Sabtu, 30 November 2019

Ndolani Kanca

Ndolani Kanca
Dening: Joyo Juwoto


Alhamdulillah, awan Iki atiku seneng banget, bungah ra kaprah-kaprah. Sebabe aku iso ndolani kancaku, sing wis suwe ra ketemu. Kanca naliko ning SD. Asmane Kang Sumadi sing saiki manggon ing tlatah Bojonegoro. Aku ya pengin dolan lan silaturahmi ning kanca-kancaku liyane. Mugi-mugi kasembadan opo kang dadi kekarepane atiku.

Pas wayah dolan aku disuguhi kopi ireng. Anget-anget seger, tur maknyus sruputane. Sakliyane kuwi ono uga bakso. Wis komplit.
 Pokoke. Alhamdulillah berkah silaturahmi, mugi-mugi dadi jalaran awak sehat, lan manfaat. Shohibul bait ugi pikantuk rejeki Gangsar kang turah-turah saha berkah.

Sakwuse ndolani kancaku mau, aku pamitan mantuk, amerga wis nyedaki wayah Jumatan, banjur aku mampir masjid Gedhe ing kutho Bojonegoro,  nglampahi wajibing Gusti nindaake sholat Jumat.

Saking jarak kang iseh lumayan adoh saka masjid, pas iseh ing dalan aku wis krungu khutbahe khotib kang disiarke nganggo toa. Suarane banter tur jelas banget.

Inti khutbahe mangkene, "Naliko hari pembalasan ing akhirat, ono salah sijine Kawulo kang dilebetke neraka kalih Gusti Allah. Kawula Kuwi duweni kanca kang banget Sayange Karo dewekne. Kancane kawula mau kersane Allah kok mlebu suwarga.  Nanging, sakdurunge mlebu suwarga, dewekne tingak-tinguk nggoleki koncone kok gak ono. Akhire dewekne takon Karo malaikat.

"He...malaikat, opo Sira ngerti Fulan bin Fulan Iki? Malaikat njawab, oh, Kuwi panggonane Ning neraka."

Banjur wong Iki mau njaluk supaya kancane sing mlebu suwarga ditekno lan dijak bareng mlebu suwargo Karo dewekne. Alhamdulillah, penjaluke diijabahi kaliyan Gusti Allah. Dadi suk emben Kuwi kanca apik iso paring syafaat maring kancane sing mlebu neraka.

Tasih dawuhe khotib Jumat ing
Masjid alon-alon Bojonegoro Iki mau, Ing salah sijine dawuh, Kanjeng Nabi Nate ngendikan kalih Sayyidina Ali. "He...Ali, akih-akihno kekancan marang wong kang becik, soale kanca kang becik bakal iso nulungi awak nira besok ing tembe mburi."

Mekaten Niki wau, sekedik keterangan isi khutbah sing tak rungokke ing mesjid Gedhe Bojonegoro. Mugi-mugi kita pikantuk syafaatipun Kanjeng Nabi lan syafaatipun konco ingkang sae. Matur nuwun.


*Bojonegoro, 29 November 2019.*

Sabtu, 02 November 2019

Mula Malapetaka

*Mula Malapetaka*
Oleh: Joyo Juwoto

Mula Malapetaka adalah sebuah novel terjemahan yang dialih bahasakan oleh Novia Stephanie. Novel ini judul aslinya The Bad Beginning yang ditulis oleh Lemony Snicket. Saya baru saja membaca buku 1, entah sampai berapa jilid buku ini, saya sendiri belum tahu. Maklum novel ini dipinjami teman.

Cerita dalam buku ini diawali dari sebuah permainan anak-anak di sebuah pantai yang disebut sebagai pantai payau, tempat di mana tiga bersaudara Baudelaire menghabiskan waktunya. Tiga bersaudara tersebut adalah Violet si sulung yang suka melempar batu ke arah laut, Klaus, si anak tengah yang gemar mengamati hewan-hewan, dan si bungsu Sunny yang suka menggigit-gigit barang yang dipegangnya.

Kegembiraan dan keasyikan mereka di pantai pupus dengan kedatangan sosok tinggi seram yang mendekati mereka bertiga. Ternyata, sesosok itu adalah Pak Poe yang mereka kenal. Pak Poe datang membawa nasib suram bagi ketiga bersaudara tersebut.



Pak Poe datang membawa kabar bahwa rumah keluarga Baudelaire (Halah susah banget ngucap dan nulisnya) mengalami kebakaran hebat yang menghanguskan rumah mereka, bukan hanya itu orang tua mereka juga berpulang. Begitu kabar dari Pak Poe.

Kejadian ini tentu mengubah kehidupan tiga bersaudara yang malang ini. Mereka akhirnya diajak ke rumah pak Poe, dan tinggal bersama keluarga mereka. Tentu dengan kondisi yang serba baru, membuat tiga bersaudara ini tidak betah, mereka konflik dengan anak-anak pak Poe.

Kemalangan-kemalangan tiga bersaudara ini tidak berhenti di sini, akan banyak drama kesedihan yang mereka alami setelah mereka tinggal dengan seorang laki-laki aneh yang akrab dengan tato mata di dalam kehidupannya. Entah karena apa, Pak Poe mengirimkan mereka pada laki-laki aneh yang bernama Count Olaf.

Kisah dramatisasi kesedihan tiga bersaudara ini bisa dibaca di bab 4. Dengan cukup indah namun tragis, penulis menutup kesedihan tiga bersaudara ini dengan narasi yang menusuk hati. "Cahaya bulan menyorot lewat jendela dan jika ada yang mengintip ke dalam kamar anak-anak Baudelaire, ia akan menemukan mereka menangis diam-diam sepanjang malam.'

Sang penulis, Lemony Snicket sangat pintar dan detail  menggambarkan setting dan alur dalam cerita ini. Saya berusaha belajar dari tulisan yang diilustrasi oleh Brett Helquist. Ah, nama-nama yang sungguh asing dan susah untuk saya ingat dan saya ucapkan di lodah medok Jawa ini. ( Bersambung)

Kamis, 31 Oktober 2019

Dakwah Pangeran Bonang

Dakwah Pangeran Bonang
Oleh: Joyo Juwoto

Bagi saya, membaca kisah-kisah  orang-orang sholih cukup menyenangkan, begitu juga membaca cerita Walisongo juga tak kalah menariknya. Saya selalu betah dan suka membaca cerita-cerita, apalagi ada bumbu-bumbu mistik di dalamnya. Selain itu tentu ada banyak hikmah yang bisa kita gali dan kita petik darinya.

Pada kesempatan ini saya ingin mengulas sedikit mengenai kisah dakwah dan perjuangan salah satu Walisongo yang masyhur, yaitu Raden Makhdum Ibrahim, atau dikenal dengan sebutan sunan Bonang.

Buku yang saya baca tentang Sunan Bonang tergolong sangat tipis. Tebalnya hanya 39 halaman. Buku ini adalah salah satu serial dari buku Walisongo yang ditulis oleh M. Hariwijaya. Saya sebenarnya sempat mencari seri buku wali lainnya, tapi saya belum menemukan, mungkin saja sudah tidak dicetak.

Walau terbilang tipis, buku ini cukup bagus dan enak untuk dibaca. Buku yang dicetak di Yogyakarta tahun 2006 silam ini memuat lima bab.
Bab 1 Raden Makhdum Ibrahim
Bab 2 Mengungguli Ilmu para Brahmana
Bab 3 Pondok pesantren Bonang
Bab 4 Sufisme Sunan Bonang
Bab 5 Akhir Hayat Sunan Bonang

Dari bab 1 hingga bab 5 kisah dari Sunan Bonang dikisahkan relatif enak dan mudah dipahami. Saya lancar-lancar saja dalam membacanya. Karena kisah-kisah tersebut sudah sering saya baca di buku-buku lainnya. Hanya pada bab ke-4 saya agak kesusahan dalam memahami ajaran sufisme Sunan Bonang.

Di bab 4 ini banyak ajaran tasawuf yang dibabar oleh penulis. Perlu pendalaman dan referensi yang banyak untuk memahami ajaran sufisme Sunan Bonang, semisal ajaran shalat yang bukan hanya sekedar shalat secara Syara' saja. Di bab itu menyinggung shalat Daim dan juga sembahyang. Di halaman 24, sunan Bonang menanggapi pertanyaan Wujil tentang sembahyang. Sunan Bonang menjawab:
"Janganlah menyembah kalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Tapi jangan kau sembah apa yang terlihat."

Selain membahas sembahyang, juga membahas ilmu filsafat tentang anasir api, air, angin, dan juga tanah. Lebih lanjut di buku itu dijelaskan nilai filosofisnya yang saya sendiri belum begitu memahaminya. Tua muda adalah sifat unsur bumi, kalau tua kapan mudanya, kalau muda kapan tuanya. Unsur api bersifat kuat dan lemah. Jika kuat di mana lemahnya, jika lemah di manakah kuatnya. Unsur angin sifatnya ada dan tiada. Jika ada di mana tiadanya, jika tiada di mana adanya. Sedang unsur air bersifat mati-hidup. Kalau mati kapan hidupnya, kalau hidup kapan matinya. Wow... pusing!!!

Dan masih banyak hal yang dibahas secara filosofis di bab 4 tentang wejangan sunan Bonang kepada murid kinasihnya yaitu Wujil. Wejangan sunan Bonang inilah yang nantinya dikenal sebagai Suluk Wujil.

Saya tidak tahu apakah manuskrip suluk wujil ini masih ada atau tidak, mungkin temen saya *Mbak Hiday* bisa menjelaskan. Soalnya beliaunya yang intens meneliti mengenai manuskrip sunan Bonang. Bahkan beliaunya sudah melanglang buana hingga ke Leiden demi berjumpa dengan manuskrip asli Primbon Sunan Bonang yang dikenal dengan Het book Van Bonang.

Sebagai orang Tuban, tentu saya ingin mengetahui secara detail tentang tokoh yang berjasa terhadap dakwah Islam di bumi Ranggalawe ini. Semoga apapun tentang Sunan Bonang bisa kita baca dan kita jadikan pijakan dalam melangkah ke depan demi membangun Tuban lebih baik, sebagaimana citra yang dibangun oleh Bapak Bupati Fatkhul Huda, bahwa Tuban adalah bumi Wali. Sekian terima kasih.

*Bangilan, 31 Oktober 2019*