Sajak Cinta Seorang Hamba
Oleh: Joyo Juwoto
Cinta adalah tentang keindahan. Seperih apapun cerita derita cinta, maka hanya keindahan dan kemasyukan yang akan terasa.
Cinta adalah tentang pengorbanan yang mengharu biru, walau engkau tidak akan menemukan hakekat cinta, jika engkau telah dan merasa berkorban untuk apa yang engkau cintai.
Cinta adalah tentang kerinduan yang memburu pertemuan-pertemuan di pesta-pesta anggur yang tertuang dalam meriahnya denting cawan cinta.
Seorang pecinta sejati, tak peduli segala kepedihan, karena cinta adalah penawar segala luka dan duka.
Seorang yang mabuk cinta, tak terasa walau terbakar dalam kobaran samudera api yang membara, karena kobaran api asmara panasnya melebihi segalanya.
Cinta tak selamanya bagai manisan, atau hamparan kebun bunga yang mekarnya mewangi memenuhi jagad raya.
Cinta kadang berwujud pedang kematian pada leher Ismail, atau kadang kobaran api yang membakar Ibrahim.
Cinta kadang menjelma sengsara, seperti Musa dalam pelarian dikejar Fir'aun, kadang pula berwujud banjir bandang yang menjadi panggung bahtera Nuh.
Di hadapan cinta semua wujud derita sirna, atas nama cinta kepedihan menjelma menjadi kebahagiaan semata.
Di pelataran cinta semua tunduk, patuh, dan bersimpuh, hingga Sang Maha Cinta memanggilmu pulang; Ya Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah irji'ii ilaa Rabbiki Raadhiyatan Mardiyyah, Fadkhulii Fii 'ibaadii Wadkhulii Jannatii.
Bangilan, 21/04/2020
Pages - Menu
Selasa, 21 April 2020
Sabtu, 04 April 2020
Permudah Dalam Membayar Utangmu
Permudah Dalam Membayar Utangmu
Oleh: Joyo Juwoto
Saya
masih ingat sebuah maqolah yang saya hafalkan saat di pesantren dulu, “Ad-diinu
Yusrun, Ad-dainu ‘Usrun”. Artinya kurang lebih demikian, “Agama itu mudah,
sedang utang itu susah”. Saat itu tentu saya belum bisa membayangkan utang itu
susah, karena memang belum pernah berurusan dengan uang dan hal-hal yang
namanya utang piutang.
Dalam
ilmu fikih memang secara teoritis kaum santri mempelajari tetang utang piutang,
tetapi teori tentu sangat beda dengan praktek, karena teori hanya berbicara
pada ranah kertas belaka, sedang prakteknya ilmu utang piutang ini melibatkan banyak
factor, mulai dari gestur tubuh yang harus pas, mimik muka yang memelas, hingga nada dan tekanan suara yang juga harus
selaras. Sungguh berutang itu sangat berat dan susah ternyata, perlu keahlian
yang terukur secara tepat.
Sayangnya
sebagaimana yang saya amati, mental masyarakat kita adalah mental pengutang.
Saya kurang tahu ini ada hubungannya dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR)
yang digalakkan pemerintah melalui bank-bank atau tidak. Atau bahkan berutang
sudah menjadi bagian dari tradisi dan kearifan local kita yang dikembangkan
oleh para rentenir local yang berkedok bank tithil, yang pasti, hampir
setiap sudut kehidupan kita hari ini dibiayai oleh yang namanya utang.
Dalam
ajaran Islam, utang piutang adalah termasuk bagian dari muamalah yang
diperbolehkan, jadi sah kita melakukannya dan tidak dilarang. Hanya saja
persoalan utang piutng ini adalah persoalan yang cukup rumit, karena menyangkut
haqqul adami menyangkut urusan yang membutuhkan kerelaan dengan orang
lain. Tanpa bermaksud menyepelekan haqqul adami lebih berat
dibanding dengan urusan kita dengan sang Khaliq.
Jika
haqqul Khaliq kita bisa melunasinya dengan istighfar, dengan
taubat, dengan berwudlu, maka tidak jika sudah menyangkut haqqul adami.
Jika kita berutang uang maka kita harus membayarnya dengan uang, jika kita berutang
emas, maka kita juga harus membayarnya dengan emas, atau bisa jadi dengan
barang lain yang nilainya sepadan dengan apa yang telah kita utang darinya.
Ketika
kita dalam kesulitan keuangan misalnya, kita diperbolehkan berutang kepada
orang lain, dengan catatan kita harus membayarnya sesuai dengan tempo yang
telah disepakati bersama. Tapi perlu digaris bawahi bahwa, berutang dilakukan
ketika dalam konsisi yang memang benar-benar terpaksa dan sangat membutuhkan.
Jangan sedikit-sedikit kita menggandalkan utang kepada orang lain.
Perlu
kita sadari bahwa orang yang kita utangi belum tentu tidak memiliki kebutuhan
dengan uang itu, boleh jadi ia sedang mengumpulkan uang tersebut untuk sesuatu
hal yang penting. Ketika uang tersebut sudah terkumpul, kita datang dan
memintanya untuk kita utang. Kadang orang yang kita utangi tidak tega untuk
tidak memberikan uangnya, oleh karena itu ketika kita berutang kita harus
membayarnya sesuai saat jatuh tempo.
Perlu
kita sadari bahwa, orang yang kita utangi itu bukan lembaga keuangan, bukan
koperasi simpan pinjam, bukan pula bank, bukan celengan, bukan pula
mesin ATM yang hampir selalu tersedia uang. Dia seperti kita yang juga
memerlukan uang setiap dia butuh. Oleh karena itu bercepat-cepatlah ketika
membayar utang, jangan menundanya kalau memang kita sudah punya uang. Abaikan
kepentingan lain jika tidak mendesak. Kita harus bisa memprioritaskan utang
kita kepada orang yang memberikan utangan kepada kita.
Jadi
ketika kita berutang sesegera mungkin kita berusaha melunasinya, kalau bisa jangan
sampai jatuh tempo, lebih-lebih sampai orang yang kita utangi mendatangi kita
untuk menagihnya. Kasihan dia. Dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bersabda: “Menunda-nunda utang padahal mampu adalah
kezaliman”. (HR.
Thabrani, Abu Dawud). Dalam sebuah hadits lain Rasulullah Saw juga bersabda: “Sesungguhnya
seseorang apabila berutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan
berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari).
Hadits-hadits di atas seyogyanya menjadi
pengingat kita agar berhati-hati dalam masalah utang piutang ini. Jangan sampai
karena menuruti hal yang tidak penting kita memperturutkan diri untuk mencari
pinjaman uang dari orang lain, bahkan dari lembaga keungan itu sendiri.
Pandai-pandailah dalam mengatur segi prioritas dengan keuangan kita.
Orang yang kita utangi sudah memberikan kemudahan
bagi kita untuk menggunakan uangnya, kita harus mempermudah urusannya dalam hal
mengembalikan hutan. Ia mungkin mau mengutangi kita karena ia tahu, bahwa
mempermudah urusan orang lain itu termasuk kebaikan yang bernilai ibadah,
padahal sebenarnya ia tidak harus memberi pinjaman kepada kita. Karena tempat
meminjam uang secara sah sudah ada. Di bank atau koperasi. Oleh karena itu
sekali lagi permudahlah urusannya dalam menagih utang.
Semoga kita semua terhindar dari urusan utang
piutang ini, dan semoga kita dianugeri oleh Allah rejeki yang melimpah dan
berkah. Mari kita aminkan doa ini bersama-sama:
اَللهُمَّ اِنِّي
اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنَ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ
وَالْكَسَلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ
وَاَعُوْذُبِكَ مِن غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ
الرِّجَالِ.
“Ya
Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kegundahan dan kesedihan, aku
berlindung kepadaMu dari sifat lemah dan Malas, aku berlindung kepadaMu dari
sifat penakut dan bakhil, aku berlindung kepadamu dari himpitan hutang dan
penindasan orang”.
Kamis, 02 April 2020
Kawasan Wajib Masker
Kawasan Wajib Masker
Oleh: Joyo Juwoto
Pagi ini saya ke RSUD Sasodora Djatikoesoemo Bojonegoro, ada urusan yang harus saya selesaikan. Jadi mohon maaf, saya harus keluar rumah untuk menyelesaikan tugas ini. Tugas yang tidak bisa saya kerjakan sambil rebahan di rumah.
Di masa-masa pegeblug virus Corona atau juga disebut sebagai Covid-19 melanda seantero dunia, kita dihimbau untuk tidak banyak keluar rumah. Banyak instansi yang memberlakukan WFH alias Work From Home, demi memutus mata rantai penyebaran virus ini.
Kebijakan self karantina dan physical distancing atau jaga jarak fisik adalah salah satu cara untuk menghindari penyebaran virus corona lebih luas. Oleh karena itu kita wajib mematuhinya.
Semua waspada, semua siaga. Pandemik Corona sukses mengajarkan kepada kita makna "An-ndzoofatu minal Iman". "Kebersihan itu sebagian dari Iman". Ya, ajaran ini benar-benar diterapkan secara kaffah oleh semua lapisan masyarakat. Tanpa banyak khutbah.
Sepanjang perjalanan Bangilan-Bojonegoro, saya melihat pemandangan yang sekarang sangat lazim kita lihat. Banyak toko-toko dan warung yang menyediakan tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya. Semua siaga semua waspada.
Sesampainya di ruang lobi RSUD, prosedur dan antisipasi penularan Corona pun diberlakukan. Sebelum masuk ruangan, saya diminta untuk menggunakan masker. Diperiksa suhu badan, dan cuci tangan dengan hand sanitizer.
Saat itu sebenarnya saya bawa sapu tangan. Dibekali oleh istri tercinta dari rumah. Dalam pikiran saya itu sapu tangan, bukan masker. Maka ketika petugas keamanan RSUD menanyakan masker, saya jawab, saya tidak bawa.
Selanjutnya saya diarahkan petugas tersebut untuk membeli masker. Saya mengiyakan. Satu masker harganya Rp. 1.500 (seribu lima ratus rupiah). Saya lega. Saya pun membeli satu masker untuk saya pakai.
Karena kurang terbiasa awalnya saya agak sesak nafas karena memakai masker, tapi lama-lama saya jadi happy juga. Bahkan saya membayangkan mirip Guru Kakashi dalam serial Naruto. Saya merasa keren saat memakai masker.
Padahal, sebelum membeli masker, tadinya saya sempat berfikir jangan-jangan harga maskernya mahal. Alhamdulillah, ternyata tidak, harganya wajar. Ini sangat menyenangkan dan membantu orang-orang kayak saya, saat keluar rumah di tengah-tengah wabah melanda. Saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas kebijakan RSUD ini.
Karena kemarin saya sempat melihat postingan di media sosial harga masker melambung tinggi ke angkasa. Ada oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan. Menari-nari di atas penderitaan orang lain.
Di tempat-tempat umum, dan tempat berkumpulnya masa memang sangat perlu diterapkan prosedur standard mencegah penularan virus. Ada tempat cuci tangan, atau praktisnya ada hand sanitizer, ada alat pengukur suhu badan, dan menyediakan masker.
Suatu kejadian yang tidak menyenangkan semisal wabah Corona ini perlu kita hadapi bersama dengan saling tolong menolong dan semangat kegotongroyongan.
Saya yakin masyarakat Indonesia mampu keluar dari cobaan ini dengan baik. Asal kita semua mematuhi prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Saya percaya kita semua bisa. Aamiin.
Bojonegoro, 02/04/2020
Oleh: Joyo Juwoto
Pagi ini saya ke RSUD Sasodora Djatikoesoemo Bojonegoro, ada urusan yang harus saya selesaikan. Jadi mohon maaf, saya harus keluar rumah untuk menyelesaikan tugas ini. Tugas yang tidak bisa saya kerjakan sambil rebahan di rumah.
Di masa-masa pegeblug virus Corona atau juga disebut sebagai Covid-19 melanda seantero dunia, kita dihimbau untuk tidak banyak keluar rumah. Banyak instansi yang memberlakukan WFH alias Work From Home, demi memutus mata rantai penyebaran virus ini.
Kebijakan self karantina dan physical distancing atau jaga jarak fisik adalah salah satu cara untuk menghindari penyebaran virus corona lebih luas. Oleh karena itu kita wajib mematuhinya.
Semua waspada, semua siaga. Pandemik Corona sukses mengajarkan kepada kita makna "An-ndzoofatu minal Iman". "Kebersihan itu sebagian dari Iman". Ya, ajaran ini benar-benar diterapkan secara kaffah oleh semua lapisan masyarakat. Tanpa banyak khutbah.
Sepanjang perjalanan Bangilan-Bojonegoro, saya melihat pemandangan yang sekarang sangat lazim kita lihat. Banyak toko-toko dan warung yang menyediakan tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya. Semua siaga semua waspada.
Sesampainya di ruang lobi RSUD, prosedur dan antisipasi penularan Corona pun diberlakukan. Sebelum masuk ruangan, saya diminta untuk menggunakan masker. Diperiksa suhu badan, dan cuci tangan dengan hand sanitizer.
Saat itu sebenarnya saya bawa sapu tangan. Dibekali oleh istri tercinta dari rumah. Dalam pikiran saya itu sapu tangan, bukan masker. Maka ketika petugas keamanan RSUD menanyakan masker, saya jawab, saya tidak bawa.
Selanjutnya saya diarahkan petugas tersebut untuk membeli masker. Saya mengiyakan. Satu masker harganya Rp. 1.500 (seribu lima ratus rupiah). Saya lega. Saya pun membeli satu masker untuk saya pakai.
Karena kurang terbiasa awalnya saya agak sesak nafas karena memakai masker, tapi lama-lama saya jadi happy juga. Bahkan saya membayangkan mirip Guru Kakashi dalam serial Naruto. Saya merasa keren saat memakai masker.
Padahal, sebelum membeli masker, tadinya saya sempat berfikir jangan-jangan harga maskernya mahal. Alhamdulillah, ternyata tidak, harganya wajar. Ini sangat menyenangkan dan membantu orang-orang kayak saya, saat keluar rumah di tengah-tengah wabah melanda. Saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas kebijakan RSUD ini.
Karena kemarin saya sempat melihat postingan di media sosial harga masker melambung tinggi ke angkasa. Ada oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan. Menari-nari di atas penderitaan orang lain.
Di tempat-tempat umum, dan tempat berkumpulnya masa memang sangat perlu diterapkan prosedur standard mencegah penularan virus. Ada tempat cuci tangan, atau praktisnya ada hand sanitizer, ada alat pengukur suhu badan, dan menyediakan masker.
Suatu kejadian yang tidak menyenangkan semisal wabah Corona ini perlu kita hadapi bersama dengan saling tolong menolong dan semangat kegotongroyongan.
Saya yakin masyarakat Indonesia mampu keluar dari cobaan ini dengan baik. Asal kita semua mematuhi prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Saya percaya kita semua bisa. Aamiin.
Bojonegoro, 02/04/2020
Langganan:
Postingan (Atom)


