Kamis, 11 Desember 2014

“Shalawat Hajiyyah”



Foto : http://www.belantaraindonesia.org/2012/07/5-fakta-unik-tentang-kabah.html
“Shalawat Hajiyyah”

اللّهمّ صلّ على سيّدنا محمّدٍ صلاة تبلغنا بها حجّ بيتك الحرام
وزيارة قبر نبيّك عليه افضل الصّلاة والسّلام في لطفٍ وعافيةٍ وسلامةٍ وبلوغ المرام وعلى آله وصحبه وبارك وسلّم

“Ya Allah, berikan rahmat ta;dzim kepada junjungan kami Muhammad, sebuah rahmat ta’dzim yang dengannya Engkau menghantarkan kami (memenuhi ibadah) haji ke rumah-Mu yang haram, dan menziarahi kubur Nabi-Mu, kepadanya semoga tercurahkan seutama-utama rahmat ta’dzim dan salam sejahtera dalam kelembutan, kesehatan, keselamatan dan sampainya tujuan. Dan kepada keluarga dan sahabat-sahabat beliau. Dan berikan keberkahan dan salam sejahtera (kepadanya).”

Keterangan : Shalawat ini sangat berguna bagi orang yang ingin menunaikan ibadah haji, ynag sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi masih saja ada kendala, baik itu yang berupa materi, kesehatan badan maupun persoalan-persoalan yang lain, maka hendaknya ia sering mengamalkan shalawat ini. Jwt

Rabu, 03 Desember 2014

Shalawat Naqsabandiyah



        Shalawat Naqsabandiyah

اللهمّ صلّ على سيّدنا محمّدٍ وعلى ال سيّدنا محمّدٍ 
عدد كلُّ داءٍ ودواءٍ وبارك وسلّم عليه وعليهم كثيراً

“Ya Allah, curahkanlah rahmat ta’dzim kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dan kepada keluarga junjungan kami Muhammad menurut bilangan seluruh penyakit dan obat. Dan semoga Engkau memberikan keberkahan dan keselamatan yang banyak kepada nabi Muhammad dan keluarganya”

            Shalawat ini berasal dari Syekh Khalid an-Naq Syabandi, pembaharu tarekat Naqsabandiyah, ia mengatakan : “Bahwasanya shalawat ini sangat baik sekali untuk membentengi diri dari kejahatan penguasa yang dzalim. Menjaga kehormatan diri atau tipu daya setan, bahkan ada sebagian orang yang menjadikan shalawat Naqsabandiyah sebagai perantara untuk menyembuhkan penyakit panas. Jwt.

Sumber : Keajaiban shalawat Nabi

Senin, 01 Desember 2014

“Legawa”



“Legawa”

Akhir-akhir ini kata “legawa” marak dipakai dalam perbincangan-perbincangan baik di tengah-tngah masyarakat  ataupun di social media. Legawa sejatinya berasal dari bahasa Jawa namun telah diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Biasanya penggunaan legawa di dalam bahasa Jawa disertai kata “lila legawa”. Kata legawa itu menggambarkan sikap batin yang ikhlas, rela, dan tidak merasa kecewa terhadap apa yang telah terjadi.

Kata legawa tegese nampa kanthi ati longgar, menerima segala sesuatu dengan hati lapang dada dan ikhlas. Jika dalam sebuah kompetisi harus kalah maka ia  bisa menerima kekalahan itu, dan sebaliknya jika menang tidak terlalu pongah dan sombong. Kayaknya kata legawa memang perlu dijadikan semisal keyword dalam kehidupan masyarakat kita yang memang beraneka ragam dan multicultural ini, agar tidak terjadi gesekan diakar rumput.

Segala perbuatan pasti ada konsekuensinya tersendiri. “wong kuwi bakal ngunduh wohing pakerti”. Dan perlu diingat tidak semua yang menjadi cita-cita kita pasti terlaksana oleh karena itu sikap legawa ini perlu dimiliki oleh orang yang hidup penuh dengan kompetisi dan persaingan.
Setiap manusia hendaknya menjaga sikap legawa ini, karena manusia hanya bias berusaha sedang kepastian berada pada takdir Tuhan. Ingatlah selalu “Ana Urid, Anta Turid, WAllahu yaf’alu maa yurid”.  Saya punya keinginan, kamu pun punya keinginan, namun Allah berkehendak sesuai dengamn qudrah-NYA”.

Manusia bisa saja sakit, manusia tentu punya rasa susah, dan manusia mungkin berada pada nasib yang tidak baik, menjadi tua dan kemudian mati. Kalau memang  sudah takdirnya, manusia hanya bisa pasrah terhadap Tuhan. Walau ikhtiar tidak boleh kita tinggalkan, namun manusia tidak akan pernah keluar dari bingkai takdir Tuhan. “Ora ono kesekten kang bias madani pepesthen” tidak ada satu pun kesaktian didunia ini yang mampu mengalahkan takdir Tuhan. Dalam Hikamnya ibnu Athaillah as Sakandari menyatakan :
سوابق الهمم لا تخرق أسوار الأقدار
“Kekuatan semangat (azam, cita-cita, ikhtiar) tidak akan mampu memecahkan benteng takdir”

Oleh karena itu kita perlu legawa, ridha, dan ikhlas menjalani kehidupan ini. KGPAA Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama mengingatkan agar kita memiliki tiga sifat utama yaitu :
1    .       Lila lamun kelangan (Ikhlas apabila kehilangan sesuatu)
2    .       Trima yen ketaman (Lapang dada jika terkena musibah)
3    .       Legawa lan pasrah marang sing gawe urip ( Ridha terhadap ketentuan Tuhan)

“Lila lamun
kelangan nora gegetun
trima yen ketaman
sak serik sameng dumadi
tri lagawa nalangsa srah ing bathara”

Jwt. 1/12/2014