Minggu, 15 Januari 2017

Tuban Anti Hoax : Tau Enggak Hoax Itu Lebih Kejam Daripada Pembunuhan

Tuban Anti Hoax : Tau Enggak Hoax Itu Lebih Kejam Daripada Pembunuhan
Oleh : Joyojuwoto

Akhir-akhir ini  istilah kata hoax sangat marak ditulis dan diperbincangkan, baik di media sosial maupun di kehidupan nyata sehari-hari. Hoax sendiri berasal dari bahasa Inggris yang artinya adalah berita bohong, kabar burung, informasi palsu, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan ketidakbenaran suatu berita. Dalam bahasa agama hoax  ini bisa dikategorikan atau bisa disebut sebagai fitnah.

Jika fitnah sangat dibenci oleh agama, begitu pula dengan hoax juga sangat dibenci karena kemudharatannya yang membahayakan segi-segi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu siapapun yang ikut membagikan, menyebarkan dan memviralkan, mendistribusikan berita hoax maka ia bisa kena tindak pidana dengan ancaman hukuman enam tahun penjara dan denda 1 milyar, sesuai yang termaktub dalam pasal 28 ayat 1 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Sebagai seorang Muslim yang baik, jangan sampai kita melakukan aktifitas baik itu mengirim, mengeshare, me-ngelike sebuah tulisan yang tidak atau belum tahu asal-usul dan sumbernya secara jelas, karena hal ini biasanya yang menjadikan kita terjebak dalam hoax. Oleh karena itu hendaknya kita bisa membiasakan dan menahan diri dari menyebarkan sebuah berita yang belum jelas sumbernya. Perlu ada cek and ricek, saring sebelum sharing dan tentu kita perlu melakukan verifikasi dan tabayun terlebih dahulu kepada pihak yang terkait sebelum kita ikut-ikutan mengesharenya .

Kita harus menyadari bahwa, mengeshare sebuah berita hoax di media sosial merupakan tindakan dan perbuatan yang melanggar etika dan moral beragama. Jadi melakukan hoax, baik itu mengelike dan mengeshare sebuah konten yang berisi berita palsu maka bisa dikategorikan sebagai perbuatan fitnah. Dalam ajaran agama fitnah lebih kejam daripada sebuah pembunuhan. Jadi kita juga bisa memakai slogan “Hoax lebih kejam daripada pembunuhan.” Sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 217 yang berbunyi :
والفتنة أكبر من القتل
Artinya : “Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”

Berita hoax atau fitnah tidak hanya mengancam eksistensi persatuan dan kesatuan bangsa dan negara, namun juga menjadikan kondisi masyarakat tidak stabil, resah, dan selalu dirundung kecemasan serta memancing konflik dan kebencian. Oleh karena itu masyarakat yang sudah jengah dan gerah dengan beredarnya berita-berita palsu di sosial media di beberapa kota di Indonesia beberapa hari yang silam mendeklarasikan Masyarakat Anti Hoax.

Kami pun dari kelompok nitizen dan blogger Tuban ingin memberikan sedikit sumbangsih tulisan yang bertemakan “Tuban Anti Hoax.” Tulisan ini nantinya akan posting di blog kami masing-masing, dan akan kami viralkan di sosial media dengan harapan dan tujuan agar blogger Tuban khususnya selalu berhati-hati dan mawas diri agar jangan ikut-ikutan terjebak dalam penyebaran berita-berita yang berbau hoax.

Kami para blogger, ingin ikut serta mengkampanyekan berinternet dan bersosial media yang sehat, dengan cara menghindari membagikan konten-konten baik itu link berita, gambar atau foto meme, atau hal-hal lain yang berkenaan dengan pemberitaan yang bernada menghasut dan menciptakan kebencian di tengah-tengah masyarakat luas.

Sebagai seorang yang terpelajar, tentunya kita harus melakukan perlawanan terhadap segala bentuk hoax, dengan data yang valid dan kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena ciri dan watak seorang terpelajar adalah berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan, sebagaimana yang diungkapkan oleh sastrawan dari Blora, Pramoedya Ananta Toer.

Mari bersama blogger Tuban mendeklarasikan gerakan melawan segala bentuk hoak dengan akal sehat dan pikiran yang terbuka luas. Teliti sebelum membagi, saring sebelum sharing, cek dan ricek sebelum menekan tombol like. Salam BT (bloggertuban).




Sabtu, 14 Januari 2017

Ajari Anakmu Berenang

Ajari Anakmu Berenang
Oleh : Joyojuwoto

Dunia anak adalah dunia bermain, anak akan sangat menyukai segala bentuk permainan yang mengeksplor segala kemampuan gerak fisik maupun psikologis anak. Oleh karena itu anak sangat suka aktif bergerak tanpa mengenal lelah.  Diantara permainan yang sangat bagus dan digemari  anak-anak adalah bermain air. 

Media bermain di air seperti berenang sangat bagus untuk perkembangan anak, karena selain berfungsi melatih gerak otot anak, berenang ini juga bisa meningkatkan keberanian pada anak, selain itu tentu kemampuan berenang ini bisa dijadikan modal dasar agar anak bisa beradabtasi dengan dunia ait. 

Membekali anak dengan kemampuan berenang ini sangat penting sekali untuk menghindarkan diri  si anak dari bahaya tenggelam. Betapa banyak kejadian anak-anak bermain di air kemudian tenggelam tanpa mampu menyelamatkan dirinya dari bahaya air, padahal wahana air ini sangat disukai anak tanpa tahu akan bahaya yang mengancamnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ad Dailamiy, Rasulullah saw bersabda : 
"'Allimuu aulaadakum al sibaahata wal rimaayata"  

Artinya : "Ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah"

Hadits Nabi di atas menganjurkan agar kita membekali anak kemampuan dasar untuk membela diri yaitu dengan berenang dan memanah. Dalam Hafits lain pun Rasulullah saw memerintahkan agar orang tua mengajari anak-anak mereka menunggang kuda.

Dari sini dapat diambil pelajatran bahwa Rasulullah saw menginginkan umatnya menjadi umat yang kuat dan terbaik. Mampu mempertahankan harga dirinya, membela kaum lemah, dan tentu kemampuan itu bisa dipakai untuk berjihad di jalan Allah swt. 

Oleh karena itu, ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah sebagaaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah saw.



Rabu, 11 Januari 2017

Seruling Senja

Seruling Senja
Oleh : Joyo Juwoto

“Gimana Ngger, bapak dan Emak tidak sanggup menyekolahkanmu ke SMP ? Tidak ada biayanya”

Suara bapak pelan namun agak bergetar, mungkin beliau menahan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam dirinya sendiri, pertarungan batin antara kecewa, marah, dan ketidakberdayaan menghadapi kenyataan bahwa anaknya hanya akan lulus Sekolah Dasar saja, tanpa sanggup melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Aku hanya diam tertunduk, keinginanku untuk bisa sekolah di kota kecamatan akan kandas walau sebenarnya aku sangat menginginkannya. Aku ingin seperti teman-teman sebayaku, yang setelah lulus dari SD di kampung, mereka melanjutkan sekolah ke SMP yang ada di kota kecamatan.

Betapa riang dan gembiranya mereka, senyum anak-anak yang mulai menginjak remaja dengan semangat dan harapan serta cita-cita yang melambung tinggi di angkasa. Tiap pagi mereka akan memakai seragam yang tidak lagi merah putih, seperti waktu di SD, bersepatu rapi, menenteng tas di punggung, tiap pagi hari mengayuh harapan dengan riang, bersama-sama berangkat sekolah ke tempat yang lebih jauh lagi, yaitu di kota Kecamatan.

“Ah bahagianya mereka yang  bisa melanjutkan sekolah ke SMP, mereka akan memiliki teman-teman baru, pengalaman baru, dan tentu mereka akan sering melihat mobil yang ada di jalan-jalan besar di kota kecamatan” batinku sambil tetap terdiam di hadapan bapak.

Bapak masih duduk di dingklik sambil menghabiskan lintingan kreteknya yang terbuat dari klobot jagung. Kadang beliau terbatuk-batuk karena kreteknya hanya berisi tembakau magak yang tidak ada campuran cengkehnya. Bisa rokokan seperti itu saja sudah suatu keberuntungan di tengah kondisi ekonomi yang memang serba susah. Sesekali beliau menarik nafas panjangnya, kemudian melepaskannya pelan-pelan. Seakan ingin membuang beban kehidupan yang menghimpit dadanya yang ceking itu dengan perlahan.

“Aku harap kamu tidak kecewa dengan keputusan bapak dan emak, tahun depan kalau ada rejeki kamu boleh melanjutkan sekolahmu” lanjut bapak agak ragu sambil memberikan harapan kepadaku yang masih terdiam di depannya.

“Tidak papa bapak aku tidak jadi melanjutkan ke SMP, toh di rumah bisa membantu bapak dan  emak di sawah, kalau tidak begitu aku mau jadi pangon sapi  di Ndoro Bandi, nanti kalau dapat bagian akan kupergunakan untuk biaya sekolah di tahun depan”

Bapak sebenarnya kurang setuju aku jadi pangon, walau sebenarnya pekerjaan pangon sudah kuakrabi sejak kecil. Menggembala sapi, menyabit rumput, membersihkan kandang sapi, ngguyang sapi di kali, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang berkenaan dengan dunia seorang gembala.

Aku sangat mencintai dunia gembala, siang hari biasanya kami membawa sapi-sapi ke tepi hutan untuk merumput, di sana bersama gembala lain yang juga anak-anak sekampungku akan bersama menunggui sapi-sapi itu dengan berbagai kesibukan yang menyenangkan. Mulai dari mencari belalang, jamur, burung dan buah-buahan liar di hutan.

Menjelang senja berwarna jingga, kami akan menggiring sapi-sapi pulang ke kandang, kami kadang menaiki punggung sapi sambil berdendang riang dengan seruling yang mendayu memenuhi lembah dan sawah. Sebelum sampai rumah, sapi-sapi itu akan melepas lelah untuk minum dan mandi di kedung sungai yang jernih. Kami pun mandi bersama sapi-sapi itu.

Walau demikian, menjadi seorang pangon bukanlah pekerjaan yang enak, walau nanti sang pangon dapat paroan dari anak-anak sapi yang digembalakannya, biasanya satu tahun berlalu sapi baru akan punya seekor anak, dan itu menjadi haknya Ndoro, di tahun berikutnya jika sapi beranak lagi baru menjadi haknya pangon. Hampir selama dua tahun pangon bekerja keras siang dan malam pada seorang Ndoro tanpa dibayar. Baru di akhir tahun kedua pangon akan mendapatkan haknya, seekor Pedet. Setelah itu terserah sama pangon, ingin melanjutkan menjadi pangon atau memutuskan untuk keluar saja.

Bapak punya dua ekor sapi, sapi itu dipakai untuk mengerjakan ladang yang hanya beberapa petak saja. Akulah yang bertanggungjawab mengurusi sapi-sapi itu. Jika tidak pada masa menggarap ladang dan sawah, sapi itu aku gembalakan di padang rumput di tepi hutan, kalau tidak gitu, aku harus menyabit rumput untuk persediaan makanan sapi.

“Kamu tidak perlu menjadi pangon, kedua sapi itu saja kamu urusi. Carikan rumput atau bawa ke tepi hutan biar mencari rumput segar di sana. Nanti jika si babon beranak juga bisa kamu pakai untuk biaya sekolah” Kata bapak menjawab keinginanku untuk menjadi pangon.
***

Siang hari setelah dari sekolah biasanya aku pergi ke tepi hutan untuk menggembalakan sapi, kalau tidak begitu ya mencari rumput di tegalan, pada malam harinya kami anak-anak kampung pergi ke langgar untuk mengaji dan tidur di sana. Anak lelaki usia delapan hingga sepuluh tahun di kampungku pantang tidur di rumah, mereka biasanya akan tidur bersama-sama di langgar kampung.

Tapi kali ini beda, pagi hari aku sudah tidak sekolah, karena memang aku tidak melanjutkan ke SMP idaman di kota kecamatan. Aku jadi banyak waktu nganggur di rumah. Walau nanti siang dan malam hari aktivitasku tetaplah sama, bersama teman-teman menggembalakan sapi dan malam harinya mengaji di langgar.

Tiap pagi sekarang kesibukanku berubah, jika dulu setelah bangun pagi, mandi, sarapan pagi, kemudian pergi ke sekolah di SDN Sidotentrem II yang tidak begitu jauh dari rumah. Sekarang pagi hari aku harus mencari kesibukan baru, jika teman-temanku pergi mengayuh sepedanya ke kota kecamatan, sedang diriku pagi hari harus segera mencari rumput untuk si babon, agar si babon cepat gemuk dan segera bunting.


Bagaimanapun cita-citaku untuk bisa melanjutkan sekolah di SMP di kota kecamatan tidak boleh tertunda lagi. Aku ingin punya pengalaman baru, teman baru, harapan baru, dan aku ingin melihat mobil-mobil yang menderu di jalan raya di kota kecamatan.