Rabu, 27 Januari 2021

5 Menit yang Menentukan

5 Menit yang Menentukan
Oleh: Joyo Juwoto

Setelah lolos tes swab di laboratorium, tekanan darah bapak juga aman, padahal satu minggu sebelumnya sempat dinyatakan naik sedikit oleh dokter. Dokter memberikan resep obat, dan kami menebusnya di apotek. Obat itu diminum 1x sehari. 

Harga obat yang kami tebus di apotek cukup murah, 25 ribu dapat satu kempleng pil. Jika dihitung satu hari minum satu obat sesuai resep dokter, obatnya tidak habis. Mau minum nambah pastinya  tidak boleh. Karena obat hanya boleh diminum sesuai dosis, tertakar, dan diresepkan. Tidak seperti jamu yang bebas kita minum sekehendak kita. 

Sisa obat masih cukup banyak, tentu sisa obat ini juga tidak boleh diberikan kepada orang lain. Walau dengan kondisi yang sama dengan bapak. Sama-sama tekanan darahnya naik. Itu tindakan ilegal dan tidak dibenarkan dalam dunia medis.

Dunia kedokteran memang rumit bagi orang awam seperti saya. Karena kerumitannya ini tidak semua orang yang punya cita-cita jadi dokter terkabul. 

Mungkin di masa-masa kita TK dahulu kita dan teman-teman punya cita-cita untuk menjadi dokter atau ada yang bercita-cita menjadi pilot. Itu sebelum melihat kerumitan-kerumitan di dunia kedokteran. Termasuk juga mungkin kerumitan di dalam biaya perkuliahannya. 

Setelah dinyatakan aman untuk menjalani operasi, tahapan-tahapan yang diterangkan oleh dokter kami ikuti. Termasuk diantaranya mengecek kembali tekanan darah bapak. 

Sayang saat tes tekanan darah saya tidak ikut mendampingi beliau. Jadi saya tidak bisa menuliskannya di sini berapa tekanan darah bapak. Adik dan paman yang mendampingi tidak begitu memperhatikan, tapi tak mengapa yang penting aman dan siap untuk operasi mata.

Sebelum operasi bapak sempat mengeluh perutnya sakit. Melilit katanya. Saya tidak begitu paham itu gejala apa, saya hanya berusaha menenangkannya dengan bercerita bahwa operasi mata katarak itu operasi ringan. Jadi jangan terlalu khawatir. Padahal saya sendiri juga mengalami semacam kegelisahan tersendiri. 

Mungkin saja sakit perut yang dialami bapak karena dipengaruhi oleh kondisi psikologis beliau sebelum dioperasi. Apalagi beliau juga belum makan semenjak pagi. Beliau juga bercerita dua hari sebelum operasi tidurnya kurang nyenyak.

Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB, Petugas piket mulai memanggil pasien yang akan dioperasi. Satu persatu menuju ruangan periksa dan mendapatkan seragam yang khas, baju dan sarung berkolor dan makai tudung di kepala. 

Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan yang tidak saya pahami, bapak yang mendapatkan nomor urut empat harus menunggu pasien pertama, kedua dan ketiga. Saya tidak berani banyak tanya kepada team medis tentang serba-serbi operasi yang akan dijalani bapak. Saya lebih banyak berdiam dan berdoa saja. 

Pengantar pasien yang akan operasi juga tidak diperkenankan masuk ruang operasi. Begitulah standart medis yang telah ditetapkan yang harus kami patuhi. Kami menunggu diluar ruangan.

Tak berselang lama bapak dipanggil dari ruang tunggu menuju ruang operasi. Saya memberanikan diri bertanya kepada salah satu team medis yang memanggil bapak. Kira-kira berapa jam waktu yang diperlukan untuk operasi. 

Seakan melihat kegelisahan Saya, mas medis yang Saya tanya menjawab dengan tersenyuh ramah. Tindakan operasi katarak cukup cepat, tidak perlu menunggu hitungan jam. Cukup Lima menitan katanya. Sedang untuk lain-lainnya mungkin sekitar sepuluh menitan. Pasien sudah bisa keluar ruangan. 

Saya merasa tenang dengan dengan jawaban mas medis yang kemudian membawa bapak ke dalam ruang operasi. Saya masih melihat punggung bapak yang kemudian hilang ditelan pintu. Suasana menjadi sepi, terutama perasaan Saya sendiri. 

Tapi bagaimanapun ketepatan medis dalam melakukan analisis dan tindakan operasi yang terukur dan ilmiah, tetap saja doa dan harapan baik memberikan kekuatan tersendiri kepada jiwa kita untuk lebih tenang dan tawakkal. Insyallah semua akan baik-baik saja.

Tak berselang lama, sekitar lima belas menitan bapak, sudah dibawa keluar ruangan. Biasa saja, kondisinya seperti bapak saat masuk ruangan. Bedanya mata bapak sebelah kanan ditutup dengan kasa putih. (Joyo Juwoto) 

Bojonegoro, 26 Januari 2021

Senin, 25 Januari 2021

Hasil Tes Swab

Hasil Tes Swab
Oleh: Joyo Juwoto

Waktu menunjuk pada angka 13.45, Saya segera menuju laboratorium untuk mengambil hasil swab bapak. Dari klinik dokter Haryo jaraknya tidak terlalu jauh, perkiraan tidak sampai menghabiskan sebatang rokok sudah sampai di lokasi.

Di kecamatan Bangilan di mana Saya tinggal, memang belum ada klinik yang melayani swab antigen. Di kecamatan sebelah ada, yaitu di klinik dr. Intan Jatirogo. Bapak harus swab di laboratorium Fortuna  atas rekom dokter yang akan mengoperasi beliau.

Saya nama jalan di Bojonegoro tidak hafal. Bahkan cenderung bingung. Padahal empat tahun Saya kuliah di Bojonegoro. Untung saja kelemahan Saya ini ditutupi oleh teknologi masa kini yang bernama google maps. 

Untung lagi letak laboratorium Fortuna berada di jalan yang dekat dulu Saya kuliah. Jika Saya kuliah di Jl. Ade Irma Suryani, sedang Fortuna berada di jalan utama  P. Sudirman No. 137. Kampus Saya dari jl. P. Sudirman sebelum Fortuna belok ke kiri. Tepat di sebelah kiri jalan ada toko bukunya. 

Dulu saat Saya kuliah seingat Saya tempat itu belum ada toko bukunya. Entah sejak kapan toko buku itu buka. Tapi sebelum kampus di mana Saya kuliah ada entah perpustakaan entah toko buku second, yang mempunyai koleksi bacaan cukup banyak. Saya pernah mampir dan tanya-tanya saja. Sekarang rumah itu sudah tidak ada. Berganti dengan rumah baru.

Nasib perbukuan kita memang kayaknya masih lesu dan berlanjut sepi. Entah kapan toko buku bisa seramai kedai kopi, atau kita perlu berinovasi toko buku menyamar sebagai kedai kopi. Biar ramai. 

Saya sendiri pernah bermimpi membuka toko buku yang dikreasikan dengan kedai kopi. Sampai saat ini Saya masih tidur, dan menikmati mimpi itu. Mau bangun eman. Mimpi itu terlalu indah.

Ah Saya melamun. Sambil nyetir lagi. Lamunan Saya ternyata lebih jauh dari jarak ke Laboratorium. Tak terasa Saya sudah sampai di depan Fortuna. Saya disambut bapak yang bertugas parkir dengan ramah. Diarahkan roda kendaraan Saya yang agak melenceng ke luar jalan raya. 

Saya lalu masuk ke bagian pendaftaran saat awal tadi Saya mengantar swab bapak.  Hasilnya sudah disiapkan di selembar amplop tertutup. Saya membukanya dengan perasaan agak berdebar. Lalu Saya membaca hasil tes swabnya, "Negatif" Alhamdulillah. (Joyo Juwoto) 

Bojonegoro, 25 Januari 2021

Menunggu Matahari Terbit dari Kelopak Mata Bapak

Menunggu Matahari Terbit dari Kelopak Mata Bapak
Oleh: Joyo Juwoto

Dokter Haryo menjadwalkan operasi katarak bapak Jam 15.00 WIB sore ini. Kami serombongan berangkat dari rumah jam 11.00 WIB. Jarak rumah menuju Bojonegoro ditempuh sekitar satu jam. 

Saya diberi jadwal datang Jam 12.00 WIB untuk tes swab antigen di laboratorium Fortuna. Karena mengikuti jadwal yang diberikan dokter, jam 12.05 Saya telah sampai di laboratorium. Sekitar 10 menitan pengambilan swab di hidung bapak selesai. 

Selanjutnya Saya meluncur ke kliniknya dokter Haryo. Karena hasil swab baru bisa diambil satu jam lagi. Kami yang mengantar bapak harus menunggu satu jam untuk pengambilan hasil swab, dan menunggu dua jam untuk operasi. Itu pun kalau jam 15.00 tepat dokternya sudah  ada.

Oke gak papa, dibawa santai dan enjoy saja, lebih baik menunggu dua jam daripada telat sepuluh jam. Tentu Kliniknya dokter Haryo pasti sudah tutup.

Daripada jenuh, saat menunggu ini Saya gunakan untuk menulis. Membuang unek-unek dalam pikiran. Juga menjaga hati dari rasa was-was. Bagaimanapun juga mendengar kata operasi itu membuat kepala Saya agak pening juga. 

Bukan kali ini saja Saya harus menghadapi kata yang namanya operasi. Kedua anak Saya Nafa dan Ninda juga terlahir secara sesar. Namun tetap saja kata operasi mengganggu ketenangan Saya.

Dari rumah saja Saya tadi sudah mondar-mandir. Resah. Saya rasa ini perasaan yang wajar ketika seseorang mau menghadapi sesuatu yang mendebarkan. Ya sudah untuk mengatasi perasaan yang tidak karuan ini obatnya ya pasrah saja. Tawakkal kepada Allah Swt.

Dari rumah tadi bapak puasa. Bukan puasa syariat tapi puasa mau operasi. Saya Senin kemarin saat periksa sebenarnya tidak mendengar dokter Haryo mensyaratkan puasa sebelum operasi, tapi puasa pun tak mengapa.

Menit demi menit terus berlalu, perputaran jarum jam terasa bertalu lebih keras, sebagaimana bunyi jantung Saya yang yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Kami masih setia menunggu sampai matahari terbit dari kedua kelopak mata bapak. (Joyo Juwoto) 

Bojonegoro, 25 Januari 2021