Sabtu, 23 Januari 2021

Happy Ending

Happy Ending
Oleh: Joyo Juwoto

Tanggal 8 Januari 2021, Saya menerima kabar rapid tes kemenakan Saya reaktif. Ya, dia harus rapid tes karena menjadi persyaratan magang
 dari pihak sekolah. 

Kemenakan Saya saat ini sedang studi di salah satu SMK di kota soto, Lamongan. Dengan kondisi OTG, saat menjalani tes dan hasilnya reaktif, oleh dokter di Lamongan direkomendasikan agar isolasi mandiri selama dua pekan.

Walhasil dia pun pulang ke Bangilan untuk isolasi mandiri. Ketepatan rumah yang Saya tempati direkom keluarga sebagai tempat isolasi. Kami pilih satu kamar  bagian belakang yang menjadi satu bagian dengan dapur, kamar mandi, dan toilet. Sangat pas untuk ruang isolasi mandiri. 

Apalagi belakang dapur masih ada pekarangan belakang yang bisa dipakai untuk olahraga ringan dan berjemur. 

Ruang depan yang terhubung dengan ruang belakang oleh Istri disekat dengan plastik transparan, agar bisa dipakai untuk memantau kemenakan yang sedang menjalani isolasi mandiri dua pekan ke depan.

Tanggal 9 Januari 2021 diantar pak Liknya yang ada di Lamongan, kemenakan Saya tiba di Bangilan. Langsung menempati ruang isolasi yang telah disiapkan sebelumnya. 

Kami dan keluarga besar tidak melakukan kontak fisik sama sekali. Percakapan kami lakukan lewat sekat plastik transparan, sama via WhatsApp. 

Untuk kebutuhan makan dan minum sehari-hari akan dikirimkan, ditaruh di kursi depan pintu ruang isolasi. Protokol Kesehatan benar-benar harus diterapkan. 

Dari Lamongan dokter memberikan tablet multi vitamin dan mineral merk Becom-zet. Dari keluarga menambahi kapsul procumin propolis dan madu. Selain tentu buah-buahan yang harus dikonsumsi sehari-hari seperti jeruk, pisang, dan rambutan. 

Hari demi hari berlalu. Terasa lambat, kayak tidak seperti biasanya. Padahal tentu ini hanya perasaan  belaka. Karena waktu masih berputar sama. Sehari semalam 24 Jam, satu pekan tujuh hari, dan satu bulan sama dengan antara 30/31 hari. 

Setelah berjuang melawan kebosanan hari yang di tunggu pun tiba. Ya begitulah puasa selalu berbuah lebaran, dan isolasi mandiri segera terselesaikan tepat hari jumat kemarin tanggal 22 Januari 2021.

Pagi di hari jumat perasaan kami seperti perasaan orang yang sedang menyambut hari pembebasan. Tapi masih deg-degan juga. Menunggu saat rapid tes nanti hasilnya bagaimana.

Setelah mandi dan sarapan pagi, Saya mengajak  kemenakan Saya untuk swab antigen di Jatirogo. Di dokter Intan ternyata ada layanan swab antigen. Kliniknya berada di desa Sugihan sebelum Pasar sapi tepat. 

Pada awalnya Saya telah mendaftar tes swab antigen di RS Aisyiyah Bojonegoro. Saya sudah transfer diawal, karena syaratnya demikian. Karena suatu hal Saya batalkan. Saya lalu menghubungi pihak RS. bagaimana jika pendaftaran yang sudah kadung Saya lakukan Saya batalkan. 

Pihak RS Aisyiyah menjawab bahwa uang Saya akan dikembalikan utuh. Pagi hari uang itu sudah ditranfer kembali di rekening Saya.

Saya meminta maaf dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang bagus dan luar biasa dari pihak RS Aisyiyah. Saya tentu senang, uang kembali seratus persen. 

Karena Saya punya pengalaman hampir mirip, yaitu saat saya mengirimkan barang via salah satu perusahaan ekspedisi. Setelah Saya daftar Saya batalkan. Saya kena denda sekian persen dari biaya pengiriman. Tapi gak papa. Resiko keteledoran saya. 

Kembali tentang tes swab antigen di Jatirogo, sampai di dokter Intan kami ke loket pendaftaran. Kami ditanya mau tes apa, rapid antibodi yang biayanya 150 ribu atau tes swab antigen dengan biaya 250 ribu. 

Karena ingin mengetahui kondisi apakah masih ada virus covid 19 yang bersarang di tubuh kemenakan, maka kami memutuskan untuk swab antigen saja. Karena menurut petugasnya, tingkat keakuratannya lebih baik dibanding rapid antibodi. Hasilnya pun juga relatif cepat 20 menitan.

Tak berselang lama, kemenakan Saya di swab, kami harus menunggu sambil hilir mudik. Ada perasaan cemas jika nanti hasilnya tetap pisitif seperti tes pertama di Lamongan. Kami berdoa semoga negatif. Toh di Lamongan kemarin hanya rapid saja. Karena dokter merekom untuk isolasi mandiri, kami pun mengikuti apa kata dokter saja. 

Sekitar duapuluh menitan berlalu, petugas memanggil nama kemenakan Saya. Kami pun mendekat. Berdasarkan hasil tes swab antigen kemenakan Saya dinyatakan negatif. Alhamdulillah. Happy ending.  (Joyo Juwoto) 

Jelaru, 23 Januari 2021.

Senin, 18 Januari 2021

NU dan Dakwah Tahlilan dalam Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

*NU dan Dakwah Tahlilan dalam Meneguhkan Komitmen Kebangsaan*
Oleh: Joyo Juwoto

Jika membaca dan mencermati judul saya dalam tulisan ini, orang tentu ada mengira saya bukanlah penganut faham Aswaja NU. Itu kira-kira saya saja. Entah benar entah tidak. Harapan saya semoga saja tidak.

Karena memang sejarah perjalanan ke-NUan saya abu-abu sih. Tidak jelas, Saya  ini NU yang bagaimana. NU garis tengah, lurus, menyamping atau bahkan mungkin yang NU garis lucu saja.

Kartanu sebagai salah satu identitas Keanggotaan di NU Saya tidak punya, Saya bukan Ansor, bukan pula bagian dari organisasi struktural NU. Saya bagian dari NU kebanyakan, NU kultural. 

Waktu menjadi pelajar saya tidak ikut dan menjadi anggota IPNU, bahkan saat menjadi pelajar justru saya dekat dengan mahasiswa LIPIA, yang tentu ke-NUannya sangat tidak lulus ujian kema'arifan. Walau tentu tidak semuanya. Banyak sahabat saya lulusan LIPIA tapi NU-nya tetep ijo royo-royo. Pembaca tentu sudah  tahu, Gus Ulil Abshar Abdalla pengampu pengajian Ihya' online itu juga jebolan LIPIA. Beliau tetep ijo.

Lalu pada saat kuliah, saya juga tidak masuk dalam organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi pada NU, justru saya adalah anggota IMM. Walau menjadi anggota pasif. Lha wong saya kuliahnya di STITMU. Haha...paket komplit kan perjalanan ketidak-NUan saya.

Tapi perlu saya garis bawahi, bahwa Saya hari ini menjadi mahasiswa pascasarjana di IAI Sunan Giri Bojonegoro, sebuah lembaga perkuliahan yang terbesar dan membanggakan, milik warga NU di Jawa Timur bagian barat. Mungkin lain waktu Saya akan bercerita tentang pilihan Saya, kuliah lagi di usia Saya yang sudah di kepala empat ini.

Kembali mencermati judul tulisan Saya, Saya memakai kata dakwah untuk Saya sandingkan dengan tahlilan. Sepengetahuan ke-NUan Saya, warga Nahdliyin tidak memakai kata dakwah untuk menyebut aktivitas tahlilan. Biasanya ya tahlilan saja, tanpa embel-embel dakwah.

Di era sekarang kata dakwah menjadi kata yang cukup hight. Jika ada yang mengatakan ini adalah jalan dakwah, seakan-akan itu sama saja dengan jalan Tuhan yang harus diperjuangkan. Kata dakwah sebangun dengan memperjuangkan dan membela Tuhan, padahal kata Gus Dur, "Tuhan tidak perlu dibela."

Saya di sini bukan dalam rangka alergi dengan kata dakwah, apalagi sampai merendahkan kata dakwah. Tidak sama sekali tidak. Wong, sebelum (menjadi) apa-apa kita adalah seorang dai. Yang kader atau mantan kader tentu masih hapal, "Qabla kulli sya'in nahnu ad-duat." Benerkan?

Saya di sini hanya ingin membagi apa dan menuangkan dalam tulisan yang saya rasakan tentang tahlilan, yang Saya anggap mampu Meneguhkan Komitmen kebangsaan warga masyarakat. Ya, Saya hanya akan bercerita, bukan menulis jurnal ilmiah jadi santai saja, tak perlu menyertakan berbagai teori yang rumit yang Saya sendiri juga tak memahaminya.

Saya menulis ini teringat beberapa waktu yang lalu, tetangga saya ada yang meninggal dunia. Bisa dibayangkan duka cita dari keluarga yang ditinggalkan. Seperti biasa warga masyarakat sama melayat. Ada tahlilan dan sholat jenazah dilakukan sebagai rangkaian dari upacara kematian.

Setelah selesai, para tetangga sama pulang ke  rumah masing-masing. Suasana rumah duka menjadi sepi. Para pelayat dalam pandangan psikologi shohibul janazah adalah hiburan. Walau mendung duka masih menggelayut di kelopak mata, dan air mata kesedihan belum mengering, namun ada rasa bahagia ketika tetangganya datang menghibur dengan taburan doa untuk almarhum.

Lalu pada malam harinya, tetangga kembali berdatangan untuk tahlilan. Ini sangat menghibur Kepada shohibul musibah. Saya tidak tahu apakah ini karena faktor kebiasaan atau karena faktor apa, tapi Saya melihat wajah ceria shohibul bait menyambut tamu-tamunya.

Misi agama, silaturrahim, menggembirakan orang lain, bahkan misi kebangsaan dan kemanusian tercakup dalam kegiatan tahlilan. Ini tentu hal-hal yang sangat diperlukan dalam Meneguhkan Komitmen Kebangsaan kita. Membangun kerukunan mulai dari tetangga dekat.

Anehnya warga Nahdliyin tidak pernah mengatakan dakwah tahlilan, padahal aspek relegius dan nilai-nilai kebangsaan dalam kegiatan tahlilan sangat dirasakan oleh masyarakat. NU memang sangat sederhana dalam pola dakwahnya, pelan namun menghunjam ke dalam jantung peradaban umat manusia. Saya sudah membuktikan,  tiap orang di lingkungan Saya adalah NU, ya NU kultural, walau tidak berKARTANU, dan berorganisasi ke-NUan sekalipun.

Jadi menurut Saya kata dakwah ini tidak harus menempel pada setiap aktivitas dakwah yang sedang dikerjakan. Cukuplah amalan yang dikerjakan itu bernilai kebaikan, itu sudah menjadi dakwah walau kata dakwah tidak disebutkan. Kalaupun disebutkan pun tidak menjadi masalah. Cuma jangan sampai kita terjebak pada tata formalitas belaka.

Saya jadi ingat cerita entah Mbah Hasyim Muzadi, atau Gus Dur yang diceritakan. Atau cerita ini bener-bener ada atau hanya sekedar lelucon. Saya juga tidak mengecek kebenaran cerita ini.

Saat itu beliau sedang mengantar tamu dari luar negeri yang mengajak berkeliling kota meninjau lembaga  pendidikan milik NU. Saat perjalanan ternyata yang banyak ditemui adalah lembaga milik Muhammadiyah. Lalu si tamu tadi bertanya, "Sejak tadi yang banyak Saya lihat kok lembaga milik Muhammadiyah ya, pak?"
Beliau dengan ringan pun menjawab, "Iya, yang tidak ada tulisannya itu milik NU semua." Jawabnya santai sambil tertawa. Ah, bisa-bisa saja.

Bojonegoro, 18/01/2021

Sabtu, 26 Desember 2020

Asal-usul Desa Demit Jatirogo

Asal-usul Desa Demit Jatirogo
Oleh: Joyo Juwoto

Desa Demit adalah salah satu desa yang ada di kecamatan Jatirogo. Desa Demit mayoritas penduduknya adalah petani, selain itu Demit terkenal sebagai desa penghasil kerajinan batu bata merah. 

Selain karena tekstur tanah yang memang cocok dipakai bahan baku bata merah, wilayah ini juga dekat dengan hutan yang memungkinkan pembakaran batu bata menggunakan kayu dari hutan. Kualitas batu bata dari daerah Demit sudah tidak diragukan lagi. 

Mungkin pembaca bertanya, kok  nama desanya serem ya? Demit. Dalam bahasa Jawa demit berarti hantu, atau gendruwo. Tapi benarkah desa Demit adalah desa hantu? 

Berikut saya ceritakan ulang mengenai asal-usul desa Demit, semoga kisah cerita turun temurun ini bisa dikenang dan dilestarikan keberadaannya sebagai salah satu wisdom lokal masyarakat. 

Dahulu kala ada suatu daerah terpencil yang mana daerah tersebut masih berupa hutan belantara. Diceritakan suatu ketika ada seorang wali bersama dengan para pengawalnya melewati daerah itu. Tepat pada saat itu datang waktu untuk melakukan sholat dhuhur. 

Sang Wali dan pengikutnya itu pun mencari tempat yang dapat digunakan untuk menjalankan sholat dhuhur. Akan tetapi tidak ada tempat yang layak digunakan untuk sholat, hingga akhirnya salah satu pengawalnya mengusulkan untuk membuka daerah itu menjadi sebuah padepokan. 

"Wahai Sang Kiai, bagaimana jika kita membuka hutan ini menjadi padepokan, dan kita menetap di sini? Kata salah satu pengikut Wali tersebut. 

Sang wali pun menyetujui saran dari salah satu pengawalnya itu. Dan saat itu juga dimulailah pembabatan hutan hingga akhirnya menjadi tanah yang lapang dan luas.

" Baiklah, pengembaraan kita akhiri di tempat ini. Kita akan membuka hutan ini menjadi sebuah padepokan, agar masyarakat bisa belajar agama di sini." Ujar sang Wali kepada muridnya

Untuk melengkapi sarana padepokan maka sang wali berfikir untuk mendirikan masjid di tempat tersebut, agar kelak dapat digunakan untuk beribadah bersama sekaligus tempat untuk belajar para santri-santrinya. 

Sebelum proses pembangunan masjid dilaksanakan sang wali akan melaksanakan sholat hajat terlebih dahulu guna meminta petunjuk kepada Allah SWT. Namun ketika akan mengambil air wudlu ia mencari-cari sumber air di sekitar padepokan.  Sang Wali tidak menemukan sumber air hingga akhirnya ia berjalan ke arah selatan dari padepokannya. 

Dan ternyata di wilayah bagian selatan dari padepokan ditemukan sebuah sendang besar, airnya sangat bersih jernih. Sendang itu sangat asri dengan pepohonan yang menghijau di sekitarnya. 

Sang Wali kemudian menuju ke Sendang itu dan mengambil air wudlu. Pada saat wali mengambil air wudlu beliau merasakan sesuatu yang aneh, air di sendang itu ternyata sangat dingin sekali yang dalam bahasa Jawa disebut“ademe amit-amit." 

"Air sendang ini bersih dan jernih, tapi airnya sangat dingin. Ademe amit-amit, besok kalau tempat ini ramai maka sebagai penanda tempat ini saya beri nama Demit, dari kata ademe amit-amit. " Begitu kata Sang Wali sesudah mengambil air wudhu. 

Karena tempat itu dirasa cocok untuk pemukiman, akhirnya Sang Wali membangun masjid didekat sendang tersebut. Lama kelamaan daerah itu menjadi ramai dan banyak orang yang sama menetap di sana.

Sebagaimana yang disabdakan oleh sang wali, nama daerah tersebut dikenal dengan sebutan“DEMIT” sebuah nama yang diambil dari sebuah sendang yang airnya dingin sekali atau “ademe amit-amit”. Sendang tersebut sampai sekarang masih ada dan digunakan pengairan oleh masyarakat yang ada di Desa Demit Kec. Jatirogo.Demikian

Demikian kisah asal-usul desa Demit yang dikisahkan oleh sesepuh desa secara lisan dan turun temurun dari generasi ke generasi. Semoga tulisan sederhana tentang asal-usul desa ini bisa ikut menjaga kelestarian dan kebudayaan yang ada di sekitar kita.