Selasa, 10 Juli 2018

Inilah Faktor Kebuntuan Dalam Menulis


Inilah Faktor Kebuntuan Dalam Menulis
Oleh : Joyo Juwoto

Aktivitas menulis adalah sebuah keahlian yang harus selalu diasah setiap waktu, tidak jarang setelah kita vakum beberapa saat dari aktivitas menggerakkan jari di tombol keyboard, atau sekedar membuat coretan di selembar kertas terasa sangat berat. Ada tembok tebal yang menjadi penghalang untuk menuangkan ide dari pikiran melalui sebuah tulisan. Pokoknya bingung, mau memulai menulis dari mana, dan apa yang akan kita tulis.

Saya sendiri belum berwawancara dengan para penulis handal dan profesional, apakah kondisi yang sedemikian ini pernah mereka rasakan atau tidak. Jadi apa yang saya tuliskan di paragraf pertama mungkin hanya terjadi pada penulis pemula yang masih mencari-cari bentuk sebuah tulisan. Saya yang memang masih  amatiran dalam dunia tulis-menulis sangat merasakan kemampatan ide dalam membuat sebuah tulisan. Walau itu sebuah tulisan yang sangat sederhana sekalipun.

Jika  seseorang sudah membiasakan diri dalam menulis, dan berkomitmen untuk selalu menulis setiap hari, menurut apa yang saya amati di group-group literasi, seakan ada saja yang mereka tulis, dari hal yang sederhana hingga ke hal-hal yang rumit bin njlimet, ilmiah, dan bahkan bernas. Hal ini yang mungkin masih menjadi masalah dan kendala bagi para rombongan penulis pemula dan amatiran seperti saya.

Di bulan-bulan lalu hampir setiap dua hari sekali ada saja tema yang bisa saya tulis, dalam sebulan paling tidak ada sekitar 15-19 buah tulisan yang saya hasilkan. Namun bulan kemarin (Juni) saya baru bisa memproduksi 5 judul tulisan, sungguh kemunduran yang sangat ekstrim. Untuk bangkit dari keterpurukan tidak menulis ternyata juga tidak mudah, perlu semangat dan asupan gisi literasi untuk mencairkan kebekuan otak. Di bulan Juli hingga saat ini baru tulisan ini yang berusaha saya buat. Dan saya bertekad tulisan ini harus sampai di titik paragraf terakhir.

Menilik dari kebekuan saya dalam menulis ada beberapa sebab yang bisa saya petakan, diantaranya adalah:

Pertama, kurangnya tekad untuk selalu menulis setiap hari. Ya, benar tekad ini sangat menentukan seseorang untuk menulis, dan saya kira bukan hanya dalam hal menulis saja, semua hal membutuhkan kata tekad. Jika tidak ada kata tekad, maka selamanya kita tidak akan melakukan apapun kecuali hanya kesia-siaan belaka.

Kedua, Kurangnya istiqamah dalam menulis. Jika seseorang sudah mengikrarkan diri menjadi penulis, atau setidaknya punya keinginan menulis, maka sifat istiqamah ini sangat penting sekali. Usahakan setiap hari harus menulis, sesibuk apapun jangan sampai berdiam diri tanpa menulis sedikitpun, sebuah tema tulisan tidak harus jadi dalam satu waktu dan tanpa berpindah tempat duduk, kita bisa menuliskannya secara bertahap, yang penting istiqamah setiap hari.

Ketiga, Kurang asupan gizi dalam membaca. Aktivitas membaca memang tidak ada kaitannya dengan aktivitas menulis secara langsung,tetapi diakui atau tidak tanpa membaca seseorang akan kebingungan mau menulis. Membaca di sini tidak hanya sekedar membaca buku, namun membaca dalam arti lebih luas lagi yaitu melihat lingkungan dan sekeliling kita. Jika seseorang mau menulis tentu ia harus pintar-pintar membaca.

Keempat, malas beli buku. Mungkin ini bisa dikatakan sesuatu yang mengada-ada, atau hanya sekedar mitos atau pun iklannya bakul buku dan penulis, tapi menurut pengalaman saya pribadi, saya punya tekad menulis karena saya banyak membeli buku. Dengan membeli buku akhirnya terbit dalam hati saya keinginan untuk menulis, walau hasil tulisan saya belum sebanyak buku yang saya beli, tetapi dari kecintaan beli buku ini akhirnya memantik kecintaan saya dalam menulis. Mendapatkan sebuah buku memang tidak hanya dengan cara membeli, bisa jadi dari hadiah teman, pinjam dari teman, pinjam dari perpustakaan dan beragam cara lainnya, namun yakinlah dengan banyak membeli buku maka keinginan menulis itu akan muncul, setidaknya begitulah yang selama ini saya yakini.

Demikian beberapa hal yang saya rasakan ketika menghadapi bencana kebuntuan menulis itu melanda. Walau secara teori saya mampu mendeteksi faktor dan sebab kebuntuan saya dalam menulis, tetapi lagi-lagi saya tetap kesulitan dan gagal jika mengalami masa kebuntuan. Karena pada dasarnya jika ingin menulis jangan banyak berteori dan bermotivasi, cukup lakukan tiga hal saja, menulis, menulis, dan terus menulis. Jangan pernah berhenti menggerakkan jari, walau nanti yang muncul kata yang tak terbaca sekalipun. Wjdkvbkdslkmlkagds,rbhdvisjkan,,,,jkbdjhd.vdsj.ksafb. Salam Literasi.


Senin, 18 Juni 2018

Perburuan Yang mencekam

Perburuan Yang mencekam
Oleh : JoyoJuwoto

Saya benar-benar tercekam, khawatir,  dan ikut merasakan kecemasan demi kecemasan ketika membaca lembar demi lembar novel “Perburuan” yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Tidak hanya itu saja, kondisi kemiskinan rakyat Blora dan sekitarnya akibat ulah Nippon menerbitkan rasa pedih yang tak terkira. Begini ternyata nasib bangsa yang kalah dan terjajah, menderita tiada terkira.

Setting cerita dalam novel ini bersebelahan langsung dengan tempat tinggal saya. Banyak tempat yang disebutkan Pram masih ada sampai kini, dan saya pun melihatnya dengan mata kepala secara langsung. Seperti Karangjati, Kaliwangan, Kali Lusi, Jembatan Kali Lusi, Stasiun kereta api, waduk Tempuran, Plantungan, gua Sampur dan beberapa nama tempat lainnya.

Ada satu tempat yang disebutkan oleh Pram sebagai tempat persembunyian tokoh utama perburuan dalam novel ini, “Kere” sebutan Raden Hardo anak mantan wedana Karangjati, tempat itu adalah gua Sampur sebagaimana saya sebut di atas, saya belum pernah mendengar dan tahu gua ini, dan saya ingin mengunjunginya. Entah gua ini benar-benar ada atau hanya sekedar kisah buatan Pram. Saya tidak tahu.

Blora yang memang berada di kawasan pegunungan Kendeng utara tentu banyak gua di sana, dan sangat mungkin gua-gua itu menjadi tempat persembunyian dan markas para pejuang kemerdekaan dari kejaran pasukan Nippon. Sebagaimana tokoh “Kere” yang juga bersembunyi di gua Sampur. Karena kegagalan dalam peristiwa pemberontakan melawan Nippon, para pejuang termasuk “Kere” menjadi target perburuan Nippon yang dibantu oleh para pamongpraja setempat.

Dari perburuan inilah Pram meramu berbagai ragam kisah yang heroik, romantisme, pengkhianatan, harapan, kesetiaan, kemiskinan, ambisi, dan berbagai sentimen kehidupan masyarakat. Bahkan lebih dalam lagi A. Teeuw mengatakan bahwa novel yang ditulis oleh Pram ini merupakan kisah pencerminan diri. Tokoh utamanya sesudah melancarkan pemberontakan, kemudian secara khas Jawa bertapa mengekang diri dengan ketat, dan dalam meditasinya itu sampailah ia kepada suatu wawasan yang lebih luhur; ia menemukan kaidah untuk diri sendiri dan bagi orang lain dengan mana hidup dan perbautan setiap insan harus diuji...” A. Teeuw menyimpulkan ini mungkin terinspirasi dari percakapan antara anak dan bapak, si Kere dan Penjudi di sebuah gubuk di tengah ladang jagung, “Bertapa adalah menjalani jalan yang menuju pada dirinya sendiri dengan langsung.”

Novel Perburuan yang ditulis Pram menggambarkan secara detail bagaimana keadaan masyarakat Indonesia di bawah pendudukan Jepang. Walau hanya beberapa tahun saja, namun kesadisan dan kengerian teror yang ditebar makhluk cebol yang kedatangannya memang sudah diramalkan oleh Jayabaya ini betul-betul membuat rakyat Blora menderita. Sangat menderita. Penderitaan rakyat karena ulah Nippon terekam dalam jejak kalimat lisan yang ditinggalkan secara turun-temurun oleh kakek buyut kita, “Pagupon omahe dara, melu Nippon tambah sengsara” (Pagupon rumah burung dara, ikut Nippon semakin sengsara).

Dari novel perburuan ini kita tentu bisa belajar banyak tentang sifat dan watak manusia yang berbeda-beda, ada lurah Kaliwangan yang berusaha menjilat penguasa demi keselamatan dan kebahagiaan diri dan keluarganya, ada si Kere, Dipo, Kartiman, para pejuang yang harus rela dicap sebagai pemberontak oleh Nippon, hidup terlunta-lunta menjadi pengemis, dan selalu diburu maut Kenpei, ada Si Ningsing guru Darmorini (Sekolah gadis yang didirikan oleh abang R.M Tirto Adhisoejo), tunangan den Hardo yang memilih setia hanya untuk kekasih hatinya hingga ajal menjemputnya, ada penjudi bekas wedana Karangjati,  ada shodanco Karmin yang karena keadaan dianggap sebagai pengkhianat rakyat, dan berbagai watak manusia dengan segala rupa-rupanya.

Pram memang luar biasa, mampu menceritakan lika-liku peristiwa yang terjadi di kampung halamannya dengan sangat cermat dan gamblang dalam sebuah novel Perburuan. Silakan yang belum baca bukunya bisa segera berburu di took-toko buku.


Karena dari buku apapun bentuknya kita bisa belajar tentang kearifan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dari buku pula kita belajar tentang kesadaran, ketekunan, bahkan keberanian. Karena lembaran buku pada hakekatnya bukan hanya sekedar susunan kertas tanpa makna, dari buku terkandung jejak rekam sejarah peradaban umat manusia dari zaman ke zaman, yang kita bisa membukanya dari tempat duduk kita. Selamat membaca buku.

Senin, 11 Juni 2018

ISBAT Berbagi Kebahagiaan Dari Ujung Ke Ujung Kota Bangilan

ISBAT Berbagi Kebahagiaan Dari Ujung Ke Ujung Kota Bangilan
Oleh : Joyo Juwoto

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kita semua, teman-teman komunitas ISBAT (Informasi Seputar Bangilan Tuban), untuk bisa berbagi kebahagiaan dari ujung ke ujung dalam program “Ketuk Pintu Bagi Sembako” untuk kaum dhuafa yang ada di desa-desa se-kecamatan Bangilan.

Acara “Ketuk Pintu” ISBAT ini dilaksanakan hari Minggu, tanggal 10 Juni 2018. Start acara jam 09.00 WIB, berangkat dari base camp ISBAT di rumah Pak Maskin dusun Pulut desa Bangilan. Ada sebanyak 115 paket sembako yang dibagikan dari ujung dusun Ngleri desa Sidotentrem hingga ke puncak dusun Tawun desa Kumpulrejo. Kegiatan ini nantinya diakhiri dengan buka bersama di rumah sahabat ISBAT, Mas Suliswanto. Untuk yang terakhir ini, kita semua dari ISBAT mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga Mas Suliswanto atas undangan buka bersama dengan menu andalan yang maknyus, sambel terongnya.


Walau kegiatan ini dilaksanakan saat puasa, dan cuacanya cukup panas, namun tidak mengurangi keguyuban dan kekompakan pengurus dan Sahabat ISBAT membagikan sembako. Dengan penuh semangat empat lima dan tetesan keringat yang membasahi badan, satu per satu paket sembako tersalurkan kepada yang berhak. Alhamdulillah, luar biasa.

Jalan berbelok dan berliku, naik turun lembah dan tanjakan, kerikil tajam dan debu-debu jalanan membuat kegiatan ini sangat seru, apalagi di desa-desa terpencil yang tidak semua jalannya beraspal, sungguh menjadi pengalaman yang luar biasa mengasyikkan bagi kami semua.

Banyak pengalaman fisik maupun ruhani yang membuat kita bergumam, Masya Allah, Subhanallah, Astagfirullah, melihat secara langsung dari dekat, sebagian saudara-saudara kita yang mungkin belum seberuntung kita, ada rasa kesyukuran-kesyukuran yang harus kita rayakan dengan lebih banyak berbagi kebahagiaan kepada mereka, walau mungkin hanya sekedar senyuman ringan.

“Progam “Ketuk Pintu” ISBAT dapat terlaksana dengan baik atas dukungan warga Bangilan dan orang-orang yang mempunyai empati dan kepedulian terhadap nasib dhuafa. Terima kasih Pak Maftuchin, Mbak Siti Rokhani, Mbak Erna Haliyanti S, Mbak Dwik Elviana yang telah melibatkan diri dalam acara ini.” demikian yang disampaikan oleh Pak Maskin, selaku kordinator kegiatan ISBAT.

“Selaku ketua ISBAT secara pribadi saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pengurus dan donatur sahabat ISBAT yang ikut serta menyukseskan program ISBAT peduli, semoga acara ini bisa rutin dilaksanakan sebulan sekali.” Begitu kata Pak Muin Bekam.

Bersyukurlah kita semua masih bisa menikmati keberkahan bulan yang mulia yaitu bulan ramadhan, boleh jadi ini adalah ramadhan kita untuk terakhir kalinya, bersyukurlah dengan rezeki yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita, rasa syukur ini bisa dengan lisan maupun perbuatan. Ucapan syukur alhamdulillah dan perbuatan berbagi kebahagiaan dengan cara menyedekahkan kepada orang-orang yang berhak adalah wujud kesyukuran atas berlimpahnya reseki yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, mumpung kita masih di bulan pelipatgandaan amal kebaikan.


Bukalah gorden, jendela, dan pintu rumah Anda, untuk melihat di sekeliling kita, tetangga kita, tengoklah orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita. Ternyata masih banyak ornag-orang yang membutuhkan uluran tangan, rengkuhan dan dekapan kita. Mari berbagi senyum dan kebahagiaan kepada orang-orang yang membutuhkan, dengan cara mengunjungi mereka, menyapa mereka, dan berbagi sedikit rezeki yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.