Selasa, 31 Maret 2015

“Makna Ritual Menyiram Pelataran Rumah Dengan Air Kembang”

“Makna Ritual Menyiram Pelataran Rumah Dengan Air Kembang”

Sabdalangit.wordpress.com
Masyarakat Jawa memiliki banyak ajaran adiluhung dan ritual yang kadang kita perlu mengerutkan dahi untuk mencernanya. Bahkan mungkin tidak jarang ajaran dan ritual tersebut dianggap primitif, bid’ah, tahayul, dan khurafat. Itu semua bersumber dari ketidaktahuan dan kurang fahamnya kita akan warisan leluhur nenek moyang kita. Mungkin juga karena sikap masa bodoh dan tidak ingin tahu akan apa yang sebenarnya ingin disampaikan leluhur kita kepada anak cucunya. Dan lebih ironi rasa minder  akan adat-istiadat yang dianggap ndeso serta ketinggalan jaman serta lebih silau dengan segala sesuatu yang berasal dari luar.

Padahal jika kita mengaku sebagai kaum terpelajar dan berfikiran maju, sesungguhnya tidaklah elok dan tak pantas kita menjustifikasikan sesuatu tanpa tahu secara mendalam apa yang kita tuding sebagai perbuatan sesat bin khurafat. Ingat apa yang disampaikan oleh Pramodya Ananta Toer bahwa seorang terpelajar hendaknya bisa adil dalam menilai sesuatu sejak dalam pikiran. Dan jangan hanya mengandalkan prasangka dan opo jare wong (apa kata manusia). Sebagai generasi yang terpelajar kita harus terlebih dahulu melakukan studi kasus dan tabayyun terhadap hal-hal yang kita belum mengetahuinya secara jelas.

Semisal ritual menyiram air kembang yang sering kita temui di perempatan jalan ataupun di pelataran rumah seseorang yang masih ngugemi (memegang teguh) ajaran Jawanya. Biasanya ritual itu dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon, atau Selasa Kliwon. Dan dulu saya sering mendapati hal semisal itu ketika saya lewat di jalan atau di pelataran rumah seseorang. Dulu saya mengira bahwa orang yang melakukan ritual siram kembang di pelataran rumahnya adalah pelaku ilmu hitam, atau setidaknya mereka bersekutu dengan gendruwo maupun jenis makhul halus lainnya.

Saya maklum dengan anggapan tersebut, karena memang saya tidak tahu. Dan saya rasa banyak pula masyarakat kita yang melakukan ritual itu juga kurang memahami makna yang terkandung dari ritual siram kembang tersebut. Mereka biasanya kalau kita tanya hanya menjawab kata mbah-mbah dulu seperti itu. Dan mereka hanya melakukan karena latah terhadap tradisi yang mereka lihat dan mereka anut tanpa didasari ilmu yang memadai. Inilah susahnya jika masyarakat telah kehilangan jati diri dan ilang jawane.

Berawal dari ketidak pahaman inilah nantinya akan melahirkan suatu persepsi dan tindakan yang salah juga. Sehingga tidak heran jika ajaran dan ritual kejawen yang adiluhung itu dianggap sesuatu yang muspro dan dekat dengan ajaran sesat.
Ini yang menjadi PR kita bersama, menjembatani masyarakat awam dengan orang-orang yang mempertanyakan identitas dan ajaran Jawa. Semisal ritual menyiram air kembang di pelataran rumah atau jalan raya tadi kalau kita mau merenungi makna yang terkandung di dalamnya sangatlah luar biasa. Coba perhatikan mantra yang dibaca saat menyiramkan air kembang ke pelataran :
“Ora nyebar kembang, nanging nyebar kabecikan, Gusti Kang Maha Kuwasa keparengana paduka paring kawilujengan lan karahayon dhumateng sedaya titah Paduka ingkang langkung ing prapatan/pelataran punika”

Artinya : “Tidak menyebarkan bunga, tetapi menyebarkan kebajikan, wahai Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga Engkau memberikan kesejahteraan dan keselamatan kepada semua makhluk Engkau yang melewati jalan/ halaman rumah ini”.

Begitu luar biasa seja dan karep orang Jawa terhadap segala titah dan makhluk Tuhan di muka bumi. Mereka menginginkan kebaikan dan keselamatan untuk semua makhluk Tuhan tanpa membeda-bedakan, kenal atau tidak, dari jenis manusia ataukah jenis hewan, atau bahkan dari jenis gendruwo dan setan sekalipun semua mendapat berkah do’a dari orang Jawa.

Sikap yang sedemikian ini mencerminkan akan keluhuran manusia Jawa yang ingin membangun harmoni dan cinta untuk semua makhluk di muka bumi. Ini adalah perwujudan dari ajaran Jawa yang luhur tentang konsep “Memayu Hayuning Bawana”, menjadi khalifah fil ardhi, dan manifestasi dari sifat rahmatan lil ‘alamin. Dan inilah inti dari ajaran Tuhan dalam menciptakan manusia di muka bumi.

Bukankah setiap kebaikan berarti ada nilai shadaqah di dalamnya ?, bukankah menyingkirkan sesuatu rintangan di jalan juga dihitung sebagai pahala sedekah ?, sebagaimana yang terkandung dalam kitab hadits ‘Arba’in yang menjadi menu wajib di pesantren tersuratkan :
وتميط الأذى عن الطّريق صدقة (رواه البخارى ومسلم)
“Dan menyingkirkan sesuatu rintangan dari jalan adalah shodaqah...” (HR. Bukhori dan Muslim).

Jadi kita sebagai generasi muda dan generasi yang menamakan diri terpelajar hendaknya melihat peluang kebaikan terhadap segala sesuatu yang ada di tengah masyarakat, segala kearifan lokal (wisdom local) terwadahi dalam keluasan berfikir dan agar tercipta kehidupan masyarakat yang “tata tentrem kerta raharja” sebuah tatanan masyarakat yang sejalan dengan konsep “Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghofuurun”. Negara dan masyarakat yang baik dan dalam ampunan Tuhan yang Maha Pengampun. Sekian. 31/3/2015-Joyojuwoto.

Sabtu, 28 Maret 2015

"She yang menginspirasi"

Wow.............!!!! Koncoku.....boloku.....tanggaku.....adik kelasku.....muridku ;) (yang ini ngaku-ngaku) haha... masuk koran, begitu saat saya membuka lembaran Radar Bojonegoro pagi ini tanggal 28 maret 2015. Ada rasa bangga, senang, ada  euforia memenuhi kepalaku, ketika melihat foto di kolom SHE. Foto yang sangat kukenal, ya saya ulangi lagi sangat kenal sekali pakai banget..karena memang Ukhti Yuniarta Ita purnama satu almamater, satu pondok, satu madrasah dengan saya. 

Saya kira semua teman-temannya, bapak-ibunya, ustadz-ustadzahnya dan orang-orang yang berada dalam lingkarannya seperasaan dengan saya. Senang dan bangga. Dan kebanggaan itu memang harus dibayar lunas dengan pengorbanan dan kerja keras. Begitu yang saya baca dari gerak hidup yang dilakukannya setiap saat.

Satu yang layak menjadi catatan dari Ita sebagaimana yang ia katakan di Radar dan saya juga mengamiinya, bahwa hidup itu harus memberikan manfaat untuk banyak orang. Dan ia ingin terus tanpa putus beramal khususnya di dunia pendidikan. Dalam istilah jawanya "Urip kuwi kudu Urup" hidup itu harus bisa menghidupi dan menyinari sekitar, mengabdi penuh dedikasi kepada negeri.

Tekad gadis kelahiran Bangilan yang selalu muter Bangilan-Bojonegoro-Solo yang tak pupus itu tumbuh dan berkembang karena sosok yang ia kagumi dan kita kagumi bersama, beliaunya Abah moehaimin Tamam yang selalu memompakan semangat perjuangan di hati para santrinya. Diantara gemblengan yang sangat menginspirasi adalah "Berani Hidup Tak Takut Mati, Takut Mati Jangan Hidup, Takut Hidup Mati Saja". sebuah mutiara hidup yang luar biasa. Membakar, menguatkan, menghidupkan, memprofokasi agar para santri siap untuk menghadapi segala persoalan hidup. Ini bukanlah radikalisme, bukan ekstrimisme, namun ini adalah jalan para pejuang, jalan para petarung, dan jalannya para juara.


Masuk koran bagiku adalah prestasi tersendiri, apalagi masuk kolom yang menginspirasi banyak orang, khususnya diseluruh pelosok Kabupaten Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan, asal jangan masuk koran karena kriminil saja. Dan Ita telah membuktikan itu, ia telah menuaikan janji pada Kyainya, pada pondoknya bahwa hidup adalah perjuangan, bahwa keyakinan itu mampu menggapai apa-apa yang tidak dapat dipikirkan oleh otak. Oleh karena itu tutur Ita : "Sekali bermimpi perjuangkan mimpi itu sampai berhasil". 

Wah...!!! semangat sekali ya... apakah juga termasuk mimpi dia yang ingin menjadi pengasuh kanguru di negeri satu benua Australia ya !!!!!. sekian. Jwt