Senin, 20 Februari 2017

Inilah Pendidikan Luqman Al Hakim Kepada Anaknya

Inilah Pendidikan Luqman Al Hakim Kepada Anaknya
Oleh : Joyojuwoto

Nama Luqman Al Hakim diabadikan oleh  Allah Swt. di dalam Al Qur’an sebagai contoh teladan dan pelajaran bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya.  Di dalam Al Qur’an Luqman Al Hakim disebutkan sebanyak dua kali :

Pertama dalam surat Luqman ayat 12  :

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (١٢)

12. dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Kedua dalam surat Luqman ayat 13 :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)

13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Nama Luqman Al Hakim ini sebenarnya telah menjadi legenda perbincangan di kalangan masyarakat Jazirah Arab sebagai seorang yang bijaksana, penuh hikmah, dan menginspirasi.

Mengenai siapa sebenarnya Luqman Al Hakim ini banyak ulama berbeda pandangan, ada yang mengatakan bahwa Luqman adalah salah satu keturunan dari Azar (Ayah Nabi Ibrahim), ada yang mengatakan ia adalah anak laki-laki dari saudara perempuan Nabi Ayyub, ada pula yang bilang ia adalah seorang qadhi Bani Israel, dan beberapa pendapat lain yang berbeda. Yang jelas Luqman Al Hakim yang diabadikan di dalam Al Qur’an adalah seorang dari keturunan kulit hitam yang dimuliakan oleh Allah Swt.

Di dalam Al Qur’an sendiri tidak ada keterangan secara detail dan jelas siapa Luqman Al Hakim, namun beliau adalah seorang pribadi yang besar dan mulia sehingga Allah Swt. mengabadikan namanya menjadi salah satu surat yang ada di dalam Al Qur’an.

Nama Luqman Al Hakim ini identik dengan wasiat-wasiatnya yang menginspirasi di dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Setidaknya ada enam pendidikan yang beliau sampaikan kepada anaknya sebagaimana yang termaktub di dalam Al Qur’an surat Luqman, diantaranya dalam ayat 12, 13, 14, 16, 17, 18, dan 19 :

1.   Bersyukur kepada Allah (Q.S. Luqman : 12)
12. dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
2.   Tidak Mempersekutukan Allah (Q.S. Luqman : 13)
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
3.   Berbuat baik kepada kedua orang tua (Q.S. Luqman : 14)
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
4.   Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah (Q.S. Luqman : 16)
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
5.   Memerintahkan untuk mendirikan shalat, mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar dan pentingnya sebuah kesabaran (Q.S. Luqman : 17)
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
6.   Tidak bersikap angkuh dan sombong terhadap sesama manusia (Q.S. Luqman : 18)
18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
7.   Sederhana dalam berjalan dan berbicara (Q.S. Luqman : 19)
19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Demikian beberapa pelajaran penting dalam pendidikan anak yang diwasiatkan oleh Luqman Hakim kepada anaknya yang diakui oleh Allah Swt di dalam Al Qur’an sebagai pedoman nasehat bagi orang tua dan bagi para pendidik. Semoga bermanfaat.

Jumat, 17 Februari 2017

Memilih Istri Yang Sholihah

Memilih  Istri Yang Sholihah
Oleh  : Joyojuwoto

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ‘Ash , Rasulullah Saw bersabda :

الدُّنْيا مَتَاعٌ, وخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيا المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Artinya : “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri shalihah”

          Istri dalam istilah jawa disebut garwa, yaitu dari sebuah tembung  yang berasal dari kalimat sigaraning nyawa (Separuhnya nyawa). Jadi istri adalah bagian yang tidak terpisah dari seorang suami, baik secara lahiriah maupun ruhiyah. Istri adalah bagian dari suami itu sendiri, begitu pula suami bagian yang tidak terpisah dari seorang istri.

          Oleh karena itu, Rasulullah Saw menganjurkan untuk memilih istri yang baik, karena istri yang baik dan shalihah adalah sebaik-baik perhiasan di dunia. Istri adalah pendamping hidup di dunia, jika pendamping kita baik, maka baik pula urusan kita di dunia, begitupula sebaliknya jika pendamping kita jahat tentu akan membuat kehidupan dunia kita juga sengsara.

          Diantara metode untuk memiliki anak yang sholihah adalah dengan cara memilihkan calon untuk anak-anak kita ibu yang sholihah. Seorang ibu yang sholihah, secara DNA telah mewariskan kebaikan-kebaikan untuk calon anak-anaknya. Selain pewarisan kebaikan secara genetis, tentu ibu yang sholihah akan memberikan keteladanan yang baik untuk anak-anaknya kelak.

          Mbah Moen Sarang (KH. Maimoen Zubair) pernah dawuh, jika ingin memiliki anak yang alim dan sholeh, maka dalam memilih istri hendaknya mencari wanita yang wira’i dan sufi, “Nek milih bojo iku sing ora patiyo ngerti dunyo. Mergo sepiro anakmu sholeh, sepiro sholehahe ibune”, begitu dawuh beliau.

          Di dalam Al Qur’an istri disebut sebagai ladang, “Nisaa’ukum harsul lakum” istrimu adalah ladang tempatmu bercocok tanam. Jika ladang kita subur maka bibit yang kita tanam akan tumbuh berkembang dengan baik, begitu juga jika ladangnya kering kerontang, sebaik apapun bibit yang kita tanam tidak akan tumbuh dengan baik.

          Oleh karena itu pilihlah ladang yang baik dan subur untuk bibit yang akan kita tanam, agar kelak menghasilkan tanaman yang baik dan bermanfaat. Dalam khasanah masyarakat Jawa dalam memilih jodoh itu harus mempertimbangkan bibit, bobot, dan bebetnya.

          Bibit adalah melihat asal-usul atau keturunan. bibit ini tentu sangat penting walaupun tidak mutlak, karena kadang pula ada seorang yang baik terlahir dari keturunan yang tidak baik. Tetapi bibit ini menjadi salah satu faktor dalam memilih jodoh, karena kita tentu tidak mau membeli kucing dalam karung bukan ?

          Sebagaimana bentuk fisik seperti warna rambut, warna kulit, tinggi badan dan sebagainya yang menurun kepada anak-anaknya, tentu secara kejiwaan juga ada hal-hal yang diwariskan kepada keturunannya. Oleh karena itu bibit ini sangat penting untuk memilih calon istri maupun calon suami. Karena hanya sumber yang jernih yang akan mengalirkan air yang jerih pula.

          Bobot adalah kualitas dari calon yang akan kita pilih, baik secara  lahiriah maupun batiniah.  Kualitas diri seseorang tentu sangat penting sekali, oleh karena itu jika kita ingin mencari jodoh yang berkualitas maka kita juga harus memantaskan diri. Dalam bahasa Al Qur’an dinyatakan “lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula”

          Bebet adalah status sosial dalam masyarakat. Bebet ini di posisi yang ketiga atau terakhir, karena memang status sosial atau harkat dan martabat juga penting, walaupun tidak menjadi sebuah prioritas. Jika bebet ini dalam rangka mencari orang yang baik dan orang yang bermanfaat tentu tidak ada salahnya sama sekali justru sangat dianjurkan untuk menjadi orang yang bermartabat. Daripada memilih orang yang tidak memiliki peran kebaikan apapun untuk lingkungannya. Jadi bebet di sini bukan untuk gaya-gayaan dan sombong-sombongan tapi murni mencari kebaikan baik untuk rumah tangga yang akan kita bangun dan untuk masyarakat yang kita tempati.

          

Minggu, 12 Februari 2017

Membaca Pram : Hidup, Karya, dan Penjara

Membaca Pram : Hidup, Karya, dan Penjara
Oleh : Joyojuwoto

Idealnya untuk membaca seorang Pram (Pramoedya Ananta Toer), hendaknya kita harus menyelami huruf per huruf, kata per kata dan kalimat per kalimat dari samudera karya-karya beliau yang sangat dalam dan luas. Ada banyak karya yang ditulis oleh seorang sastrawan ternama dari kota Blora ini. Ada puluhan judul tulisan yang ia hasilkan, entah itu yang sudah terbit atau yang hilang karena sikap vandalisme dari kelompok-kelompok tertentu yang tidak menyukainya.

Tapi begitulah seorang Pram, ia ibarat samudera luas yang tak terbatas. Gelegak dan gelombang jiwanya meletup-letup, menebar angin badai dan amukan topan yang menerjang tatanan karang-karang kesombongan dan kepongahan kaum feodalistik. Dengan kalam dan qalam-nya, pram mampu membangkitkan daya energi kata yang maha dahsyat, untuk membela kemanusiaan dan keadilan dengan suara yang lantang, dan ini hanya bisa dilakukan oleh seorang lelaki pemberani.

Pram menurut saya adalah sebuah fenomena, dalam sejarah panjang bangsa ini, belum tentu kan lahir Pram-Pram yang lain. Jika dalam urusan agama, Rasulullah Saw bersabda :

إنّ اللهَ يبعثُ لهذهِ الأمّةِ على رأسِ كلِّ مِائَةِ سنةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لها دينَها

Artinya : Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini orang yang akan memperbarui urusan agama mereka pada setiap akhir seratus tahun. (HR. Abu Dawud, No. 4291)

Ketika Pram masih di penjara di pulau Buru Prof. Teeuw pernah menulis “kendati apa pun dikatakan mengenainya, Pramoedya tetap merupakan penulis yang hanya satu lahir dalam satu generasi, bahkan satu dalam satu abad.”

Maka jika boleh saya ibaratkan, atau saya kiaskan sebagaimana hadits di atas, Pram dengan segala kekurangan dan kelebihannya adalah seorang tokoh pendobrak dan pembaharu dalam term dunia sastra Indonesia. Seperti yang sering saya tulis, bahwa tulisan itu seharusnya tidak hanya sekedar bunga-bunga kata tanpa makna, namun lebih dari itu tulisan harus memberikan ruang bagi peri-kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat. Atau lebih tepatnya Pram selalu memegang teguh kredo sastra sebagai realisme sosial.

Keterpihakan karya Pram terhadap isu-isu sosial inilah yang menurut saya menjaga ruh dan nilai dari karya-karya Pram untuk terus hidup dan selalu hadir di setiap tikungan sejarah. Pram menurut saya tidak hanya sekedar penulis, tidak hanya sekedar sastrawan, namun melaui karya-karyanya Pram adalah sosok pejuang kemanusiaan. Ilmuwan dan kritikus sastra Indonesia A. Teeuw menulis “Pramoedya Ananta Toer-De Veerbelding Van Indonesie, lebih lanjut A. Teeuw mengatakan bahwa “... bagi Pramodya Ananta Toer menulis adalah berjuang untuk kemanusiaan. 

Jika kita membaca Pram, akan kita dapati Pram adalah sosok yang penuh idealisme, keras kepala, dan tidak pernah mau menundukkan kepala di hadapan siapapun juga. Walau diancam penjara, dipopor gagang bedil, Pram tak pernah takut, Pram tak pernah ciut nyali. Pram adalah lelaki pemberani, itu pula yang sering ia katakan “Kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”

Pram itu ibarat api yang berkobar-kobar, api yang melawan segala bentuk kebekuan zaman, api yang akan membakar dan menghanguskan tembok-tembok feodalistik yang mengekang zaman. Pram sama sekali tidak ada kata kompromi, dalam kamus hidupnya hanya ada satu kata “Lawan segala kesewenang-wenangan.” Jadi tidak mengherankan jika hidupnya dipenuhi dengan drama di balik penjara.

Hampir separoh hidupnya, Pram ada di balik penjara mulai penjara zaman kolonial hingga penjara saat matahari kemerdekaan terbit dari ufuk cakrawala bumi Nusantara. Ya mungkin begitulah garis takdir yang dipilihkan Tuhan untuknya.

Penjara mungkin mampu mengurung dan membatasi gerak fisik manusia, namun penjara tidak pernah mampu membatasi gerak batin dan gerak jiwa seseorang. Lihatlah betapa banyak karya-karya besar dan monumental yang lahir dari balik jeruji penjara. Sayyid Qutub menulis tafsir Fi Dzilalil Qur’an saat beliau di penjara, Buya Hamka menghasilkan karua tafsir Al Azhar juga saat dipenjara oleh rezim penguasa, dan Pram pun melahirkan Tetralogi Pulau Buru pun saat ia di asingkan dan di penjara.

Penjara bagi sebagian orang adalah tempat yang sangat mengerikan, keterasingan dan isolasi sosial yang menakutkan. Bahkan penjara adalah label yang negatif bagi pandangan masyarakat kita. Padahal banyak orang yang dipenjara bukan karena perbuatan buruknya, bukan karena kejahatannya, justru mereka dipenjara karena keteguhannya dalam beridealisme. Seperti tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas.

Sebagaimana manusia lumrah, Pram juga tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Jika kita ingin membaca Pram secara utuh memang idealnya harus kita khatamkan seluruh karya-karya Pram. Itu pun belum menjamin mampu membaca secara objektif seorang Pram. Oleh karena itu sebagaimana yang sering Pram katakan “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Agar ada keseimbangan dan keadilan, saya juga akan mengupas sedikit tentang sisi lain Pram, selain sebagai seorang yang memegang teguh aliran sastra realisme sosial. Sebagai seorang yang dituduh menganut paham kiri (baca komunis), Pram memang seakan memiliki perasaan yang sentimentil terhadap sesuatu yang berbau Islam. Pram seperti sangat membenci dan anti terhadap simbol-simbol santri.

Dalam beberapa karyanya yang sempat saya baca, ada aroma permusuhan yang memang diciptakan oleh Pram kepada kaum santri. Sebagai seorang yang matang dalam dunia sastra, ia memang tidak secara frontal berkonfrontasi dengan simbol ajaran Islam. Ada beberapa hal yang kadang seakan-akan nuansa kebencian itu ia tuliskan. Seperti dalam kisah Gadis pantai, Midah, kemudian juga dalam karya Arus Balik.

Jika sekilas kita memandangnya mungkin pandangan bahwa Pram anti Islam itu ada, namun jika kita berfikir jernih maka bisa dikatakan Pram hanya benci kepada para pemeluk agama Islam yang tidak mengaplikasikan Islam dengan sebenar-benarnya, bukan pada ajaran Islamnya. Menurut saya, semua saya serahkan kepada pembaca, bagaimana ia menafsirinya. Karena bagaimanapun pembaca berhak untuk itu semua.

Sebagai manusia dengan idealismenya saya kira lumrah kita berpihak pada apa dan siapa. Tidak ada kata netral dalam kehidupan, diakui atau tidak pasti kita punya ambisi dan keberpihakan, dan itu sah dan lumrah, yang terpenting kita bisa bertanggungjawab atas pilihan kita masing-masing. Bertanggungjawab kepada nilai kemanusiaan maupun nilai ketuhanan.
Sekian terima kasih.


Disampaikan dalam Ngaji Literasi Komunitas Kali Kening #11

Banjarworo, 12/02/17