Kamis, 31 Januari 2019

NU Nggendong dan Nggandeng Indonesia


NU Nggendong dan Nggandeng Indonesia
Oleh: Joyo Juwoto

Hari ini Nahdlatul Ulama (NU) berulang tahun yang ke 93 tahun, sebuah usia yang cukup matang bagi sebuah organisasi untuk mentasbihkan dirinya sebagai organisasi besar dengan jumlah masa yang cukup banyak dan beragam.  Mau tidak mau dengan adanya proses dan dinamika yang cukup panjang yang menyertai perjalanan NU dengan segala jejak sejarah yang dilaluinya, menjadikan jam’iyyah ini menjadi sebuah rumah besar, aset ideologis, dan pengayom bagi masyarakat Indonesia.
Secara historis kita semua tahu bahwa NU adalah salah satu dari kakak kandung jabang bayi yang bernama Indonesia. NU dilahirkan sembilan belas tahun lebih tua dibandingkan dengan negara Indonesia. NU bersama kakak kandung organisasi lainnya seperti Muhammadiyah ikut serta merawat, ngemong, nggendong, nggandeng bahkan ikut serta membidani lahirnya negara kesatuan republik Indonesia. Saya rasa semua tahu dan tidak memungkiri akan hal ini, sejarah telah mencatatnya dengan baik.
Peran NU dalam membersamai Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak perlu diragukan dan dipertanyakan, jauh sebelum negara Indonesia lahir, Mbah Wahab Chasbullah setelah kepulangannya dari menuntut ilmu di Makkah, beliau mendidik para pemuda dalam wadah Nahdlatul Wathan. Mbah Wahab yang terkenal cerdik ini mengajarkan ilmu pengetahuan dan menggembleng para pemuda untuk cinta terhadap tanah airnya.
Setiap akan memulai kegiatan belajar mengajar, bersama santri-santrinya, mbah Wahab menyanyikan lagu Yaa Lal Wathan atau dikenal dengan mars Syubbanul Wathan (Pemuda cinta tanah air) yang lagunya sering dinyanyikan dalam perayaan-perayaan dan kegiatan Nahdlatul Ulama. Mbah Wahab menanamkan dalam dada para pemuda benih-benih rasa cinta tanah air, rasa nasionalisme, sehingga kelak bibit-bibit itu akan menjadi tanaman yang subur dan melimpah di Bumi Nusantara.
Pada kenyataannya memang apa yang menjadi cita-cita besar mbah Wahab, Mbah Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai dalam wadah NU terbukti. Sebelum Indonesia lahir peran besar para santri, kiai, dan pesantren dalam mewujudkan negara kesatuan republik Indonesia menjadi bukti nyata. Pada saat penjajahan Belanda, Jepang, dan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan sejarah telah mencatat dengan tinta keabadian bahwa di situ ada peran NU, ada laskar Hisbullah, ada Banser, ada peran dan suwuk dari Kiai-kiai NU.
Saat republik Indonesia baru seumur jagung, pascakemerdekaan Indonesia baru saja dikumandangkan, tentara Belanda ingin kembali menguasai bekas negara jajahannya, Bung Karno sebagai pemimpin besar revolusi Indonesia meminta saran dan fatwa dari Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Jawaban dari Mbah Hasyim adalah resolusi 22 Oktober 1945, seruan jihad fi sabilillah menggelora penuh tekad dan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dari penjahahan Belanda. Hasilnya adalah perang besar 10 Nopember di Surabaya, yang melegenda seantero dunia.
Dalam setiap tahapan sejarah dengan segala konsekuensinya NU selalu tampil terdepan nggendong dan nggandeng negara Indonesia. Hampir tidak pernah organisasi yang didirikan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari meninggalkan Indonesia seorang diri. NU ibarat kakak kandung yang mengerti lahir batinnya Indonesia, karena kedekatan secara emosional inilah NU mengerti apa yang baik dan yang kurang baik bagi ke-Indonesiaan. NU selalu hadir dan tampil di garda terdepan sebagai penjaga, pembela, pengayom bagi ke-Indonesiaan kita.
NU sesuai dengan tagline Harlah NU yang ke-93 “Menyebarkan Islam yang damai dan toleran” karena NU selalu mampu menemukan bentuk Islam yang mengalir dan meresap dalam nilai dan kultur budaya bangsa Indonesia tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman itu sendiri, NU selalu bisa menerjemahkan dan membuat pola Islam yang ramah sebagai perwujudan dari rahmatan lil ‘alamin, atau memayu hayuning bawana dalam nilai ke-Indonesiaan-ke-Nusantaraan.

Semoga Nahdatul Ulama selalu bisa nggendong dan ngandeng negara Indonesia. Dirgahayu yang ke- 93, rahayu, rahayu, Semoga NU selalu menjadi rumah besar bagi ke-Indonesiaan yang rahmatan lil ‘alamin. Amin.
Semoga di harlah yang ke- 93 ini NU terus istiqomah mewujudkan kedamaian di bumi Nusantara dan menjadi salah satu wasilah menuju Indonesia yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur, Indonesia yang baik yang adil, makmur, sejahtera, damai penuh keberkahan dan dalam lindungan dan ampunan dari Allah swt.


*Joyo Juwoto, Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban. Penulis Buku Dalang Kentrung Terakhir.

Rabu, 30 Januari 2019

Inilah wasiat Mbah Hasyim Muzadi kepada Ketua MPR Zulkifli Hasan

*Inilah wasiat Mbah Hasyim Muzadi kepada Ketua MPR Zulkifli Hasan*
Oleh: Joyo Juwoto

Dalam kunjungannya di pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, ketua MPR Zulkifli Hasan menceritakan pesan yang bisa disebut sebagai wasiat dari KH. Hasyim Muzadi yang ditujukan kepada beliau beberapa bulan sebelum Mbah Hasyim kapundut. Pesan ini menyangkut dengan urusan umat dan kebangsaan.

Pesan ini belum pernah beliau publikasikan dan beliau ceritakan kepada publik, entah apa alasannya. Namun ketika beliau hadir dalam acara sosialisasi empat pilar kebangsaan yang dilaksanakan di pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, Rabu, 30 Januari 2019, Bang Zul, panggilan akrab Zulkifli Hasan menceritakan wasiat yang telah diterimanya kepada para santri dan asatidz ponpes ASSALAM Bangilan Tuban.

"Saya harus menyampaikan pesan dan wasiat mbah Hasyim Muzadi ini, karena ini adalah kampung beliau." Ujar Bang Zul.

"Saya dan Kiai Hasyim Muzadi berkawan cukup lama dan cukup dekat sekali, oleh karena itu beliau menitipkan ini kepada saya."

"Pesan beliau sebelum meninggal dunia ada dua. Pertama, saya disuruh menghadap bapak Jokowi agar Ibu Khofifah Indar Parawansa diijinkan mencalonkan diri sebagai gubernur Jatim. Alhamdulillah pesan ini sudah saya laksanakan, dan Bu Khofifah sudah saya kawal hingga ke kursi gubernur, sebagaimana pesan dari Mbah Hasyim."

"Pesan kedua yang disampaikan kepada saya dan sampai saat ini belum saya laksanakan adalah saya diminta untuk mengumpulkan 6000 kiai dan ulama, dan saya telah mendapatkan dokumennya, cuma saya kalau ingat ini merasa berdosa, karena belum melaksanakan permintaan beliau."

Selain menceritakan pesan dari Mbah Hasyim, Bang Zul juga memberikan motivasi kepada santri untuk terus semangat berjuang dengan tanpa lelah untuk meraih apa yang dicita-citakan.
"Hidup ini tidak mudah maka perlu perjuangan yang keras." Kata Bang Zul menutup pidatonya.

Senin, 28 Januari 2019

Menyesap Barakah Bumi Tulungagung

*Menyesap Barakah Bumi Tulungagung*
Oleh: Joyo Juwoto

Tulungagung, sebuah kota kabupaten yang berada di 166 Km ke arah selatan dari tempat  tinggal saya. Di kota Tulungagung inilah kopdar II komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) digelar. Sebagai salah satu anggota komunitas SPK, saya meniatkan diri untuk hadir di kopdar yang dilaksanakan pada Minggu, 26 Januari 2019 bertempat di gedung rektorat IAIN lantai 3 Tulungagung.

Saya termasuk anggota yang selalu punya seribu alasan untuk tidak hadir, entah itu karena kesibukan ataupun karena hal-hal lain,  walaupun sebenarnya kondisi itu bisa diubah menjadi selalu punya seribu alasan untuk hadir, Sebagaimana yang dikatakan oleh pak Emcho, panggilan akrab pak Much. Khoiri, salah satu senior di SPK.

Karena suatu hal, sabtu malam sesudah adzan isya' saya baru bisa berangkat menuju Tulungagung naik sepeda motor. Saya rasa jarak 166 km belum terlalu jauh bagi usia saya yang masih diangka 30an. Walau belum pernah pergi ke Tulungagung saya tak berfikir banyak, selagi roda berputar saya yakin pasti sampai di tempat tujuan. Apalagi sekarang jamannya GPS.

Rute terdekat yang harus saya tempuh sebagaimana petunjuk mbah GPS, dari Bangilan menuju Bojonegoro lanjut ke arah jalur selatan melewati jalur hutan sepanjang kurang lebih 30 KM sebelum memasuki perkampungan di kabupaten Nganjuk. Sebenarnya istri saya tidak tega membiarkan suaminya menempuh hutan bersepeda sendirian di tengah malam, namun niat dan tekad saya purna, saya harus datang di kopdar bagaimanapun caranya. 

Karena memang belum tahu rutenya, saya mengandalkan mbah GPS memandu perjalanan saya di malam gelap yang sesekali diiringi rintik hujan, sungguh syahdu sekali. Sekitar pukul 23.30 WIB saya sampai di Kediri, karena capek dan mengantuk saya istirahat dan tidur di salah satu masjid di sana. Pagi sesudah subuh perjalanan saya lanjutkan hingga akhirnya sampai juga di gerbang IAIN Tulungagung. Lega.

Seharian penuh seluruh rangkaian acara kopdar saya simak dan saya ikuti, mulai dari pembukaan, materi kepenulisan bersama pak Wawan Susetya, pak Yusri Fajar, dan juga pak Ngainun Naim, hingga acara ramah tamah khusus anggota SPK yang berlangsung sesudah seminar literasi, juga saya ikuti hingga selesai sekitar pukul 16.30 WIB. Sesudah itu dilanjutkan foto-foto bersama. Saya tentu sangat senang bisa mengikuti seluruh rangkaian acara kopdar hingga selesai. 

Setelah itu sekitar pukul 17.30 WIB saya langsung pulang diantar Mas Agus Hariono sampai di Kediri, sekalian dibontoti oleh-oleh khas kota Kediri. Perjalanan selanjutnya sama dengan keberangkatan saya, yaitu berjalan dalam gelap diiringi rintik hujan sambil  menyimak komando Mbah GPS yang mengarahkan perjalanan saya hingga sampai di rumah kembali. Alhamdulillah.

Kopdar SPK di Tulungagung memang sudah saya rencanakan dan saya niatkan jauh-jauh hari untuk hadir, oleh karena itu bagaimanapun kondisinya saya berusaha datang. Selain untuk kopdar saya meniatkan perjalanan saya menuju Tulungagung adalah perjalanan ibadah dan tholabul ilmi. Sebagaimana yang saya pahami dari hadits Rasulullah Saw. yang berbunyi: *"Man salaka thoriiqan yaltamisu fiihi Ilman sahhalallahu lahu thoriiqan ilal jannah".*

Selain itu dalam menempuh perjalanan menuju Tulungagung saya juga berkhusnudzon, qadarullah bisa menyesap barakah dari bumi Tulungagung. Tulungagung sendiri secara bahasa berasal dari bahasa Jawa yang artinya pertolongan besar. Berarti sesuai namanya tempat ini dulu punya akar sejarah yang berkaitan dengan pertolongan. Saya hanya menduga secara linguistik saja, entah benar entah salah. 

Menurut saya masyarakat Jawa memang memiliki tradisi unik ketika menamai sesuatu. Ada doa dan harapan yang biasanya diselipkan dalam sebuah nama, entah itu nama anak, nama tempat, termasuk nama kota Tulungagung tentunya. 

Melewati kota Kediri sambil beristirahat saya mengotak-atik makna dari nama tersebut. Kediri menurut saya memiliki makna simbolik yang luar biasa, Ke(diri), berarti menuju kepada diri sendiri. Maksudnya manusia sesibuk apapun jangan lupa menengok kedalam batinnya, ke dalam jiwanya, karena di situlah terdapat telaga kontemplasi di mana manusia bisa merenungkan kesejatian dan makna hidup yang hakiki. Rasulullah Saw bersabda: *istafti qalbaka* mintalah fatwa pada hati nuranimu. 

Jadi setelah perjalanan menempuh Ke(diri) kita akan sampai pada pertolongan agung, atau sampai ke Tulungagung. Mungkin makna ini hanya sekedar perenungan dan cara saya mbombong diri di tengah perjalanan menuju kopdar ke Tulungagung. 

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rektor IAIN Tulungagung, Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag ternyata memang benar, dalam sejarahnya Tulungagung pada zaman dahulu mempunyai peranan besar dalam memberikan pengajaran agama untuk kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Jika dulu di Kediri ada kerajaan Daha, di Ponorogo ada Wengker, di Sidoarjo ada Jenggala, maka Tulungagung menjadi tempatnya para resi atau disebut sebagai keresian. Hal ini yang mungkin berkaitan dengan nama Tulungagung. Karena biasanya karesian ini digunakan pihak kerajaan maupun  masyarakat tempat untuk mengadu dan meminta pertolongan.

Apapun itu, saya menuju Tulungagung untuk kopdar dengan anggota SPK dalam rangka mencari pertolongan besar guna meningkatkan kembali semangat saya dalam menulis yang mulai kendor, semoga pertemuan dengan para guru, sahabat, dan para sesepuh SPK di Tulungagung menjadikan semangat berliterasi kembali membara. Salam.

*Joyo Juwoto, penulis Dalang Kentrung Terakhir. Tinggal di Bangilan Tuban.*