Kamis, 07 April 2022

Ramadhan Bulan Membaca

Ramadhan Bulan Membaca
Oleh: Joyo Juwoto
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al Qur'an, bulan di mana Rasulullah SAW pertama kali ditemui malaikat Jibril untuk menerima wahyu. Ayat pertama yang turun adalah surat al alaq ayat 1-5. Ayat pertama yang turun adalah perintah untuk membaca. Iqra' bismirabbikalladzii kholaq. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan.

Saya di sini tidak hendak menafsirkan ayat Al-Quran, karena bukan kapasitas saya. Karena ilmu tafsir sudah ada kualifikasinya tersendiri. Saya hanya ingin menadabburi firman Allah guna mengambil faedah dan hikmah khususnya untuk diri pribadi saya. Sebagaimana yang sering Cak Nun katakan dalam Maiyahnya. 

Ayat pertama yang turun kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW sangat jelas, yaitu perintah untuk membaca, karena iqra' adalah fiil amar yang dalam ilmu nahwu bermakna perintah. Jadi perintah Allah yang pertama adalah membaca, bukan perintah untuk shalat, zakat, maupun ibadah lainnya. 

Jadi sangat tepat jika bulan Ramadhan adalah bulan membaca, karena Allah menurunkan ayat iqra' di bulan ramadhan. Oleh karena itu sudah menjadi tradisi umat islam di bulan ramadhan semarak membaca al Qur'an bergema di mana-mana. Tiap mushola, masjid, dan di rumah orang-orang sama sibuk membaca Al-Quran. Kesibukan membaca Al-Quran pada bulan Ramadhan meningkat, silakan diperhatikan. 

Tidak hanya membaca Al Qur'an, umat islam, para santri sama mengaji kitab kuning. Pondok pesantren disibukkan dengan kegiatan pasanan baik untuk santri mukim maupun santri yang datang hanya sekedar pasanan di bulan ramadhan. 

Saya sendiri punya tradisi jika ramadhan berusaha mengkhatamkan membaca al Qur'an, walau hanya sekali khatam di bulan ramadhan. Tradisi ini sudah saya lakukan sejak di pondok dulu, karena mbah Yai waktu itu menasehati santri-santri untuk menyibukkan diri dengan membaca Al-Quran pada bulan ramadhan. Semoga ramadhan tahun ini saya bisa mengkhatamkannya juga. Aamiin. 

7 April 2022 M/ 5 Ramadhan 1443 H

Rabu, 06 April 2022

Tidurnya Orang Yang Berpuasa adalah Ibadah

Tidurnya Orang Yang Berpuasa adalah Ibadah
Oleh: Joyo Juwoto

Pada bulan puasa langit surga ditampakkan, dan pintu neraka ditutup oleh Allah SWT, demikian dalam sebuah penjelasan keutamaan bulan puasa. Ya, semua amal kita di bulan puasa adalah bernilai ibadah yang membuahkan pahala. Tidurpun kita tetap mendapatkan pahala. Hadits ini sangat masyhur sekali, Naumusshoimi ibadatun.

Mengapa tidur saja di bulan ramadhan kok dianggap ibadah? Mungkin kelihatannya aneh, tapi jika ditelisik benar adanya. Bayangkan jika kamu tidur, maka potensi maksiat kamu kepada Allah tentu berkurang, dibandingkan saat terjaga. Ini mungkin selemah-lemahnya alasan untuk meninggalkan kemaksiatan berkurang, dibandingkan saat terjaga. Ini mungkin selemah-lemahnya alasan untuk meninggalkan kemaksiatan.

Jika kita berbicara masalah tidur, tentu kita semua tahu kisah ashabul kahfi. Para pemuda ashabul kahfi ini jihadnya adalah tidur di dalam goa selama bertahun-tahun. Mereka dalam mempertahankan keyakinannya ya hanya dengan tidur sampai Allah SWT membangunkan mereka. Jadi jika ada ungkapan tidurnya orang yang puasa ibadah tentu tidak aneh, walau tentu ini bukan untuk dipakai alasan untuk bermalas-malasan.

Dalam memaknai ungkapan hadits tidurnya orang puasa adalah ibadah harus dengan kacamata positif dan produktif, semisal jika tidur saja dihitung sebagai ibadah, maka tentu ketika kita melakukan kebaikan da  amal sholeh sudah barang tentu Allah SWT akan memberikan pahala yang berlimpah.

Jadi bulan Ramadhan adalah bulan diskon besar-besaran yang diberikan Allah kepada kita, ramadhan adalah bentuk kasih sayang dan rahmat Allah yang tiada tara bagi umat Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu mari mempergunakan kesempatan satu bulan sekali dalam setahun ini untuk investasi akhirat kelak.

Investasi itu bisa berupa memperbanyak membaca Al Qur'an di bulan ramadhan, bersedekah kepada dhuafa, tidak meninggalkan shalat taraweh yang memang diberikan keluasan waktu dan kesempatan oleh Allah, maupun dalam bentuk kebaikan-kebaikan lainnya. 

Semoga dengan berinvestasi akhirat tersebut menjadikan kita hamba-hamba yang berhasi lulus di madrasah Allah SWT yaitu madrasah ramadhan, dan akhirnya kita dapatkan gelar hamba yang bertaqwa. Aamiin, aamiin ya Rabbal 'alamin. 

6 April 2022 M/ 4 Ramadhan 1443 H

Selasa, 05 April 2022

Bahagia Menyambut Puasa

Bahagia Menyambut Puasa
Oleh: Joyo Juwoto
Puasa memang istimewa, belum juga kita melaksanakannya Rasulullah Saw sudah mengabarkan sebuah kabar gembira, "Man fariha bidhukhuuli ramadhan harramallahu jasadahu alanniiran" Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah haramkan jasadnya masuk neraka. Sebuah kabar gembira yang sangat melegakan jiwa. 

Ini belum juga dilaksanakan ibadahnya, bonusnya sudah dikredit di depan, apalagi pahala puasanya tentu lebih besar lagi. Tidak hanya itu saja, amalan-amalan di bulan puasa pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali lipat, sedang ibadah puasa entah seperti apa pahalanya, karena Allah mengatakan itu hanya Dia yang akan langsung memberikannya pahalanya. Ashoumu Li, Wa Ana Ajzi bihi.

Untuk meluapkan kegembiraan banyak cara dilakukan, umat Islam di Indonesia, khususnya Jawa punya tradisi megengan untuk menyambut puasa. Mungkin saja ada yang tidak setuju dengan model luapan kegembiraan yang sedemikian, namanya bergembira menurut saya ya sah sah saja, Allah dan Rasul-Nya sendiri tidak merinci harus seperti ini lho yang namanya bergembira menyambut puasa itu.

Megengan itu sebenarnya hanya kulitnya saja, isinya tetap sama dengan semangat ajaran keislaman. Di dalam acara megengan itu mengandung ajaran berbagi kebahagiaan kepada sesama, juga ajang untuk menjalin tali silaturahmi. Jadi apa masalahnya dengan kegiatan megengan ini? Lha wong makan-makan dan berbagi makanan masak kok ya tidak diperbolehkan.

Secara filosofis megengan memiliki makna yang lebih mendalam lagi, karena megengan itu bermakna menahan diri. Jadi masyarakat sudah mempersiapkan diri untuk menahan diri pada bulan puasa, baik menahan diri dari  pengertian puasa secara syariat maupun secara hakekat.

Rasulullah Saw sendiri juga sudah mengingatkan akan datangnya bulan Ramadhan dua bulan sebelumnya, yaitu saat masuk bulan Rajab. Beliau mengajarkan doa sebagai pengingat akan datangnya Ramadhan. Allahumma baariklana fi rajaba wa sya'baana wa ballighna ramadhan.

Begitulah salah satu keistimewaannya bulan Ramadhan, hingga kedatangannya dikabarkan dua bulan sebelumnya. Umat Islam Nusantara mengabarkan juga dengan tradisi megengannya. 


Bangilan, 4 April 2022