Jumat, 03 Juni 2022

Belajar menulis dengan menulis

Belajar menulis dengan menulis
Oleh: Joyo Juwoto

Saya niatan awal bergabung di FLP ingin belajar menulis. Saat itu saya membayangkan akan diajari dan dibimbing segala teori menulis dengan intens. Tapi saat saya bergabung di FLP, justru saya tidak pernah secara formal belajar menulis. Begitupun saat saya bergabung di group Sahabat Pena Nusantara, maupun saat bergabung di Gerakan Tuban Menulis. Di tiga komunitas itulah awal saya mulai berkenalan dengan dunia literasi.

Saya awalnya memang membayangkan belajar menulis itu berkurikulum resmi kayak sekolah formal, lengkap dengan segala tetek bengeknya yang memusingkan kepala, memang di Indonesia belum ada sekolah atau perkuliahan yang khusus bagi penulis, sehingga nantinya menjadi penulis itu setara dengan profesi-profesi lain yang dihasilkan oleh Perguruan tinggi.

Di Indonesia memang profesi menulis masih tergolong profesi otodidak, seorang penulis tidak mesti lulusan bahasa dan sastra Indonesia, atau jurusan lain yang serumpun, karena memang belum ada sekolah atau perkuliahan yang khusus menghasilkan seorang penulis. 

Saya termasuk tipe orang yang menulis dengan ilmu sekedarnya saja, jadi saya tidak punya kemampuan dan kompetensi baku dalam menulis. Saya sering bilang nulisku mung angger saja, jadi saya masih belum pede mengatakan bahwa saya adalah seorang penulis. Kalaupun saya mengucapkannya akan saya tambahi saya ini penulis partikelir alias amatiran.

Saya menulis hanya karena ada bahagia di sana, saya mengejar kebahagiaan itu. Walau kebahagiaan itu entah karena apa dan seperti apa. Saya merasa ketika menyelesaikan sebuah tulisan saya merasa ada hal yang membuat dada ini lega. Plong begitu kata Orang Jawa.

Ketika di FLP, di SPN, ataupun di GTM saya bertanya-tanya, seperti apa sih menulis itu? Karena saya menulis hanya mengandalkan insting saja. Sebenarnya banyak motivasi yang saya terima dalam belajar menulis, tapi yang paling mengenai cara belajar menulis yang baku itu dengan melakukannya sendiri. Jadi belajar menulis ya dengan menulis sesering mungkin. Ini yang sering dikatakan saat ada pelatihan menulis. 

Masalah tata bahasa, PEUBI, pilihan kata dan segala aturan menulis lainnya bisa dipelajari sambil jalan. Karena ketika kita hafal di luar kepala tentang teori menulis, namun kita tidak terbiasa menulis maka menulis juga susah untuk dilakukan. Karena teori bisa saja mudah dihafalkan, namun prakteknya kadang untuk membuka kalimat saja susah. 

Kalau boleh saya ibaratkan menulis itu seperti belajar memamah makanan, yang mana itu tidak bisa dilakukan oleh orang lain, kitalah yang harus memamah makanan itu sendiri. Masak iya kita dimamahkan orang lain kemudian kita yang menelannya? 

Dari sini akhirnya saya mengambil satu kesimpulan, jika kita ingin belajar menulis ya segera saja menulis. Lakukanlah sesering dan sebanyak mungkin. Jangan sedikit-sedikit minta dikoreksi, minta diarahkan, minta dibimbing dan sebagainya, tapi lakukan aktivitas menulis itu secara kontiniu insyaallah nanti kita akan menemukan pola dan ciri khas kita sendiri dalam menulis. 

Bangilan, 3 Juni 2022

Kamis, 02 Juni 2022

Di FLP apa yang kau cari?

Di FLP apa yang kau cari? 
Oleh: Joyo Juwoto

Judul yang saya tulis di atas terinspirasi dari kalimat filosofis yang dipakai di Pondok Darussalam Gontor Ponorogo, "Ke Gontor apa yang kau cari? Demikian bunyi kalimat tersebut. Memang terkadang seseorang lupa niat dan tidak memiliki tujuan yang jelas ketika bergabung di sebuah organisasi. Salah satunya adalah bergabung di FLP ini. 

Saya berharap kita semuanya ingat niat pertama kali kita bergabung di FLP, saya rasa masing-masing anggota punya niatan yang baik ketika bergabung di forum literasi ini. Ada yang ingin belajar menulis, ada yang ingin berada di habitat kepenulisan, ada yang ingin memperbanyak relasi pertemanan, dan niat-niat lain yang ujungnya bermuat pada dunia literasi, karena memang kita di Forum Lingkar Pena, tentu niat kita tidak akan jauh-jauh dari kegiatan menulis dan membaca buku.

Saya masih ingat awal bergabung di FLP, saat itu mencari komunitas menulis masih jarang, tidak seperti sekarang yang menjamur bak cendawan di musim penghujan. Hari ini komunitas literasi sangat banyak, tinggal kita pilih bergabung di mana atau bahkan bergabung di seluruh komunitas menulis.

Saat itu saya ketemu komunitas menulis di Facebook, namanya Semut. Kepanjangannya adalah Sekolah Menulis Tuban, Logonya bagus. Ternyata Semut ini milik FLP Tuban yang digawangi oleh Ust. Masruhin Bagus. Kalau tidak salah saat itu semut baru saja membuat pelatihan menulis salah satunya mendatangkan Pak Husnaini dari Lamongan. Saya sempat DM beliau, yang kemudian saya diajak bergabung di komunitas literasi yang didirikan beliu, Sahabat Pena Nusantara (SPN).

Walau saya sudah bergabung di SPN, tapi saya masih punya keinginan bergabung di FLP, karena saya melihat FLP sangat concern di dunia literasi, saya banyak mendapat info tentang FLP dari mas Ical yang saat itu berada di ibukota dan aktif di  FLP Jakarta. Alhamdulillah ternyata di Tuban, FLP juga sudah ada, kalau tidak salah saat itu ketuanya  mbak Hiday Nur. 

Saya ingat, karena setelah bergabung dengan SPN dan FLP saya dengan pedenya menerbitkan buku ringkasan sirah nabawiyah, judulnya Jejak Sang Rasul. Buku itu diterbitkan oleh penerbit Dreamedia, dipengantari secara singkat oleh Pak Husnaini, dan di endorse salah satunya adalah ketua FLP Tuban, mbak Hiday. Ini adalah awal saya menerbitkan buku. Namanya perdana jangan tanya seperti apa bukunya, covernya sekedarnya, layoutnya juga sangat tidak menarik sekali.

Buku itu saya cetak 100 eksemplar dan habis mayoritas saya kasihkan kepada teman-teman saya. Saya memang tidak terbuat berbangga diri, tapi saya merasa senang bisa menerbitkan buku saat itu, dan saya terlecut untuk membuat buku lagi. Alhamdulillah. Ada beberapa buku yang kemudian menyusul terbit. Ketika bergabung di komunitas literasi itulah saya mempunyai target untuk menerbitkan buku, bagaimanapun rupa dan bentuknya, yang terpenting kita punya keberanian untuk berproses. 

Dari cerita ini saya ingin menggarisbawahi bahwa kita bergabung di FLP harus punya target, setidaknya ada satu buku solo yang kita buat dan kita terbitkan. Karena ini adalah termasuk salah satu jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan di judul tulisan saya ini. Semoga teman-teman semua yang belum menerbitkan buku solo segera bisa menerbitkan, dan yang sudah pernah menerbitkan diberi kemudahan untuk bisa menei kembali dengan kualitas yang lebih baik lagi tentunya. Namun semua pilihan ada di panjenengan semuanya. 

Bangilan, 1 Juni 2022

Rabu, 01 Juni 2022

Mars dan Gerak Dakwah FLP

Mars dan Gerak Dakwah FLP
Oleh: Joyo Juwoto

Gerakkanlah pena cintamu
Berjuang tak pernah ragu
Dengan kata kau tuliskan segala
Menerangi alam semesta

Terus langkahkanlah kakimu
Bersatu padu terus maju
Genggam erat, pegang teguh selalu
Kobarkan panji kebenaran

Sambutlah masa depan gemilang
Cahaya yang terus memancar
Dari lingkar pena sedunia
Berbakti, berkarya, berarti 2x
... 

Mars FLP bergema di sudut ruangan Sanggar Caraka, beresonansi ke dalam jiwa saat peserta Muscab ikut menyanyikan mars komunitas literasi yang sudah cukup lama berkecimpung ikut serta mendobrak dan menggerakkan dunia tulis menulis, di seantero penjuru negeri. Sebelum komunitas-komunitas literasi bermunculan, FLP sudah lebih dahulu menginspirasi, dan mengabdi untuk negeri melalui pena. 

Hari itu adalah hari yang cukup bersejarah dalam kalender FLP Tuban, tanggal 21 Mei 2022 FLP Tuban punya gawe besar Muscab, yang diselenggarakan di markas Sanggar Caraka milik Kak Hiday Nur, salah satu sesepuh FLP Tuban. Muscab ke-4 ini dihadiri langsung oleh Ketua FLP Wilayah Jawa Timur, ust. Muchlisin, BK dan ust. Choiri. Semoga keberkahan menyertai beliau berdua aamin.

Jalan dakwah cukup banyak, salah satunya adalah dakwah bil qalam, dakwah dengan pena. FLP sendiri mengambil peran dakwah melalui pena, sebagaimana yang termaktub dalam marsnya. Jadi siapapun yang tergabung dalam komunitas ini wajib hukumnya untuk mensyiarkan panji-panji kebenaran melalui tulisan. Lha mau bagaimana lagi kalau tidak menulis, nama komunitasnya saja Forum Lingkar Pena.

Di FLP menulis tidak sekedar menulis, ada nilai yang kita emban yaitu dakwah itu sendiri. Dakwah tidak hanya sekedar pengajian, tidak hanya sekedar membahas ritual keagamaan, dakwah adalah mengajak kepada kebaikan secara luas. Karena  disetiap kebaikan ada pahala dan keberkahan. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: kullu ma'ruufi  shodaqoh. 

Di FLP menulis tidak sekedar merangkai kata yang mempesona, tidak sekedar membuat diksi-diksi yang memukau hati, di balik itu semua ada amanah yang kita emban yaitu menulis yang mencerahkan kehidupan dan peradaban. Ini nilai dan kaidah yang harus dipegang teguh oleh laskar pena FLP di manapun berada. 

Saya pernah membaca sebuah kalimat dari Sahabat Ali Bin Abi Thalib, beliau berkata: “Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” Hal ini sejalan dan senafas dengan visi dan misi dari FLP yaitu mengusung literasi yang berkeadaban. 

Jadi di FLP menulis itu adalah ibadah, menulis adalah bagian dari gerak dakwah FLP untuk mengobarkan panji kebenaran, oleh karena itu mari sambut masa depan yang gemilang dan membawa obor bagi peradaban dunia bersama FLP dengan terus berbakti, berkarya, dan berarti. Saya jadi ingat sepenggal puisi Chairil Anwar, "Sekali berarti sesudah itu mati." Salam. 

Bangilan, 31 Mei 2022