Jumat, 03 Maret 2023

Menuju Puncak Harlah Satu Abad NU Di Sidoarjo

Menuju Puncak Harlah Satu Abad NU Di Sidoarjo Puncak Harlah Satu Abad NU Di Sidoarjo
Oleh: Joyo Juwoto

Gempita Harlah Satu Abad NU begitu terasa, kesibukan persiapan panitia Harlah sudah sejak lama terbabar di media sosial, era sekarang memang menjadi jaman di mana tanpa postingan adalah sebuah kehampaan, jadi wajar Harlah organisasi terbesar di Indonesia bahkan dunia se akhiratnya ini sudah ramai, riuh dan membahana.

Peristiwa sekali yang terjadi sepanjang usia saya itu tentu menjadi hal yang menarik dan menjadi sebuah momentum yang bersejarah, puncak Harlah Satu Abad NU adalah peristiwa yang tidak bisa saya jumpai lagi, jadi saya berkeinginan untuk hadir dan menjadi pasukan penggembira di acara tersebut.

Ketepatan KKM MAN Tuban yang dikomandani Dr. Muhammad Badar selaku ketua KKM memberangkatkan kafilah kepala madrasah, saya yang bukan kepala mendapat berkah mbadali Kepala untuk berangkat meramaikan puncak Harlah NU yang  dilaksanakan pada tanggal, 16 Rajab 1444 H yang bertepatan tanggal, 7 Februari 2023 M di stadion Gelora Delta Sidoarjo. 

Puncak Harlah yang mengusung tagline "Merawat Jagat Membangun Peradaban" ini dihadiri oleh jutaan warga Nahdliyyin dari berbagai daerah di Indonesia bahkan juga dunia. Tua, muda, anak-anak, laki-laki dan perempuan tumplek blek memenuhi jalan-jalan di kota Sidoarjo. Ulama-ulama dari berbagai belahan dunia turut hadir meramaikan dan mendoakan puncak resepsi tersebut.

Rombongan KKM MAN Tuban berangkat dari kota Tuban pukul 20.00 WIB kemudian transit dan bergabung untuk berangkat bersama seluruh kafilah dari Tuban di pondok pesantren Langitan. Kami berhenti menunggu rombongan lainnya. Sekitar pukul 22.00 WIB rombongan berangkat dengan pengawalan dari pihak kepolisian.

Sepanjang perjalanan dari Langitan menuju Sidoarjo saya tidur, jadi tidak tahu kondisi jalan raya seperti apa, namun yang pasti kami tiba di Sidoarjo pukul 03.00 WIB. Dilihat dari lamanya perjalanan tentu mobil yang kami tumpangi  merayap pelan di tengah jalanan yang padat kendaraan, itu pun kami harus parkir dari hitungan google map jarak 2.6 KM dari  area stadion Gelora Delta. 

Banyak orang yang lalu-lalang berjalan ke arah stadion. Sebenarnya panitia sudah menyiapkan video tron di sepanjang jalan menuju stadion, agar para pengunjung bisa melihat dan mengikuti rangkaian acara  via lewat layar lebar itu. Apalagi memang tidak semua orang berkesempatan bisa masuk ke stadion   mendekati area resepsi, hanya peserta dengan tanda khusus saja yang diperbolehkan masuk. Pintu stadion dijaga ketat oleh Banser.

Stadion Gelora Delta Sidoarjo dikelilingi pagar tembok, untuk masuk pagar ini saja tidak mudah, para pengunjung harus memanjat pagar tembok bagian belakang yang tidak terjamah pengunjung. Karena pintu depan telah terisi dan terpagari warga Nahdliyyin yang hadir dan meramaikan acara. Butuh perjuangan untuk bisa masuk di lapis pertama pagar stadion.

Saya sendiri bersama Kang Umam teman saya dari Tuban, juga nekat bisa masuk di lapis pertama, mengikuti jejak pejuang lainnya, kami pun harus krengkelan naik tembok yang licin itu. Sesampainya di dalam tembok, kami bisa melihat keadaan yang ada di dalam stadion lewat jeruji pintu yang di jaga Banser. Sayang ketika acara sambutan dari bapak presiden, satu-satunya lubang yang menolong kami untuk melihat acara ditutup dengan pintu besi tanpa lubang sama sekali. Penonton kecewa saudara-saudara. Menurut kang Banser itu protap yang harus dijalankan demi pengamanan presiden. Ya wis lah.

Karena sudah tidak bisa nginceng sama sekali, akhirnya saya dan kang Umam memutuskan untuk keluar dari stadion. Perut sudah lapar setelah hampir satu jam muter-muter di jalanan. Sebenarnya banyak makanan yang disiapkan oleh relawan, pengunjung tinggal ambil saja, tapi kami memilih masuk warung pesen rawon sambil melihat layar televisi yang menyiarkan acara resepsi tersebut. Sambil nyantai menikmati sarapan pagi yang cukup nikmat.

Setelah sarapan saya dan kang Umam memutuskan kembali ke parkiran kendaraan kami. Otomatis kami harus berjalan 2.6 KM lagi. Jalanan makin padat, di persimpangan jalan menuju lokasi stadion dipenuhi pengunjung yang membludak, kendaraan bermotor juga berjejalan. Untuk menggeser tumit saja susah. Perlahan kami bisa melewati titik tumbuk massa dan kemacetan mulai terurai.

Setelah berpeluh keringat sampailah kami di tugu Jaya Ndaru, tempat kendaraan kami parkir. Saya dan kang Umam sempat kebingungan mencari lokasi parkir, tapi Alhamdulillah kami pun sampai. Teman-teman yang lain ternyata belum datang, sepertinya mereka juga masih dalam perjalanan. Di area alun-alun ini bazar UMKM Nahdlatut Tujjar di gelar, ini adalah salah satu program membangun dan mendigdayakan ekonomi warga Nahdliyyin.

Karena salah satu dari pilar berdirinya Nahdlatul Ulama selain Komite Hijaz, Tasywirul Afkar atau Nahdlatul Fikr tahun yang berdiri tahun 1914, Nahdlatul Wathon tahun 1916,  dan juga gerakan Nahdlatul Tujjar atau  kebangkitan para saudagar yang dipelopori oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah pada tahun 1918.

Hari itu, Selasa 16 Rajab 11444 H benar-benar menjadi momentum sejarah yang tak terlupakan, tergores dengan tinta emas peradaban, dan saya merasa bangga sekaligus bahagia bisa menjadi setitik dari jutaan santri yang menjadi penggembira, menjadi saksi atas perputaran sejarah besar Nahdlatul Ulama. 

Saya juga merasa beruntung mendapatkan percikan barakahnya NU, sehingga bisa menghadiri seruan para Kiai, para masyayekh dan para ulama mengantar Nahdlatul Ulama memasuki gerbang Abad Kedua, sebagaimana yang diserukan dengan keras oleh Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf dalam pidatonya:

"Warga Nahdlatul Ulama, pencinta Nahdlatul Ulama yang aku cintai, selamat datang di abad kedua Nahdlatul Ulama!,"

"Wahai abad kedua rengkuhlah kami dalam berkah, harapan, prasangka baik akan ridho Allah, akan pertolongan Allah yang Maha Rahman dan Maha Esa,"


Joyo Juwoto, Santri dari Ponpes Assalam Bangilan Tuban. 

Selasa, 28 Februari 2023

Negeri Para Koruptor

Negeri Para Koruptor
Oleh: Joyo Juwoto 

Kita ini sedang berada di negeri para koruptor
Di mana taman nurani tlah mati
Berganti padang  keserakahan
dan sahara keculasan

Gelembung-gelembung udaranya bukan lagi oksigen
Namun virus korupsi yang merajalela, menguar ke udara membekap kesadaran umat manusia

Partikel-partikel korupsi 
Jaringan
Sel
Atom
DNA 
Terwariskan sepanjang keturunan

Ke kiri ngamplopi 
Ke kanan melicinkan
Ke atas 
Ke bawah
Memberi hadiah
Agar urusan menjadi  mudah

Menjadi pejabat perlu menyuap
Promosi jabatan membutuhkan titipan
Proyek-proyek pun mengharuskan tumbal cuan

Kita ini sedang berada di negeri para koruptor 
Di mana kebenaran menjadi ancaman
Kesalahan dibangga-banggakan
dan korupsi menjadi nadi
Di setiap jalur kehidupan

Hidup korupsi !

Korupsi harga mati
Kolusi harga pasti 
Nepotisme...
KKN harga Paten


*Bangilan, 28 Februari 2023*

Senin, 27 Februari 2023

Laskar PMK Nggedrug Bumi Tuban

Laskar PMK Nggedrug Bumi Tuban
Oleh: Joyo Juwoto

"Satu Hati Tolak Korupsi" 
"Perangi tindakannya tanpa memusuhi orangnya, sadarkan dengan kekuatan kata-kata".

Begitu slogan yang diusung dalam Roadshow #60 Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang diadakan di Kota Tuban, pada hari Sabtu, tanggal 25 Februari 2023. 

Ada dua agenda kegiatan dalam Roadshow PMK ke 60 ini, pagi hari digelar sarasehan kebangsaan satu hati tolak korupsi yang diadakan di Pondok Pesantren Ash-Shomadiyah Makam Agung Tuban, dan malam harinya digelar pembacaan puisi menolak korupsi yang didatangi penyair-penyair dari berbagai daerah, seperti Bojonegoro, Nganjuk, Lamongan, Surabaya, Pasuruan, Malang, Madura, Pati, Kudus, Jepara, Wonogiri, Purwokerto da dari Tuban sendiri tentunya.

Meminjam istilah bahasa dari Mas Agus Sighro, seorang penyair dari Bojonegoro, bahwa para penyair dari berbagai daerah dengan maksud dan tujuan yang sama, dengan ideologi yang sama juga yaitu ideologi menolak korupsi akan Nggedrug Bumi Tuban untuk ikut serta memeriahkan Roadshow #60 PMK tersebut.

PMK sendiri sebuah kegiatan kolektif arus bawah para penyair dari berbagai daerah yang dikomandani oleh penyair asal Solo Sosiawan Leak dalam rangka menyuarakan anti terhadap segala hal yang berbau korupsi. Ya, menurut penyair yang oleh Gus Mus dijuluki Penyair Jahiliah ini menyatakan bahwa PMK adalah Roadshow siapa saja yang berideologi anti terhadap korupsi, siapapun dia, dan apapun profesinya.

Ini adalah kali pertama saya hadir mengikuti Roadshow PMK, sebelumnya saya hanya tahu event ini di media sosial. Alhamdulillah berkat kelindan teman-teman solidaritas pegiat literasi Tuban, khususnya Mas Nahrus, Cak Ipin, Mas Nastain, dan Kang Agus Hewod yang pertama kali membawa bendera PMK dan mengibarkannya di Bumi Tuban kita.

Walau sebagai silent reader, dan hanya duduk menonton para penonton dan juga mengikuti penampilan para penyair ngetop tersebut, saya sangat menikmati malam gelap yang bertabur kata penuh makna itu. Saya berharap kata-kata yang disuarakan itu terbenam di kedalaman Bumi Tuban kemudian menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang menjelma menjadi tanaman, menjadi pohon-pohon yang kemudian di makan oleh masyarakat sehingga nanti akan melahirkan masyarakat yang anti korupsi. Atau kata-kata yang dibaca para penyair itu menguar ke udara menjadi semacam virus-virus yang kemudian dihirup oleh masyarakat sehingga masyarakat terjangkit wabah anti korupsi.

Atau mungkin yang lebih dahsyat lagi, kata-kata itu menjelma menjadi ribuan doa, kemudian melangit dan mengangkasa, kemudian diaminkan oleh para malaikat di Sidratil Muntaha dan menjadi garis suratan takdir bahwa pada saatnya korupsi akan layu dan mati dari negeri yang kita cintai ini.

Saya gemetar bumi batinku horek saat komandan PMK kang Leak dengan penuh teaterikal memanggil dan memperkenalkan para laskar anti korupsi tersebut maju ke depan. Mereka ini seperti tentara langit, yang turun ke bumi dengan membawa misi meneriakkan anti korupsi. Sungguh hal yang luar biasa, ya, setidaknya ini pengalaman batin yang saya rasakan saat itu.

Saya mengikuti acara hingga purna, dan kemudian pulang dengan membawa segudang angan dan bayangan hidup di negeri tanpa korupsi. Negeri yang dicita-citakan  para pendiri bangsa ini, negeri yang sesuai misi para Nabi, dan Negeri yang Tuhan akan memberkati dan meridhoi, yaitu sebuah negeri yang Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur. 


*Bejagung, 27 Februari 2023*