Belajar Menulis di SPK
Oleh: Joyo Juwoto
Belajar apapun membutuhkan waktu yang cukup lama, begitu juga dengan belajar menulis sebagaimana yang saya rasakan sendiri cukup lama dan tidak ada masa selesainya. Semenjak gabung di group kepenulisan saya merasa makin lama makin banyak hal yang tidak saya ketahui. Ternyata memang tidak ada yang instan di dunia ini semua ada waktu dan proses panjang di mana kita harus terus bersabar untuk menjadi seorang pembelajar.
Tidak mudah memang untuk terus berproses menjadi sesuatu atau meraih sesuatu namun ternyata di tengah perjalanan banyak hal yang kadang tidak bisa kita prediksi dan kita bayangkan. Sebagaimana perjalanan belajar menulis saya di Sahabat Pena Kita (SPK) yang belum ada progres dan kemajuan berarti, padahal sudah cukup lama saya berada di sana, bahkan bisa dibilang termasuk dari kelompok "assabiqunal awwalun" di dalam group yang sudah mengalami metamorfosa itu.
Untuk nama group SPK sendiri memang baru berjalan satu semester, namun sebelum SPK group yang bernama SPN sudah ada sejak tahun 2015, dan saya sudah memulai belajar di sana. Karena suatu dinamika akhirnya group SPN berubah nama menjadi SPK dan saya masih tetap setia melanjutkan belajar saya hingga detik ini.
Dari masa SPN hingga berganti nama menjadi SPK saya berusaha untuk memenuhi kewajiban sebagai anggota, yaitu mengirimkan tulisan wajib dan tulisan sunnah. Sebenarnya kalau dipikir-pikir kewajiban itu sangat ringan, bayangkan menulis satu tema dalam satu bulan tentu bukan hal yang sulit, walau demikian ternyata banyak juga beberapa anggota yang tidak setor tulisan, termasuk saya pernah telat kurang dari lima menit sehingga harus mendapatkan pentol hitam sebagai hukumannya.
Jika di group SPK ada sistem perankingan tentu saya berada di level paling bawah, saya menyadari itu, karena menurut pengamatan saya, selain rutin mengirimkan tulisan wajib dan sunnah, para anggota di SPK memang sudah terbiasa menulis setiap hari sedang saya kebanyakan memang hanya menulis untuk setoran wajib dan sunnah saja. Dan ini tentu menjadi koreksi bagi diri saya sendiri.
Walaupun demikian, mumpung ada kesempatan menulis untuk mengungkapkan harapan dan keinginan demi kemajuan seluruh anggota SPK, yang tentu setidaknya setiap anggota SPK mempunyai karya yang diterbitkan oleh penerbit mayor, saya berharap ada program pendampingan intensif bagi anggota yang belum mampu menembus penerbit mayor seperti saya ini.
Bagaimanapun juga sebuah karya yang mampu menembus penerbit mayor tentu akan menjadikan si penulis pemula lebih pede dan mempunyai "rasa" sebagai penulis, walaupun memang bukan itu yang sebenarnya menjadi tolak ukur dalam berkarya. Tentu selain kebanggaan yang paling penting adalah standar kepenulisan kita sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh penerbit mayor. Saya rasa alasan terakhir ini yang menjadikan penulis pemula punya keinginan karyanya masuk dapur penerbit mayor.
Saya tentu sangat senang jika SPK ada program pendampingan yang demikian, karena saya termasuk salah satu anggota yang belum mampu menerbitkan buku di penerbit mayor, kalau menerbitkan buku solo secara mandiri saya kira cukup mudah, bisa dibilang jika cukup punya kemampuan finansial dan mau tentu karya indie bisa segera terealisasikan. Pertanyaannya walaupun karya kita terbitkan secara indie apakah buku itu sebenarnya memang layak untuk terbit?
Layak terbit di sini tentu bukan sekedar materi yang ada di dalam buku, namun juga bagaimana mengelola pemasaran pasca penerbitan juga bagian terpenting bagi sebuah dunia perbukuan, karena pada dasarnya menulis buku untuk dibaca khalayak umum tentunya. Jika buku kita tersebar luas dimungkinkan buku itu banyak dibaca, dan ini tentu yang menjadi salah satu alasan mengapa menulis buku.
Oleh karena itu diakui atau tidak sebuah karya tulis bisa terbit di penerbit mayor tentu menjadi salah satu target bagi seorang penulis, termasuk saya tentunya. Walau sampai detik ini saya belum mencapai maqam itu, semoga ke depan target itu terpenuhi. Yang paling penting tentu meningkatkan kemampuan menulis dan membaca dan terus berusaha menjadi kunci utama sebuah keberhasilan untuk mencapai apa yang kita targetkan. Salam literasi.
*Joyo Juwoto, Penulis buku Dalang Kentrung Terakhir. Tinggal di Bangilan Tuban. Tulisannya juga bisa diakses di www.joyojuwoto.com
Pages - Menu
Minggu, 20 Januari 2019
Senin, 14 Januari 2019
Cerita Ludruk dan relevansinya dengan perpolitikan Nasional
Cerita
Ludruk dan relevansinya dengan perpolitikan Nasional
Oleh:
Joyo Juwoto
Sekitar tahun 80-90an
ludruk masih menjadi tontonan yang dipentaskan dan banyak digemari oleh
masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Sewaktu kecil saya sering menonton
ludruk yang biasa pentas di gedung pertunjukan yang dibuat semi permanen. Gedung ludruk dibangun di sebuah tanah lapang
di desa saya, dinding pembatasnya memakai seng, di dalamnya ada sebuah panggung
untuk pementasan ludruk.
Masyarakat yang
menonton ludruk harus melewati pintu loket di pintu depan untuk mendapatkan
karcis, dengan selembar karcis itulah masyarakat bisa menikmati seni ludruk
yang biasanya dipentaskan sesudah isya’. Cerita ludruk yang masih saya ingat
dan populer di tengah masyarakat diantaranya adalah: Maling Cluring, Sampek ingtai,
Warok Suromenggolo Suminten Edan, Sogol Pendekar Sumur Gemuling, Sarib Tambak Oso,
Jaka Sambang Pendekar Gunung Gangsir dan lain sebagainya.
Saya rasa generasi 80
hingga 90an sangat hapal dengan lakon-lakon yang saya sebutkan di atas, dan
mampu membaca lakon-lakon dalam ludruk tersebut mempunyai relevansi nilai
sosial, politik dan kebudayaan dalam masyarakat kita hari ini.
Lakon cerita yang
dipentaskan dalam seni ludruk hampir memiliki kesamaan alur dan ide cerita,
kisah yang dipentaskan cukup dekat dengan kehidupan masyarakat bawah, sarat
dengan kondisi masyarakat yang mengalami banyak diskriminasi sosial dan politik
kepentingan. Seperti lakon Sogol Pedekar Sumur Gemuling, Sakerah, Jaka Sambang,
dan Sarib Tambak Oso. Lakon tersebut mengisahkan perjuangan dari kaum rakyat
jelata dalam melawan kesewenang-wenangan penguasa, yaitu kaum ningrat yang
didukung oleh goverman Belanda saat itu.
Kesamaan dari
lakon-lakon tersebut adalah kisah perjuangan kaum proletar yang membela rakyat
jelata, setiap perjuangan mereka selalu saja dikalahkan oleh orang-orang dekat
mereka yang menjilat penguasa goverman Belanda. Orang-orang yang mengkhianati
perjuangan para tokoh tersebut dengan cara menjual rahasia kelemahan dari
kesaktian pendekar-pendekar tersebut,
yang akhirnya perjuangan mereka gagal dan nasib pendekar-pendekar itu
tewas di tangan Belanda.
Kisah-kisah yang
sedemikian ini tentu memiliki relevansi dengan kondisi sosial politik di tengah
masyarakat kita saat ini, apalagi di era tahun politik yang cukup gerah dan
memanas, ada saja hal yang dipakai senjata untuk menghancurkan lawan
politiknya, baik dengan cara-cara yang konstitusional hingga pada hal-hal yang
kadang berada di luar jangkauan akal sehat. Semua itu dilakukan demi politik
praktis, demi kekuasaan, demi harta dan hal keduniaan lainnya.
Hari ini kita bisa
membaca di tengah masyarakat hanya gara-gara pilihan politik yang berbeda
persatuan terancam pecah, antar teman saling terjadi gesekan, bahkan gara-gara
politik juga mayat yang sudah tidak memiliki dosa harus menanggung petaka
terancam tidak disholatkan, kuburan
dibongkar juga gara-gara perbedaan pilihan dalam politik. Sungguh mengenaskan.
Dunia perpolitikan
kita hari ini begitu memuakkan dan sangat kotor, wajar jika masyarakat kita
anti dengan kata politik, masyarakat berusaha menjauhkan aktivitasnya dengan
kata politik, lembaga agama dan tokoh-tokohnya berusaha menjaga jarak dengan
politik, padahal lembaga-lembaga dalam masyarakat tersebut ada adalah bagian
dari perpolitikan juga, sungguh naif.
Semoga kita semuanya
menyadari kondisi yang mengkhawatirkan bagi persatuan dan kesatuab nasional
kita, seyogyanya kita tahu perbedaan pilihan politik adalah konsekuensi yang
harus kita tanggung dalam berdemokrasi yang kita cita-citakan bersama, kalau
memang kita tidak memiliki sense terhadap perbedaan apakah perlu kita kembali
ke rezim satu kekuasaan yang melahirkan politik tangan besi? saya tentu tak
perlu menjawabnya.
Sabtu, 12 Januari 2019
Surat balasan dari Vanesa buat Mas Aam
Surat balasan dari Vanesa buat Mas Aam
Oleh: VA
Oleh: VA
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat pagi Mas Aam, mohon maaf jika surat balasan dari saya ini mengejutkan mas Aam, tapi saya yakin di pagi yang cerah ini mas Aam sudah sarapan pagi ditemani istri tercinta. Jadi kaget-kaget sedikit saya rasa akan menambah nafsu makan mas Aam yang selalu move on sejak dalam pikiran.
Mas Aam tentu tidak mengira, jika Vanesa membaca surat mas Aam kan? hehe... seperti Vanesa sendiri yang juga tidak mengira, kalau
di tengah kesibukan mas Aam sebagai seorang suami, sebagai seorang calon bapak, sebagai seorang wakaprodi, sebagai seorang insan pers yang tentu punya kesibukan yang tiada terkira sempat-sempatnya menulis surat buat Vanesa. 🥰🥰
di tengah kesibukan mas Aam sebagai seorang suami, sebagai seorang calon bapak, sebagai seorang wakaprodi, sebagai seorang insan pers yang tentu punya kesibukan yang tiada terkira sempat-sempatnya menulis surat buat Vanesa. 🥰🥰
Kesan pertama membaca surat dari mas Aam saya merasa tersandung dan berbunga-bunga, lha ketepakan surat itu saya baca sambil jalan pagi, mas, Vanesa kaget, kok ada wong ganteng yang sebelumnya tidak pernah masuk daftar list tamu saya kok perhatian banget, mengirimi saya surat.
Bagi saya mas, di tengah badai yang sedang Vanesa alami, surat itu bisa menjadi semacam soft terapi dan suntikan semangat, surat itu rasa-rasanya lebih berharga dibanding uang 80 juta. Suer mas!
Ya begitulah mas, sebagaimana yang mas tulis dalam surat, masyarakat dan pers tidak adil memandang satu persoalan, mengapa yang banyak dishot kok kaum perempuan, sedang pihak laki-laki harus pakai inisial segala. Tidak hanya itu, sampai warna nganu saja dipakai judul berita. Apa tidak ada yang lebih barakah dari sekedar nganu?
Nganu saja dishare ke sana kemari, kebangetan. Jian kebangetan temen-temen njenengan itu mas.
Vanesa sebenarnya pengin marah mas, tapi jika ingat senyum mas Aam yang semriwing urung marah saya, saya jadi gak tega gitu. Vanesa mengira seluruh insan pers adalah kusir cikar semua, meminjam istilah Sungging Raga (ini ada istilahnya dalam bahasa Jawa).
Tahu gak mas? Setelah Vanesa mendapatkan surat yang mas Aam kirimkan, surat itu saya print menjadi beberapa lembar mas. Lembar-lembar itu Vanesa simpan sebagai rajah, satunya saya buat perahu mas, ya, perahu Nuh yang menyelamatkan kaumnya dari murka Tuhan.
Sementara hanya itu yang dapat dik Vanesa sampaikan lewat balasan surat ini mas, lain waktu semoga saja adik bisa kembali menerima surat dari mas, atau bahkan lebih dari sekedar surat. Mas Aam mungkin bertanya dalam hati, mengapa diakhir tulisan ini Vanesa pakai istilah adik, semoga mas peka dan paham. Terima kasih atas perhatiannya. Salam dari adik Vanesa.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi.wb.
Langganan:
Postingan (Atom)


