Kamis, 15 Maret 2018

Membaca Ranggalawe Sang Penakluk Mongol

Membaca Ranggalawe Sang Penakluk Mongol
Oleh : Joyo Juwoto*

Novel yang ditulis oleh seorang putra asli Bumi Tuban kelahiran Bulu Meduro, yang berjudul Ranggalawe Sang Penakluk Mongol ini layak menjadi koleksi dan bahan bacaan masyarakat Tuban khususnya dan masyarakat nusantara pada umumnya. Saya juga memimpikan pada saatnya nanti penulis novel ini secara langsung bisa membedah novelnya di Tuban, di bumi Ranggalawe sendiri.

Saya sudah membaca khatam novel setebal 503 halaman ini, bahasanya cukup menarik, alurnya mudah dipahami, dan yang penting banyak pengetahuan yang saya dapatkan. Bakda dhuhur novel ini saya baca, dan selesai sebelum tengah malam. Alhamdulillah.

Mengapa novel ini saya rekomendasikan untuk dibaca? Selain isi novel ini bagus untuk dibaca Sebagaimana yang maksudkan oleh penulisnya, bahwa Kang Makinuddin Samin menulis novel itu untuk mengingatkan kembali pada kehebatan leluhur kita ketika  mengusir bangsa asing yang hendak menguasai tanah Nusantara tercinta ini. Novel ini bisa menjadi inspirasi kita bersama bahwa Nusantara ternyata mampu menangkal ekspedisi militer Mongol yang kehebatannya terkenal di seantero jagad raya.

Agar lebih dekat dan memahami tokoh Ranggalawe dalam novel ini, sekilas saya kupas beberapa hal penting tentang sosok Ranggalawe, Sang Adipati Tuban sebagai berikut :

Asal-Usul Ranggalawe
          Asal-usul dan nenek moyang Ranggalawe memang demikian adanya. Sebagaimana di dalam buku peringatan 700 tahun Tuban, trah Ranggalawe berasal dari Prabu Banjaransari dari negeri Galuh. Beliau berputra Raden Matahun. Raden Matahun berputra Raden Arya Randu Kuning yang melanglang buana di sepanjang pantura hingga sampai di bukit Kalakwilis, kemudian menetap serta membuat perkampungan di sana yang dikenal dengan nama Lumajang Tengah.

          Arya Bangah putra dari Randu Kuning tidak mewarisi kekuasaan ayahnya, ia pergi mengembara kemudian membuat perkampungan baru di Lembah Gumenggeng yang subur. Putra Arya Bangah, Raden Dandang Miring setelah dewasa juga tidak mewarisi kemuliaan orang tuanya, ia membuka daerah baru di Hutan Ancer. Selanjutnya Kakek Ranggalawe, Raden Dandang Wacana atau dikenal sebagai Ki Ageng Papringan membuka Hutan Papringan yang kemudian menjadi sumber legenda MeTU BANyune. Semua kakek buyut Ranggalawe mukti karena bakti, hebat karena keringat, bukan mukti hanya sekedar citra dan janji.

          Salah seorang putri Ki Ageng Papringan yang bernama Nyi Ageng Lanang Jaya dinikahi seorang keturunan brahmana dari Bali, Ida Wangbang atau terkenal dengan nama Arya Wiraraja atau Banyak Wide, sebagaimana yang tertulis di babad Manik Angkeran. Dari pohon silsilah Brahmana Bali dan Ksatria Banjaransari Bumi Galuh, Raden Soreng atau Ranggalawe terlahir.

Cita-cita Besar dan Kecerdikan Ranggalawe
Sesuai judulnya, yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini adalah Ranggalawe, seorang adipati kebanggaan masyarakat Tuban sepanjang masa. Menurut Novel ini, Ranggalawe adalah salah satu tokoh yang menanam benih cita-citanya untuk kejayaan Nusantara yang egaliter, tidak karena membela trah, suku bangsa, wangsa, golongan maupun kelompok-kelompok tertentu.
Jika sejarah takhta kerajaan Jawa selalu diduduki oleh keturunan para raja, dengan selalu meninggalkan dan mewariskan sengketa politik yang berdarah-darah, maka Ranggalawe mencita-citakan sebuah kekuasaan yang berdiri untuk semua golongan, mulia bersama, dan meraih keluhuran bersama  dengan bermodalkan perjuangan dan semangat kerja keras. Karena bagi Ranggalawe tiada kemuliaan tanpa keringat sendiri. Tiada keluhuran tanpa perjuangan dan pengorbanan.    
    
Cita-cita besar Ranggalawe ini kemudian diwujudkan dengan usahanya membantu dan menyatakan satyabrata kepada Raden Wijaya untuk membangun Negara baru yang kelak bercita-cita menyatukan Nusantara. Untuk mewujudkan cita-cita yang besar ini tentu diperlukan persiapan dan rencana yang matang. Dibutuhkan pula sosok yang mumpuni untuk mengatur siasat yang jitu, apalagi saat itu Raden Wijaya menghadapi dua musuh sekaligus. Musuh dari dalam yaitu Kerajaan Kediri yang menggantikan Singasari, dan musuh dari luar kedatangan bangsa Mongol yang menginginkan Jawa takluk di bawah kekuasaan Sang Imperior dunia Kubilai Khan.

Sekali dayung dua pulau terlampaui, sekali bergerak dua musuh dipecundangi oleh siasat Banyak Wide dan Ranggalawe. Dengan meminjam kekuatan Mongol, Ranggalawe berhasil menghancurkan Kediri dalam waktu yang singkat, bersamaan dengan itu pula Ranggalawe juga berhasil memporak-porandakan pasukan mongol dengan siasat yang rumit. Bahkan dalam buku “Majapahit Peradaban Maritim” karya Djoko Nugroho, Kaisar Kubilai Khan tewas di medan perang Tuban. Kata kunci kekalahan Mongol adalah pada pesta kemenangan, toak Tuban dan tentu perempuan. Di dalam novel Kang Samin, dua prajurit wanita Tuban, Mamersi dan Wilangi di susupkan di dalam kemah panglima pasukan Mongol Ike Mese.

Janji Yang Dikhianati
Dengan hancurnya Kediri dan Mongol sekaligus, maka cita-cita Ranggalawe untuk mewujudkan impiannya tinggal menuai hasil, bersama Raden Wijaya dan para kadehannya mereka membangun kerajaan Majapahit di hutan Tarik. Di dalam novel yang ditulis Kang Samin ini, peran Ranggalawe dan ayahnya,  Banyak Wide cukup besar dan sangat vital, mulai          saat Raden Wijaya terlunta-lunta sebagai pelarian akibat pemberontakan Jayakatwang ia ditampung di Sumenep oleh Banyak Wide. Begitu juga peran Ranggalawe dalam mengatur siasat dan mempersiapkan pasukan perang, telik sandi, peralatan perang, tidak ketinggalan juga kuda-kuda Sumbawa terbaik hasil dari gedogan dukuh Trowulan Tuban yang masyhur.

Begitu besarnya peran keluarga Ranggalawe baik di Sumenep maupun di Tuban terhadap Raden Wijaya sehingga kelak jika ia menjadi raja, ia berjanji akan mengangkat Ranggalawe sebagai mahapatih, hal ini tertulis di kitab pararaton yang bunyinya :
“Sira Ranggalawe arep adegaken patih wurung, margane andaga maring Tuban sira Ranggalawe tur angapusi rara wang.  Wis kapusan wong Tuban sagunung lor, samahidep ing sira Ranggalawe”. –Pararaton.

“Ranggalawe hendak dijadikan patih, tapi batal. Orang-orang Tuban bertekad melawan. Merasa dikibuli, orang-orang pegunungan utara pu bersekutu mendukung Ranggalawe”.

Tidak hanya itu saja janji Raden Wijaya, ia bahkan juga menjanjikan kelak bumi Jawa akan dibagi sigar semangka, sebagian akan diserahkan kepada Banyak Wide, sebagian untuk dirinya sendiri. “Bapa Wiraraja, tan sipi gunnge utangingsun ing sira, munkatekan sadyanisun, isun parone tembe Bhumi Jawa, sira amukti sapalih, isun sapalih”. –Pararaton.

Setelah Majapahit berdiri janji itu tidak pernah ditepati oleh Raden Wijaya, namun bagi Ranggalawe itu tidak menjadi masalah, dia bersama ayahnya tetap memberikan pengabdian terbaik untuk Majapahit. Sayang pengabdian itu berbalas tuba, dengan berbagai skenario dan taktik licik, kubu Raden Wijaya berusaha menghabisi trah Banyak Wide. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran raden Wijaya bahwa pamornya kalah terang dibandingkan Ranggalawe.

Hal ini terbukti, setelah Ranggalawe dianggap pemberontak kemudian dihabisi, Raden Wijaya belum puas, ia terus mengincar orang-orang yang dianggap masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Banyak Wide. Seakan Raden Wijaya tidak ingin ia ditagih janji oleh keluarga Banyak Wide. Setelah Ranggalawe tewas di sungai Tambakberas, disusul skenario menghabisi Lembu Sora, bahkan Patih Nambi yang juga menantu Banyak Wide pun dihabisi di tanah perdikan yang seharusnya dilindungi hak-haknya.

Ranggalawe dan Kebesaran Majapahit
Saat Ranggalawe menjadi korban kesewenang-wenangan penguasa Majapahit, ia terima nasib itu sebagai suratan takdir, apalagi setelah ia diberitahu oleh kawannya Begawan Sukerti dari Alas Mada bahwa manusia hidup sekedar memenuhi karma. “Semua ini telah menjadi kepastian Hyang Widi jauh sebelum kita lahir ke dunia” lanjut Begawan Sukerti. Penjelasan dari sahabatnya ini membuat tenang Ranggalawe, apapun yang terjadi telah ia pasrahkan semuanya kepada yang kuasa.

Dalam melawan Majapahit di satu sisi Ranggalawe disebut sebagai pemberontak, namun di sisi lain nama besar dan keagungan Ranggalawe tidak pernah redup, ia selalu hidup dan namanya terus menyala melampaui zamannya, begitu yang dikatakan oleh guru Ranggalawe, Ki Ageng Palangdongan kepada Banyak Wide saat berkunjung di dusun Trowulan.

Perang antara Majapahit dan Tuban memang menyisakan duka yang mendalam, namun justru kelak Majapahit akan besar dan jaya dari tangan seorang keturunan Ranggalawe. Begitu yang diramalkan pertapa sakti dari alas bicak, Empu Hanggarunti.

Menurut penafsiran Kang Samin, penulis novel Ranggalawe, kebesaran Majapahit berada di tangan Gajah Mada, maka setelah pengkajian yang mendalam Kang Samin menuliskan bahwa Gajah Mada sebenarnya adalah anak Ranggalawe dari istri ketiganya Tribuwaneswari anak dari Kertanegara. Mengapa dalam novel ini menganggap bahwa Gajah Mada adalah anak Ranggalawe? Kita tahu asal-usul Gajah mada sampai sekarang masih gelap, siapapun boleh berpendapat sesuai dengan versi dan datanya masing-masing. Menurut saya ini adalah sebuah keberanian luar biasa dari seorang penulis untuk menciptakan versi baru dari asal-usul Gajah Mada.

Sebenarnya banyak juga hal-hal baru yang diciptakan oleh Kang Samin dalam novelnya ini, beliau tidak hanya terpaku pada data dari serat-serat lama, seperti Pararaton, Kidung Ranggalawe, dan sumber-sumber babad lainnya. Kang Samin juga banyak mengeksplor dengan kreatif kisah-kisah yang berhubungan dengan smaranala yang terjadi antara Jaran Pikatan dengan Gayatri, sosok Nairanjana yang seorang kicaka, dan juga kisah-kisah lain yang mengaduk-aduk perasaan.

Jika ingin lebih jelas saya persilakan untuk membaca sendiri novel tersebut. Karena apa yang saya ulas di atas tentu banyak kekurangannya. Dan terlebih lagi membaca sendiri akan melahirkan buah pengetahuan dari pohon-pohon aksara. Pengalaman membaca antara satu orang dengan orang lain tentu berbeda, walau yang dibaca adalah novel yang sama “Ranggalawe Sang Penakluk Mongol”. Selamat membaca.


          

Selasa, 13 Maret 2018

Nasibmu Petani Di Negeri Agraris

google.com
Nasibmu Petani Di Negeri Agraris
Oleh : Joyo Juwoto



Nasi putih terhidang di meja
kita santap tiap hari
Beraneka ragam hasil bumi
dari manakah datangnya
Dari sawah dan ladang disana,
petanilah penanamnya
Panas terik tak dirasa,
hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Terima kasih bapak tani,
terima kasih ibu tani
Tugas anda sungguh mulia

Lagu di atas masih terngiang di telinga batin saya, lagu itu sering sekali ditayangkan di layar televisi. Selain lagu Pak Petani, lagu lain yang sering diputar adalah lagu tentang jasa guru, dan juga tentang nelayan. Ketiga lagu tersebut adalah kenangan manis yang tak terlupakan. Hari ini pun saya masih suka menyanyikan dan mengenang lagu-lagu legendaries itu.

Tentang petani saya sangat setuju dengan lirik lagu di atas, bahwa menjadi petani adalah tugas yang mulia. Bahkan tidak sekedar mulia, petani adalah soko guru bagi peradapan suatu negeri, termasuk negeri Nusantara yang kita cintai ini. Menjadi petani yang begitu mulia bagi sebuah peradapan ternyata tidak menjamin nasib petani menjadi mulia. Justru nasib petani yang mayoritas di negeri ini terlunta-lunta dan tidak jelas nasibnya.

Perlindungan terhadap petani nihil, saat mencari pupuk dan benih kesulitan, saat panen harga komoditas pertanian turun, masih kadang hasil panen tidak laku alias harga jual turun karena kebijakan impor yang kadang kurang bijaksana. Owh, sungguh nasibmu wahai para petani yang merana di negeri yang agraris ini.
Dari kondisi petani yang sedemikian memprihatinkan dan kurang menjanjikan maka menjadi petani bukanlah sebuah pilihan yang bergengsi. Anak-anak muda sebagai keturunan petani sangat jarang sekali yang ingin menjadikan pekerjaan bertani sebagai pilihan hidup. Sungguh ironi negeri yang gemah ripah loh jinawe ini nantinya harus kehilangan para petani yang menjadi soko guru negeri ini.

Namun memang begitulah wolak-waliking jaman, di mana pekerjaan menjadi petani sudah tidak begitu diminati, padahal menurut dawuhe mbah Yai Maimun Zubair, “Ngalamate qiyamat iku angger wong tani iku wis aras-arasen tani, mergo untunge iku sitik”. Termasuk salah satu tanda kiamat adalah jika masyarakat sudah malas untuk bertani, karena bertani labanya sedikit. Dan tanda-tanda ini sudah mulai nampak di depan mata kita.

Entah benar-entah tidak, memang kenyataannya sekarang masyarakat sudah malas untuk bertani, akrena dari hasil pertanian untungnya sedikit dan kurang menjanjikan. Selain tentu pekerjaan se bagai petani adalah pekerjaan yang cukup berat. Ah saya jadi merindukan lagu tentang jasa-jasa petani di atas. Semoga nasib petani di negeri ini ada perhatian dari pemerintah dan pihak-pihak yang punya tanggung jawab terhadap dunia pertanian Nusantara, negeri yang subur makmur tercinta ini.

Jalan Musyahadah-Nya

Jalan Musyahadah-Nya
Oleh : Joyo Juwoto

Simbol  atau rupa memang penting, tapi lebih penting lagi adalah dzat atau esensi, rupa bisa berubah-ubah sesuai dengan kondisi ruang dan waktu namun dzat adalah abadi dan satu. Rupa bisa beraneka, tapi dzat adalah tunggal berdiri sendiri, bebas dari nilai, tidak terikat dengan berbagai macam pertanyaan, apa, siapa, di mana dan mengapa.

Dzat tidak perlu ditanyakan sebagai apa, karena Dia adalah yang mencipta apa itu sendiri, dzat tidak perlu ditanya-tanya sebagai siapa, karena siapa tidak pernah ada tanpa dzat, dzat tak perlu ditanyakan di mana dan sedang mengapa, karena pertanyaan-pertanyaan pencarian itu hanya untuk sesuatu yang tidak ada atau belum ada dan baru diadakan oleh sang maha dzat itu sendiri.

          Dalam sebuah filosofi kejawen dikatakan: “Yen mung rupa sing gawe atimu tresna, banjur kepriye anggonmu tresna marang Gusti kang tanpa rupa?” Kalimat ini sangat menggodaku, dan membawa kesadaranku untuk berusaha memahami isi yang tersurat maupun yang tersirat dari ajaran adiluhung khasanah kejawen di atas.

          Setiap orang tentu pertama kali yang dikenalinya adalah rupa, lalu apakah Gusti yang tanpa rupa tidak bisa dikenali? Jika kita melakukan persaksian tentu harus ada yang disaksikan, mustahil mengatakan dan mengikrarkan persaksian jika tidak tahu siapa yang disaksikan. Lalu bagaimana nasib iman kita yang bersaksi tanpa melihat persaksian itu sendiri?

          Orang-orang yang telah melakukan persaksian dengan sebenar-benarnya maka ia tidak akan mudah terlena dengan rupa, tidak akan tergoda oleh citra, tidak mudah tertipu dengan berbagai macam nama dan sebutan. Menurut orang Jawa orang yang sedemikian ini telah menguasai ilmu sastra jendra, ilmu kawruh tentang esensi tekstual maupun konstektual yang tergelar dalam jagad cilik dan jagad gede kehidupan.

          Persaksian atau dalam bahasa arab disebut musyahadah adalah awal perkenalan untuk menuju gerbang keselamatan. Oleh karena itu seseorang yang menginginkan keselamatan maka hendaknya ia melakukan persaksian kepada Allah dan Rasul-Nya dengan cara mengucapkan syahadat yang sebenar-benarnya.

          Musyahadah kepada Allah dan Rasul-Nya memang tidak mudah, kalimat itu tidak hanya sekedar diucapkan tanpa kita tahu apa yang kita ucapkan, tidak sekedar mencintai nama, tidak sekedar terlena dengan rupa, namun bermusyahadah harus dilakukan dengan penuh mujahadah hingga kita sampai kepada Dzat-Nya. Di dalam risalah Qusyairiyah dikatakan : “Barang siapa yang menghiasi dirinya dengan mujahadah, niscaya Allah akan memperbaiki hatinya  dengan Musyahadah”.

          Untuk menggapai jalan musyahadah memerlukan mujahadah, kesungguhan untuk benar-benar ingin berma’rifat kepada-Nya. Usaha lahir batin dan bertahap, setapak demi setapak, penuh kesabaran melakukan suluk kepada-Nya. Mulai dari jalan syariat, thariqat, hakekat, hingga puncaknya jalan ma’rifat. Perjalanan musyahadah ini tidak bisa dilakukan dengan sepontan dan tergesa, melompat dari satu langkah ke langkah yang lainnya, harus berurutan dan penuh dengan kesabaran, dengan penuh mujahadah.

          Imam Al Junaid mengatakan, bahwa: “Musyahadah adalah nampaknya Al Haq di mana alam perasaan sudah mati”. Jika seseorang telah bermusyahadah maka dirinya akan fana’, alam dan semua makhluk tiada, lebur dan sirna, yang wujud hanya Sang Khaliq, Allah Swt.


          Oleh karena itu jika seseorang telah terbuka hijabnya untuk bermusyahadah maka ia akan mengetahui Dzattullah, mengetahui segala rahasia yang tersembunyi dalam tabir rahasia yang berlapis dan bermukasyafah dari segala yang ghaib. Wallahu a’lam bis showab.