Kamis, 24 Maret 2016

Apakah Kebahagiaan itu ?

Apakah Kebahagiaan itu ?

Hampir mayoritas orang jika ditanya tentang apa yang dicari dikehidupan ini tentu mereka akan menjawab bahwa yang dicari adalah kebahagiaan. Punya harta banyak biar bahagia, punya mobil mewah agar supaya bahagia, punya sawah-ladang yang luas juga karena ingin hidup bahagia. Punya istri cantik, anak-anak yang banyak dan membanggakan juga bermuara pada kebahagiaan itu sendiri. Begitulah anggapan umum masyarakat bahwa kebahagiaan terletak pada aspek keduniaan semata.

Lalu ketika seseorang telah meraih semua keinginan duniawinya itu apakah secara otomatis ia akan bahagia ?  Berapa banyak orang yang mampu dan sukses secara materi namun hatinya kering dan jauh dari kata bahagia. Dan banyak pula orang yang mungkin dianggap tidak mampu mewujudkan  cita-citanya dianggap kehidupannya tidak bahagia.

Kata bahagia sendiri bermakna relatif, menyesuaikan interpretasi dan kondisi hati seseorang. Belum tentu jika kita melihat seseorang dengan menaiki mobil mewah lantas ia sedang bahagia, begitu juga sebaliknya jika kita melihat seseorang hanya mengayuh onthel lantas ia tidak bahagia. Bahagia memang suatu perkara yang seseorang berbeda-beda di dalam merasakannya.

Bahagia bagiku sangat sederhana, tak perlu syarat dan alasan yang macam-macam untuk bahagia. Tidak perlu menunggu punya rumah mewah baru bahagia, tidak perlu menunggu punya mobil yang mahal baru bahagia, tidak perlu menunggu terkenal dan banyak fans sehingga membuat bahagia. Cukup bahagia adalah ketika kita memang menginginkan kebahagiaan itu sendiri titik. Hilangkan semua prasyarat-prasyarat untuk bahagia. Jangan mempersyaratkan faktor apapun untuk bahagia, maka engkau akan bahagia. Nikmati dan sukuri apa-apa yang dianugerahkan Tuhan maka engkau akan bahagia, tak peduli ditanganmu ada ataupun tidak ada harta benda kekayaan duniawi.

Kebahagiaan selalu ada pada setiap kondisi manusia, baik ia dalam kondisi kesulitan ataupun dalam kondisi lapang, tinggal tatanan hati kita bagaimana. Jika ada kesulitan dan itu kita anggap sebagai peluang untuk berjuang dalam hidup maka alangkah nikmatnya kesulitan demi kesulitan itu. Sedang jika dalam kondisi lapang kita juga akan mensyukurinya, dan betapa bahagianya orang-orang yang mau bersyukur atas segala nikmat Tuhan. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, dalam surat Ar Rahman disebutkan :

b$t/Éjs3è?$yJä3În/uÄdr ÏäIw#uä 'Î7sù È
13. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Kalimat Fabiayyi alaa’i rabbi kuma tukadzdziban oleh Allah diulang-ulang sebanyak tiga puluh satu kali di dalam surat Ar Rahman agar manusia ingat akan limpahan kasih sayang dan nikmat Tuhan yang tak terkira jumlahnya agar manusia senantiasa mensyukurinya.
Jika kita mau menghitung-hitung nikmat Tuhan tak ada alasan bagi kita untuk tidak bahagia. Wa in tauddu ni’matallahhi la tuhsuuha, dan jika kamu menghitung nikmat Allah niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya.

Oleh karena itu bahagiakanlah diri kita dengan sederhana, tanpa perlu repot-repot mencari persyaratan kebahagiaan yang macam-macam, ataupun dengan mendefisinikan bahagia dengan berbagai macam pengertian yang justru akan merusak kebahagiaan itu sendiri.  Karena siapapun anda, tanpa memandang dari hal apapun jua Anda layak bahagia. Selamat Berbahagia.

Jumat, 18 Maret 2016

Larangan Menyebut Nama Yatsrib

 Larangan Menyebut Nama Yatsrib

Sebelum hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah kota ini dulu dikenal dengan sebutan Yatsrib, sebuah kota yang memiliki peranan sangat penting dalam perkembangan dakwah Islam.  Disebut sebagai Yatsrib karena kota ini didirikan oleh Yatsrib bin Qonayah seorang keturunan dari Kabilah Amaliqah. Penduduk kota ini beragam terdiri dari suku-suku keturunan Yahudi dari berbagai kabilah dan juga termasuk dua suku yang menerima dan memberikan pertolongan terhadap dakwah Nabi yaitu suku Auz dan Khazraj.

Setelah Nabi hijrah ke Yatsrib kota ini lebih dikenal dengan sebutan “Madinat an-Nabi” atau kota Madinah al-Munawwarah. Nabi Muhammad SAW lebih sering menyebut kota ini dengan sebutan Thaibah, Thabah, dan Madinah. Beliau enggan menyebut kota Yatsrib sebagaimana yang diceritakan oleh Ahmad bahwasanya Rosulullah SAW bersabda : “Barangsiapa menyebut Madinah dengan nama Yatsrib hendaknya mohon ampun kepada Allah. Kota itu adalah Thabah, kota itu adalah Thabah.”
Sedang menurut as-Suyuthi menyebutkan bahwa Ibnu Abbas meriwayatkan, “Rosulullah bersabda : “Jangan menyebut Yatsrib, sebab kota itu bernama Thaibah, kota itu bernama Thaibah, kota itu bernama Thaibah.”

Dalam Al Qur’an sendiri Allah SWT menyebut kota ini dengan nama Madinah, seperti  dalam surat at-Taubah : 101, 120; al-Ahzab 60; dan surat al-Munafiqun : 8.  Begitu juga dalam ayat-ayat lain yang secara umum banyak menyebut istilah Madinah yang bermakna kota seperti pada surat al-A’raf : 123; Yusuf : 30; al-Hijr : 67; al-kahfi : 19, 82; an-Naml : 48; al-Qashash : 15, 18, 20; al-Ahzab : 60; dan surat Yasin : 20.


Mengenai keengganan Rosulullah SAW menyebut Madinah dengan nama Yatsrib menurut Ibnu Hajar hal ini berkenaan dengan makna dari kata Yatsrib itu sendiri.  Yatsrib berasal dari  kata tatsrib yang berarti “celaan” atau “cacian”, atau juga berasal dari kata tsarab yang berarti “hancur.” Kedua makna tersebut tidak memiliki makna yang positif, sehingga Rosulullah SAW lebih senang menyebut kota ini dengan nama yang baik dan beliau tidak menyukai nama-nama yang bermakna buruk dan tercela.

Kamis, 17 Maret 2016

Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah arti sebuah nama begitu kira-kira yang diucapkan oleh William Shakespeare, bagi sastrawan dan budayawan asal Inggris nama tidaklah penting karena nama tidak merubah apapun dari  dzat bendanya. “What’s is an Name ? That Which we call a rose by any other name would smell as” “Apalah arti sebuah nama ? Andaikata kamu meberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.” Mawar tetaplah mawar yang berbau wangi walau orang menyebutnya dengan nama lain. Begitulah kira-kira perkataan dari Shakespeare.

Sebenarnya tidak ada yang salah apa yang diucapkan oleh Shakespeare, karena pada hakekatnya ia sedang berbicara mengenai esensi suatu benda. Kejujuran dan kemurnian yang menjadi cara berfikirnya sehingga ia tidak memiliki prasangka yang tidak baik mengenai sebuah nama. Shakespeare sedang memandang isi bukan kulit, Shakespeare sedang mengajarkan kemurnian, keaslian, bukan hanya sekedar topeng dan lip service semata. Lebih penting lagi perkataan dari Shakespeare ini juga ada latar belakangnya, ada asbabul kalamnya, jadi tidak bisa kita tafsirkan tanpa memenuhi dan menyertakan unsur-unsur pembentuknya.

Lalu benarkah nama memang tidak penting sama sekali ?

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa nama sangatlah penting bagi sebuah penyebutan. Nama adalah tanda, nama adalah doa begitu kepercayaan yang dianut secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa. Tidak heran dalam memberikan nama kepada anaknya masyarakat Jawa sangat hati-hati, selain itu memberi nama pada anak tidak sekedarnya saja bahkan ada semacam ritual khusus untuk memberikan nama bagi anaknya. Jika nama itu cocok maka akan dipakai namun jika dalam pemberian nama kok si anak sesudah itu sering sakit-sakitan biasanya namanya akan diganti dengan yang lebih cocok, agar si anak tidak lagi sakit.

Secara ilmiah entah nyambung entah tidak namun seperti itulah kepercayaan dan fakta yang ada di tengah-tengah masyarakat. Semisal nama Koesno yang diganti menjadi Soekarno karena sakit-sakitan, semenjak diganti menjadi Soekarno Koesna tidak lagi sering mengalami sakit. Bayangkan jika dulu nama Koesno tidak diganti belum tentu ia menjadi presiden, karena presiden pertama Indonesia bukan Koesno tapi Soekarno.

Harapan dan doa kebaikan disematkan orang tua melalui sebuah nama kepada anak-anaknya agar kelak mereka menjadi manusia-manusia yang mereka idam-idamkan. Ada orang tua yang ingin anaknya kaya maka diberi nama Soeharto, ada yang ingin punya anak cantik seperti bunga-bunga maka diberi nama Kinanthi, Sekar Arum, Dahlia dan lain sebagainya. Itulah arti dan makna sebuah nama bagi masyarakat Jawa.

Dalam pandangan Islam nama pun sangatlah penting sekali. Rosulullah SAW menganjurkan umat Islam jika memberi nama pada anak maka berilah nama yang terbaik dan menghindari pemberian nama yang jelek.. Hal ini terlihat dari larangan Rosulullah SAW memberikan nama yang memiliki makna tidak baik seperti nama Harb (perang). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Rosulullah SAW bersabda : “Diantara nama kalian yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.”

Rosulullah SAW sangat-sangat memperhatikan urusan umat Islam hingga hal-hal yang kecil semisa pemberian nama bagi seorang anak. Rosulullah SAW sendiri juga banyak mengubah nama-nama yang memiliki arti tidak baik diubah menjadi yang lebih baik semisal nama Ashiyah (artinya orang yang bermaksiat) menjadi Jamilah (artinya cantik atau indah), mengubah nama Ashram (artinya tandus) menjadi Zar’ah (artinya subur), mengubah nama Hazan (artinya kesedihan) menjadi Sahal (artinya kemudahan). Dan masih banyak lagi nama-nama yang tidak baik diganti yang lebih baik.

Dalam ibadah haji zaman dahulu masyarakat Indonesia juga ada tradisi mengubah nama dari sebelum berangkat haji dan sesudah melaksanakan ibadah haji. Semisal nama Muhammad Darwis menjadi Haji Ahmad Dahlan, Yatmin menjadi Haji Yusuf, Alex menjadi Ali dan lain sebagainya. Namun era  sekarang tradisi mengubah nama sesudah melaksanakan ibadah haji sudah tidak marak lagi mengingat nama-nama sekarang sudah bagus-bagus dan indah sehingga tidak perlu diubah.

Demikianlah pentingnya sebuah nama dalam pandangan dan kepercayaan masyarakat Indonesia khususnya Jawa dan menurut ajaran agama Islam. Kesemuanya itu adalah usaha dan doa serta niat tabarrukan seseorang terhadap kebaikan, karena siapa yang berniat baik tentu Allah SWT akan memperkenankan niat baiknya. Sekian. Joyojuwoto

Bangilan, 17 Maret 2016