Rabu, 15 Februari 2023

Sowan Gus Mus di Leteh Rembang

Sowan Gus Mus Di Leteh Rembang
Oleh: Joyo Juwoto 

Ini adalah kedua kalinya saya ke Rembang dalam rangka sowan Gus Mus. Di Tahun 2019 saya bersama rombongan teman-teman dari Pondok sowan ke ndalem beliau dalam rangka hari lebaran, sayangnya saat itu Gus Mus sedang tidak enak badan, sehingga sowan saya waktu itu yang masih di masa pandemi qadarullah belum bisa bertemu dengan beliau. Saat itu yang menerima tamu adalah putra mantu beliau pengampu ngaji ihya online, Gus Ulil Abshar Abdalla. Alhamdulillah.

Jika mengingat sowan saya yang pertama itu saya merasa malu sendiri, karena waktu itu saya membawa buku saya yang berjudul Dalang Kentrung Terakhir. Niat saya tabarrukan ke beliau Gus Mus. Karena tidak bisa langsung bertemu Gus Mus, akhirnya buku itu saya titipkan Gus Ulil. Entah bagaimana kelanjutannya, Gus Ulil inbox di FACEBOOK, beliau berkenan membeli buku saya tersebut. Sebenarnya saya lebih suka menghadiahkan buku itu, tapi beliau bersikeras membeli, saya pun hanya bisa sami'na wa atho'na, sendiko dawuh marang dawuhnya beliau. Buku Dalang Kentrung Terakhir dan buku Tiga Menguak Pram akhirnya saya kirimkan ke alamat beliau di Pondok Gede Bekasi. Sungguh ini adalah suatu kebahagiaan yang tak terkira bagi saya.

Setelah sowan saya pertama tahun 2019 silam tidak bertemu Gus Mus, di lebaran selanjutnya saya belum juga berkesempatan untuk sowan beliau. Alhamdulillah anugerah untuk sowan akhirnya kesampaian juga, ceritanya waktu itu saya diajak ngobrol sama pegiat rumah persinggahan mas Nahrus untuk membahas kegiatan road show Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang rencananya akan digelar di Kabupaten Tuban. Dari obrolan ini akhirnya saya, Nahrus, dan Mas Rosyid Singgahan bersepakat untuk sowan ke Gus Mus, siap tahu beliau ada waktu untuk hadir pada kegiatan PMK di Tuban. Kalaupun beliau tidak bisa rawuh, yang pasti kami punya kewajiban untuk sowan dan meminta doa serta restu dari beliau untuk mengadakan kegiatan PMK.

Jumat pagi sekitar jam setengah tujuh mas Nahrus dan mas Rosyid janjian berangkat dari Singgahan, sedang saya menunggu di pertigaan Puthogoro utara rumah saya. Kami bertiga pun meluncur ke Rembang. Perjalanan dari Bangilan ke Rembang kurang lebihnya satu jam. Menurut info dari teman, Gus Mus bisa disowani sekitar pukul sepuluh, akhirnya kami berhenti terlebih dahulu di alun-alun Rembang. Kami ngopi dan menikmati nasi kucing yang dibawa mas Rosyid dari rumah.

Sekitar setengah jam kami di alun-alun, selanjutnya Carry merah tahun 80-an yang disopiri mas Nahrus membawa kami menuju Leteh, ndalemnya Gus Mus. Mobil carry lawas yang bandel ini juga yang nantinya berjasa mengantarkan kami ziarah ke makam RA. Kartini dan ke Pataba di Blora. Tidak susah untuk mencari ndalem Gus Mus, selain beliau memang seorang tokoh dan Kiai kelas dunia akhirat, memang jika Jumat pagi Gus Mus ini rutinan memberikan pengajian kepada masyarakat. Jalanan dan pondok beliau dipenuhi para muhibbinnya, sehingga pondok Gus Mus ini mudah untuk dikenali.

Kami sempat ikut ngaji nguping, karena kami sampai di lokasi pondok kurang dari jam sepuluh pagi. Tepat jam sepuluh pengajian selesai, orang-orang sama buyar kembali melanjutkan aktivitasnya. Setelah pengajian inilah Gus Mus biasa open house untuk menerima tamu. Waktu itu ada beberapa tamu yang ingin sowan. Ada yang sowan karena mengadukan permasalahan hidupnya, ada yang sowan pamit dan minta doa berangkat umroh, dan berbagai hal lainnya. Kami pun yang juga punya hajat ikut serta duduk menunggu beliau menemui kami.

Alhamdulillah sebelum teh dan jajanan yang dihidangkan tandas kami minum, Gus Mus sudah keluar menemui para tamu. Kami antri. Ketika tiba giliran kami, Kami ditanya oleh dari mana, maka serempak kami menjawab dari Tuban. Mas Nahrus sebagai jubir kemudian matur tentang agenda PMK yang akan digelar di Tuban. Karena bertepatan dengan bulan Isra' mi'raj yang mana beliau sudah sangat padat sekali agendanya, maka kami kebagian hari. Tak apa, yang terpenting kami bisa sowan beliau adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Sebagai momentumnya kami pun berfoto dengan beliau.

Setelah dirasa cukup, serta sudah tidak ada lagi hal yang dibahas, kami pun memohon diri untuk pamit, biar gantian dengan tamu yang lain yang akan sowan beliau. Melihat banyaknya tamu pada pagi itu. Setelah undur diri dari Leteh, kami meluncur ke arah Blora menjemput asa yang juga tertunda, ziarah ke makam RA Kartini dan juga silaturahmi ke Pataba sowan ke Mbah Soesilo Toer setelah sekian purnama tak bersua.


Bangilan, 15 Februari 2023

Kamis, 20 Oktober 2022

Suluk Puisi Menempuh Jalan Sunyi

Suluk Puisi Menempuh Jalan Sunyi
Oleh: Joyo Juwoto

Jalanku adalah jalan sunyi
Jalan yang membentang diantara diriku dan dirimu
Jalan yang tak berjarak namun tak tertebak

Jalanku adalah jalan sepi 
Jalan yang kutempuh penuh peluh
Demi memeluk asa yang mengangkasa
Dalam dekapan sayap-sayap cintamu

Jalanku adalah jalanmu
Yang menyaru dalam dendang puisi bisu
Menyebut asmamu penuh rindu

Asma-asmamu bergetar dalam degup jantungku
Asma-asmamu merambah dalam desah nafasku

Menggenang tenang, mengalir dalam bulir-bulir suluk puisi 
Mengabadi bersama dalam guratan tinta takdirmu

Menempuh jalanmu adalah menuju kesunyian hati
Merenda cahaya dalam gelapnya jiwa
Menepi menyepi suwungkan diri


Bangilan, 19/10/22

Sabtu, 01 Oktober 2022

Pancasila di Mata Santri

Pancasila di Mata Kiai dan Santri
Oleh: Joyo Juwoto

Santri itu kiblatnya adalah Kiai, punjernya juga Kiai, pandangannya mengikuti Kiai, sehingga dalam memahami apapun biasanya santri hampir dapat dipastikan nderek dawuhe Kiai, sami'na wa atho'na selalu dengan Kiai. Begitupula dalam memandang ideologi Pancasila, sikap santri pasti mengikuti dawuh Kiainya.

Pancasila ini termasuk yang sering didawuhkan oleh KH. Maimoen Zubair sebagai bagian dari PBNU yang menjadi Pusaka Nusantara yang wajib kita jaga bersama. PBNU di sini bukan singkatan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, tapi kepanjangan dari Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Undang-undang Dasar 1945. Sangat pas dan paket komplit sekali. 

Saya di sini dalam memahami Pancasila tidak akan membahas secara ilmiah, di negara ini sudah banyak pakar tentang itu, bahkan ada lembaga negara yang digaji ratusan juta untuk menjadi juru tafsir Pancasila itu sendiri. Saya juga tidak akan membahas bagaimana dulu Piagam Jakarta yang menjadi ruh dari Pancasila ini. Saya hanya akan membahas Pancasila dengan bahasa yang mudah diterima oleh kalangan santri. 

Entah ketepatan atau tidak, ideologi bangsa Indonesia kok memakai istilah Pancasila, yang berarti lima dasar. Lha dalam ajaran santri angka lima ini cukup sakral karena dihubungkan dengan rukun Islam yang lima isinya, jumlah ibadah shalatnya umat Islam ya lima waktu juga.Tidak hanya itu saja, secara kejawen Pancasila sesuai dengan istilah sedulur papat lima pancer. Jadi kayak klop begitu jika mengomongkan masalah Pancasila tadi baik secara syariat Islam maupun secara kejawen.

Salah seorang ulama Sepuh yaitu beliau KH. Maimoen Zubair dawuh: "Pancasila itu terdiri dari lima bintang yang itu sejalan dengan konsep maqashid as-syariah di dalam Islam. Lima hal itu adalah menjaga jiwa, akal, harta, keturunan, dan martabat manusia." Lihatlah, bagaimana Mbah Moen begitu seriusnya memaknai dan memberikan tafsir Pancasila sebagai maqhasid as-syariah dalam ajaran Islam. 

Lima hal yang di dawuhkan Mbah Moen adalah sesuatu yang sangat asasi dalam kehidupan manusia, dan ajaran Islam sangat concern dengan hal tersebut, karena menjaga maqasid as-syariah berarti menjaga keberlangsungan hidup dan kehidupan yang membawa kepada kemaslahatan, baik secara individu maupun secara sosial.

Habib Luthfi Pekalongan juga sangat menekankan agar para santri dan generasi muda bangsa selalu berpegang teguh dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Karena pada dasarnya Pancasila itu memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Pancasila boleh diperdebatkan penafsirannya, tetapi Pancasila tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya. Apalagi saat Muktamar NU di Situbondo sudah putuskan bahwa Pancasila adalah asas Negara dan Jam’iyah Thariqah menegaskan NKRI harga mati. 

Habib luthfi juga dawuh: “Pancasila mampu melindungi pluralitas yang ada, dan menjadi ideologi negara, maka Pancasila akan memperkokoh pertahanan nasional dan memperkokoh NKRI. Sebab Pancasila akan dimiliki semua pihak. Bila Pancasila itu tumbuh pada diri setiap anak bangsa dengan diperkokoh atau di beck-up oleh agamanya, maka kekuatan, kesatuan dan persatuan semakin erat terjalin dan tidak akan mudah digoyahkan. Karena Pancasila menjadi sebab tumbuhnya nasionalisme dan bebas dari kepentingan politik atau tidak akan menjadi bemper kepentingan politik. Sehingga tumbuh mekar secara murni kecintaan kepada agama, tanah air dan bangsa. Dari itu akan menjadi cermin bagi bangsa lain.”

Saya mengamini apa yang didawuhkan beliau Habib Luthfi, bahwa Pancasila adalah ideologi negara yang melindungi keberagaman dan pluralitas di Indonesia, Pancasila harus ditanamkan sejak dini di dalam sanubari anak bangsa, dan biarkan nilai-nilai Pancasila itu tumbuh menjadi jatidiri bangsa yang melahirkan rasa nasionalisme, cinta tanah air, bangsa dan negara. 

Mungkin kalangan akademisi memandang ini adalah hanya sekedar otak-atik mathuk saja, namun bagi saya tidak demikian, segala upaya yang dilakukan oleh Ulama guna menafsirkan Pancasila di atas adalah sebuah kecerdasan sekaligus kearifan untuk menyampaikan nilai-nilai Pancasila kepada kaum santri dengan penuh kebijaksanaan. Menurut saya justru ini adalah sebuah nilai plus. 

Tapi bagaimanapun juga kita sangat boleh untuk tidak sepakat dengan banyak hal, termasuk dalam penalaran Pancasila di atas. Yang pasti Pancasila sebagai ideologi bangsa, Kebhinekaan yang Tinggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Undang-undang Dasar 1945 adalah pandangan final yang harus kita jaga, kita rawat, dan kita semai untuk anak cucu kelak.