Selasa, 31 Agustus 2021

Tetap Gembira Peringati HUT Ke-76 Kemerdekaan RI di masa Pandemi

Tetap Gembira Peringati HUT Ke-76 Kemerdekaan RI  di masa Pandemi
Oleh: Joyo Juwoto

Tak terasa hampir dua tahun pandemi COVID-19 melanda kita semua. Tidak di desa, tidak di kota kondisi sulit dirasakan oleh semuanya, baik secara ekonomi, pendidikan, maupun sektor transportasi. Hampir semua lini kehidupan kehilangan gairahnya.

Di situasi pandemi seperti ini masyarakat harus pandai dalam mengatur keperluan sehari-hari, sektor yang dirasa sangat penting saja yang harus diprioritaskan, agar kehidupan terus berjalan, dan masyarakat bisa survive di tengah situasi yang serba tidak pasti ini. 

Termasuk dalam merayakan HUT Kemerdekaan negara kita tercinta, jangan sampai seperti biasanya. Pesta sebulan penuh dengan berbagai kegiatan yang melibatkan massa cukup banyak.

Saya rasa hal yang wajar kita bergembira menikmati karunia dan rahmat Allah Swt dengan anugerah Kemerdekaan yang  telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Sudah seyogyanya kita merayakannya dengan berbagai kegiatan yang positif.

Kita bahagia dengan anugerah dan nikmat yang telah Allah Swt berikan berupa Kemerdekaan adalah termasuk amal kebaikan yang bernilai ibadah dan berpahala. Itu adalah tanda kesyukuran atas nikmat Tuhan.

Ya, kebahagiaan saat merayakan Kemerdekaan tentulah sangat berharga, apalagi di musim pandemi seperti ini. Kita bisa tertawa dalam segala keterbatasan  adalah hal yang sangat luar biasa.

Bergembira adalah perintah Tuhan, dan ini menjadi penanda seorang hamba bahagia dengan punya Tuhan  Allah yang Maha Pengasih dan Penyanyang. Gus Baha' seorang ulama yang sangat viral pernah mengatakannya demikian. Bahkan beliau juga menyitir ayat al Quran yang bunyinya: 

"Qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fa biżālika falyafraḥụ, huwa khairum mimmā yajma’ụn."

Artinya: “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."

Ayat di ayat jelas sekali bahwa seorang hamba hendaknya bergembira dengan karunia Allah Swt yang telah dianugerahkan kepada seorang hamba. 

Gus Baha' juga mengatakan bahwa tertawa itu termasuk ibadah mudah yang sangat dibenci oleh syetan, sebagaimana yang beliau sitir dari Imam Al Ghazali yang berbunyi: 

"Inna min khiyari ummati fimaa nabbaanil mala-ul a’la qauman yadhakuuna jahran min sa’ati rahmatillah, wa yabkuuna sirran min khaufi ‘adzaabih."

Artinya: 
"Sesungguhnya termasuk dari ummatku dari apa yg dikabarkan oleh penduduk langit ialah kaum yang tertawa lantang sebab keluasan rahmat Allah,  dan yang menangis secara rahasia sebab takut adzab-Nya."

Jadi silakan tetap bergembira dalam memeriahkan HUT Ke-76 Kemerdekaan RI dengan berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan musim pandemi seperti ini. Jangan sampai pandemi membuat kita bangsa Indonesia mati gaya.

Ada banyak alternatif merayakan Kemerdekaan yang ke 76 ini dengan berbagai kegiatan yang berbasis online, seperti baca puisi online, karya foto, lomba menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, secara online di media sosial atau mungkin group WA kampung, lomba membuat tagline Kemerdekaan dan tentu masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan via dunia maya.

Intinya sesuai tagline HUT RI Ke-76, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh, rakyat harus bangkit, rakyat harus gembira agar rasa syukur dan kebahagiaan atas Kemerdekaan ini tidak terjajah kembali oleh kondisi pandemi yang belum berkesudahan ini. Salam bahagia, Salam merdeka! 

Bangilan, 31 Agustus 2021

Senin, 30 Agustus 2021

Menelusuri Jejak Joko Tingkir Lewat Tembang Sigra Milir Versi Gus Dur

Menelusuri Jejak Joko Tingkir Lewat Tembang Sigra Milir Versi Gus Dur
Oleh: Joyo Juwoto

“Sigra milir sang gethek sinangga bajul, kawan dasa kang njageni, ing ngarsa miwah ing pungkur, tanapi ing kanan kering, kang gethek lampahnya alon”.

Artinya: "Mengalirlah segera sang rakit didorong buaya
empat puluh penjaganya
di depan juga di belakang
tak lupa di kanan kiri
sang rakit pun berjalan pelan."

Masyarakat Jawa memang dikenal memiliki tradisi tutur yang sangat kaya, mulai dari legenda, dongeng, folklore, mitos, cerita misteri, hingga tembang-tembang dolanan. 

Tidak seperti tembang yang sudah sangat populer seperti gundul-gundul pacul, lir ilir, atau sluku-sluku bathok, tembang di atas, yang saya bahas ini terasa asing dan kurang merakyat, setidaknya di mana saya menjalani masa kanak-kanak di tempat saya tinggal. 

Entah karena memang di tempat saya tinggal sudah jarang sekali, bahkan jika boleh dikatakan tidak ada lagi anak-anak yang bisa nembang dolanan. Padahal saya termasuk generasi kelahiran delapan puluhan. Orang tua pun tidak ada yang mengajari anaknya nembang. 

Sebagai orang Jawa tentu ini menjadi keprihatinan bersama, di mana kebudayaan kita yang paling sederhana saja, yang berupa tembang dolanan tidak terwariskan dengan baik ke anak cucu kita. 

Saya menulis ini catatan ringan ini, setelah sebelumnya melihat di salah satu postingan di laman FB ada yang membagikan pidato Gus Dur saat mengisi pengajian di Lamongan. Tepatnya di Pringgoboyo Kec. Meduran. 

Gus Dur saat itu yang menjadi pembicara pada haul mbah Anggoboyo. Beliau menembangkan sigra milir dan menerangkan bahwa tembang tersebut adalah kisah perjalanan Joko Tingkir yang akan ke Pajang guna merebut kembali tahta kerajaan yang telah jatuh ke tangan Sutowijoyo dari bumi mentaok.

Setelah pasukan Pajang kalah perang dengan Mataram, Joko Tingkir mengungsi sampai Sumenep Madura. Di sana beliau menggalang kekuatannya kembali. 

Saat itu sebenarnya Joko Tingkir sudah membawa pengawal sebanyak 40 orang yang terdiri dari para jawara. Ini disimbolkan dengan wujud 40 buaya yang mengawal getheknya Joko Tingkir saat di bengawan. "Kawan dasa kang njageni"

Tapi ketika sampai di bengawan Jero, Joko Tingkir alias sultan Hadiwijaya ini singgah di Pringgoboyo, ketika sedang istirahat beliau mendapatkan pesan ghaib dari gurunya, yaitu Sunan Kalijaga, agar tidak melanjutkan perebutan kekuasaan lagi. Lebih baik Joko Tingkir tinggal dan menetap saja di situ untuk mendidik masyarakat. Itu lebih bermanfaat, karena jikalau Joko Tingkir pergi ke Pajang pun, ia tidak akan menang melawan Sutowijoyo. Karena suratan takdirnya memang demikian.

Akhirnya Joko Tingkir menuruti dawuh gurunya untuk menetap di Pringgoboyo, dan selanjutnya oleh masyarakat setempat, beliau lebih dikenal dengan sebutan mbah Anggoboyo. Demikian yang dikisahkan oleh Gus Dur. 

Mengenai tafsir tembang sigra milir ini tentu banyak versi, tapi demikian itu kurang lebihnya yang disampaikan oleh Gus Dur. 

Kisah perjalanan Joko Tingkir naik gethek memang sangat melegenda, peristiwa ini juga diangkat di film, namun kisah yang dikenal masyarakat bahwa ini adalah perjalanan Joko Tingkir ketika akan sowan ke Demak era Sultan Trenggono setelah Joko Tingkir berguru kepada Ki Buyut Banyubiru.

Kisah ini entah versi mana yang benar, karena keduanya bersumber dari tradisi lisan yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Gus Dur memang sosok yang suka berziarah dan menemukan makam para waliyullah yang kadang belum dikenal oleh penduduk setempat. Seperti juga beliau  pernah ziarah ke Soko Medalem ke sebuah maqam yang menurut beliau itu adalah maqamnya Sunan Kalijaga. Wallahu a'lam. 

Bangilan, 30 Agustus 2021

Jumat, 27 Agustus 2021

Fatratul Kitabah

Fatratul Kitabah
Oleh: Joyo Juwoto

Dalam khazanah sejarah perjalanan agama Islam, kita mengenal istilah fatratul wahyi, yaitu masa jeda di mana wahyu tidak turun kepada Nabi Muhammad SAW. Masa fatratul wahyi ini, tentu sangat menggelisahkan hati Nabi Muhammad yang baru menerima wahyu pertama, dan entah mengapa tidak diikuti oleh wahyu kedua dan selanjutnya.

Masa jeda memang membingungkan dan menggelisahkan hati. Masa jeda yang tidak menentu, gelap, dan tidak ada kepastian. Dalam bahasa jomlo mungkin bisa disetarakan dengan masa menggantung, masa yang tidak jelas sama sekali.

Tidak bermaksud menyamakan, ternyata dalam dunia menulis ternyata juga sama. Ada masa jeda di mana seorang penulis merasa kesulitan untuk menuangkan idenya menjadi sebuah tulisan. Setidaknya ini yang saya alami dan saya rasakan. Saya tidak tahu dengan penulis-penulis profesional, apakah ada juga masa jeda, masa fatratul kitabah.

Sebagai penulis amatiran kayak saya ini, kadang harus menunggu mood untuk bisa menulis. Parahnya setelah menunggu berbulan-bulan ternyata mood itu tidak datang-datang. Benar jika ada yang mengatakan bahwa aktivitas menunggu itu membosankan dan menggelisahkan. 

Saya sebenarnya juga tidak tahu dan belum mengenali betul apa itu mood. Ia datang sendiri tanpa diundang,  Dan serta merta kabur tanpa diantar seperti jailangkung, ataukah perlu sesajen khusus untuk menghadirkannya. Yang pasti ketika saya hanya berdiam diri menunggu datangnya mood, justru saya semakin kesulitan untuk mendekatinya.

Mood tak pernah mau datang ketika kita menunggunya dengan pasif. Itu yang saya rasakan, yang saya alami. Tak terasa menunggu mood justru merusak dan menghalangi kedatangannya. Akhirnya di tengah kegelisahan menunggu, saya memaksa diri untuk menulis. Hasilnya ternyata juga juga susah untuk menghasilkan tulisan yang selesai, apalagi bagus.

Baru beberapa paragraf, bahkan kadang baru beberapa kata, saya tidak bisa melanjutkan menulis. Mentok. Ah, kadang memang hati ini berkata, betapa susahnya menulis, saya kebingungan sendiri.

Sebagai penulis asal-asalan, masa fatroh menulis ini sering saya alami, cuma kadarnya berbeda-beda. Kadang selang beberapa hari  sudah teratasi, tapi kali ini beda, saya merasakan berbulan-bulan lamanya kesulitan menuangkan ide menjadi sebuah tulisan. Buntu.

Ya wis mau bagaimana lagi, menulis hal sederhana saja malas, dan butuh menunggu mood segala. Hal yang sedemikian tentu susah menjadi penulis professional yang harus menyertakan banyak sumber dan referensi. Salah satu kunci menjadi penulis yang baik tentu harus berdisiplin dalam menulis, dan bisa menghadirkan mood, memperbarui mood, dan bukan sekedar menunggunya saja.

Lalu adakah tips-tips untuk menjaga dan menghadirkan mood? Saya rasa kuncinya adalah pada diri pribadi si penulis itu sendiri.

Kalau saya pribadi jika mood tiba-tiba ngedrop biasanya yang saya lakukan adalah melihat cover-cover buku di perpustakaan atau di toko buku, membaca buku, jalan-jalan, dan bisa juga melakukan hal menarik dan menggemberikan diri sendiri, walau kadang semua itu tidak ada gunanya juga. 

Bangilan, 27/08/2021