Jumat, 07 Januari 2022

Mengenang Sosok Bu Nyai Hj. Rukhanah

Mengenang Sosok Bu Nyai Hj. Rukhanah
Oleh: Joyo Juwoto

Ada pepatah yang mengatakan, "Selalu ada wanita hebat, di balik pria yang sukses". Begitu kira-kira gambaran Saya ketika mengenang sosok Bu Nyai Rukhanah binti Abdul Majid, istri dari KH. Abd. Moehaimin Tamam, pendiri pondok pesantren Assalam Bangilan Tuban Jawa Timur. 

Bu Nyai Rukhanah mendampingi perjuangan KH. Moehaimin Tamam mendirikan pondok pesantren mulai dari nol hingga di akhir hayatnya. Seluruh hidupnya diabdikan untuk pesantren. Beliau yang merasakan benar pahit dan getirnya menjadi seorang Nyai, berjuang di tengah-tengah masyarakat, yang waktu itu belum mengenal benar arti sebuah pendidikan.

Mbah Yai Moehaimin Tamam  pertama kali merintis pesantren di desa Weden dengan cara membuka pengajaran baca tulis Al Quran di rumah mertua beliau. Saat itu mereka berdua adalah sepasang pengantin baru, sempat-sempatnya Kiai Moehaimin Tamam muda berkhidmat untuk umat.

Bisa dibayangkan seorang pengantin baru biasanya yang dipikirkan adalah bagaimana berumah tangga, merencanakan keuangan, mencari pekerjaan, membangun rumah, membeli kendaraan, tapi ini lain, Nyai Rukhanah justru di masa pengantin sudah diajak berjuang memikirkan masyarakat.

Untungnya ayah Bu Nyai, yaitu pak Abdul Majid termasuk orang terkaya di desa Weden, pengajaran baca tulis Al Quran dilakukan di rumah beliau yang cukup luas, sehingga Kiai Moehaimin Tamam muda tidak perlu pusing memikirkan tempat belajarnya santri-santri.

Saya pernah mendengar kisah dari Mbah Yai Moehaimin Tamam sendiri, bahwa salah satu rahasia kekayaan keluarga Pak Majid ini terkait dengan dawuhnya Kiai dari pondok Tremas Pacitan. Menurut kisah yang beredar di kalangan santri, jika mondok di Tremas kok kuat Istiqomah mondok, dan tidak pulang selama tiga tahun, insyaallah menjadi orang yang alim, kalaupun jika tidak alim, insyaallah diganjar barakah gampang golek rejeki. Keluarga Bu Nyai ini dulu memang ada yang nyantri di Tremas. 

Namanya perjuangan tentu tidak mudah, Bu Nyai Rukhanah dengan segala dinamika perjalanan hidupnya berhasil mendampingi KH. Moehaimin Tamam hingga diakhir hayatnya. Beliau berdua memangku pondok pesantren saling mengisi, saling melengkapi, bahu membahu bersama hingga sampai Tuhan memanggilnya pulang, dalam dekapan cinta dan kasih sayang-Nya.

Beliau berdua adalah dwi tunggal yang membidani lahirnya pondok pesantren Assalam Bangilan Tuban, beliau berdua adalah the founding fathersnya pesantren Assalam almahbub. Saya sebagai santri yang bisa dikatakan kurun awal, alhamdulillah secara langsung masih merasakan asuhan dan kasih sayang dari beliau berdua.

Waktu mondok dulu, Saya punya kesempatan istimewa yang tidak semua santri bisa melakukannya. Saya tiap pagi dalam kurun beberapa waktu ikut membantu mencuci rasukannya (bajunya) mbah Yai. Jadi Saya bisa inten nyantri dan ngabdi pada mbah Yai dan Bu Nyai.

Sosok mendiang Bu Nyai yang Saya ketahui dari pribadi beliau adalah seorang yang sakho' (dermawan) kepada santri. Sering santri khususnya ust/usth muda yang gothakannya dekat dengan ndalem mendapat berkah makanan dan jajanan dari beliau, sebagai santri tentu kami sangat senang sekali.

Kalau Saya sendiri sering disangoni uang, baik oleh mbah Yai ataupun Bu Nyai. Yang banyak dikenang oleh santri-santri dulu tentang Bu Nyai, adalah saat ada kegiatan istighosah yang diadakan disetiap malam Jumat. Bu Nyai dipastikan andum-andum (membagikan)  jajan  untuk para santri. Kadang nasi ketan, gethuk lindri, kolak, dan aneka jajanan lainnya. Saya rasa santri-santri dulu merindukan hal ini.

Dan menurut saya yang luar biasa dari Bu Nyai adalah keikhlasan beliau menempati rumah yang sangat sederhana hingga akhir hayat beliau. Rumah itu masih Ada sampai sekarang. Saudara-saudara beliau dari kota kalau sedang dolan biasanya mengatakan, "Omah kok koyok omah dara". Saking sederhana rumah yang beliau tinggali bersama mbah Yai. 

Padahal kalau mau, beliau bisa membangun rumah yang megah. Namun Beliau memilih tempat tinggal yang sederhana. Bu Nyai biasanya bilang, daripada dipakai membangun rumah yang bagus, lebih baik dipakai membangun Masjid atau gothakannya santri.

Bu Nyai tampaknya benar-benar sudah menjiwai apa yang dijiwai oleh Mbah Yai Moehaimin Tamam, yaitu hidupnya untuk santri, hari-harinya untuk pondok pesantren, semua dikhidmatkan untuk perjuangan, sebagaimana yang selalu beliau gemblengkan kepada santri-santri, "Bondo bahu pikir, lek perlu sak nyawane sisan".


Bangilan, 02/12/21

Jumat, 29 Oktober 2021

Hujan dan Kenangan Masa Silam


Hujan dan Kenangan Masa Silam

Oleh: Joyo Juwoto


Mendung gelap menutupi atap langit, angin berkesiur menggoyangkan dahan dan ranting pepohonan, di kejauhan kilat menyambar bersautan. Tak lama kemudian hujan turun membasahi sepotong senja yang tertinggal di bentang cakrawala. 

Suasana menjadi kelam namun syahdu. Senja dan rerintikan hujan adalah perpaduan yang sempurna dalam menggoreskan tinta kenangan di kanvas hati dan jiwa manusia. 

Jika hujan begini yang kukenang adalah masa kanak-kanak. Apalagi hujan di pinggiran senja begini, kenangan itu begitu kuat mengaroma di kepalaku. Saat dekapan cinta dan kasih sayang emak kepada anaknya yang masih belia. Dan juga kenangan akan seorang bapak yang melindungi rumah dan keluarganya dari gemuruh derasnya hujan dan angin topan yang menebarkan ketakutan. 

Iya, saya mengenang masa kanak-kanak saya, mengenang emak dan bapak saya, dan mengenang tanah tumpah darah saya yang bernama kampung halaman. 

Sebenarnya aneh saja saya mengenang hal itu semua, lha wong saya juga tidak tinggal jauh dari kampung saya. Saya masih berada di satu kecamatan dengan kampung kelahiran saya. Hanya saja saat hujan memang hati saya kadang lebih melow dan sentimentil saja. 

Tapi tak apalah saya ingin bercerita dengan diri saya sendiri, mengulas dan menonton kenangan yang bersliweran di kepala. 

Jika hujan tiba, bapakku adalah orang yang paling sibuk. Genting bocor sini dan sana, dengan bertelanjang dada bapakku membenahi genteng yang bocor karena pecah atau kadang hanya karena bergeser saja dari tempatnya. Dengan pikulan bambu beliau membenahi genteng-genteng yang bergeser dari tumpuan kayu usuk dan rengnya. 

Itu belum seberapa, jika hujan bercampur angin, ini yang membuat khawatir kami sekeluarga. Terpaan hujan dan angin menciutkan nyali. Pohon-pohon di sekitar rumah bergoyang keras, hampir-hampir seperti akan tercerabut dari akarnya. Belum lagi disertai sambaran guntur dan petir yang membahana, suasananya sangat menakutkan sekali. 

Kadang kami harus keluar rumah, berhujan-hujanan. Khawatir rumah kami roboh. Emak mendekap anak-anaknya, sedang bapak sibuk mengumandangkan adzan di pojokan rumah. Kalau anginnya tidak terkendali, bapak mengambil cemeti dan menghentakkannya seperti gembala menghalau sapinya. Cetar... Cetar... Begitu bunyi cemeti itu. 

Entah karena apa, angin yang tadinya seakan mau menerjang rumah kami, seperti menyingkir menjauhi bapak yang sedang memainkan cemetinya bagai pemain jaran kepang yang beraksi di pelataran rumah. 

Itu hujan kenangan dan kenangan akan hujan di masa kanakku. Jika sedang beruntung, saat hujan sedang genting rumah kami tidak bocor, dan angin juga tidak sedang mengamuk, kami bisa menikmati syahdunya hujan. 

Bapak membuat bediang untuk menghangatkan sapi-sapi kami, sekaligus menghangatkan badan kami. Jika musim jagung, biasanya emak membuat jagung goreng tanpa minyak. Digoreng kering di nanangan dari tanah. Kalau tidak begitu bapak mbakar singkong. Aduh ini bener-bener syahdu dan mengaduk perasaan saat hujan begini. 

Saya jadi ingat kata-kata mbah Sujiwo Tejo dalam Twitternya, "Tahukah kamu lelaki paling tak berperasaan di bumi, dialah yg jauh dari Kekasih saat hujan tapi tak menulis satu pun puisi." #TaliJiwo.

Haha... Kata-katanya salah satu idola saya ini memang sangat mengena di hati. Sungguh luar biasa. Sayangnya saya tidak menulis puisi saat hujan senja ini bukan karena saya adalah lelaki yang tak berperasaan di bumi, tapi karena memang saya tidak punya kekasih hati yang harus saya tuliskan puisi. Saya hanya punya istri yang saya cintai sepenuh hati, walau tanpa sebait puisi. Uhuk. 


*Bangilan, 29/10/21, kala senja dalam balutan kenangan.*

Minggu, 10 Oktober 2021

Imam Mawardi dan Kitab Al-Hawi Al Kabir

Imam Mawardi dan Kitab Al-Hawi Al Kabir

Kisah tentang Imam Mawardi ini, saya dengar saat mengikuti webinar bersama Gus Nadirsyah Hosen, yang diadakan kampus UNUGIRI Bojonegoro kemarin siang. Dalam salah satu paparannya, Gus Nadir bercerita tentang keikhlasan dari seorang ulama madzhab Syafii yang cukup terkenal di kalangan umat Islam Indonesia.

 Imam Mawardi adalah ulama ahlussunnah wal jamaah yang sangat produktif dalam berkarya. Beliau menulis Kitab tafsir, fikih, sastra, dan politik. Imam Mawardi ini nama aslinya adalah Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Basri asy-Syafi'ie. Beliau dikenal dengan nama Al-Mawardi berasal dari kata Ma-ul Wardi, yaitu untuk memberikan laqob keluarganya yang penjual air mawar.

Gus Nadir bercerita ketika Imam Mawardi akan meninggal dunia, beliau berpesan kepada orang kepercayaannya. "Disuatu tempat saya menyimpan Kitab yang saya tulis, dan belum saya publikasikan. Saya menunggu keikhlasan hati saya dalam mempublikasikannya. Jika nanti saya meninggal dunia, ulurkan Kitab-kitab itu ke tangan saya, jika saya genggam, maka buanglah  kitab itu ke sungai Dajlah dan jangan disebar. Namun jika kitab itu saya lepaskan,  maka saya telah mengikhlaskan kitab yang saya tulis, dan Allah menerima niat saya menulis kitab tersebut".

Alkisah, setelah Imam Mawardi meninggal dunia, kitab tersebut disodorkan ke tangan beliau, dan ternyata beliau membuka tangannya, pertanda niat baik beliau diterima oleh Allah Swt. Oleh orang kepercayaan beliau, sesuai pesan yang disampaikan maka kitab tersebut akhirnya dipublikasikan ke khalayak.

Kitab yang ditulis oleh Imam Mawardi ini judulnya adalah kitab Al-Hawi Al-Kabir yang berjumlah 20 jilid yang membahas tentang masalah fikih. Kitab Al-Hawi Al-kabir ini sebenarnya adalah syarah dari kitab  "Muktashor Al-Muzani" yang diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin memperdalam madzhab Asy-Syafi'ie. Kitab karangan Imam Mawardi ini menjadi kitab yang sangat penting dan popular di kalangan umat Islam di dunia dan juga di Indonesia. 


Bangilan, 10/10/21