Jumat, 01 Oktober 2021

Menepi Berkawan Sepi

Menepi Berkawan Sepi
Oleh: Joyo Juwoto

Pada suatu senja, saat temaram mulai mulai menghunjam
Kau terhuyung diterpa angin laut utara

Matahari memerah darah di ujung lazuardi 
Pedih perih jiwamu bagai butiran pasir dilanda hempasan gelombang pasang 

Kau termenung di bawah langit yang menggulung mendung
Kalut bergelayut menghitam pada cakrawala kelam

Kepada laut kau tumpahkan semudra resah
Kepada ombak kau hempaskan segala gundah

Kepada camar-camar kau titipkan secuil kerinduan entah tentang apa pada sayapnya yang melayang ke angkasa

Kepada karang kau berharap ketegarannya, dalam setiap terjangan badai yang menggoncang 

Kepada pasir-pasir kau mengadu tentang segala kerinduanmu yang berakhir menjadi debu

Kepada angin yang berhembus sepoi-sepoi
Kau merenungi kesunyian hati

Kepada cemara yang melambai, kau munajatkan cinta yang dihempas badai

Kepada hati yang sunyi
Kau menepi, menyepi
Berkawan sepi


Senjakala, 22/09/21

Minggu, 19 September 2021

Sowan Mbah Yai Hamid Pasuruan


Sowan Mbah Yai Hamid Pasuruan
Oleh: Joyo Juwoto

Sepulang dari puncak Penanjakan Bromo jalur Tosari Pasuruan, kami serombongan mengagendakan untuk sowan ziarah ke maqam mbah Yai Hamid yang berada di lingkungan Masjid besar Pasuruan dekat alun-alun.

Suul adab rasanya bagi kami, jika tidak ziarah ke maqam mbah Hamid, sedang kami sedang berada di wilayah yang dekat dengan beliau. Lagi pula biasanya perjalanan santri itu kalau tidak pergi haji, sowan kiai, ya menziarahi maqamnya para wali. Ngalap berkah.

Mbah Hamid Pasuruan terkenal sebagai waliyyullah, sayang Saya sendiri tidak pernah bertemu beliau secara fisik, Saya lahir 3 tahun sebelum mbah Yai Hamid Pasuruan pulang keharibaan Allah Swt.

Pertama kali Saya kenal nama Mbah Yai Hamid dari Mbah Yai Saya. KH. Abd. Moehaimin Tamam. Mbah Yai bercerita saat beliau sowan ke Pasuruan. Kisah ini Saya tulis dalam buku Memoar Santri mbeling, yang Saya tulis bertiga dengan teman Santri di pondok Assalam.

Dari buku yang kemarin Saya beli di toko dekat maqamnya Mbah Hamid yang berjudul: "Percik-percik Keteladanan Kiai Hamid" Saya banyak mendapati hikmah dan Keteladanan dari kisah perjalanan beliau, mulai dari masa kecil hingga beliau meninggal dunia.

Mbah Hamid muda ternyata seorang yang keras dan pemberani, beliau sering konfrontasi dengan etnis Cina yang memang banyak dijumpai di Lasem, tempat beliau tinggal. Demikian menurut shohibul hikayat dalam buku tersebut.

Mbah Hamid muda pernah nyantri ke berbagai Pesantren, seperti di Kasingan Rembang, Talangsari Jember, dan paling lama beliau mondok di Pesantren Tremas, Pacitan di bawah asuhan KH. Dimyathi.

Dari Pesantren Termas inilah yang menurut penulis buku banyak mempengaruhi kepribadian Mbah Hamid. Saya rasa ini cukup beralasan, karena Mbah Hamid muda yang nama aslinya Abdul Mu'thi menghabiskan masa belajarnya di Pesantren legendaris ini. Mbah Hamid mondok di Termas kurang lebih 12 tahun.

Sifat beliau yang dalam tanda kutip mbeling saat usia remaja ternyata sangat kontras dengan kehidupan beliau saat telah menapaki jenjang pernikahan. Beliau terkenal sebagai sosok yang sangat sabar, lembut, dan penuh kasih sayang.

Sebagaimana yang didawuhkan Gus Baha' ada wali lewat jalur keilmuannya, ada wali jalur riyadhohnya, dan ada pula wali lewat jalur istrinya. Maksudnya lewat jalur kesabaran dalam menghadapi perilaku istri yang kadang menjadi ujian bagi sang wali tersebut.

Menilik hal tersebut, Mbah Hamid ini wali dari semua jalur. Beliau seorang yang alim, suka riyadhoh, dan sangat sabar dengan istri beliau yang usianya terpaut sekitar 11 tahun. Tidak heran jika beliau dikenal sebagai wali yang memiliki banyak karomah. Mbah Hamid juga terkenal sebagai Kiai yang sangat dermawan. Banyak orang yang mengisahkan akan hal ini.

Ada yang sowan kepada Mbah Hamid kemudian mendapatkan sangu uang beberapa rupiah, dan si tamu tadi didoakan agar bisa naik haji. Entah bagaimana prosesnya si tamu segera bisa berangkat haji setelah sowan kepada Mbah Hamid. Padahal uang sangu dari Mbah Hamid masih utuh disimpan di lipatan pecinya. Kisah ini Saya dengar dari Mbah Yai Saya.

Saya tak hendak mengisahkan banyak hal tentang Mbah Hamid, selain karena keterbatasan Saya mengenai beliau, juga karena Mbah Hamid di mata umat ibarat samudera, yang tak akan habis untuk kita timba air hikmah dan keteladanan dari beliau. Saya saat ini hanya merasa senang bisa sowan dan ziarah ke maqam beliau. Semoga kita semua bisa meneladani kepribadian dari sosok Kiai yang luar biasa ini. Aamin.

Bangilan, 19/09/2021

Sabtu, 18 September 2021

Menuju Puncak Penanjakan Gunung Bromo

Menuju Puncak Penanjakan Gunung Bromo
Oleh: Joyo Juwoto

Entah saya mulai dari kelokan yang mana, saat akan aku tuliskan kisah perjalananku serombongan menuju puncak Penanjakan Gunung Bromo. Perjalanan yang tentu sangat menyenangkan. 

Saya tak menghitung berapa jumlah kelokan yang harus ditempuh sebelum sampai pos dusun Tlogosari desa Tosari Pasuruan. Yang pasti ada dua kelokan yang Saya ingat, kelokan ke kiri, dan ke kanan, cuma itu diulang-ulang entah berapa kali. Soalnya bisa pusing jika Saya hitung jumlahnya. 

Itu belum kelokan yang harus kami tempuh via Jep dari homestay menuju puncak tujuan perjalanan kami di beberapa pos wisata. Yang paling ekstrim itu jalur dari lautan pasir. Tanjakannya membuat jantung berdebar. 

Awalnya kami serombongan memilih jalur Tumpang Malang, karena suatu hal kami pindah jalur lewat Pasuruan. Wah kayaknya tepat bisa sekalian sowan dan berziarah ke maqam mbah Yai Hamid Pasuruan. Mungkin nanti akan Saya tulis sendiri tentang ziarah saya ke beliau. 

Own ya, kami berangkat dari rumah sekitar jam 16.00 WIB,   dua mobil meluncur memecah jalanan yang cukup gerah, walau hari sudah sore. Masuk kota Pasuruan via jalur tol sudah cukup malam, hingga kami sampai di penginapan Tosari kurang lebih pukul 23.00 WIB. 

Di Tosari cukup dingin bagi kami yang terbiasa di tinggal di Tuban yang memiliki suhu udara lumayan panas. Kami harus menunggu pemberangkatan sekitar pukul tiga dini hari. Ya, kami menunggu di penginapan dengan istirahat  dalam balutan jaket tebal. Tidur.

Jam tiga pagi kami dibangunkan guide yang akan membawa kami ke puncak Bromo. Kami pun mempersiapkan diri. Ada beberapa lokasi yang akan dikunjungi, diantaranya puncak Penanjakan untuk melihat matahari terbit, lautan pasir, padang savana bukit Teletubbies, dan kawah Bromo.

Setelah rombongan siap, dua jep meluncur membawa kami ke puncak. Jalannya seperti di awal Saya tuliskan, berkelok ke kiri dan ke kanan berulang-ulang entah berapa kali hitungan. Sesampainya di puncak hari masih gelap. Kami menunggu matahari terbit dengan menghabiskan segelas kopi, ada juga yang memilih jahe susu.

Saya sendiri menyeruput secangkir kopi sambil menulis puisi, untuk mengabadikan perjalanan Saya ke puncak Bromo. Saya jadi ingat Soe hok gie yang menulis puisi saat muncak ke gunung yang judulnya Mandalawangi-Pangrango. Puisinya Soe Hok Gie bagus sekali, Saya suka.

Ini bait pertama puisi Soe Hok Gie:

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
... 

Bagi Soe Hok Gie naik gunung adalah sarana untuk belajar dan menempa diri, jadi bukan sekedar jalan-jalan menghilangkan stres dan kebosanan. Saya sendiri belum pernah naik gunung yang berjalan kaki, suatu saat Saya ingin mencoba. 

Tentu naik gunung era Soe Hok Gie dan era sekarang sudah jauh berbeda medannya, tapi setidaknya spiritnya harus tetap dijaga. Naik gunung guna belajar dan menguji keteguhan hati. Bukan sekedar jalan-jalan.

Kembali ke lokasi matahari terbit, saat itu sudah banyak orang yang akan melihat matahari terbit di puncak Penanjakan. Ya, sekitar 30an pengunjung, maklum masa pandemi.

Setelah shubuh kami pun bergabung ke lokasi matahari terbit. Saya berfikir tentang matahari terbit yang banyak ditunggu orang, secara filosofis matahari terbit adalah simbol hilangnya kegelapan dan terbitnya sinar harapan. Meminjam istilah Kartini, "Habis Gelap Terbitlah Terang."

Setelah matahari naik sepenggalah, kami turun ke lautan pasir. Di bawah gunung batok yang berada di kawasan pegunungan Bromo. Dari kisah lautan pasir inilah, menurut tutur masyarakat menjadi salah satu legenda tentang Rara Anteng dan Joko Seger. Hal ini bisa dibaca tentang legenda Gunung Batok. 

Dari lautan pasir ini,. Kami meluncur sampai di savana rerumputan yang lebih dikenal dengan nama bukit Teletubbies. Sayang, waktu itu tidak ada boneka lucu yang terkenal dengan slogan "Berpelukan" itu.

Setelah puas foto-foto, kami pun bersepakat kembali ke homestay. Ada satu paket yang kami tinggalkan yaitu kawah Bromo. Untuk menuju ke sana rasa-rasanya sudah tidak ada tenaga, akhirnya kami pun memilih untuk pulang saja. 

Bangilan, 18/09/2021