Kopdar ke-IV SPK dan menziarahi (sejarah) Kota Malang
Oleh: Joyo Juwoto
Kota Malang bisa disebut sebagai kota pendidikan, sederet nama kampus beken ada di sana. Selain itu kota yang berudara sejuk ini juga menjadi salah satu destinasi wisata masyarakat. Walau demikian, jika saya ke kota Malang, salah satu yang selalu saya ingat adalah sepenggal kisah sejarahnya yang melegenda "Ken Dedes, Ken Arok, dan ken ken yang lain". Saya memang suka cerita-cerita sejarah, apalagi yang berbumbu mitos dan menjadi foklore masyarakat.
Ken Dedes adalah seorang gadis ayu dari lembah Panawijen,. putri seorang pendeta Budha, Mpu Parwa. Sekarang nama Panawijen sudah tidak ada, kemungkinan besar nama itu mengalami perubahan vonem menjadi Polowijen Blimbing. Karena di desa tersebut ditemukan sebuah situs yang dikenal dengan nama Sumur Windu Ken Dedes atau sumur upas.
Ken Arok adalah seorang anak terbuang yang menjadi brandal ternama, ia terlahir dari sebuah skandal asmara yang rumit. Dari ide gilanya-lah tercipta pusaka sakti Keris Empu Granding yang meminta tumbal darah tujuh turunan. Ken Arok dan Ken Dedes inilah yang nantinya mendirikan wangsa baru dalam sejarah kerajaan di Jawa, wangsa Rajasa Sang Amurwabumi.
Kisah tentang Ken Dedes dan Ken Arok dengan segala drama perebutan kekuasaan yang dibumbui kisah romantis bisa pembaca dalam novel Ken Arok; Cinta dan Takhta karya Zhaenal, atau kalau mau lebih revolusioner lagi silakan baca buku Arok Dedesnya Pramoedya Ananta Toer, ada banyak sudut pandang lain yang dihidangkan Pram untuk pembaca. Dan Pram memang selalu berbeda dan memiliki tafsir yang unik yang berkenaan dengan kisah Arok-Dedes dalam suksesi raja-raja Jawa.
Kedatangan saya di Malang Hari ini bukan dalam rangka mendedah sejarah ataupun foklore Arok-Dedes, tapi dalam Kopdar Literasi bersama Sahabat Pena Kita (SPK) yang diselenggarakan di Kampus UNISMA. Jadi saya mencukupkan diri membahasnya sampai di situ saja. Selanjutnya saya ingin bercerita kedatangan kopdar saya di komunitas literasi di mana saya belajar menulis di sana.
Setiap enam bulan sekali SPK mengadakan kopdar, saat kopdar di UNISMA adalah kopdar yang keempat. Karena kopdar sebelumnya saya tidak hadir, maka di kopdar ke-IV ini saya mewajibkan diri saya hadir. Seribu alasan untuk tidak hadir telah saya hapus dari pikiran saya. Saya wajib hadir titik.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, niat baik dan tekad yang kuat selalu menemukan jalannya untuk berhasil. Tepat tadi malam jam 00.00 saya sampai di Malang, tepatnya di terminal Arjosari. Saya memilih tidur di terminal menemani tukang ojek, bakul kopi, dan angkringan di pinggir jalan yang tak lelah mengais rezeki dan barakah. Sampai larut malam mereka mengabdikan tenaganya untuk melayani penumpang yang sampai larut malam baru tiba di terminal.
Saya menikmati dinginnya kota Malang dengan bahagia, menghitung jumlah bintang yang alpa di cakrawala, menikmati secangkir jahe anget, dan kemudian tidur di emperan toko di tepi jalan raya, setelah Shubuh saya meluncur ke kampus UNISMA dan bersiap untuk silaturahmi dan thalabul Ilmi dalam kopdar SPK.
*Arjosari, 25/01/2020*
Pages - Menu
Sabtu, 25 Januari 2020
Rabu, 22 Januari 2020
Menjelajahi Belantara Diksi Puisi
Menjelajahi Belantara Diksi Puisi
Ada
yang bilang entah siapa, bahwa puisi yang baik dan bernilai tinggi nan sastrawi
adalah puisi yang tak terpahami oleh pembaca. Ungkapan ini bisa iya bisa tidak,
tergantung sudut pandang yang menilai dan memberikan apresiasi dan kritik
terhadap sebuah puisi itu sendiri. Saya pribadi menilai puisi tidak sekedar
dengan logika makna semata, kadang juga melibatkan intuisi dan frekuensi bahasa
jiwa. Gampangnya saya tidak begitu ambil pusing dengan segala teori menulis puisi
itu yang bagaimana, yang terpenting saya menulisnya dan selesai.
Mohon
dimaafkan, mungkin saja saya terlalu naif, tapi ya begitulah, sebagai seorang
yang awam dengan sastra puisi itu sendiri, saya kadang lebih mengedepankan
kebahagiaan dengan puisi yang selesai saya tulis, ada perasaan yang membuncah
saat puisi itu mencapai titik akhir penulisan. Entah apa jadinya nanti, apakah puisi saya itu
sesuai dengan wadah atau model yang telah disiapkan oleh aturan yang bernama
teori menulis puisi, atau tidak. Saya hanya berusaha menulis dengan hati itu
saja. Sederhana.
Oleh
karena itu, disekian waktu saya menulis dan menerbitkan buku, baru kali ini
saya memberanikan diri menerbitkan puisi saya, itupun karena dibersamai oleh
sahabat saya, Yulia Pratitis Yusuf yang bernama pena Liaiko, jika tidak, saya
mungkin belum tentu mampu mengumpulkan keberanian untuk menerbitkan kumpulan
puisi saya sendiri.
Bagi
saya pribadi puisi itu tidak harus dengan kalimat mengharu biru, tidak wajib
juga penuh diksi yang menyihir dan membuat bengong para pembaca, atau dengan
kalimat bunga-bunga yang mempesona, yang terpenting menurut saya adalah
bagaimana seorang penulis bisa menuangkan ide dan gagasannya dalam bait-bait
puisinya.
Saya
menyukai hampir diseluruh rangkaian kata dalam sebuah puisi yang ditulis oleh
penulisnya, saya meyakini setiap penulis berusaha mengungkapkan hal terbaik
yang terbetik dalam hati, walau kadang hasilnya biasa-biasa saja, tak apalah
dunia memang rupa-rupa, puisi juga demikian, tak harus yang menghanyutkan perasaan
itu yang disebut puisi, kadang datar dan biasa saja, kadang melompat, kadang
terguling tidak berbentuk pun tak apalah, karena semuanya menuju pada muara
untuk menciptakan karya yang bernama puisi. Walau nanti bisa kita sebut sebagai
puisi yang gagal.
Bagi
saya puisi itu alat, bisa sebagai alat propaganda, alat menyampaikan suatu ide,
alat protes, menuangkan suasana kegembiraan dan kesedihan hati penulisnya, bahkan
mungkin alat untuk lari dari kenyataan sekalipun. Saya sangat suka dengan
ungkapan yang ditulis oleh Sujiwo Tejo. Beliau bilang begini: “Tahukah kamu orang yang paling tak berperasaan? Dia
yang jauh dari kekasih di
saat hujan, tapi tak menghasilkan puisi.”
Saya sebenarnya mencurigai ungkapan presiden Jancukers
Indonesia ini terinspirasi dari qoulnya Hujjatul Islam Imam Al Ghazali
yang saya intip di beranda facebooknya salah seorang teman
“Orang yang tak tersentuh hatinya melihat bunga-bunga yang
bermekaran di musim semi dan tak bergetar jiwanya mendengar alunan merdu dawai
kecapi, maka orang itu rusak mentalnya, taka da obatnya.”
Tampaknya dua ungkapan yang cukup indah itu, bisa mewakili
dan menjadi hujjah serta dalil atau mungkin juga sebagai dalih untuk menulis bait-bait
puisi, selain tentu apa yang pernah diungkapkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab
yang menyatakan “Ajarilah anak-anakmu sastra,
lantaran sastra menciptakan anak yang pengecut menjadi jujur dan
pemberani.”
Akhirnya, dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, dan
bagaimanapun bentuknya, saya berdoa dan berharap tulisan dalam buku Antologi
Puisi “AKU Api Kamu Air” menjadi salah satu karya sastra yang bisa
menginspirasi kepada pembaca. Kritik dan saran dari para budiman tentu sangat
kami harapkan. Sekian dan terima kasih.
Bangilan, 20
Januari 2020
Penulis
Rabu, 01 Januari 2020
Jaran Dawuk
Jaran Dawuk
Oleh: Joyo Juwoto
Namanya Sumadi, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan panggilan Mad Dawuk. Dia adalah satu-satunya lelaki di desa ini yang masih mau menjalani laku tradisi sebagai penari jaran kepang untuk sandur Turonggo Seto. Sebuah paguyuban seni tradisional yang masih dilestarikan di desa Randu Pokak. Mad Dawuk menjalani kesehariannya sebagai petani, hanya pada event-event tertentu jika ada pagelaran sandur, dialah yang ditunjuk sebagai media masuknya roh jaran dawuk dalam pagelaran sandur.
Mad Dawuk hidup sebatang kara, bapak dan ibunya entah kabur kanginan kemana, sejak kecil Mad Dawuk diasuh oleh neneknya yang renta. Hingga akhirnya sang nenek meninggal dunia, saat itu usia mas Dawuk menginjak remaja. Karena hidup sebatang kara dan tidak memiliki sanak dan saudara, Mad Dawuk kemudian diasuh oleh Mbah Ronggo, seorang Germo Sandur di dusun tersebut.
"Mad kamu ikut saya saja ya? Sandurku membutuhkan seorang penari jaran kepang" ujar Mbah Ronggo seusai hari berkabung karena neneknya meninggalkan dunia.
"Saya manut pada kehendak Mbah Ronggo saja." Jawab Sumadi sambil menundukkan kepala, dia memang tak punya pilihan harus bagaimana sepeninggal neneknya. Karena dia sadar dia hanya seorang diri di dunia ini.
Pertemuannya dengan Mbah Ronggo ini menjadikan Mas Dawuk sering mengikuti pagelaran Sandur yang digelar di hajatan warga, maupun saat diundang dalam event-event tertentu. Mad Dawuk kebagian peran naik jaran kepang, sebuah miniatur kuda yang terbuat dari anyaman bambu dibentuk mirip seekor kuda, namun bentuknya pipih.
Mad Dawuk sangat menikmati perannya sebagai penari jaranan, hal itulah yang dirasa bisa digunakan untuk membalas budi baik kepada Mbah Ronggo yang mau menampungnya, ia bahkan rela menanggung resiko hingga diusianya yang menginjak kepala empat belum ada gadis yang mau dilamarnya. Kebanyakan orang tua dari para gadis tidak ingin anaknya bersanding dengan pemuda yang sering dimasuki roh jaran dawuk. Karena, selain di arena pertunjukan sandur, kadang-kadang Mad Dawuk berulah kesurupan roh jaran dawuk dan ia pun mengamuk sejadi-jadinya, makan rumput, padi, bahkan gelas kaca.
Kadang Mas Dawuk sendiri bingung, sebenarnya para gadis tak mau mendekat dan menjauhinya itu gara-gara ia sebagai penari Jaran kepang atau karena ia tidak punya uang,.dan bahkan tidak punya pekerjaan yang jelas, karena berumah tangga tidak hanya membutuhkan cinta, namun harta benda pun wajib ada.
Memang dari setiap pertunjukan, Mad Dawuk mendapatkan upah uang lelah namun nominalnya tak seberapa, karena hasil dari tanggapan dibagi oleh Mbah Ronggo dengan pemain sandur lainnya. Bahkan kadang Mbah Ronggo sendiri tombok untuk menjamu rombongan panjak hore yang kadang jumlahnya membludak.
Hal ini yang kadang membuat Mad Dawuk jenuh juga ketika harus menjalani perannya sebagai jaran, bagaimanapun ia adalah lelaki normal yang juga ingin membangun rumah tangga layaknya kebanyakan manusia. Tapi mau apalagi, hanya itu yang dibisainya selain bertani dari sepetak lahan yang ada di pekarangan rumah warisan sang Nenek yang hasilnya juga tidak jelas.
Kadang Mad Dawuk gamang dengan takdirnya sendiri, namun apa daya, manusia hanya menjalankan garis kuasa Tuhan. Walau ia sadar Tuhan memberikan hak ikhtiar bagi hamba-nya yang mau mengubah nasib yang sedang dijalaninya. Tuhan tentu sangat bergembira ketika hamba-hamba-Nya mau mengubah kondisi yang buruk menjadi yang lebih baik lagi.
Pada suatu sore, saat Mad Dawuk duduk santai di serambi depan rumahnya Mbah Ronggo, sambil sesekali ia mengebulkan asap rokok klobotnya, ia melamunkan masa depannya yang tidak jelas. Tiba-tiba, Mbah Ronggo datang mengagetkannya.
"Mad, kamu nglamun apa? Sore-sore gini kok sudah bengong." Sapa Mbah Ronggo yang sudah tampak tua.
"Ah, Mbahe ini mengagetkan orang yang sedang asyik nglamun saja. Iya mbah, ini lho saya sedang melamun didatangi Dewi Widodari." Jawab Mad Dawuk sambil bergurau.
"Hehe...nglamunmu diijabahi Gusti engger, sapa ngerti ana wali liwat." Jawab Mbah Ronggo sambil terkekeh.
"Aamin, Mbah Aamin..." lanjut Mad Dawuk sekenanya.
Mbah Ronggo ini sudah sepuh, rambutnya sebagian besar telah memutih, ia biasa menggunakan udeng dikepalanya. Ya udeng model mblarak sempal khas pesisiran Tuban. Udeng ini menjadikan penampilan Mbah Ronggo tampak serasi dengan gelarnya sebagai Germo Sandur.
Udeng mblarak sempal ini dilihat dari bentuknya secara filosofis memiliki makna sempalan ke bawah dan bukakan. Sempalan ke bawah ini memiliki makna seseorang itu harus rendah hati, jangan sombong kepada siapapun, sedang model udeng Tuban terbuka di bagian atas kepala atau bukakan. Ini memiliki arti bahwa seseorang harus terbuka hati dan pikirannya, selalu menerima masukan dari orang lain dengan hati terbuka.
Oleh karena itu, Mbah Ronggo menyarankan orang-orang yang terlibat di sandurnya agar memakai udeng atau ikat kepala. Mad Dawuk sendiri selama ini tidak mau memakainya, ia merasa ikat kepala hanya cocok untuk orang tua sebagaimana Mbah Ronggo. Ia lebih suka bertelanjang kepala daripada harus tampil seperti mbah-mbah. Begitu pikir Mad Dawuk.
Tapi entah bagaimana, Mbah Ronggo kemudian membuka udengnya dan memberikannya kepada Mas Dawuk sambil berkata:
"Angger anakku, satu Minggu yang akan datang, tepat di malam bulan purnama sandur kita akan main di alun-alun Kota Tuban. Kita diundang bapak Bupati untuk pentas. Ini kamu latihan pakai udeng ya? Besok pas tampil kamu harus memakainya." Kata Mbah Ronggo dengan suara lembut sambil pergi meninggalkan Mad Dawuk yang masih terbengong-bengong.
"Edan! Masak saya harus berdandan kayak kakek-kakek" gerutu Mad Dawuk sambil membanting udeng ke tanah.
Bagaimanapun juga Mbah Ronggo adalah orang yang banyak memiliki jasa kepadanya. Mad Dawuk kembali memungut udeng yang telah dicampakkannya. Dulu saat awal bergabung dengan sandur Turonggo Seto, Ia pernah diajari Mbah Ronggo untuk memakai udeng. Bahkan mad Dawuk masih ingat kata-kata kakek tua itu.
"Angger anakku, memakai udeng itu bukan sekedar berhias, tapi ber-udeng memiliki makna kamu harus mudeng dengan kehidupan ini, agar hidupmu tidak kesasar." Begitu petuah yang masih diingat oleh Mad Dawuk, walau ia sampai hari ini belum mau memakainya.
Tapi semenjak kejadian sore itu, Mad Dawuk mulai belajar ber-udeng. Bukan apa-apa, itu demi besok malam purnama ia akan ikut tampil di alun-alun kota Tuban.
***
Malam purnama yang ditunggu tiba. Rombongan sandur Turonggo Seto pimpinan Mbah Ronggo akan tampil di tengah alun-alun kota. Masyarakat tampaknya sangat antusias dengan pertunjukan ini. Mereka biasanya menunggu dua atraksi, jaran kesurupan dan kalongkingan.
Setelah persiapan dengan segala uba rampenya siap, sandur pun dimulai. Mbah Ronggo tampak berwibawa mengatur dan memimpin jalannya pertunjukan teater rakyat yang masih berbau magis ini.
"Kembang wijen mbok widodari masang sajen."
"Lelo lale lale lalo laloo
Lullah, lullah Lola lelo leo
Ee...ya o ya e....ee ya o ya ee
Lullah...
Rasalullah"
Suara salah satu sesepuh sandur mulai bernyanyi membuka jalannya pertunjukan, diiringi suara kendang dan gemuruh panjak hore yang berkumpul di titik tengah kenthengan di bawah kembang Gagar Mayang.
Lampu-lampu obor telah dinyalakan, asap dupa mengepul memenuhi udara, janur kuning di pasang di tali yang melingkari kenthengan tampak melambai-lambai ditiup angin malam. Suasananya sangat meriah.
Satu persatu adegan Sandur mulai berjalan, Pethak, Balong, Tangsil, dan Cawik telah menjalani perannya. Agar penonton tidak bosan di sela-sela adegan itulah Sang penari Jaran kepang tampil. Mad Dawuk yang malam itu memakai ikat kepala tampak gagah berwiba seperti Batara Kamajaya.
Dari luar arena ada sepasang mata jelita yang memandangi sosok pemuda desa itu, awalnya Mad Dawuk tak menyadarinya, karena ia terbiasa menjadi objek lensa kamera maupun lensa mata para penonton.
Tak dinyana, panah asmara sang Dewi Kamaratih telah menembus jantung hati Mad Dawuk yang telah dirasuki Sang Kamajaya. Walau berjauhan jarak dan dipisahkan oleh tali kenthengan sandur, sepasang mata dari mereka berdua saling bertemu dan berbicara, hening dan intim sekali. Tak ada yang paham kecuali rasa.
***
"Jambu jambu klutuk, kudangane jaran dawuk"
"Hore-hore hore-hore
Rak sorak sorak hore
Hore-hore hore-hore
Rak sorak sorak hore"
...
Mad Dawuk mulai kesurupan, ia menunggangi jaran kepang, menari dengan tangkas mengelilingi arena. Oleh sang pawang kuda, Mad Dawuk diberi makan dedak, padi, dan juga beling kaca. Semua dilibas habis. Mad Dawuk memang sedang kesurupan ruh jaran dawuk dari grumbul desa.
Mad Dawuk lupa dengan sepasang mata yang telah menembus jantungnya, raganya telah dikuasai ruh jaran dawuk, ia menari dengan trengginas penuh pesona. Di luar arena, seorang gadis cantik menenteng DLSR-nya, sibuk mengabadikan aksi jaran dawuk dalam memori foto, dan juga memori hatinya.
Purnama tepat di atas kepala, pertunjukan sandur semakin meriah saat pemain kalongking memanjat tali dengan terpejam dan menghabiskan kupat lepet yang di pasang di atas bambu. Sorak-sorai penonton menambah maraknya pertunjukan.
Setelah semua adegan dimainkan, sang Germo pun menutup jalannya sandur dengan tembang kembang walur.
"Kembang walur mbok widodari bali menduwur"
"Hore-hore hore-hore
Rak sorak sorak hore
Hore-hore hore-hore
Rak sorak sorak hore"
Suasana menjadi sepi, penonton sama meninggalkan arena, pulang ke rumah masing-masing. Peralatan sandur diberesi dan dinaikkan mobil yang di bawa dari rumah Mbah Ronggo. Tidak ada yang ketinggalan, kecuali sepasang hati yang menunggu dipertemukan oleh sang waktu.
*Bangilan, 31/12/19*
Oleh: Joyo Juwoto
Namanya Sumadi, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan panggilan Mad Dawuk. Dia adalah satu-satunya lelaki di desa ini yang masih mau menjalani laku tradisi sebagai penari jaran kepang untuk sandur Turonggo Seto. Sebuah paguyuban seni tradisional yang masih dilestarikan di desa Randu Pokak. Mad Dawuk menjalani kesehariannya sebagai petani, hanya pada event-event tertentu jika ada pagelaran sandur, dialah yang ditunjuk sebagai media masuknya roh jaran dawuk dalam pagelaran sandur.
Mad Dawuk hidup sebatang kara, bapak dan ibunya entah kabur kanginan kemana, sejak kecil Mad Dawuk diasuh oleh neneknya yang renta. Hingga akhirnya sang nenek meninggal dunia, saat itu usia mas Dawuk menginjak remaja. Karena hidup sebatang kara dan tidak memiliki sanak dan saudara, Mad Dawuk kemudian diasuh oleh Mbah Ronggo, seorang Germo Sandur di dusun tersebut.
"Mad kamu ikut saya saja ya? Sandurku membutuhkan seorang penari jaran kepang" ujar Mbah Ronggo seusai hari berkabung karena neneknya meninggalkan dunia.
"Saya manut pada kehendak Mbah Ronggo saja." Jawab Sumadi sambil menundukkan kepala, dia memang tak punya pilihan harus bagaimana sepeninggal neneknya. Karena dia sadar dia hanya seorang diri di dunia ini.
Pertemuannya dengan Mbah Ronggo ini menjadikan Mas Dawuk sering mengikuti pagelaran Sandur yang digelar di hajatan warga, maupun saat diundang dalam event-event tertentu. Mad Dawuk kebagian peran naik jaran kepang, sebuah miniatur kuda yang terbuat dari anyaman bambu dibentuk mirip seekor kuda, namun bentuknya pipih.
Mad Dawuk sangat menikmati perannya sebagai penari jaranan, hal itulah yang dirasa bisa digunakan untuk membalas budi baik kepada Mbah Ronggo yang mau menampungnya, ia bahkan rela menanggung resiko hingga diusianya yang menginjak kepala empat belum ada gadis yang mau dilamarnya. Kebanyakan orang tua dari para gadis tidak ingin anaknya bersanding dengan pemuda yang sering dimasuki roh jaran dawuk. Karena, selain di arena pertunjukan sandur, kadang-kadang Mad Dawuk berulah kesurupan roh jaran dawuk dan ia pun mengamuk sejadi-jadinya, makan rumput, padi, bahkan gelas kaca.
Kadang Mas Dawuk sendiri bingung, sebenarnya para gadis tak mau mendekat dan menjauhinya itu gara-gara ia sebagai penari Jaran kepang atau karena ia tidak punya uang,.dan bahkan tidak punya pekerjaan yang jelas, karena berumah tangga tidak hanya membutuhkan cinta, namun harta benda pun wajib ada.
Memang dari setiap pertunjukan, Mad Dawuk mendapatkan upah uang lelah namun nominalnya tak seberapa, karena hasil dari tanggapan dibagi oleh Mbah Ronggo dengan pemain sandur lainnya. Bahkan kadang Mbah Ronggo sendiri tombok untuk menjamu rombongan panjak hore yang kadang jumlahnya membludak.
Hal ini yang kadang membuat Mad Dawuk jenuh juga ketika harus menjalani perannya sebagai jaran, bagaimanapun ia adalah lelaki normal yang juga ingin membangun rumah tangga layaknya kebanyakan manusia. Tapi mau apalagi, hanya itu yang dibisainya selain bertani dari sepetak lahan yang ada di pekarangan rumah warisan sang Nenek yang hasilnya juga tidak jelas.
Kadang Mad Dawuk gamang dengan takdirnya sendiri, namun apa daya, manusia hanya menjalankan garis kuasa Tuhan. Walau ia sadar Tuhan memberikan hak ikhtiar bagi hamba-nya yang mau mengubah nasib yang sedang dijalaninya. Tuhan tentu sangat bergembira ketika hamba-hamba-Nya mau mengubah kondisi yang buruk menjadi yang lebih baik lagi.
Pada suatu sore, saat Mad Dawuk duduk santai di serambi depan rumahnya Mbah Ronggo, sambil sesekali ia mengebulkan asap rokok klobotnya, ia melamunkan masa depannya yang tidak jelas. Tiba-tiba, Mbah Ronggo datang mengagetkannya.
"Mad, kamu nglamun apa? Sore-sore gini kok sudah bengong." Sapa Mbah Ronggo yang sudah tampak tua.
"Ah, Mbahe ini mengagetkan orang yang sedang asyik nglamun saja. Iya mbah, ini lho saya sedang melamun didatangi Dewi Widodari." Jawab Mad Dawuk sambil bergurau.
"Hehe...nglamunmu diijabahi Gusti engger, sapa ngerti ana wali liwat." Jawab Mbah Ronggo sambil terkekeh.
"Aamin, Mbah Aamin..." lanjut Mad Dawuk sekenanya.
Mbah Ronggo ini sudah sepuh, rambutnya sebagian besar telah memutih, ia biasa menggunakan udeng dikepalanya. Ya udeng model mblarak sempal khas pesisiran Tuban. Udeng ini menjadikan penampilan Mbah Ronggo tampak serasi dengan gelarnya sebagai Germo Sandur.
Udeng mblarak sempal ini dilihat dari bentuknya secara filosofis memiliki makna sempalan ke bawah dan bukakan. Sempalan ke bawah ini memiliki makna seseorang itu harus rendah hati, jangan sombong kepada siapapun, sedang model udeng Tuban terbuka di bagian atas kepala atau bukakan. Ini memiliki arti bahwa seseorang harus terbuka hati dan pikirannya, selalu menerima masukan dari orang lain dengan hati terbuka.
Oleh karena itu, Mbah Ronggo menyarankan orang-orang yang terlibat di sandurnya agar memakai udeng atau ikat kepala. Mad Dawuk sendiri selama ini tidak mau memakainya, ia merasa ikat kepala hanya cocok untuk orang tua sebagaimana Mbah Ronggo. Ia lebih suka bertelanjang kepala daripada harus tampil seperti mbah-mbah. Begitu pikir Mad Dawuk.
Tapi entah bagaimana, Mbah Ronggo kemudian membuka udengnya dan memberikannya kepada Mas Dawuk sambil berkata:
"Angger anakku, satu Minggu yang akan datang, tepat di malam bulan purnama sandur kita akan main di alun-alun Kota Tuban. Kita diundang bapak Bupati untuk pentas. Ini kamu latihan pakai udeng ya? Besok pas tampil kamu harus memakainya." Kata Mbah Ronggo dengan suara lembut sambil pergi meninggalkan Mad Dawuk yang masih terbengong-bengong.
"Edan! Masak saya harus berdandan kayak kakek-kakek" gerutu Mad Dawuk sambil membanting udeng ke tanah.
Bagaimanapun juga Mbah Ronggo adalah orang yang banyak memiliki jasa kepadanya. Mad Dawuk kembali memungut udeng yang telah dicampakkannya. Dulu saat awal bergabung dengan sandur Turonggo Seto, Ia pernah diajari Mbah Ronggo untuk memakai udeng. Bahkan mad Dawuk masih ingat kata-kata kakek tua itu.
"Angger anakku, memakai udeng itu bukan sekedar berhias, tapi ber-udeng memiliki makna kamu harus mudeng dengan kehidupan ini, agar hidupmu tidak kesasar." Begitu petuah yang masih diingat oleh Mad Dawuk, walau ia sampai hari ini belum mau memakainya.
Tapi semenjak kejadian sore itu, Mad Dawuk mulai belajar ber-udeng. Bukan apa-apa, itu demi besok malam purnama ia akan ikut tampil di alun-alun kota Tuban.
***
Malam purnama yang ditunggu tiba. Rombongan sandur Turonggo Seto pimpinan Mbah Ronggo akan tampil di tengah alun-alun kota. Masyarakat tampaknya sangat antusias dengan pertunjukan ini. Mereka biasanya menunggu dua atraksi, jaran kesurupan dan kalongkingan.
Setelah persiapan dengan segala uba rampenya siap, sandur pun dimulai. Mbah Ronggo tampak berwibawa mengatur dan memimpin jalannya pertunjukan teater rakyat yang masih berbau magis ini.
"Kembang wijen mbok widodari masang sajen."
"Lelo lale lale lalo laloo
Lullah, lullah Lola lelo leo
Ee...ya o ya e....ee ya o ya ee
Lullah...
Rasalullah"
Suara salah satu sesepuh sandur mulai bernyanyi membuka jalannya pertunjukan, diiringi suara kendang dan gemuruh panjak hore yang berkumpul di titik tengah kenthengan di bawah kembang Gagar Mayang.
Lampu-lampu obor telah dinyalakan, asap dupa mengepul memenuhi udara, janur kuning di pasang di tali yang melingkari kenthengan tampak melambai-lambai ditiup angin malam. Suasananya sangat meriah.
Satu persatu adegan Sandur mulai berjalan, Pethak, Balong, Tangsil, dan Cawik telah menjalani perannya. Agar penonton tidak bosan di sela-sela adegan itulah Sang penari Jaran kepang tampil. Mad Dawuk yang malam itu memakai ikat kepala tampak gagah berwiba seperti Batara Kamajaya.
Dari luar arena ada sepasang mata jelita yang memandangi sosok pemuda desa itu, awalnya Mad Dawuk tak menyadarinya, karena ia terbiasa menjadi objek lensa kamera maupun lensa mata para penonton.
Tak dinyana, panah asmara sang Dewi Kamaratih telah menembus jantung hati Mad Dawuk yang telah dirasuki Sang Kamajaya. Walau berjauhan jarak dan dipisahkan oleh tali kenthengan sandur, sepasang mata dari mereka berdua saling bertemu dan berbicara, hening dan intim sekali. Tak ada yang paham kecuali rasa.
***
"Jambu jambu klutuk, kudangane jaran dawuk"
"Hore-hore hore-hore
Rak sorak sorak hore
Hore-hore hore-hore
Rak sorak sorak hore"
...
Mad Dawuk mulai kesurupan, ia menunggangi jaran kepang, menari dengan tangkas mengelilingi arena. Oleh sang pawang kuda, Mad Dawuk diberi makan dedak, padi, dan juga beling kaca. Semua dilibas habis. Mad Dawuk memang sedang kesurupan ruh jaran dawuk dari grumbul desa.
Mad Dawuk lupa dengan sepasang mata yang telah menembus jantungnya, raganya telah dikuasai ruh jaran dawuk, ia menari dengan trengginas penuh pesona. Di luar arena, seorang gadis cantik menenteng DLSR-nya, sibuk mengabadikan aksi jaran dawuk dalam memori foto, dan juga memori hatinya.
Purnama tepat di atas kepala, pertunjukan sandur semakin meriah saat pemain kalongking memanjat tali dengan terpejam dan menghabiskan kupat lepet yang di pasang di atas bambu. Sorak-sorai penonton menambah maraknya pertunjukan.
Setelah semua adegan dimainkan, sang Germo pun menutup jalannya sandur dengan tembang kembang walur.
"Kembang walur mbok widodari bali menduwur"
"Hore-hore hore-hore
Rak sorak sorak hore
Hore-hore hore-hore
Rak sorak sorak hore"
Suasana menjadi sepi, penonton sama meninggalkan arena, pulang ke rumah masing-masing. Peralatan sandur diberesi dan dinaikkan mobil yang di bawa dari rumah Mbah Ronggo. Tidak ada yang ketinggalan, kecuali sepasang hati yang menunggu dipertemukan oleh sang waktu.
*Bangilan, 31/12/19*
Langganan:
Postingan (Atom)


