Minggu, 30 Juni 2013

Pesanggrahan Gembul Desa Jadi Semanding

Perbukitan kapur utara atau gugusan pegunungan kendeng membentang luas di wilayah Tuban bagian selatan, hal ini menjadi berkah sekaligus musibah bagi masyarakatnya. Berkah karena bebatuan karst ini menjadi lumbung uang bagi masyarakat sekitar dan musibah karena efek yang ditimbulkan oleh penambangan tersebut. Sumber-sumber air akan menipis dan kerusakan alam baik flora maupun fauna tentu tak terelakkan lagi.

Sebagaimana yang kemarin saya lihat ketika jalan-jalan ke pesanggrahan Gembul, sepanjang perjalanan di kiri kanan jalan batu-batuan putih itu digali dan digergaji untuk memenuhi tuntutan anak istri. Yah !.. saya kira tidak bijak jika kerusakan alam ini hanya sekedar dibebankan kepada para pekerja itu, mereka punya kuwajiban untuk hidup lebih baik seperti layaknya manusia lainnya tentunya. Ke Pesanggrahan Gembul yang konon menjadi tempat bersejarah bagi awal perkembangan Islam, karena di tempat ini kabarnya menjadi markas penting para Wali Songo untuk berkumpul membahas masalah dakwah di tlatah Jawa. Namun sayang saat aku ziarah kesana mbah juru kuncinya sedang tidak ada. Praktis saya tidak bisa mendengar langsung cerita dari sang juru kunci mengenai hal itu. Namun kekudusan pesanggrahan tersebut mampu bercerita ke dalam batinku akan kebenaran kisah tersebut. Walau mungkin dalam kaca mata disiplin ilmu sejarah tak bisa bercerita banyak, karena memang tidak ditemukan bukti-bukti otentik tentang kebenaran kisah tersebut.

Di lembah Gembul dihuni sekawanan kera Jawa yang populasinya cukup banyak. Ada ratusan ekor menurut pengamatan saya. Sayang kera-kera tersebut kurang mendapat asupan makanan. Mereka hanya makan daun-daunan dan akar pohon yang tumbuh di lembah yang mulai gersang. Selain itu menurut warga setempat pada musim panen sekawanan kera Gembul akan  mencuri hasil ladang penduduk. Tentu hal itu tidak dibiarkan, oleh penduduk kera-kera lapar itu akan diusir agar tidak mendekati ladang mereka. Yah begitulah nasib kawanan primata yang memang tak punya jaminan hidup dan masa depan dari pemerintahnya. hehe..apalagi pemerintahan kita bangsa manusia ini tentu tak sudi membantu mereka.

Aliran sungai yang membelah lembah kian hari kian menipis, padahal sungai itu menjadi tumpuan kebutuhan masyarakat disekitarnya. Mulai dari mencuci, mandi, hingga digunakan untuk minum warga setempat. Jika benar tempat itu dulu sebagai pusat pertemuan dewan Wali Songo tentu para wali menjadikan tempat itu menjadi semisal taman surga, dibawahnya aliran sungai jernih mengalir, pohon-pohonan rindang menyejukkan pandangan, dan digunakan sebagai tempat taqarrub ilallah, namun sekarang keadaannya lain, walau disitu berdiri sebuah musholla namun saya melihatnya tak lebih dari sekedar bangunan yang dibiarkan tanpa perawatan yang memadai, jika ada seorang juru kunci yang menjaga situs tersebut tak lebih dari panggilan nurani saja tanpa ada campur tangan dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kelestarian situs bersejarah. Dan yang tentu menjadi perhatian serius adalah adanya praktek-praktek klenik yang sering dilakukan oleh sebagian masyarakat guna meluluskan apa yang menjadi keinginan mereka dengan cara mendatangi situs tersebut.

Pesanggrahan Gembul
Semoga ke depan pemerintah daerah Kab. Tuban dan masyarakat semua tentunya, punya kepedulian terhadap sejarah, lingkungan, dan kelestarian alam agar anak cucu kita kelak tidak buta sejarah serta mencintai alam sekitarnya sebagaimana mereka mencintai ibu bapaknya. Karena pada hakekatnya alam ini yang meliputi bumi dan langit secara bersama mengasuh kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu tepat sekali pitutur sesepuh kita untuk ikut "Memayu Hayuning Bawana Ambrasta Dur Angkara". Salam. JWT

Tugu Batu Yang Konon Digunakan Sebagai Tiang pengikat hewan tunggangan wali Songo



















Minggu, 16 Juni 2013

Etnografi Suku Bali

Kebudayaan Bali

a.       Sistem Religi dan Kepercayaan
Sebagian besar masyarakat Bali beragama Hindu-Bali, tetapi ada segolongan kecil masyarakat Bali yang menganut Islam, Kristen, dan Katholik. Penganut Islam terdapat di Karangasem, Klungkung, dan Denpasar, sedangkan penganut agama Kristen dan Katholik terutama terdapat di Denpasar, Jembrana, dan Singaraja.

Orang Hindu percaya adanya Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti yang berwujud :
1.       Wujud Brahmana yang artinya menciptakan
2.       Wujud Wisnu yang artinya melindungi serta memelihara
3.       Wujud Siwa yang artinya melebur segala yang ada

Selain itu mereka juga mengenal konsep roh yang meliputi :
-          Atman (roh abadi)
-          Karmapala (Buah dari sebuah perbuatan)
-          Punarbawa (kelahiran kembali dari jiwa)
-          Moksa (kebebasan jiwa dari lingkaran kembali)
Semua konsep tersebut termaktub dalam kitab Weda.
b.      Sistem Kekerabatan
Orang Bali dianggap sebagai warga masyarakat sepenuhnya jika sudah menikah. Perkawinan adat Bali bersifat eksogami, sehingga orang Bali akan berusaha untuk kawin dengan orang-orang yang dianggap sederajat dalam klen dan kasta (tunggal kawitan, tunggal dadia, tunggal sanggah).
Dahulu, jika terjadi perkawinan campuran, wanita akan dinyatakan keluar dari dadia. Secara fisik, suami istri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama ke tempat yang jauh. Sekarang hukum itu tidak berlaku lagi.
c.       Sistem Politik
Kelompok kesatuan adat di Bali disebut Banjar. Pusat banjar adalah bale banjar. Banjar dikepalai oleh seorang kepala yang disebut klian banjar (kliang). Tugas klian banjar menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan.
Selain Banjar kesatuan adat masyarakat Bali meliputi :
1.       Subak
Subak adalah badan hukum adat yang otonom yang mengurusi masalah irigrasi dan sekaligus sebagai badan perencana aktivitas pertanian dalam suatu kelompok keagamaan. Subak dipimpin oleh seorang yang disebut sebagai sedahan agung.
2.       Seka
Seka adalah organisasi yang bergerak dalam lapangan hidup khusus yang meliputi :
a.       Seka yang bersifat permanen misalnya :
1.       Seka baru (perkumpulan tari baris)
2.       Seka truna (perkumpulan para pemuda)
3.       Seka daha (perkumpulan gadis-gadis)
b.      Seka yang bersifat sementara atau seka yang didirikan berdasarkan kebutuhan tertentu seperti :
1.       Seka memula (perkumpulan menanam)
2.       Seka manyi (perkumpulan menuai)
3.       Seka gong (perkumpulan gamelan)
d.      Sistem Kesenian
1.       Tari Daerah
Diantara tarian dari Bali adalah tari Legong dan tari Kecak. Tari legong menceritakan kisah cinta Raja Lasem, sedang tari kecak menceritakan kisah bala tentara monyet Hanuman dan Sugriwa dalam epos Ramayana.
2.       Rumah Adat
Rumah adat Bali meliputi Gapura Bentar (pintu gerbang), balai begong (tempat istirahat raja dan keluarga), balai wanikan (tempat adu ayam dan tempat pagelaran kesenian), Kori Agung sebagai pintu masuk pada waktu upacara besar, dan kori Babetelan yang merupakan pintu untuk keperluan keluarga.
3.       Pakaian Adat
Pakaian pria berupa ikat kepala (destar) kain songket saput, sebilah keris terselip pada pinggang bagian belakang.
Pakaian wanita memakai dua helai kain songket, stagen songket atau meprada, dan selendang/ senteng. Ia juga memakai hiasan bunga emas dan bunga kamboja di atas kepala. Perhiasan yang dipakai adalah subang, kalung, dan gelang.



Rabu, 12 Juni 2013

Pak Menteri Silaturrahmi ke Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban

Pak Menteri Silaturrahmi ke Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban

1 Sya’ban 1434/ 10 Juni 2013 adalah hari yang bersejarah bagi masyarakat Bangilan paling tidak bagi Ponpes ASSALAM Bangilan.  Menteri Sosial  RI (Mensos) Bapak DR. Salim Segaf Al Jufri, MA dalam rangkaian kunjungannya ke Kabupaten Tuban salah satu yang menjadi agenda protokoler adalah berkunjung ke Pesantren ASSALAM Bangilan untuk menjadi pembicara  kegiatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dikemas dalam “Dialog bersama para tokoh masyarakat dan alim ulama guna menggalang solidaritas sosial untuk menyelesaikan masalah bersama”.

Kedatangan mensos ini menjadi perhatian istimewa masyarakat karena inilah pertama kalinya dalam sejarah Bangilan kedatangan pejabat negara sekelas menteri. Pesantren ASSALAM yang menjadi tuan rumah mempersiapkan penyambutan menteri dengan antusias. Group marching band mengawali penyambutan mensos di jalan raya depan pasar Bangilan kemudian disambung dengan pagar betis santri dan diiringi dengan musik terbangan khas pesantren.

Dalam sambutannya sebagai lembaga negara yang mengurusi bidang sosial beliau mengajak semua elemen bangsa ikut aktif menjadi solusi bagi permasalahan masyarakat. Karena jelas tidak mungkin semua problem sosial masyarakat dapat diselesaikan sendiri oleh kemensos.  Menjadi catatan penting dan untuk kita ketahui bersama bahwa kedatangan mensos ke bumi  Wali menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat yang tidak mampu, selain beliau menyantuni Mbah Supatmi nenek sebatang kara di kelurahan Bukit Karang Kec. Semanding dan juga memberikan beasiswa untuk Ahmad Syafi’I pelajar SMK 1 Tuban peraih Nem tertinggi se Jawa Timur, kedatangan menteri sosial juga dalam rangka menyerahkan bantuan berupa :
1.      Bantuan rehabilitasi rumah tdak layak huni (RS-RTLH) sebanyak 100 unit untuk kabupaten Tuban dengan total bantuan 1 milyar rupiah;
2.      Bantuan untuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebanyak 24 kelompok se Kabupaten Tuban dengan total bantuan sebesar 480 juta rupiah
3.      Bantuan untuk anak didik di Pesantren ASSALAM Bangilan dan Pesantren Ash Shomadiyah dengan bantuan masing-masing 50 Juta rupiah.

Total bantuan yang diberikan oleh Mensos sekitar 1.580.000.000,- (Satu milyar lima ratus delapan puluh juta rupiah).

Demikian sedikit informasi tentang kunjungan Mensos RI ke Kabupaten Tuban.  JWT