Kamis, 03 Oktober 2019

Dendang Cinta Ibn ‘Arabi


Dendang Cinta Ibn ‘Arabi

Bagi para penjelajah di dunia sufi mungkin tidak asing dengan beliau, Ibn ‘arabi, seorang Syekh Sufi Agung nan Akbar yang banyak menuai kontroversi di dunia Islam. Saya sendiri bukanlah seorang yang menekuni di dunia kesufian, atau melakukan penelitian yang mendalam tentang tokoh-tokoh sufi, saya hanyalah pmbelajar yang sedang memiliki kecenderungan untuk membaca beberapa karya tokoh-tokoh sufi, termasuk di dalamnya adalah Muhammad Ibn ‘Ali Muhammad Ibn ‘Arabi at-Ta’i al-Hatimi, atau yang masyhur dipanggil dengan sebutan Muhyi ad-Din Ibn ‘Arabi.

Walau ketenaran dari Ibn ‘Arabi banyak diungkapkan oleh orang-orang Barat, namun ternyata umat Islam secara mayoritas banyak yang tidak mengenal beliau. Jika di dunia pesantren sangat akrab dengan karya ulama-ulama terkemuka seperti Ihya’ Ulumuddinnya Imam Al Ghazali, sangat dekat dengan kitab monumentalnya Ibn Athaillah as-Sakandari yaitu kajian Al Hikam, kemudian santri-santri pondok pesantren juga sangat familiar dengan kitab-kitab dalam disiplin ilmu fikih semisal Taqrib, Safinatun Najah, dan ratusan kitab fikih lainnya, namun tidak dengan karya ulama-ulama sufi semisal Ibn ‘Arabi, maupun Jalaluddin Rumi.

Saya sendiri belum pernah melihat para santri mengaji kitab-kitabnya dua ulama sufi yang saya sebutkan di atas, bahkan saya saya sendiri belum pernah melihat wujud fisik kitabnya Ibn ‘Arabi. Saya tertarik dengan Ibn ‘Arabi dari pauisi-puisi dan ajaran cinta yang beliau tuangkan dalam tulisan-tulisannya. Baik itu tulisan yang berupa kutipan yang banyak berseliweran di media sosial, maupun dari buku-buku yang saya baca. Dari ketertarikan tersebut kemudian saya membaca buku Semesta Cinta Ibn ‘Arabi yang diterjemahkan oleh Kiai Aguk Irawan MN. dan Kaserun, kemudian saya juga membaca Semesta Cinta, Pengantar kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi karya Haidar Bagir. Karena rasa penasaran dengan Ibn ‘Arabi semakin menjadi, kemudian saya membaca buku Fusus Al-Hikam, hasilnya mumet sendiri.
Ibn ‘Arabi adalah salah seorang tokoh sufi falsafi yang terlahir di kota Murcia Spanyol, pada tanggal 27 Ramadan 560 H atau bertepatan tanggal 17 Agustus 1165 M. Ibn ‘Arabi banyak berguru kepada ulama-ulama besar pada zamannya, namun yang akhirnya mampu menjadikannya  sebagai sufi besar adalah guru beliau, seorang gnostikus wanita dari Sevilla, yang bernama Fatimah binti al-Musanna. Kepada gurunya inilah Ibn ‘Arabi mendarma baktikan hidupnya selama beberapa tahun untuk Sang guru. Menurut penuturan dari Ibn ‘Arabi gurunya pernah berkata kepadanya demikian:

“Aku adalah ibu spiritual dan cahaya ibu duniawimu.”

Dari perkataan ini jelas sekali bahwa spiritual Ibn ‘Arabi sangat diperhatikan oleh gurunya yang saat itu sudah berusia sekitar sembilan puluh lima tahun. Usia yang sudah cukup tua. Walau demikian kebijaksanaan dan nilai spritual Fatimah binti Al-Musanna tidak diragukan lagi.

Pada dasarnya pemikiran dari Ibn ‘Arabi didasarkan pada pemahaman sebuah hadits qudsi yang berbunyi:
كنت كنزا لم أعرف فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق وتعرّفتُ إليهم فعرفونى

Artinya, “Aku adalah harta terpendam yang tak dikenal. Aku ingin dikenal, maka kuciptakan makhluk, lalu aku memperkenalkan diri kepada mereka, hingga mereka mengenal-Ku.”

             Cinta menjadi alasan bagi Allah swt menciptakan makhluk dan semesta raya ini, agar Ia dikenali sebagai Sang Pencipta, agar Ia dikenali entitasnya sebagai Tuhan semesta raya. Dalam sebuah puisinya Ibn ‘Arabi berdendang:

             Bila tiada cinta, maka tak dikenallah Sang Pencinta
             Bila tiada kefakiran, maka tak disembahlah Sang Penderma
Kami ada karena Dia, dan kami adalah milik-Nya semua
Dari cintaku lah kepada-Nya bertaut
Bila Tuhan menghendaki wujud entitas
Yang Dia kehendaki, maka berlalulah pertentangan
Kami ada di sini “Kun” tanpa pengangguhan
Sifat jagad inilah yang diambil guna
Entitas cinta adalah entitas jagad semesta
yang diidentifikasi lalu ditimbulkan oleh cinta
            
             Dari konsep hadits qudsi inilah kemudian dikembangkan dan diolah oleh Ibn ‘Arabi menjadi puisi-puisi dan ajaran filsafat mahabbah (cinta), yang akhirnya mengilhami banyak karya terlahir dari rahim pemikiran beliau.

             Di dalam Al-Qur’an maupun hadits sendiri sebenarnya banyak memuat tentang konsep mahabbah (cinta). Dalam surat Ali Imron ayat 31 Allah berfirman: “Katakanlah (hai Muhammad), jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kamu.” Dalam sebuah hadits Nabi dikatakan: “Salah seorang di antara kamu tidaklah beriman (secara sempurna), sebelum mencintai aku lebih dari harta, anak, keluarga dan jiwa yang ada dalam dirinya.” Dalam hadits Qudsi Allah swt juga berfirman:

“Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan mengerjakan ibdah-ibadah sunah, hingga Aku mencintainya.”

             Dalam sebuah syairnya, Ibn ‘Arabi mendendangkan puisi tentang kemuliaan dari cinta:
             Dari cinta kita muncul dan atas cinta kita dicipta
Karena itu, sengaja kita datang padanya
dan karena inilah, kita benar-benar diterima
(Fushush al-Hikam:2/322)


Walau belum begitu memahami jejak pemikiran Ibn ‘Arabi secara mendalam, saya berkhusnudzon saja, semoga kelak pada suatu waktu Allah membukakan kefahaman tentang pengetahuan tersebut. Saya selalu mempercayai bahwa apapun yang kita baca walau mungkin belum paham sekalipun, ada hikmah yang bisa kita petik, ada hal bisa kita ambil sebisa kita yang membawa perubahan positif dalam diri ini. Setidaknya ajaran cinta dan kasih sayang yang diajarkan oleh ulama-ulama tersebut bisa kita implementasikan dalam kehidupan kita. sekecil apapun itu.

Jadi, ilmu itu sebenarnya di tingkah laku dan perbuatan, bukan hanya sekedar menguasai banyak teori pengetahuan namun nir amal. Orang Jawa bilang “Ngelmu iki kalakone kanthi laku.” sebanyak apapun teori pengetahuan kita hafal di luar kepala, jika tidak kita implementasikan dalam perbuatan nyata dalam kehidupan, maka hal tersebut hanyalah kesia-siaan belaka. Tidak ada nilainya di hadapan Allah swt. Oleh karena itu ketika saya membaca buku-buku yang berkenaan dengan Ibn ‘Arabi, saya punya harapan bisa tertulari kekuatan cinta, dan hidup dalam bingkai cinta kepada Tuhan dan juga cinta terhadap nilai-nilai kemanusiaan tentunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar