Selasa, 03 September 2019

Senandung Kidung Kendeng


Senandung Kidung Kendeng
Oleh: Joyo Juwoto


Pada siang yang gersang
Pada kemarau yang risau
Pada debu-debu di jalanan berliku
Pada hutan jati yang sunyi
Aku telusuri ceruk wajahmu yang pias membisu

Wadag ragamu laksana pohon jati yang kokoh
terpasak pada padas-padas keras
Jiwa batinmu putih, sesuci bebukitan kendeng
yang memeluk kesederhanaan,
dalam harmoni cinta, pada semesta raya

Di kemarau yang bisu,
Jiwamu berseruling hening,
bersikep laku, berdharma bakti pada bumi aji
Semilir angin berhembus lampus
menerpa daun dan ranting-ranting kering

Daun-daun pun meranggas panas,
luruh terjatuh
gugur tersungkur mengubur udzur

Sepanjang waktu jiwaku didera kemarau rindu
 pada seulas senyummu
 yang menjelma batu dan debu-debu

Pada sepi yang menyendiri
Pada sunyi yang menyepi
 hatiku berbisik lirih
 Menyebut namamu penuh syahdu

Sedulur Sikep
Samin
Bukit kendeng
Dan pohon-pohon jati

Manunggal tunggal
Nyawiji dalam Saminisme sejati
Bersujud keharibaan ibu bumi pertiwi


Bangilan, 09/09/2019.

Minggu, 01 September 2019

Inilah Tempat Pertama kalinya Kendurian dilaksanakan oleh Sunan Bonang

Inilah Tempat Pertama kalinya Kendurian dilaksanakan oleh Sunan Bonang

Dalam sarasehan budaya haul ke 510 Sunan Bonang, bersama KH. Agus Sunyoto, yang dilaksanakan di Aula Kampus Stitma Tuban (Ahad, 25/08/2019), KH. Agus Sunyoto banyak membedah jejak langkah yang dilakukan Sunan Bonang dalam mendakwahkan Islam di Nusantara.

Menurut KH. Agus Sunyoto, yang juga sebagai ketua pusat Lesbumi Nahdlatul ulama ini Sunan Bonang adalah salah satu waliyullah yang memiliki banyak keahlian dan metode dalam mendakwahkan Islam di Tanah Jawa.

Salah satu fiqh dakwah Sunan Bonang di tengah masyarakat saat itu adalah ritual kendurian. Jika kita hari ini melihat kendurian sebagai kegiatan membaca kalimat thayyibah, yang kemudian dilanjutkan dengan  makan-makan, dengan lauk panggang ayam, maka tidak demikian dengan adat kenduren yang dilakukan oleh masyarakat di jaman Kanjeng Sunan Bonang.

Jika kita menelisik jejak perjuangan Sunan Bonang dalam rangka membuat upacara kenduren, maka akan kita dapati betapa kendurian saat itu tidak sesederhana seperti yang kita lihat dan kita lakukan seperti hari ini.

Cikal bakal kendurian sudah ada sejak zaman dahulu. Di tanah Jawa khususnya di wilayah Kediri ada sekelompok pemeluk agama BairawaTantrayana.

Kendurian yang dilaksanakan oleh kelompok Bairawa ini cukup mengerikan. Ritualnya namanya Panca Makara, atau disebut Ma5.  Sesaji untuk upacara Panca Makara berupa daging manusia, sedang minumannya adalah darah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kiai Agus Sunyoto.

Oleh karena itu Sunan Bonang mengubah upacara Panca Makara dengan istilah kendurian seperti yang kita kenal sekarang. Tentu kita tidak bisa  membayangkan jika upacara Panca Makara masih dilakukan hingga saat ini. Ngeri.

Tempat pertama kali Sunan Bonang mengadakan upacara kendurian berada di sebuah langgar yang ia bangun. Tepatnya di desa Singkal Nganjuk. Sayangnya langgar itu tidak meninggalkan bekas. Petilasannya pun tidak ada. Demikian ungkap Kiai yang sangat tekun meneliti sejarah keislaman di Nusantara dan mengumpulkan ribuan manuskrip kuno itu. *Joyo Juwoto*

Rabu, 14 Agustus 2019

Deru Rindu


Deru Rindu

Kau adalah semesta raya
Yang menempati ruang hampa
Dalam labirin semesta
Namun bayangmu menjelma nyata
Mengusik malam-malam yang fana
Aku ingin jelajahi di setiap sudut kotamu
Pada denting sunyi subuh bernyanyi
Aku ingin susuri sungai-sungai waktu
Yang mengalirkan deru rindu
Pada riak-riak arus jiwaku
Aku ingin mendaki pada ketinggian gunung-gunung asa
Yang tak sirna walau gelombang petaka datang mendera
Ingin kucumbui lembah ngarai tubuhmu dan kusesap aroma dupa dan doa
Aku ingin memeluk lubuk jiwamu kemudian tenggelam dalam keheningan dan kebeningan air matamu.
*Joyo Juwoto*