Dakwah Pangeran Bonang
Oleh: Joyo Juwoto
Bagi saya, membaca kisah-kisah orang-orang sholih cukup menyenangkan, begitu juga membaca cerita Walisongo juga tak kalah menariknya. Saya selalu betah dan suka membaca cerita-cerita, apalagi ada bumbu-bumbu mistik di dalamnya. Selain itu tentu ada banyak hikmah yang bisa kita gali dan kita petik darinya.
Pada kesempatan ini saya ingin mengulas sedikit mengenai kisah dakwah dan perjuangan salah satu Walisongo yang masyhur, yaitu Raden Makhdum Ibrahim, atau dikenal dengan sebutan sunan Bonang.
Buku yang saya baca tentang Sunan Bonang tergolong sangat tipis. Tebalnya hanya 39 halaman. Buku ini adalah salah satu serial dari buku Walisongo yang ditulis oleh M. Hariwijaya. Saya sebenarnya sempat mencari seri buku wali lainnya, tapi saya belum menemukan, mungkin saja sudah tidak dicetak.
Walau terbilang tipis, buku ini cukup bagus dan enak untuk dibaca. Buku yang dicetak di Yogyakarta tahun 2006 silam ini memuat lima bab.
Bab 1 Raden Makhdum Ibrahim
Bab 2 Mengungguli Ilmu para Brahmana
Bab 3 Pondok pesantren Bonang
Bab 4 Sufisme Sunan Bonang
Bab 5 Akhir Hayat Sunan Bonang
Dari bab 1 hingga bab 5 kisah dari Sunan Bonang dikisahkan relatif enak dan mudah dipahami. Saya lancar-lancar saja dalam membacanya. Karena kisah-kisah tersebut sudah sering saya baca di buku-buku lainnya. Hanya pada bab ke-4 saya agak kesusahan dalam memahami ajaran sufisme Sunan Bonang.
Di bab 4 ini banyak ajaran tasawuf yang dibabar oleh penulis. Perlu pendalaman dan referensi yang banyak untuk memahami ajaran sufisme Sunan Bonang, semisal ajaran shalat yang bukan hanya sekedar shalat secara Syara' saja. Di bab itu menyinggung shalat Daim dan juga sembahyang. Di halaman 24, sunan Bonang menanggapi pertanyaan Wujil tentang sembahyang. Sunan Bonang menjawab:
"Janganlah menyembah kalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Tapi jangan kau sembah apa yang terlihat."
Selain membahas sembahyang, juga membahas ilmu filsafat tentang anasir api, air, angin, dan juga tanah. Lebih lanjut di buku itu dijelaskan nilai filosofisnya yang saya sendiri belum begitu memahaminya. Tua muda adalah sifat unsur bumi, kalau tua kapan mudanya, kalau muda kapan tuanya. Unsur api bersifat kuat dan lemah. Jika kuat di mana lemahnya, jika lemah di manakah kuatnya. Unsur angin sifatnya ada dan tiada. Jika ada di mana tiadanya, jika tiada di mana adanya. Sedang unsur air bersifat mati-hidup. Kalau mati kapan hidupnya, kalau hidup kapan matinya. Wow... pusing!!!
Dan masih banyak hal yang dibahas secara filosofis di bab 4 tentang wejangan sunan Bonang kepada murid kinasihnya yaitu Wujil. Wejangan sunan Bonang inilah yang nantinya dikenal sebagai Suluk Wujil.
Saya tidak tahu apakah manuskrip suluk wujil ini masih ada atau tidak, mungkin temen saya *Mbak Hiday* bisa menjelaskan. Soalnya beliaunya yang intens meneliti mengenai manuskrip sunan Bonang. Bahkan beliaunya sudah melanglang buana hingga ke Leiden demi berjumpa dengan manuskrip asli Primbon Sunan Bonang yang dikenal dengan Het book Van Bonang.
Sebagai orang Tuban, tentu saya ingin mengetahui secara detail tentang tokoh yang berjasa terhadap dakwah Islam di bumi Ranggalawe ini. Semoga apapun tentang Sunan Bonang bisa kita baca dan kita jadikan pijakan dalam melangkah ke depan demi membangun Tuban lebih baik, sebagaimana citra yang dibangun oleh Bapak Bupati Fatkhul Huda, bahwa Tuban adalah bumi Wali. Sekian terima kasih.
*Bangilan, 31 Oktober 2019*
Pages - Menu
Kamis, 31 Oktober 2019
Rabu, 30 Oktober 2019
Juwet, buah nostalgia generasi 90an
Juwet, buah nostalgia generasi 90an
Oleh: Joyo Juwoto
Entah hari ini anak-anak kita mengenal atau tidak dengan buah juwet ini. Buah juwet identik dengan alam liar, karena buah ini jaman dahulu memang tidak dibudidayakan. Pohon juwet tumbuh liar begitu saja di gerumbul-gerumbul, di pekuburan atau juga di tepian sungai. Dulu pohon ini liar dan siapapun boleh mengambil buahnya, untuk dinikmati.
Buah dengan warna ungu kehitaman ini menjadi favorit anak-anak gembala, selain tentu buah lainnya. Hari ini budaya menggembala sudah hampir punah, hanya ada beberapa saja masyarakat yang menggembalakan ternaknya. Kebanyakan ternak sekarang makannya dibelikan. Bisa tebon, rumput gajah, dedak, maupun ongsok kering.
Jika engkau terlahir di era 80-90an, tentu masa kanak-kanakmu dipenuhi kenangan indah dan nostalgia tak terlupakan dengan buah juwet ini. Pastinya kalian pernah memakan buah ini demi memamerkan lidah dan gigi kalian yang berubah warna. Wow... Indah sekali.
Sangat disayangkan sekali sebenarnya, jika hari ini generasi milenial tidak mengenal buah juwet, yang sangat asyik dinikmati langsung di atas pohonnya yang rindang. Kita bisa makan sepuasnya sambil duduk-duduk santai di dahan pohon juwet.
Buah juwet memang rasanya tidak begitu manis, bahkan justru cenderung sepet. Tapi anak jaman dahulu apapun masuk perut, jangankan yang sepet-sepet manis, yang kecut sekelas mangga muda saja habis disikat. Entah, dulu mungkin makanan tidak seenak dan sebanyak hari ini.
Walau sepet, buah yang berbentuk lonjong kecil-kecil, berwarna ungu tua ini ternyata memiliki banyak manfaat. Diantara adalah mengobati penyakit diabetes. Mungkin bisa dicoba ya. Selain mengobati diabetes, warna ungu dari buah juwet memiliki kandungan zat yang menjada kesehatan gusi dan gigi. Ternyata buah juwet memiliki banyak manfaat juga.
Alhamdulillah, setelah sekian lama saya tidak merasakan buah juwet, tadi pagi saat belanja di pasar, saya bertemu dengan penjual juwet.
"Bu, juwete saking pundi Niki? Kulo tumbas enggih?"
"Owh enggih, mangga, Niki saking Jatirogo, mas." Si ibu penjual menimpali.
Tanpa ba-bi-bu langsung saya beli itu buah. Ada kerinduan tersendiri untuk kembali menikmati buah tersebut.
Penjual menawarkan harga sepuluh ribu untuk satu kilo juwet. Tanpa tawar menawar, saya langsung setuju dan membelinya. Senang rasanya kembali melihat dan mencicipi buah favorit masa menggembala sapi di kampung halaman. Hemm...serasa kembali ke masa silam. Selamat menikmati buah juwet. Terima kasih.
Bangilan, 30 Oktober 2019
Oleh: Joyo Juwoto
Entah hari ini anak-anak kita mengenal atau tidak dengan buah juwet ini. Buah juwet identik dengan alam liar, karena buah ini jaman dahulu memang tidak dibudidayakan. Pohon juwet tumbuh liar begitu saja di gerumbul-gerumbul, di pekuburan atau juga di tepian sungai. Dulu pohon ini liar dan siapapun boleh mengambil buahnya, untuk dinikmati.
Buah dengan warna ungu kehitaman ini menjadi favorit anak-anak gembala, selain tentu buah lainnya. Hari ini budaya menggembala sudah hampir punah, hanya ada beberapa saja masyarakat yang menggembalakan ternaknya. Kebanyakan ternak sekarang makannya dibelikan. Bisa tebon, rumput gajah, dedak, maupun ongsok kering.
Jika engkau terlahir di era 80-90an, tentu masa kanak-kanakmu dipenuhi kenangan indah dan nostalgia tak terlupakan dengan buah juwet ini. Pastinya kalian pernah memakan buah ini demi memamerkan lidah dan gigi kalian yang berubah warna. Wow... Indah sekali.
Sangat disayangkan sekali sebenarnya, jika hari ini generasi milenial tidak mengenal buah juwet, yang sangat asyik dinikmati langsung di atas pohonnya yang rindang. Kita bisa makan sepuasnya sambil duduk-duduk santai di dahan pohon juwet.
Buah juwet memang rasanya tidak begitu manis, bahkan justru cenderung sepet. Tapi anak jaman dahulu apapun masuk perut, jangankan yang sepet-sepet manis, yang kecut sekelas mangga muda saja habis disikat. Entah, dulu mungkin makanan tidak seenak dan sebanyak hari ini.
Walau sepet, buah yang berbentuk lonjong kecil-kecil, berwarna ungu tua ini ternyata memiliki banyak manfaat. Diantara adalah mengobati penyakit diabetes. Mungkin bisa dicoba ya. Selain mengobati diabetes, warna ungu dari buah juwet memiliki kandungan zat yang menjada kesehatan gusi dan gigi. Ternyata buah juwet memiliki banyak manfaat juga.
Alhamdulillah, setelah sekian lama saya tidak merasakan buah juwet, tadi pagi saat belanja di pasar, saya bertemu dengan penjual juwet.
"Bu, juwete saking pundi Niki? Kulo tumbas enggih?"
"Owh enggih, mangga, Niki saking Jatirogo, mas." Si ibu penjual menimpali.
Tanpa ba-bi-bu langsung saya beli itu buah. Ada kerinduan tersendiri untuk kembali menikmati buah tersebut.
Penjual menawarkan harga sepuluh ribu untuk satu kilo juwet. Tanpa tawar menawar, saya langsung setuju dan membelinya. Senang rasanya kembali melihat dan mencicipi buah favorit masa menggembala sapi di kampung halaman. Hemm...serasa kembali ke masa silam. Selamat menikmati buah juwet. Terima kasih.
Bangilan, 30 Oktober 2019
Kamis, 03 Oktober 2019
Ayo Sukseskan Gelem: Gerakan Literasi Madrasah
Ayo Sukseskan Gelem: Gerakan Literasi Madrasah
Oleh: Joyo Juwoto
Tahun ini (2019) Madrasah di wilayah kementerian agama Jawa Timur akan mencanangkan gerakan satu guru satu buku, satu siswa satu buku. Program ini dikenal dengan istilah Gelem (Gerakan Literasi Madrasah).
Sebenarnya program ini sudah lama dicanangkan oleh kementerian pendidikan Nasional yaitu program Gerakan Literasi Sekolah (GLS), diantara program berkelanjutan dari GLS adalah mengkondisikan siswa untuk membaca buku non materi pelajaran 15 menit sebelum pelajaran sekolah berlangsung.
Ikatan Guru Indonesia (IGI) dari Kemendikbud telah lebih dahulu mengeksekusi progam ini dengan cukup masif. IGI sendiri punya program literasi untuk para guru dan siswa. Program Satu guru satu buku atau dikenal dengan istilah Sagusabu cukup banyak diminati oleh para guru, kendati mereka harus merogoh kocek sendiri untuk mengikuti pelatihan dan workshop literasi.
Selain program Sagusabu, IGI juga punya program satu siswa satu buku. Hal ini tentu dalam rangka mengejar ketertinggalan dalam dunia literasi. Program literasi IGI berjalan cukup bagus, saya salut dengan program IGI dalam meningkatkan mutu literasi di lingkungan pendidikan mereka.
Sedang di lingkungan Kemenag, gerakan literasinya termaktub di dalam salah satu program Geram (Gerakan Membangun Madrasah). Salah satu klausul dari Geram adalah Gerakan Literasi Madrasah atau disingkat Gelem. ini Kemenag segera melaunching progam ini. Targetnya kementerian agama harus menghasilkan 25 ribu buku.
Menurut Kasi Pendma Kemenag Tuban, Kabupaten Tuban akan segera menggalakkan program Gelem. Saat ini dilakukan pendataan karya bapak dan ibu guru serta murid-murid madrasah. Puncaknya nanti pada saat HAB Kemenag akan digelar festifal literasi madrasah, dengan memejang karya-karya dari para bapak ibu guru.
Seyogyanya, madrasah memiliki kans besar dalam dunia literasi, karena memang madrasah memiliki basis pengetahuan agama yang cukup kuat dan pengetahuan umum pula. Khasanah pesantren cukup kaya dengan sumber-sumber literasi. Oleh karena itu jangan sampai madrasah kalah dengan lembaga lain dalam bidang literasi ini.
Gerakan literasi pada hakekatnya bukan hanya sekedar melek baca dan melek tulis semata, namun lebih luas lagi literasi berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis.
Kita tentu berharap kemampuan literasi di lingkungan Kemenag khususnya bisa ditingkatkan, sehingga stigma rangking paling buncit di level internasional minimal bisa terkurangi. Dan yang lebih penting lagi, kemampuan literasi seseorang berbanding dengan tingkat dan kualitas belajar seseorang. Salam literasi.
Oleh: Joyo Juwoto
Tahun ini (2019) Madrasah di wilayah kementerian agama Jawa Timur akan mencanangkan gerakan satu guru satu buku, satu siswa satu buku. Program ini dikenal dengan istilah Gelem (Gerakan Literasi Madrasah).
Sebenarnya program ini sudah lama dicanangkan oleh kementerian pendidikan Nasional yaitu program Gerakan Literasi Sekolah (GLS), diantara program berkelanjutan dari GLS adalah mengkondisikan siswa untuk membaca buku non materi pelajaran 15 menit sebelum pelajaran sekolah berlangsung.
Ikatan Guru Indonesia (IGI) dari Kemendikbud telah lebih dahulu mengeksekusi progam ini dengan cukup masif. IGI sendiri punya program literasi untuk para guru dan siswa. Program Satu guru satu buku atau dikenal dengan istilah Sagusabu cukup banyak diminati oleh para guru, kendati mereka harus merogoh kocek sendiri untuk mengikuti pelatihan dan workshop literasi.
Selain program Sagusabu, IGI juga punya program satu siswa satu buku. Hal ini tentu dalam rangka mengejar ketertinggalan dalam dunia literasi. Program literasi IGI berjalan cukup bagus, saya salut dengan program IGI dalam meningkatkan mutu literasi di lingkungan pendidikan mereka.
Sedang di lingkungan Kemenag, gerakan literasinya termaktub di dalam salah satu program Geram (Gerakan Membangun Madrasah). Salah satu klausul dari Geram adalah Gerakan Literasi Madrasah atau disingkat Gelem. ini Kemenag segera melaunching progam ini. Targetnya kementerian agama harus menghasilkan 25 ribu buku.
Menurut Kasi Pendma Kemenag Tuban, Kabupaten Tuban akan segera menggalakkan program Gelem. Saat ini dilakukan pendataan karya bapak dan ibu guru serta murid-murid madrasah. Puncaknya nanti pada saat HAB Kemenag akan digelar festifal literasi madrasah, dengan memejang karya-karya dari para bapak ibu guru.
Seyogyanya, madrasah memiliki kans besar dalam dunia literasi, karena memang madrasah memiliki basis pengetahuan agama yang cukup kuat dan pengetahuan umum pula. Khasanah pesantren cukup kaya dengan sumber-sumber literasi. Oleh karena itu jangan sampai madrasah kalah dengan lembaga lain dalam bidang literasi ini.
Gerakan literasi pada hakekatnya bukan hanya sekedar melek baca dan melek tulis semata, namun lebih luas lagi literasi berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis.
Kita tentu berharap kemampuan literasi di lingkungan Kemenag khususnya bisa ditingkatkan, sehingga stigma rangking paling buncit di level internasional minimal bisa terkurangi. Dan yang lebih penting lagi, kemampuan literasi seseorang berbanding dengan tingkat dan kualitas belajar seseorang. Salam literasi.
Langganan:
Postingan (Atom)


