Jumat, 17 September 2021

Derai Cemara di Puncak Bromo

Derai Cemara di Puncak Bromo
Oleh: Joyo Juwoto

Siluet wajahmu kueja sepanjang perjalanan 
Dan dalam deretan bayang-bayang cemara
Kurindui rinai senyummu dalam buai cinta yang syahdu
Mendekap  dinginnya malam yang menusuk kalbu

Kekasihku adalah pohon-pohon cemara
Yang tercipta dari kerling matamu, yang menyimpan misteri
Dan senyapnya kegelapan yang menyelimuti hati

Irama degup jantungmu masih kudengar diantara kelok jalan yang menanjak terjal
Deru mobil bagai dengus nafasmu yang berbisik lembut di lembah dadaku

Bromo, tebing dan jurangmu kujelajahi, dan kupahatkan kenangan sepanjang waktu, di bongkahan batu-batu keabadian
Desau dan risau anginmu membisik pada cemara yang menari di mabuk asmara

Bromo, wajahmu bukan hanya sekedar keindahan belaka
Ada gelap di malammu yang bisu
Ada terjal di Puncakmu yang kelabu
Ada dingin di lembah ngaraimu yang beku
Dan derai cemaramu merangkai kidung asmara di puncak keabadian cinta 

Bromo,  kenanganku padamu abadi, terpatri dalam bait-bait puisi ini. 

Puncak Penanjakan, 17/09/2021

Rabu, 08 September 2021

Hari-hari Mochi Pergi

Hari-hari Mochi Pergi
Oleh: Joyo Juwoto

Semenjak mochi pergi ada yang kurang di rumah kami, ada yang hilang dari hati kami. Bagaimanapun juga ia pernah ada dan mengisi hari-hari kami sekeluarga. Kami merasa kehilangan tanpa adanya Mochi. 

Seperti yang saya singgung ditulisan pertama, mochi bukanlah kucing yang suka heboh. Ia hampir tidak pernah bersuara, sampai saat kawin sekalipun. 

Tiap saya pulang ke rumah, mochi selalu membuntuti saya sampai ke dapur, ia biasanya saya bawakan pur kucing, selain tiap pagi saya belikan ikan asin di pasar Bangilan. 

Di rumah kami anak mochi Ada 8 ekor, seharusnya ada 11 ekor. Anak periode pertama di rumah tinggal tiga, sudah besar-besar. Yang tiga ekor diadopsi teman.

Anak mochi yang masih masa menyusui ada lima ekor, usianya belum genap sebulan. Karena mochi pergi meninggalkan kami dan anak-anaknya, praktis kami lebih repot dari hari biasanya. 

Kami harus berbagi mengasuh lima anak mochi yang belum bisa makan dan minum. Yang paling repot tentu istriku, kadang dibantu sulungku Naila. Pagi, siang, dan sore hari harus memberikan susu untuk bayinya mochi. 

Istriku membelikan susu khusus kucing dan dotnya di toko pakan burung. Alhamdulillah anak-anak mochi sudah pintar ngedot, walau awalnya agak kesusahan.

Sekarang timbul masalah baru, biasanya mochi menjilati bulu-bulu anaknya biar bersih. Sekarang jika bulu-bulunya kotor istriku yang harus ngelap anak-anak itu. Belum lagi jika anak-anak mochi buang kencing dan pub sembarangan. 

Ini benar-benar masalah, air kencing dan kotoran anak-anaknya mochi mengotori beranda belakang rumah kami.

Tadi malam saya membuka-buka laman fb, saya ingat ada yang menjual kandang kucing ukuran  besar. Saya berfikir kayaknya cocok jika beli kandang kucing. Saya cari-cari dan ketemu, kemudian Saya WA penjualnya.

Ukuran kandangnya tinggi 110 cm, panjang 100 cm, dan lebar 60 cm, Saya rasa cukup untuk rumah anak-anak mochi. Oleh penjualnya dikasih harga 370.000 dan ongkir sampai rumah 20.000. Saya pun mengiyakan. 

Barangnya katanya inden, Saya harus menunggu hari Jumat katanya mau dikirimkan. Saya berharap kandang ini menjadi jawaban dari masalah air kencing dan pub anak-anak kucing yang sembarangan.

Anak-anak mochi harus tetap kami pelihara, minimal sampai mereka bisa mangunyah makanan sendiri, kemudian ada yang mau mengadopsinya. 

Semoga kami bisa mengantarkan anak-anak mochi sampai tumbuh mandiri dan menjadi kucing-kucing yang lucu seperti mochi dulu. 

Kerek, 8/9/21

Minggu, 05 September 2021

Menulis adalah jalan sunyi namun pesannya abadi

"Menulis adalah jalan sunyi namun pesannya abadi"
Oleh: Joyo Juwoto

Sedang Quote di atas saya dapati di lembar buku kedua yang berjudul "Rekontruksi Pendidikan Nasional." Buku itu khusus dihadiahkan kepada Saya oleh penulisnya sendiri, Dr. Ngainun Naim, seorang penulis produktif yang kelahiran dari kota Tulungagung.

Membaca judul  buku yang ditulis pak Ngainun tentu kepala Saya jadi berkernyit, lidah Saya berat, otak Saya bereaksi keras, ini buku ilmiah yang bakalan menguras konsentrasi otak, dan meminjam istilah Pak Ngainun sendiri, buku ini bakalan membuat migrain pembacanya.

Membaca buku memang ada yang memiliki fungsi rekreatif, semisal membaca novel, membaca cerpen, buku traveling, ataupun membaca puisi. Ini semua adalah buku-buku yang bergenre otak kanan.

Tapi otak perlu dibiasakan juga membaca buku-buku yang serius, dan ilmiah. Semisal membaca jurnal ilmiah, agar kita terbiasa juga membaca buku yang cocok dikonsumsi otak kiri, agar seimbang diantara keduanya.

Buku Pak Ngainun ini dicetak oleh penerbit Teras yang beralamat di Jogja pada tahun 2009, namun sekilas saat Saya mengintip daftar isinya, buku ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan kita hari ini.

Saya tak hendak meresensi buku beliau, karena Saya belum khatam membacanya. Saya baru membaca Pengantar penulis, menengok daftar isinya, dan baru mulai menapaki lembar di bab pertama.

Saya perlu pelan-pelan mengunyah buku ini, menelaahnya kembali, menikmati sensasi otak yang agak berat, dan dahi yang berkerut, Saya harus hati-hati, takut tersedak dengan bahasanya yang disajikan secara ilmiah, yang dibumbui dengan istilah yang kadang asing bagi Saya. 

Ya beginilah kalau kurang membaca buku ilmiah, susah sendiri jika menemukan kalimat-kalimat asing, sampai perlu membuka dan bertanya pada Mbah google segala. Tapi Saya bertekad mengkhatamkan buku pak Ngainun ini, bukan apa-apa, jangan-jangan buku ini bisa Saya jadikan salah satu rujukan thesis yang akan Saya tulis nanti. Tentu sangat membahagiakan sekali.

Mendapat kiriman buku dari Pak Dr. Ngainun ini adalah sebuah keberkahan tersendiri, ibarat  kejatuhan buah durian, karena buku ini Saya dapatkan secara gratis. Ada dua buku yang beliau kirim ke Saya, satunya adalah buku yang berjudul "Moderasi Beragama Dalam Bernegara" yang ditulis oleh Forum Penyuluh Agama Islam Kab. Tulungagung.

Saya tahu, pak Ngainun mengirimkan bukunya guna menyemangati Saya yang mulai kendor dalam menulis, semoga apa yang beliau usahakan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah Swt. Sebagaimana yang beliau pesankan, menulis adalah jalan sunyi namun pesannya abadi, semoga bisa Saya lampaui. Aamin. 

Bangilan, 05/09/21