Rabu, 03 Januari 2024

Catatan Perjalanan Menuju Puncak Gunung Lawu

 


Catatan Perjalanan Menuju Puncak Gunung Lawu

Oleh: Joyo Juwoto

 

Mendaki gunung adalah keinginan saya yang sudah lama terpendam, semenjak usia muda keinginan itu telah ada, namun baru di usia kepala empat keinginan itu akhirnya menemukan jalannya. Entah terinspirasi oleh apa, secara film 5 CM belum rilis, bahkan novelnya pun belum terbit, yang pasti saya memang menyukai alam dengan segala keindahannya.

Tanggal 30 Desember 2023, pukul 03.30 WIB menjelang shubuh, saya berangkat bertiga memakai dua motor. Saya dibonceng teman dari Sale, Mas Lukman Al Aswad, dan satunya Mas Afif dari Sambong Cepu. Perjalanan cukup lancar walau sebelumnya sebelum berangkat sempat hujan, tapi Alhamdulillah reda.

Mas Lukman dan Mas Afif ini sudah terbiasa naik gunung, sudah banyak gunung yang di daki, khususnya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ke Lawu pun mereka sudah berkali-kali, baik mendaki secara tektok maupun ngecamp. Saya baru pertama kalinya naik gunung, dan tanpa persiapan yang memadai.

Karena kami sepakat mendaki secara tektok (naik gunung tanpa camping) maka tak perlu persiapan apa-apa kecuali air yang kita jadikan bekal di perjalanan. Untuk makan nanti bisa membawa snack kering atau bisa langsung makan di warungnya Mbok Yem yang legendaris itu. Satu-satunya persiapan yang diperlukan tentu fisik yang sehat dan yang terpenting sepatu/sandal gunung untuk mendaki guna melindungi kaki agar tidak terluka dan tidak mudah terpeleset saat pendakian. Untuk jaket gunung mungkin diperlukan kalau mendaki dan ngecamp di puncak, karena tentu udaranya sangat dingin, namun jika memilih tektokan rasa-rasanya jaket gunung tidak diperlukan.

Setelah bermotor kurang lebih 4 jam, kami sampai di basecamp pendakian jalur Cemoro Kandang, dari jalur ini kami akan naik menuju puncak. Sebenarnya ada beberapa jalur pendakian lain, seperti via Singolangu, Cemoro Sewu, Tambak, dan via Candi Cetho. Karena saya tidak paham jalur-jalur itu, saya hanya manut saja, karena Mas Lukman tentu sudah paham jalur mana yang harus dipilih saat harus mendaki secara tektokan.

Sebelum naik, kami sarapan nasi pecel di depan basecamp, setelah sarapan membeli snack, membeli air kemudian menuju loket tiket pembayaran. Per orang tiketnya dua puluh ribu rupiah, cukup murah. Setelah kami bertiga siap, pukul 08.15 WIB kami siap berangkat, sebelum melangkahkan kaki, kami berdoa agar diberi keselamatan saat mendaki dan pulang kembali dengan selamat. Bismillah kami akhirnya melangkah mendaki puncak Gunung Lawu yang memiliki ketinggian 3265 MDPL.

Mas Afif di depan sebagai penunjuk jalan, mas Lukman di belakang, sedang saya posisi di tengah, posisi yang cukup aman. Dari Basecamp sampai pos 1 cukup aman, apalagi cuacanya juga sangat mendukung, tidak panas dan juga tidak hujan, sepanjang perjalanan hanya terdapat pepohonan dan semak belukar, kami pun terus melangkah, apalagi kami tidak membawa beban apapun kecuali air minum. Di perjalanan kami bertemu dengan pendaki lain yang juga sedang naik , namun rata-rata mereka akan ngecamp, sehingga beban mereka cukup berat, mereka membawa tas di punggung  berjalan perlahan dan bertelekan pada sebuah tongkat.

Kami bertiga tidak memakai tongkat, selain fisik kami yang masih muda, juga tentu faktor beban yang kami bawa cukup ringan. Ada beberapa kelompok pendaki yang kami salip, hingga akhirnya  sampailah kami di pos 1, di pos ini kami istirahat sebentar untuk minum dan juga mengatur nafas, karena perjalanan masih cukup panjang dan melelahkan tentunya. Di pos ini ada penjual snack, air, kopi, dan minuman lainnya, jadi jika kita dari bawah tidak membawa bekal, kita bisa membeli di pos pendakian.

Setelah mengumpulkan nafas, kami melanjutkan misi menuju pos 2, makin ke atas kaki terasa capek dan pegal, jika kita lewat jalur Cemoro Kandang, di Pos 2 ini ada kawahnya, kalau lewat jalur lainnya tidak ada. Ketika mendekati pos 2, suara gelegak kawah sudah terdengan, bau belerang juga mulai menyengat. Jarak jalur yang dilewati pendaki dengan kawah bisa ditempuh sekitar 10 menitan, karena kawah bukanlah tujuan pendakian kami, maka kami hanya cukup mendengar suaranya saja, dan mencium bau belerangnya yang saat itu cukup menyengat. Di pos ini juga ada warung yang jualan makanan.

Seperti pada pos 1, kami juga berhenti sejenak, menata nafas yang mulai ngos-ngosan, karena perjalanan yang masih cukup jauh, kami tak mau terbuai dengan istirahat, jika kelamaan nanti jadi nyaman dan akhirnya malas untuk melanjutkan perjalanan. Menurut Mas Lukman Al Aswad, jarak pos 2 ke pos 3 termasuk yang paling jauh dari pos-pos lainnya, jalannya pun mulai mendaki tajam, saya yang paling senior di segi usia benar-benar diuji dengan medan pendakian ini, ada perasaan apakah saya mampu mencapai puncak? Sedang badan mulai letih. Ini adalah tantangan bagi seorang tektokers, jika berhenti terlalu lama nanti tidak segera sampai dan bisa kemalaman di perjalanan, sedang kami tidak membawa peralatan camping.

Setelah menikmati berbagai sensasi perpaduan antara badan yang capek, kaki yang kemeng, hati yang juga galau untuk segera sampai di pos selanjutnya, akhirnya dengan penuh kesabaran, keuletan, serta tekad dan nekat kami bertiga sampai juga di Pos 3. Ada perasaan lega dan puas bisa sampai di pos 3, karena berarti perjalanan tinggal dua pos lagi, dan tinggal naik puncaknya yang tertinggi, akhirnya bisa istirahat sejenak. Di pos 3 kami ketemu anak-anak muda yang baru turun dari puncak, mereka berhenti di warung melepas lelah, kami pun bertegur sapa, anak-anak muda ini ada yang dari Jakarta, Brebes, dan juga dari Kalimantan. Mereka telah ngecamp di puncak semalaman.

Setelah sampai di Pos 3 ini semangat saya bertambah, karena separuh perjalanan sudah terlampaui, tinggal menuju pos 4, 5, lalu menuju puncak. Perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 jalurnya mulai berbatu, tingkat kemiringannya juga lumayan, di jalur ini banyak pohon yang memiliki pucuk daun yang berwarna merah, dan juga bunga edelwais yang melegenda itu mulai banyak bertebaran di sepanjang perjalanan. Kata Mas Afif pucuk daun merah itu bisa di makan, dan menjadi alternatif untuk mengisi perut jika kita tersesat serta kehabisan bekal, begitu yang dilihat di Youtube. Mas Lukman saya tanya katanya belum pernah memakannya, saya kemudian mencoba memetik dan memakan daun merah itu, rasanya asem tapi lumayan enak, kayaknya daun ini bisa  menggantikan daun kedondong untuk dipakai memasak asem-asem, tapi yang terpenting daun itu tidak beracun, sehingga bisa dimakan saat kondisi darurat. Itulah pentingnya kita mengenali alam dengan segala macam medan serta tumbuh-tumbuhannya, sehingga kita bisa memanfaatkannya dengan baik.

Tak terasa perjalanan kami sampai di Pos 4, di pos ini sepi, ada bekas warung tapi sudah tidak dipakai lagi, pemiliknya sudah turun gunung. Dengan penuh semangat kami terus melanjutkan ke pos terakhir yaitu pos 5, perjalanan semakin menyenangkan dan menenangkan, tidak seperti saat menuju pos 3. Dalam perjalanan kami lebih banyak diam, menunduk ke bawah meresapi dan mentadabburi alam ciptaan Tuhan. Ya, perjalanan ke gunung menurut saya memang bukan sekedar menyalurkan hobi, juga bukan sekedar melihat panorama dan keindahan alamnya saja, tapi perjalanan ke puncak gunung pada hakekatnya adalah perjalanan mendaki dan mencari puncak kesejatian dari diri kita sendiri. Orang lain tentu boleh berbeda tentang hal ini.

Setelah sampai di Pos 5 kami istirahat lagi, untuk menuju puncak jalur pendakiannya lumayan, kami harus menyiapkan tenaga yang cukup. Saya sempat rebahan di bebatuan untuk memulihkan badan, udara terasa segar, walau di beberapa titik sisa-sisa kebakaran hutan masih kelihatan. Setelah istirahat kami pun menuntaskan misi menuju Puncak Lawu yang ada tugunya itu. Selangkah dua langkah kami mendaki, dari kejauhan sudah terdengar suara kegembiraan para pendaki yang sudah sampai puncak duluan, sekitar sepuluh menitan akhirnya kami sampai pada tujuan, Puncak Hargo Dumilah 3.265 MDPL, waktu menunjukkan pukul 13,00 WIB.

Setelah berfoto beberapa cekrekan, kami turun. Perut sudah lapar, kami menuju warungnya Mbok Yem yang melegenda. Sebelum sampai di warung Mbok Yem saya melihat sebuah bangunan rumah dari kayu, rumah itu kelihatan cukup tua. Kata Mas Afif itu rumah dipakai keraton ketika ada acara, tapi tidak jelas acara apa yang dilakukan di puncak tersebut. Saya sendiri juga belum mencari informasi tentang itu di google.

Dari bangunan rumah tua ini, kami turun dan sampai di warungnya Mbok Yem, kami pesan nasi pecel dan juga teh. Sambil istirahat kami makan, kemudian juga sholat jamak  qasar Dhuhur dan Asar sekalian di warungnya Mbok Yem. Saat akan turun saya sempat menziarahi sebuah petilasan, konon itu petilasannya Prabu Brawijaya, entah benar entah tidak saya sendiri juga kurang tahu.

Perjalanan turun gunung memang tidak secapek saat naik, tetapi tetap saja dibutuhkan tenaga ekstra, karena kaki menahan beban tubuh saat turun. Alhamdulillah saat turun pun cuaca sangat bersahabat, sehingga saya yang tidak memakai sepatu gunung tidak terlalu kesulitan di medan-medan jika hujan licin. Tapi saat turun dari pos 2 cuaca mulai gelap, kemudian gerimis mulai turun. Di sini saya mulai bermasalah dengan sepatu saya yang licin, berkali-kali saya terpeleset karena jalanan licin, di medan hujan yang seperti ini sangat menyulitkan saya. Makin ke bawah hujan semakin deras, akhirnya kami memakai jas hujan.

Saya merasa jika hujan sejak awal pendakian, mungkin saja saya khususnya akan sangat kesulitan menuju puncak. Untungnya di garis akhir hujan baru turun. Dengan penuh perjuangan akhirnya sekitar pukul 17.30 kami sampai di basecam. Alhamdulillah.

Begitulah perjalanan yang kami tempuh saat mendaki puncak gunung Lawu, setelah mengambil KTP yang ditinggal di petugas kami langsung tancap gas pulang. Sepanjang perjalanan dari Cemoro Kandang sampai Padangan Bojonegoro dilanda hujan deras, baru setelah itu tidak hujan. Perjalanan yang cukup luar biasa, semoga ke depan ada puncak-puncak gunung lain yang bisa saya daki dan saya ziarahi. Salam sungkem, dan Terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 31 Oktober 2023

Nasehat dari Kiai Misbah Zainil Mustofa

 


Nasehat dari Kiai Misbah Zainil Mustofa

Oleh: Joyo Juwoto

 

 

Pak Moehaimin memiliki kedekatan tersendiri dengan KH. Misbah Zainil Mustofa, karena beliau pernah menjadi juru terjemah kitab-kitabnya Mbah Bah. Dari seringnya interaksi dalam proses penerjemahan ini Pak Moehaimin banyak belajar ilmu pengetahuan dari mbah Bah, secara tidak langsung Pak Moehaimin nyantri kepada pengasuh pondok pesantren Al Balagh ini.

Ada sebuah cerita yang dituturkan oleh beberapa santri kurun awal, karena begitu dekatnya Pak Moehaimin dengan mbah Misbah, sampai-sampai mbah Bah jika makan biasanya tidak dihabiskan, hanya
dimakan separonya saja, sebagiannya biasanya diberikan kepada Pak Moehaimin.

Setelah peristiwa bangkrutnya Pak Moehaimin dari usaha jual beli kayu jati, pak Moehaimin pindah dari Santren ke desa Weden, beliau kembali berkumpul dengan mertuanya,  H. Abdul Madjid. Namun hal ini tidak berlangsung lama, setelah itu pak Moehamin pindah lagi ke dusun Talok Desa Sidokumpul.

Karena keluarga mertua Pak Moehaimin mayoritas sebagai petani, sedang Pak Moehaimin tidak begitu mengenal seluk-beluk pertanian, maka untuk menopang ekonomi keluarga Pak Moehaimin menjadi penerjemah kitab mbah Misbah. Selain menjadi penerjemah, Pak Moehaimin juga membuka kursus mengetik, saat itu yang diamani untuk memegang kursus ngetik adalah Ust. Heri. Namun sayang uang dari hasil kursus ngetik ini tidak sampai kepada Pak Moehaimin, uangnya dilarikan oleh ust. Heri.

Walhasil Pak Moehaimin hanya mengandalkan penghasilannya dari menerjemahkan kitab. Saat itu ekonomi pak Moehaimin sedang krisis-krisisnya, pagi jam 7 beliau berangkat ke ndalemnya Mbah Bah untuk menerjemahkan kitab, kemudian sekitar jam sebelas siang beliau pulang dan mengajar di madrasah. Saat itu madrasah ASSALAM sudah bertempat di Bangilan, baru ada satu gedung yang berdiri, yang dibangun oleh santri-santri sendiri, ASSALAM masih sangat prihatin sekali, muridnya hanya beberapa orang saja.

Di saat kondisi yang begitu sulitnya, Pak Moehaimin dinasehati oleh Mbah Misbah, “Min, goda kuwi suwene limang tahun, sing kuat ngempet. Mengko nek wis limang tahun, empet meneh nganti limang tahun, mengko goda kuwi lak koyok kacang goreng” Begitu dawuh mbah Misbah kepada Pak Moehaimin.

Mendengar nasehat dari Mbah Bah, Pak Moehaimin memantapkan niat dan tekadnya untuk terus berjuang di jalur pendidikan dengan ASSALAM sebagai ladang perjuangannya. Apalagi beliau juga selalu ingat akan gemblengan dari gurunya KH. Imam Zarkasyi, “Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar, yang satu ini sama dengan seribu, kalaupun yang satu ini pun tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena”. (KH Imam Zarkasyi) Begitu kira-kira dawuh dan gemblengan dari gurunya itu.

 

 

Senin, 30 Oktober 2023

Santri ASSALAM Kurun Awal Berjuang Membangun Gedung Madrasah

 


Santri ASSALAM Kurun Awal Berjuang Membangun Gedung Madrasah

Oleh: Joyo Juwoto

 

Masa-masa awal setelah peristiwa pecahnya  ASSALAM di Sidokumpul, Pak Moehaimin tidak lagi menempati gedung madrasah yang telah diperjuangkannya, beliau keluar dari ASSALAM lama yang kemudian namanya diubah menjadi dengan nama lain. Dengan keluarnya Pak Moehaimin dari madrasah yang dibangunnya, waktu itu banyak santri yang mengikuti beliau keluar, santri-santri itu tetap ingin diajar oleh beliau. “Kulon nderek ngaji Pak Moehaimin mawon” begitu kata santri-santri yang bersikukuh untuk keluar dari madrasah awal.

Diantara santri Pak Moehaimin yang waktu itu ikut Pak Moehaimin namanya Rofiq, karena ia tetap ingin mengaji dengan Pak Moehaimin, sampai Rofiq ini harus rela meninggalkan rumah, kemudian ikut simbahnya yang berada di desa Medalem Senori, demi ia tetap nyantri kepada Pak Moehaimin.

Ada pula kisah yang cukup dramatis, waktu itu ada santri yang namanya Anwari, saat itu ia belum tahu jika pak Moehaimin sudah tidak mengajar di madrasah, Anwari ini berada di kelas untuk mengikuti pembelajaran, namun karena kemudian ia tahu pak Moehaimin sudah tidak berada di madrasah itu, dengan serta merta Anwari ini melompat jendela kemudian menyusul Pak Moehaimin yang memang ndalemnya berada di sebelah timurnya sungai, yang berjarak hanya beberapa meter dari madrasah lama. Anwari akhirnya melanjutkan belajarnya di ndalem Pak Moehaimin.

Karena tidak mempunyai gedung, Pak Moehaimin mengajar santri di ndalem beliau, di depan rumah ada mushola keluarga, di situ dipakai ruang kelas, di sebelah barat mushola ada toko kecil yang akan digunakan usaha perdagangan, karena tidak memiliki gedung untuk santri, maka toko itu dipakai gothakan santri putra. Santri putri menempati ruang di belakang dekat dapur rumah. Selain memanfaatkan mushola sebagai ruang kelas, santri-santri juga bersekolah di rumah warga, yaitu salah satunya di rumah pak Ruslan, tetangga depan rumah Pak Moehaimin.

Kondisi darurat yang menyebabkan pembelajaran ditempatkan di tempat seadanya, dan juga menempati rumah warga tentu tidak baik jika harus berlama-lama, akhirnya pada tahun 1983 Pak Moehaimin membeli tanah di Bangilan, tepatnya di sebelah selatan pasar Bangilan, tanah itu milik keluarga Pak Muzadi, setelah tanah terbeli dengan cara dicicil, maka Pak Moehaimin mulai merencanakan pembangunan gedung madrasah.

Karena kekurangan biaya, maka kayu untuk bangunan gedung tersebut memakai kayu glugu (pohon kelapa) yang kebetulan di area tanah tersebut banyak ditumbuhi pohon kelapa. Pembangunan gedung ini banyak dibantu oleh Danramil Bangilan saat itu, namanya Pak Kholis, juga dibantu oleh bapak Dansek Bangilan. Ceritanya Bapak Dansek yaitu Bapak TAsman ini mengajari pak Moehaimin caranya mencari dana, yaitu dengan cara mengedarkan kalender, bahkan Pak Dansek sendiri juga ikut serta membantu dengan cara menyuruh para bawahannya untuk membeli kalender.

Santri-santri tidak tinggal diam, mereka menebang pohon kelapa yang kayunya dipakai untuk pembangunan, mereka juga menggergajinya sendiri. Selain itu untuk batu bata untuk bangunan juga dibuat oleh para santri sendiri. Mulai dari menyiapkan bahan tanah liatnya, membuat adonan, mencetak dan kemudian membakarnya, itu dilakukan oleh para santri. Adapun santri yang terlibat dalam perjuangan membangun madrasah ini diantaranya adalah Purhadi Nata Bata (julukan yang diberikan oleh Pak Moehaimin), Daerobi, Syafi’i, Ucuk Suparman, dan beberapa santri lainnya.

Santri-santri tersebut selain menyiapkan bahan-bahan dan material bangunan mereka juga terjun langsung menjadi tukang dan menjadi kulinya. Ucuk Suparman santri dari Pulut Bangilan ini  punya keahlian nukang, beliau yang menjadi tukang bangunan dan dibantu oleh santri-santri lainnya.

Begitulah dulu perjuangan para santri dalam membangun gedung pondok, membangun madrasah, mereka dengan penuh keikhlasan berjuang dengan segala pengorbanan yang tak terkira kepada pondoknya.

Nilai-nilai perjuangan dan nilai-nilai keikhlasan yang sedemikian ini perlu dijaga, dirawat, dan dituturkan dari generasi ke generasi selanjutnya, agar api perjuangan para santri kurun awal tetap membara di jiwa para santri lainnya. Para santri harus selalu ingat semboyang perjuangan yang selalu digemblengkan Pak Moehaimin:“Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane sisan”.