikatan kebersamaan. Begitu pula sebaliknya jika suatu perkumpulan membawa energi negatif temtu juga sangat mudah untuk diarahkan guna memecah belah ikatan persatuan itu.

Oleh karena itu para sesepuh Organisasi dan Perguruan di Bumi Bangilan sangat menyadari akan hal itu. Dimotori oleh Persaudaraan Setia Hati Terate Ranting Bangilan bersama perguruan-perguruan lain seperti Pagar Nusa, IKSPI, Margaluyu, Barong Pranajaya, Cimande Tuban, PRSH, dan Perguruan Tahta Mataram mengadakan acara halal bihalal dengan tema "Dengan Semangat Kerukunan Mari Berjuang Bersama Untuk mengisi Kemerdekaan".

Acara yang dilaksanakan di Karangtengah desa Bangilan Kab. Tuban ini menjadi penanda bahwa para pemuda, khususnya para pendekar di Bangilan memiliki jiwa besar dan layak menjadi teladan untuk wilayah-wilayah lain yang ,masih berkutat dengan tawuran antar pemuda karena beda perguruan. 

Semoga kebesaran jiwa pendekar Bangilan bisa menjadi
sumbangsih bagi persatuan dan kesatuan para pemuda di wilayah Kabupaten Tuban pada khususnya dan seluruh bangsa Indonesia pada umumnya. 

Menurut ketua panitia Mujoko Syahid acara ini tidak hanya diikuti oleh perguruan dan organisasi di Kec. Bangilan saja namun juga melibatkan lintas perguruan di kecamatan-kecamatan lain di sekitarnya, seperti Kenduruan, Jatirogo, Bancar, Singgahan, Parengan dan Senori.

"Mengumpulkan ribuan pendekar lintas perguruan dalam satu tempat terbuka dan pada malam hari bukan hal mudah. Apalagi mereka menggunakan seragam dan atribut kebesaranya masing-masing. Ini butuh kesadaran tinggi masih-masing pendekar". Begitu tutur Mas Syahid mengakhiri pembicaraannya. Joyojuwoto, Bangilan, 28 Juli 2015.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Pidato Khutbatul Iftitah KMI ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia TP. 2015-2016

Pidato Khutbatul IftitahKMI ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia TP. 2015-2016
Oleh : KH. Yunan Jauhar, S.Pd., M.Pd.I

Bismillahirrahmanirrahim, 
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Anak-anakku sekalian,
Alhamdulillah, kegiatan belajar mengajar dan kegiatan pendidikan di pondok kita berjalan relatif lancar.Walaupun banyak kekurangan, tapi kekurangan itu tidak membuat kita diam dan tidak bergerak. Kita akan terus bergerak dan berjuang semaksimal mungkin.
Selama kurang lebih dua puluh dua tahun saya mengikuti perjalanan kehidupan pondok dengan segala dinamika kegiatan pengajaran dan pendidikannya, tidak ada yang berubah dari sistemnya, nilainya, dan jiwanya, bahkan tidak akan pernah berubah.
Setiap kali kita akan memulai satu kegiatan, pasti akan diarahkan. Guna dari pengarahan adalah agar kita tidak salah niat, agar kita tidak salah pengertian sehingga nantinya kita tidak menyesal, tidak kecewa dan mengecewakan, tidak rugi dan merugikan.Sebesar keinsyafanmu, sebesar itulah keuntunganmu.Di dalam arahan, tidak ada yang tidak penting, semua yang diarahkan adalah hal-hal yang sangat penting. Materi-materi yang akan disampaikan pada setiap pengarahan sudah dipikirkan, sudah dibicarakan, dan sudah dipertimbangkan dengan sematang-matangnya.
Anak-anakku sekalian,
Kenapa Abah Moehaimin mendirikan Pondok Pesantren ASSALAM dengan kurikulum Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah ?. Kenapa beliau tidak mendirikan Pondok Pesantren ASSALAM ini dengan kurikulum pengajaran Madrasah ‘Aliyah ataupun Madrasah Tsanawiyah ?.
Anak-anakku sekalian,

Model dan sistem pendidikan di Indonesia ternyata tidak berubah, ketika Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda hingga mencapai zaman kemerdekaan yang menjadi tujuan pendidikan adalah keduniaan semata, Abah Moehaimin merasa tidak puas dengan model dan sistem yang hanya berorientasi kepada pekerjaan dan materi duniawi. Oleh karena itulah, Abah Moehaimin mendirikan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah. Beliau berharap, KMI bisa menelurkan guru-guru yang berkualitas ilman, adaban, wa ibadatan.
Pondok Pesantren ASSALAM dan KMI nya adalah tempat untuk menyemai bibit-bibit unggul seorang guru.Guru-guru yang siap untuk ditanam dan tumbuh berkembang di berbagai tempat. Guru-guru yang siap berjuang di berbagai medan untuk membela dan memperjuangkan Islam. Walaupun ditanam di tempat yang kurang subur, bibit unggul tersebut masih bisa tumbuh dan berkembang.
Apalagi kalau tanah medan perjuangannya adalah tanah yang subur, dia akan tumbuh besar dan bisa memberi manfaat kepada masyarakat. Insya Allah.
Salah satu metode yang Pondok Pesantren ASSALAM gunakan untuk menyemai bibit-bibit unggul tadi adalah At-tarbiyah al-‘amaliyah  atau ujian praktek mengajar. At-tarbiyah al-‘amaliyah merupakan gagasan nilai, jiwa dan sistem dari pendiri Pondok ini.Harus terus dilestarikan, diteruskan, dan diperjuangkan.
Anak-anakku sekalian,
Alangkah beruntungnya anak-anak yang bisa mendapatkan dan merasakan pendidikan di sini.
Seminggu di ASSALAM kemudian keluar, Mereka akan tahu bahwa segala kegiatan di Pondok Pesantren ASSALAM diatur. Dari cara tidur, cara mandi, cara makan, cara belajar, cara berpakaian, cara berbicara, dan sebagainya. Segalanya diatur, diarahkan, dan dibimbing.
Hidup sebulan, Mereka akan mengikuti kegiatan Khutbatul Arsy. Kehidupan yang akan mereka jalani selama setahun ke depan akan diperlihatkan dan diperkenalkan melalui beberapa kegiatan-kegiatan, kemudian diterangkan secara menyeluruh oleh Pengasuh Pondok. Dengan demikian, mereka akan mengetahui kemana arah jalan pondok ini, sehingga faham betul bagaimana harus bersikap. Bila arah tujuan pondok tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, maka mereka bisa langsung angkat kaki dan keluar dari pondok ini. Namun, bila arah tujuan pondok sesuai dengan yang mereka harapkan, mereka bisa langsung bersiap, memperbaharui niat, memantapkan tekad, dan segera menyesuaikan diri dengan segala aktivitas yang ada.
Maka kita yang ada di ASSALAM ini harus terintegrasi (menyatu) dan sejalan dengan cara berpikir ala ASSALAM, mengerjakan segala macam kegiatan harus sungguh-sungguh li i’lai kalimatillah sehingga Allah SWT pasti akan memberi ilham dan petunjuk kepada kita.
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا، وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ. ( العنكبوت : 69
إعملوا فوق ماعملوا
Berbuatlah kalian yang lebih hebat dari apa yang telah mereka perbuat.
“Yang bergelar doktor, mudah-mudahan keikhlasannya juga bertingkat doktor.Jangan sampai keikhlasan menjadi turun dengan titelnya. Jangan sampai kita tertipu dengan titel kita.Jangan sampai kita hanya dianggap besar, tinggi, kaya dan maju.Atau kita merasa maju, besar, tinggi, dan kaya. Di atas kita ada Allah.Di atas orang yang berilmu ada yang lebih berilmu.Jangan sampai kamu tidak menghargai sesuatu yang seharusnya dihargai.Jangan sampai kamu menghargai sesuatu yang tidak seharusnya dihargai.”

Hidup itu nikmat dan indah, maka nikmatilah keindahan hidup.Yang membuat tidak nikmat itu manusianya.Allah sudah menjadikan semuanya indah di dunia ini. "Dia-lah yang membuat indah segala sesuatu yang Dia ciptakan" (Qs. [32]: 7).

 

Keindahan dan kenikmatan bagi seorang guru yaitu murid; bagi suami adalah istri; bagi orang tua adalah anak; bagi pemimpin adalah rakyat, dst. Ini surga kita: guru punya murid, murid punya guru, itu surga. Bayangkan murid tidak punya guru, atau guru tidak punya murid.Dokter tidak punya pasien, pasien tidak punya dokter.

 

Guru bukan sekedar mengajar ilmu, tapi juga mengajar kehidupan.Kiai yang bener itu ada di pondok 24 jam, 7 hari seminggu, 31 hari sebulan, dst; pesantren tidak boleh jadi sambilan, mendidik dan mengajar tidak boleh hanya sambilan. Harus totalitas; tenaga, pikiran, hati, dan keikhlasan.

 

 

 

Kita syukuri kenikmatan ini, dan kita nikmati kesyukuran ini. Jangan sampe kenikmatan kita disyukuri orang lain, atau kesyukuran kita orang lain yg menikmati. Ramadhan dan Idul Fitri, itu kesyukuran dan kenikmatan kita, jangan sampe malah orang2 nasrani, yahudi, kapitalis, komunis, dll yg menikmati.

 

Di pondok ini semangatnya adalah kebersamaan untuk memberi, bukan kebersamaan untuk bagi-bagi. Ingat, dalam berjuang dan berjihad jangan berpikir dapat apa, berapa, itu sampah2 perjuangan.

 

Di pondok ini kita tanamkan bom, yaitu bom spiritual, bukan bom kimiawi.Kita didik santri2 ini menjadi bom spiritual, untuk mengebom sesuatu yg tidak benar, yaitu kemungkaran dan kemunduran.

 

Tiap orang punya aib, tiap lembaga punya kekurangan.Boleh membaca aib orang, tapi jangan membacakannya.Bedakan antara membaca dan membacakan. Suasana sekarang ini semrawut, karena saling membacakan aib orang lain.