Kamis, 21 Maret 2019

Gemar Membaca dan Buku Cerita Anak Kita

Gemar Membaca dan Buku Cerita Anak Kita
Oleh: Joyo Juwoto

Gemar membaca itu ternyata menular. Anda tidak perlu sibuk memerintahkan anak anda, atau siapapun untuk gemar membaca, tapi berilah keteladanan dari diri anda sendiri.

Ini bukan klaim kalau saya cinta membaca, hanya kadang-kadang saja, itu pun kalau sedang butuh pencitraan. Hahaha. Tapi yang pasti dengan keteladanan kebaikan itu lebih cepat menular.

Selain memberikan keteladanan membaca siapkan juga buku yang bisa diakses dan dibaca anak. Soal buku anak, buku-buku cerita fabel bisa menjadi pilihan. Biasanya anak-anak senang membaca buku cerita tentang hewan-hewan.

Buku cerita anak-anak harus disesuaikan dengan perkembangan psikologis anak, orang tua harus memilih buku yang sesuai dengan umur anak. Karena banyak buku cerita yang seharusnya bukan untuk dikonsumsi anak, tetapi dibaca anak.

Semisal tontonan di televisi, walaupun berupa film kartun, tapi kadang tidak sesuai dengan perkembangan psikologis anak kita. Saya kesulitan memberikan contohnya, karena kebetulan tidak ada televisi di rumah kami.

Oleh karena itu, itu adalah PR bagi orang tua dan juga bagi penulis untuk menyediakan buku yang sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Karena jiwa anak harus tumbuh berkembang sesuai dengan fitrahnya sebagai seorang anak.

Sebenarnya, banyak juga tontonan film kartun anak maupun buku-buku cerita yang telah diterbitkan untuk memenuhi standar bacaan anak kita. Tinggal kita sebagai orang tua harus pinter-pinter memilah dan memilihnya.

Dari kondisi yang sedemikian itu, saya juga memikirkan bacaan anak saya yang mulai menyukai aktivitas membaca. Akhirnya saya berupaya menulis cerita berdasarkan keseharian anak saya. Jadilah buku Cerita Naila dan Nafa.

Buku ini selain berisi cerita keseharian anak saya dan teman-temannya, juga berisi apa yang ada dalam pikiran saya tentang dunia anak. Jadi bukan melulu cerita anak saya saja.

Selain berisi cerita keseharian yang sederhana, buku Cerita Naila dan Nafa, di setiap judul terdapat ilustrasi yang menarik. Illustrator buku tersebut adalah Kakak Rosita. Beliau seorang yang berjasa besar terhadap buku saya.

Mungkin buku sederhana yang saya tulis dan diilustrasi oleh kak Rosita  bisa menjadi salah satu buku bacaan anak-anak panjenengan semua. Jika menginginkan buku itu dekat sedang masa pre-order. Insyaallah bulan depan terbit di hadapan pembaca yang budiman.

Terima kasih.

Sabtu, 23 Februari 2019

Bermain Boneka Berbie Jagung


Bermain Boneka Berbie Jagung

Matahari belum beranjak tinggi, udara masih terasa dingin, angin bertiup dari tegalan membawa harum aroma tumbuhan yang banyak di tanam oleh petani. Ada tanaman jagung  yang mulai berbunga dengan tongkol-tongkolnya yang masih hijau, tanaman lombok yang sedang berbunga, dan juga tanaman lainnya yang menghijaukan ladang penduduk desa.

Naila, Nafa, Agis, dan Windi menyusuri pematang tegalan milik kakek dan neneknya, mereka berjalan sambil menenteng rinjing kecil yang dibawa dari rumah. Tampak Naila dan Windi yang diikuti oleh Nafa dan Agis, mereka memilah-milah pohon jagung dari satu tempat ke tempat lainnya, mereka seakan sedang mengamati sesuatu.

“Ini ada kateknya (tongkol jagung muda), Win! seru Naila sambil mengambil sepotong tongkol jagung yang masih hijau, kemudian ia memasukkannya ke dalam rinjing yang dibawanya.

‘Iya, ini saya juga dapat. Ini bagus sekali, rambut jagungnya lebat dan pirang”. Sahut Windi yang juga sedang mengambil salah satu tongkol jagung muda.

Gadis-gadis itu ternyata sedang mengambil tongkol jagung muda yang tumbuh di batang pohon jagung. Tongkol-tongkol yang diambil adalah yang tumbuh dobel di satu batang pohon, jika tidak diambil biasanya pertumbuhan tongkolnya kurang bagus, oleh karena itu para petani biasanya mengambil salah satu tongkol, agar bisa tumbuh dengan baik dan berbiji bagus.

“Saya juga dapat, saya juga dapat!” seru Nafa dan Agis sambil mengacung-acungkan tongkol yang mereka ambil. Kemudian mereka berdua memasukkan hasil buruannya ke rinjing bambu yang dibawa Naila. Gadis-gadis kecil itu bergembira sekali mendapatkan apa yang mereka cari. Di sela-sela pohon jagung yang menghijau gadis-gadis itu terus memilah dan memilih tonggkol jagung yang akan dibuat mainan.

Setelah mendapatkan banyak tongkol jagung mereka kemudian memutuskan untuk pulang, rinjing yang dibawa Naila dan Windi  sudah terisi cukup banyak, hingga membuat gadis kecil itu keberatan.

“Gis, Fa...ayo bantu bawa rinjingnya” teriak Naila meminta bantuan kepada adiknya. Kemudian rinjing bambu itu digotong secara bersama untuk dibawa pulang ke rumah nenek.

Sesampainya di rumah, mereka kemudian duduk melingkar di halaman rumah. Mereka ramai sekali mendandani tongkol jagung itu menjadi boneka. Rambut jagung yang memang sudah pirang menjadikannya cocok didandani menjadi boneka yang lucu, ada yang dibiarkan terurai, ada pula yang di klabang. lucu imut sekali.

Gadis-gadis kecil itu terus asyik membuat boneka dari tongkol jagung. Mereka menyebutnya sebagai boneka barbie, seperti yang ada di televisi, walaupun tentu tidak sama. Tapi, raut muka gadis-gadis kecil itu sangat bahagia.

Kamis, 21 Februari 2019

Kemurnian Cinta


Kemurnian Cinta

Kemurnian cinta menjadi penjamin hubungan jiwa diantara orang yang saling mencintai, tiada jarak yang mampu memisahkan rasa cinta, dimensi waktu tak mampu menghalangi perasaan cinta, tingginya gunung, dalamnya lembah, terjalnya batu karang, luasnya lautan, tak mampu menandingi ketinggian dan keluasan cinta itu sndiri. Kata cinta menjadi semacam mantra ajaib yang dapat menaklukkan hal apapun di dunia ini. Ya, cinta memang benar-benar sebuah keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan.

Ketika cinta seorang hamba kepada Tuhannya adalah cinta yang murni dan hakiki, cinta yang sebenar-benarnya cinta, maka bisa dibayangkan bagaimana energi cinta itu akan melingkupi alam semesta raya. Dunia akan dipenuhi kebun-kebun surgawi, karena pada dasarnya cinta adalah bunga-bunga yang dipetik dari bentangan kebun-kebun tempat para bidadari. Harumya bunga-bunga cinta akan semerbak mewangi memenuhi bumi.

Dalam buku “Mereguk Cinta Rumi”, yang ditulis Haidar Bagir, Maulana Jalaluddin Rumi, menuliskan bait syairnya dengan indah penuh pesona, tentang kedahsyatan sebuah cinta:

Cinta adalah
penyembuh. Cinta
adalah kekuatan
cinta adalah
penggerak ajaib
perubahan. Cinta
adalah cermin
keindahan Tuhan

Begitu dahsyatnya kekuatan cinta, begitu  agungnya rasa cinta dalam diri manusia,  hingga Rumi menggambarkan bahwa cinta adalah penyembuh dan penawar segala luka dan duka, cinta adalah kekuatan tak terkalahkan, cinta adalah penggerak ajaib fragmen kehidupan, dan yang paling dahsyat tentu adalah, cinta merupakan cermin keindahan Tuhan yang Maha Indah itu sendiri. Tiada yang lebih indah kecuali cinta memang bermuara pada Dzat Yang Maha Indah itu sendiri.

Energi yang terkandung dalam asma cinta perlu mendapatkan jalan, agar cinta benar-benar memiliki makna. Oleh karena itu, kita perlu mengendalikan dan mengarahkan, energi cinta ke hal-hal yang bermartabat dan mulia. Jangan sampai kesucian dan kemurnian cinta, ternodai oleh hal yang hina-dina dan nista. Karena energi cinta adalah energi yang bersumber dari nilai-nilai kemurnian semesta raya.

Tuhan menganugerahkan perasaan cinta kepada seluruh makhluk-Nya di dunia. Cinta menjadi semacam  energi yang menggerakkan kehidupan semesta. Bumi, langit, tumbuhan, hewan, manusia, bintang-bintang, matahari, rembulan, dan seluruh jagad semesta adalah pendar-pendar cinta yang maujud dari Tuhan Sang Maha Pecinta.