Minggu, 13 Mei 2018

Asyiknya Berwisata di Sendang Kalangan Montong Tuban


Sendang Kalangan
Asyiknya Berwisata di Sendang Kalangan Montong Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Berwisata bersama keluarga di akhir pekan sekarang ini semakin mudah, murah, dan jaraknya dekat. Jika dulu untuk menikmati wisata panorama alam masyarakat harus jauh-jauh pergi ke luar kota untuk mencari tempat yang nyaman, sekarang tidak lagi. Di sekitar kita masyarakat semakin sadar akan kebutuhan tempat untuk melepas lelah di akhir pekan dengan cara membuat tempat wisata lokal yang tidak kalah bagusnya dengan tempat wisata yang sudah mapan.

Kec. Montong Kab. Tuban termasuk wilayah kecamatan yang memiliki basis potensi wisata lokal yang cukup banyak. Jika dulu masyarakat hanya mengenal pemandian Krawak, kini wilayah yang banyak memiliki gua ini memiliki destinasi wisata baru, seperti river tubing di Guwoterus, goa putri Asih yang dulu sempat ditutup, dan yang terbaru adalah tempat wisata Sendang Kalangan yang berada di desa Montong Sekar.

Bersama Ketua Blogger Tuban

Untuk mencapai Sendang Kalangan Cukup mudah, baik dari arah Tuban kota ataupun dari arah Tuban bagian barat, silakan mencari pertigaan pasar Montong, dari pertigaan pasar ini lokasi sendang kalangan ke arah selatan di belakang polsek Montong. Agar tidak bingung saya sarankan agar bertanya kepada masyarakat sekitar saja, tentu dengan senang hati mereka akan menunjukkan ke lokasi sendang.

Mendengar nama sendang Kalangan ini saya teringat legenda tentang wong Kalang. Tapi setelah saya tanya salah seorang teman di sana ternyata tidaka da hubungan antara sendang kalangan dengan wong Kalang. Hanya mungkin ada kemiripan nama saja, namun sejara historis tidak ada sangkut pautnya sama sekali.

Menurut Kang Rey, teman blogger Tuban, dinamakan sendang kalangan karena setiap tahun di sendang tersebut diadakan kegiatan berkumpul warga masyarakat, atau membuat kalangan dalam rangka sedekah bumi. Oleh karena itu sendang itu disebut sebagai sendang Kalangan, atau sendang tempat berkumpul.

Hal ini dibenarkan oleh Camat Montong pada saat acara pembukaan tempat wisata bahwa Sendang Kalangan dulunya dipakai warga untuk mandi, mencuci, dan tempat berkumpulnya warga, jadi ternyata tidak ada hubungannya dengan wong Kalang yang saya pikirkan tersebut di atas.

Di sekitar sendang banyak pepohonan tumbuh rindang, suasananya sejuk dan menyegarkan. Cocok untuk refresing, apalagi sekarang lokasi sendang kalangan sudah disulap menjadi salah satu destinasi yang ada di kabupaten Tuban. Selain menikmaati kesejukan alam sendang kalangan, pengunjung juga bisa berswa ria foto di spot-spot yang telah dibuat oleh pengelola setempat. Wah pokoknya asyik berwisata di Sendang kalangan Montong Sekar Tuban. Silakan dicoba untuk dikunjungi. Semoga bahagia.

ISBAT Bangilan dari Desa Untuk Bangsa


ISBAT Bangilan dari Desa Untuk Bangsa
Oleh : Joyo Juwoto

ISBAT (Informasi Seputar Bangilan Tuban) adalah sebuah komunitas yang terdiri dari pemuda-pemudi, bapak-ibu, simpatisan dan warga Kecamatan Bangilan. Komunitas Isbat ini awal terbentuk dari sebuah group di media sosial facebook yang dibuat oleh Mu’in Bekam. Dari aktifitas memberikan informasi di dunia maya, akhirnya beberapa anggota Isbat mengusulkan untuk berkopi darat dan merumuskan agenda serta kegiatan Isbat ke depannya seperti apa.

Di rumah Maskin dusun Pulut desa Bangilan Kec. Bangilan, untuk pertama kalinya deklarasi Isbat diselenggarakan. Dari hasil kopi darat itulah akhirnya teman-teman menghendaki agar Isbat bisa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di Kec. Bangilan. Jika awalnya Isbat hanyalah sebuah group yang bergerak di media sosial tanpa kepengurusan resmi, akhirnya dari hasil kesepakatan deklarasi maka dibentuklah kepengurusan Isbat.

Dari hasil deklarasi itulah kemudian teman-teman merumuskan dan mengeksekusi beberapa program Isbat untuk masyarakat Bangilan. Sebagai organisasi yang semi resmi, memang Isbat tidak secara runtut membuat program kerja ini dan itu. Isbat prinsipnya bisa memberikan kontribusi dan manfaat bagi masyarakat. Sekecil apapun program itu tidak menjadi masalah asalkan memang program itu benar-benar terlaksana bukan hanya sekedar menjadi bunga-bunga rencana di buku kerja yang tak terealisasikan.

Isbat sebagai organisasi nirlaba yang memang bergerak di dunia sosial tentu tidak bisa berjalan sendiri tanpa ada dukungan dari semua pihak dari elemen masyarakat Bangilan. Isbat hadir memang dari rakyat oleh rakyat dan tentu untuk rakyat Bangilan. Isbat sama sekali tidak berarti tanpa dukungan dan support dari banyak pihak, termasuk para pemangku kebijakan di Kec. Bangilan, baik dari camatnya, kepala desa, dan para pamong-pamongnya memberikan dukungan penuh dengan segala kegiatan yang dilaksanakan oleh Isbat.

Selain itu teman-teman yang tergabung di dalam Isbat juga sangat luar biasa dalam merespon, mengorganisir, merencakanan, dan mengeksekusi program-progam yang telah disepakati bersama. Segala apa yang menjadi permasalahan dan keluh kesah warga berusaha didengarkan dan kemudian ditindaklanjuti secara cermat dan terukur.

Diantara program-program yang telah dijalankan oleh Isbat secara diantaranya adalah :

1.   Menyantuni dan membawa Bu Supi Banjarworo ke PKM Kec. Bangilan.
2.   Ikut meramaikan jalan sehat PGMI Kec. Bangilan dan mengadakan kegiatan donor darah.
3.   Touring dan memetakan potensi wisata lokal desa yang memungkinkan dikelola oleh pihak terkait.
4.   Bedah rumah mbah Ratman Ngrojo
5.   Membersihkan dan membenahi tempat tidur mbah Duri Karangtengah, Mbah Kasirah Kedungmulyo.
6.   Memberikan jatah makan bulanan ke mbah duri.
7.   Mengusulkan ke Baznas para duafa dan mbah-mbah sepuh agar mendapatkan santunan bulanan.
8.   Membagikan sembako untuk kaum duafa tiap bulan sesuai kemampuan di beberapa titik di seluruh Kec. Bangilan dari ujung ke ujung.
9.   Memasang spanduk himbauan agar warga tidak membuah sampah sembarangan di jembatan Kali Kening Santren.
10.                Ke depan Isbat juga mengusahakan dan memprakarsai kegiatan UKM warga Bangilan.
11.                Masak-masak dan makan bareng anggota Isbat untuk menjaga semangat kekompakan, kebersamaan, kekeluargaan dan silaturrahim diantara Isbater.

Demikian beberapa kegiatan Isbat yang telah dilaksanakan, dan program-program tersebut tentu masih banyak kelemahan dan kekurangannya. Ke depan Isbat akan berusaha lebih baik lagi dan tentu atas dukungan dari semua pihak yang telah menyemangi dan memberikan amanah kepada Isbat untuk seluruh warga di Kec. Bangilan.

Kerja kecil Isbat ini sangat tidak sebanding dengan bantuan dan dukungan dari para donatur Isbat yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu di sini. Semoga Allah Swt. membalas segala niat baik, amal baik, dan keinginan baik dari para hamba-hamba-Nya.

Isbat ada dari, oleh, dan untuk kita semua, sebagaimana yang selalu menjadi semboyan Isbat “Dari Desa Untuk Bangsa.”  Salam Isbater.

Jumat, 11 Mei 2018

Aku, FLP, dan Jihad Pena

Aku, FLP, dan Jihad Pena
Oleh : Joyo Juwoto

Nama Forum Lingkar Pena (FLP) sudah saya dengar sejak saya duduk di bangku akhir Madrasah Aliyah, kurun waktu yang sangat lama sekali tentunya jika dihitung dari jarak dan kurun waktu saya resmi masuk menjadi anggota FLP cabang Tuban yang baru dua tahunan. Saya mengenal FLP dari majalah favorit saya jaman itu, Annida. Dari nama dan logonya majalah ini akhwat banget, walau demikian ternyata isinya tidak hanya seputar masalah akhwat, banyak hal menarik yang saat itu saya baca dan saya dapatkan dari majalah yang terbit dari jarak ratusan kilometer dari tempat saya tinggal.

Saya mulai mengenal majalah Annida dari teman-teman yang kuliah di LIPIA Jakarta, waktu itu para mahasiswa LIPIA mengadakan daurah bahasa Arab beberapa minggu di pesantren di mana saya bersekolah. Dari para mahasiswa tersebut awal mula saya mengenal majalah Annida dan mengenal dunia tulis menulis dan dunia pemikiran Islam. Majalah Annida yang waktu itu menarik saya adalah cerita bersambung kalau tidak salah judulnya “Putri Kejawen.” Namun sayang, karena bersambung saya tidak bisa menikmati ceritanya sampai tuntas, karena majalahnya juga tidak komplit ada, jadi ya seadanya saya baca. Di kampung saya yang jauh dari kota, agen majalah Annida tidak ada, majalah lain pun tidak ada, satu-satunya bacaan yang dijual waktu itu hanya koran, itu pun saya tidak berlangganan, hanya membaca sekali waktu kalau menemukan saja.

Dari membaca Annida itulah keinginan saya untuk menulis mulai tumbuh, ya, saya ingin menulis dan dimuat di majalah, begitu keinginan saya waktu itu. Entah karena kemalasan saya, sampai dalam hitungan tahun keinginan untuk menulis sama sekali tidak terealisasikan, alias mandeg total. Saya bingung mau nulis apa, dan bagaimana caranya menulis. Di kampung saya pun tidak ada yang namanya komunitas menulis, maklum, kampung yang jauh dari perkotaan.

Setelah saya lulus sekolah dari sekolah, say tidak melanjutkan kuliah, saya diminta megabdi di pesantren tempat saya menuntut ilmu, praktik saya tidak bisa keluar dari kampung di mana saya tinggal. Di saat mengabdi di pesantren ini keinginan untuk menulis sudah hampir terlupakan, dan akhirnya memang lupa sama sekali. Saya tidak menulis apapun dan saya disibukkan oleh kegiatan di pesantren. Keinginan untuk menulis dan diterbitkan di sebuah majalah sudah tidak menarik bagi saya.

Hari dan bulan, serta tahun terus berjalan. Dengan seiringnya waktu, ada beberapa kakak kelas dan juga adik kelas yang sudah lulus dari Madrasah Aliyah se-almamater melanjutkan studinya ke LIPIA Jakarta. Praktis persinggungan teman-teman saya di sana ikut mempengaruhi keinginan saya mendapatkan majalah Annida. Karena di sana tentu banyak sekali yang jualan majalah kesukaan saya. Wah, kesempatan bisa pesan majalah ini, batin saya. Karena saya masih penasaran dengan “Putri Kejawen.”

Benar, ternyata teman-teman saya yang di Jakarta bisa saya titipi majalah Annida, walaupun edisi majalahnya bukan yang terbaru yang terbit di setiap bulannya. Pokoknya kalau ada majalah Annida saya suruh bawa pulang ketika liburan kampus. Saya mengoleksi banyak sekali majalah ini, namun sayang ketika majalah ini dipinjam oleh teman-teman kesana kemari akhirnya majalah-majalah itu tidak kembali, ada juga yang rusak, dan kebanyakan lenyap entah kemana tak tahu kubur dan rimbanya.

Dari Annida ini akhirnya saya banyak mengenal penulis luar biasa, seperti bunda Helvy Tiana Rosa, bunda Pipiet Senja, bunda Asma Nadia, kemudian saya juga membaca karya-karya dari Habiburrahman El Shirazy, dan penulis-penulis muslim lainnya yang saya sendiri sudah lupa. Seingat saya, saya pernah membaca buku cerpen karya antologi anggota FLP, judulnya Hingga Batu Bicara, dan beberapa buku yang saya lupa judulnya. Selain membaca buku jenis fiksi saya juga mulai membeli buku-buku dengan tema keislaman seperti buku Tarbiyah Dzatiyah, Brotherhood, Pacaran Yang Islami Adakah? dan beberapa buku yang ditulis oleh Ustadz Rahmad Abdullah.

Saya yang memang penyuka fiksi sangat tertarik membaca karya Habiburrahman El Shirazy, buku-bukunya banyak saya beli dan saya baca. Kadang saya membaca novelnya Kang Abik sampai lupa waktu. Berhenti hanya untuk sholat saja, bahkan sampai larut malam hingga menjelang pagi novelnya Kang Abik masih saya baca. Novelnya Kang Abik juga yang paling sering mengaduk emosi dan menguras air mata. Ayat-ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra,  Di atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan beberapa karya Kang Abik lainnya adalah novel yang saya baca sampai khatam.

            Kang Abik effek dengan frasa cintanya ini sangat luar biasa mewarnai jagad pernovelan di Indonesia saat itu, sehingga waktu itu banyak sekali penulis yang menggunakan kata “cinta.” Tidak hanya itu saja, nama “El” juga banyak disematkan di akhir nama penulisnya.

            Dari majalah Annida, novel-novel Islami, dan sumber bacaan-bacaan yang saya dapatkan dari teman-teman di Jakarta membangkitkan kembali niat dan keinginan saya untuk menulis. Namun sayang beribu sayang, karena tidak adanya komunitas dan tidak adanya faktor yang mendukung saya untuk belajar menulis saya tetap saja kesulitan mau menulis apa dan kepada siapa berguru menulis.

            Keresahan saya ini kemudian saya sampaikan kepada salah seorang teman yang ada di Jakarta agar ia kelak kalau pulang bisa mengajari saya untuk menulis dan membuat komunitas menulis. Karena banyak hal dan banyak faktor tetap saja komunitas menulis yang saya impikan tidak terwujud. Apalah daya, keinginan saya hanya tinggal keinginan semata tanpa ada daya kekuatan untuk mewujudkannya. Walau tidak mendapati komunitas menulis dan guru yang mengajari saya menulis, akhirnya saya berlatih menulis secara otodidak. Pokoknya saya harus nulis dan nulis sebisa saya, begitu prinsip saya.

            Tuhan selalu baik kepada hamba-hamba-Nya, termasuk kepada saya tentunya, setelah masa muda saya tidak mampu mewujudkan mimpi saya menulis, eh, di umur saya yang sudah kepala tiga mendekati kepala empat saya dipertemukan dengan komunitas menulis di Facebook, namanya Semut (Sekolah Menulis Tuban). Kemudian saya menginbox admin Semut, saya bertanya tentang pelatihan menulis di Semut itu bagaimana prosesnya dan berbagai pertanyaan lainnya. Ternyata Semut ini adalah sekolah menulis yang digagas oleh teman-teman FLP Tuban.

            Bagai dicinta ulam pun tiba, jika masa lalu saya memimpikan belajar menulis di FLP karena berkenalan lewat majalah Annida dan novel-novel yang ditulis oleh orang-orang FLP, saat itu sekitar tahun 2015 saya resmi menjadi anggota FLP Cabang Tuban. Suatu kebanggaan tentunya menjadi bagian dari dunia literasi di bawah naungan bendera FLP. Saya tersenyum senang dan bahagia.

            Di dua tahun menjadi anggota FLP saya tidak begitu aktif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh FLP wilayah Jawa Timur, namun kemarin di tahun 2017 saya sempat mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh FLP wilayah dalam rangka turnamen antar cabang FLP se-Jawa Timur. Waktu itu saya mewakili cabang Tuban mengikuti lomba penulisan esai. Alhamdulillah mulai dari babak awal hingga baka final tulisan saya masuk nominasi, dan akhirnya menjadi juara satu di lomba penulisan esai tingkat FLP Wilayah Jawa Timur.

            Setelah kegiatan turnamen antar cabang selesai FLP wilayah Jawa Timur mengadakan Muswil yang diselenggarakan di Ngrambe Ngawi. Saya bersama satu teman ikut serta hadir. Senang rasanya bertemu dan berkumpul dengan para anggota FLP yang datang dari berbagai cabang yang ada di Jawa Timur. Banyak hal yang menarik yang saya dapatkan dari kegiatan Muswil yang diadakan dua hari tersebut. Satu hal yang menyentak kesadaran saya adalah bahwa anggota FLP menulis bukan hanya sekedar menulis, ada misi yang ingin disampaikan kepada dunia yaitu jihad bil qolam, jihad pena, untuk mewujudkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi peradaban dunia. Hal ini disampaikan oleh salah seorang narasumber yang mengisi di acara muswil tahun 2017 tersebut. Hal ini memang sesuai dengan semboyan  FLP yang selalu berbakti, berkarya, dan berarti untuk mewujudkan literasi yang berkeadaban. Salam Literasi Berkeadaban dari FLP Cabang Tuban.




*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Anggota FLP Cabang Tuban. Telah menulis beberapa buku : Jejak Sang Rasul (2016); Secercah Cahaya Hikmah (2016), Dalang Kentrung Terakhir (2017,) Cerita Dari Desa (Proses) dan menulis beberapa buku antologi dengan berbagai komunitas menulis. Penulis dapat dihubungi via email : joyojuwoto@gmail.com atau di 085258611993.