Senin, 27 Februari 2023

Laskar PMK Nggedrug Bumi Tuban

Laskar PMK Nggedrug Bumi Tuban
Oleh: Joyo Juwoto

"Satu Hati Tolak Korupsi" 
"Perangi tindakannya tanpa memusuhi orangnya, sadarkan dengan kekuatan kata-kata".

Begitu slogan yang diusung dalam Roadshow #60 Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang diadakan di Kota Tuban, pada hari Sabtu, tanggal 25 Februari 2023. 

Ada dua agenda kegiatan dalam Roadshow PMK ke 60 ini, pagi hari digelar sarasehan kebangsaan satu hati tolak korupsi yang diadakan di Pondok Pesantren Ash-Shomadiyah Makam Agung Tuban, dan malam harinya digelar pembacaan puisi menolak korupsi yang didatangi penyair-penyair dari berbagai daerah, seperti Bojonegoro, Nganjuk, Lamongan, Surabaya, Pasuruan, Malang, Madura, Pati, Kudus, Jepara, Wonogiri, Purwokerto da dari Tuban sendiri tentunya.

Meminjam istilah bahasa dari Mas Agus Sighro, seorang penyair dari Bojonegoro, bahwa para penyair dari berbagai daerah dengan maksud dan tujuan yang sama, dengan ideologi yang sama juga yaitu ideologi menolak korupsi akan Nggedrug Bumi Tuban untuk ikut serta memeriahkan Roadshow #60 PMK tersebut.

PMK sendiri sebuah kegiatan kolektif arus bawah para penyair dari berbagai daerah yang dikomandani oleh penyair asal Solo Sosiawan Leak dalam rangka menyuarakan anti terhadap segala hal yang berbau korupsi. Ya, menurut penyair yang oleh Gus Mus dijuluki Penyair Jahiliah ini menyatakan bahwa PMK adalah Roadshow siapa saja yang berideologi anti terhadap korupsi, siapapun dia, dan apapun profesinya.

Ini adalah kali pertama saya hadir mengikuti Roadshow PMK, sebelumnya saya hanya tahu event ini di media sosial. Alhamdulillah berkat kelindan teman-teman solidaritas pegiat literasi Tuban, khususnya Mas Nahrus, Cak Ipin, Mas Nastain, dan Kang Agus Hewod yang pertama kali membawa bendera PMK dan mengibarkannya di Bumi Tuban kita.

Walau sebagai silent reader, dan hanya duduk menonton para penonton dan juga mengikuti penampilan para penyair ngetop tersebut, saya sangat menikmati malam gelap yang bertabur kata penuh makna itu. Saya berharap kata-kata yang disuarakan itu terbenam di kedalaman Bumi Tuban kemudian menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang menjelma menjadi tanaman, menjadi pohon-pohon yang kemudian di makan oleh masyarakat sehingga nanti akan melahirkan masyarakat yang anti korupsi. Atau kata-kata yang dibaca para penyair itu menguar ke udara menjadi semacam virus-virus yang kemudian dihirup oleh masyarakat sehingga masyarakat terjangkit wabah anti korupsi.

Atau mungkin yang lebih dahsyat lagi, kata-kata itu menjelma menjadi ribuan doa, kemudian melangit dan mengangkasa, kemudian diaminkan oleh para malaikat di Sidratil Muntaha dan menjadi garis suratan takdir bahwa pada saatnya korupsi akan layu dan mati dari negeri yang kita cintai ini.

Saya gemetar bumi batinku horek saat komandan PMK kang Leak dengan penuh teaterikal memanggil dan memperkenalkan para laskar anti korupsi tersebut maju ke depan. Mereka ini seperti tentara langit, yang turun ke bumi dengan membawa misi meneriakkan anti korupsi. Sungguh hal yang luar biasa, ya, setidaknya ini pengalaman batin yang saya rasakan saat itu.

Saya mengikuti acara hingga purna, dan kemudian pulang dengan membawa segudang angan dan bayangan hidup di negeri tanpa korupsi. Negeri yang dicita-citakan  para pendiri bangsa ini, negeri yang sesuai misi para Nabi, dan Negeri yang Tuhan akan memberkati dan meridhoi, yaitu sebuah negeri yang Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur. 


*Bejagung, 27 Februari 2023*

Jumat, 17 Februari 2023

Ziarah Ke Pusara RA. Kartini di Rembang

Ziarah Ke Pusara RA. Kartini di Rembang
Oleh: Joyo Juwoto

Usai sowan dari Gus Mus di Leteh Rembang, saya Mas Rosyid dan Mas Nahrus ada keinginan untuk ziarah ke pusara tokoh emansipasi kaum perempuan, RA. Kartini yang masyhur dengan karya tulisnya yang berjudul "Habis gelap terbitlah terang".

Awalnya kami mengira makam beliau ada di pusat kota Rembang atau dekat dengan pantai Kartini, namun kami salah, makam RA. Kartini ternyata ada di desa Bulu Kec. Bulu Kab. Rembang, sekitar 17 KM ke arah selatan dari kota Rembang di jalur jalan raya Rembang-Blora.

Sepanjang perjalanan menuju arah Blora, saya membayangkan apa yang di tulis oleh Pram, dalam gadis Gadis Pantai. Sebuah roman yang menggambarkan bagaimana nasib seorang gadis yang dipaksa menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya, dan hanya diwakili oleh sebilah keris yang nantinya menghantarkan Sang Gadis ke dalam tembok belenggu adat yang merantai kemerdekaannya. Dan hal seperti ini sangatlah lumrah terjadi pada kala itu, semua memakluminya.

Seakan sudah menjadi suratan nasib dan garis takdir yang menganggap kaum perempuan sebagai konco wingkingnya kaum laki-laki. Budaya feodal dan patriarki inilah yang dijadikan lawan bagi kemerdekaan dan kesetaraan kaum perempuan yang diperjuangkan oleh RA. Kartini.

Dalam teori startifikasi sosial, masyarakat kala itu terbagi menjadi kaum priyayi dan masyarakat jelata. Kaum priyayi dianggap memiliki derajat yang lebih luhur dibandingkan dengan rakyat, sehingga mereka seakan dianggap sah menguasai hal ihwal rakyat. 

Di sampul belakang buku roman Gadis Pantai ada sebuah kalimat yang sangat menusuk hati. 

"Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini...Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan".

Lihatlah bagaimana seorang priyayi Jawa saat itu bisa dengan seenaknya mengambil seorang gadis untuk dijadikan gundiknya, menjadi Mas Nganten yang hanya sekedar untuk melayani "kebutuhan" seks priyayi tersebut. Benar-benar mengerikan.

Kita patut bersyukur, kaum perempuan Nusantara patut berterima kasih dan nyekar ke pusara RA. Kartini, kunjungi makamnya, usap nisannya, bawakan bunga, bacakan doa, dan kirimkan hadiah Fatihah buat beliau. 

Kartini adalah salah satu tokoh yang punya kepedulian terhadap nasib bangsanya, nasib kaumnya yang ditindas atas nama  konsep otak-atik kata yang menempatkan wanita berasal dari kata wani ditata. Tapi, wanita jangan hanya wani ditata saja, wanita hari ini juga harus siap wani nata, demi sebuah kata perjuangan emansipasi kaum perempuan. 


Bangilan, 17 Februari 2023

Rabu, 15 Februari 2023

Kedermawanan Gus Mus

Kedermawanan Gus Mus
Oleh: Joyo Juwoto

Ulama bukan hanya sekedar mengajar umat dengan banyaknya bahan ajar, ulama bukan juru dongeng tentang kisah-kisah masa silam yang bikin kita tercengang, ulama bukan pula pemberi fatwa dan nasehat kepada umat, tapi ulama adalah pelaku dari apa yang disampaikannya. Ulama adalah pewaris para Nabi baik dalam sikap, ucapan, dan tingkah lakunya. Begitu lembaran hikmah yang saya tangkap saat sowan Gus Mus di Leteh Rembang.

Setelah bubar dari pengajian Jum'at pagi di pondoknya Gus Mus, para jama'ah sama pulang, ada pula yang masih ngobrol di pinggir jalan. Saya lihat jama'ah ibu-ibu yang membawa anak-anaknya untuk salim kepada Gus Mus yang berjalan menuju ndalem. Di sepanjang perjalanan Gus Mus merogoh sakunya, beliau memberikan sangu kepada anak-anak tersebut. Saat itu juga saya berfikir, "Owh begitu yang seorang Kiai itu, sangat dermawan sekali". Satu teladan yang lebih afsohu minal kalam, lebih mengena dari sekedar tuturan lisan.

Dari apa yang dilakukan oleh Gus Mus pagi itu mengajarkan banyak hal yang bisa saya tangkap, diantaranya adalah beliau sedang menanamkan sebuah perasaan kegembiraan pada anak-anak. Dalam bawah sadarnya anak akan berfikir, "Enak ya ikut mengaji, dapat sangu" mereka tentu bahagia. Dari sini Gus Mus sedang menanamkan benih cinta ilmu dan cinta Kiai kepada anak-anak tersebut. Menurut bahasa Gus Baha' ini keren. Ilmu dan agama harus membuat orang bahagia, lha wong kemaksiatan saja menawarkan kebahagiaan, masak sebuah kebenaran harus ditampilkan dengan wajah yang sangat dan menyeramkan?

Sikap dan perilaku Gus Mus ini tentu membekas di hati anak-anak, ini adalah sebuah metode menanamkan karakter kebaikan dengan cara yang sangat istimewa. Sifat sakho' atau dermawan memang menjadi sikap yang sangat utama, hal ini banyak dicontohkan oleh para Nabi dan juga tentu oleh para kiai yang menjadi pewaris para nabi. Dalam sebuah hadits dinyatakan, "Assakhiuu qoriibun minal Jannah, wa baiidun minan Nar" Kedermawanan itu dekat dengan surga, jauh dari neraka.

Nabi Muhammad Saw itu terkenal sebagai mister yes, orang yang tidak bisa bilang no dalam sebuah kebaikan. Nabi Muhammad Saw hampir tidak pernah bilang tidak kecuali saat mengucapkan syahadat, La Ilaha Illallah, Tidak ada Tuhan selain Allah. Kedermawanan beliau terkenal seantero jagad kala itu.

Umar bin Khattab, pernah mengisahkan kedermawanan Nabi Muhammad Saw, Umar berkata:

"Suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi, Rasulullah juga memberinya. Keesokan harinya, datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah pun memberinya.

Begitulah sifat Nabi, tidak pernah mengecewakan orang yang datang kepada beliau. Nabi Muhammad Saw selalu membantu dan memberikan solusi bagi permasalahan umatnya, tidak hanya di dunia, bahkan kelak besok di akhiratnya juga. Kedermawanan adalah salah satu sifat kenabian yang utama, semoga kita bisa meneladaninya, sebagaimana Gus Mus yang merogoh kocek buat anak-anak.


Bangilan, 15 Februari 2023