Sabtu, 04 Juli 2020

Menempuh Jalan Sunyi

Menempuh Jalan Sunyi* 
Oleh: Joyo Juwoto*


Berpuisi adalah salah satu cara  menempuh jalan sunyi. Tentu tidak semua orang mampu melakukannya. Saya mengatakan, mereka ini adalah orang pilihan, orang yang mendapatkan anugerah Tuhan.
Hanya orang-orang yang tangguh di nalar dan tabah secara nurani yang sanggup memikul beban berat dari sebuah kesunyian ini.
Ketika saya meniti kata demi kata dalam puisi Cak Sarib, seakan saja sedang diperjalankan menuju tangga ma'rifatullah, menuju altar suci Ketuhanan.
Sejatinya puisi memang bukan sekedar deretan kata tanpa makna, bahkan disetiap susunan huruf-huruf dalam bait puisi adalah bagian dari kontemplasi sang penulis.
Kumpulan puisi yang ditulis Cak Sarib cukup indah dan puitik, dengan menawarkan makna dan tafsir yang beragam. Puisi yang baik menurut saya memang puisi yang kaya akan makna dan metafor. Bisa jadi puisi itu pendek, tapi mengandung makna mendalam. Perhatikan puisi pendek yang ditulis oleh Cak Sarib yang berjudul "Diam" sebagai berikut:

“Diam”

"Sunyi nisbi derap desir hati melewatkan angin kebahagiaan panjatkan doa episode kebajikan dan keabadian."

Simak dan lihatlah, betapa singkatnya puisi ini. Tapi di balik itu ada makna yang nyamudra. Diam adalah satu dari sekian proses pengendapan gerak lahir dan gerak batin.
Pada posisi diam bukan berarti vakum dari sebuah nilai dan ide. Pada posisi diam justru saat yang sama kita sedang mengaktifkan dan menggerakkan energi tanpa batas, “Kosong itu berisi, berisi itu kosong.”
Secara filosofis sebenarnya saya tidak mampu menggapai makna dari ungkapan “Kosong itu berisi, berisi itu kosong”, namun sebagai gambaran yang saya pahami secara sederhananya saya kutipkan mutiara Hikamnya Ibn Athaillah as-Sakandari sebagai berikut:

مانفعَ القَلبَ شَيءٌ مثلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بها ميدان فِكرةٍ

Artinya: "Tiada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati kecuali uzlah,karena dengannya alam fikir akan menjadi lapang."
Menurut saya, puisi yang berjudul "Diam" ini adalah bentuk uzlah fikiran dan hati dari Cak Sarib. Dan puisi ini menurut saya menjadi ruh dari kumpulan puisi beliau yang berjudul "Bunga Kasih Menara Ma'rifat Rindu Jalan Hu."
Dalam diam akan tumbuh bunga ma'rifat, dan bunga itu kemudian mewangi menebar kebaikan di semesta raya. Bunga adalah simbol dari nilai-nilai kebaikan, sedang aroma wanginya adalah keabadian sebagai bekal menuju jalan kerinduan kepada jalan Hu.
Hu ini berasal dari kata Huwa, diwaqofkan menjadi Hu, menurut Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Mafatihul Ghaib Hu adalah isim dhomir yang mewakili asma'ul a'dzom Allah Swt. Jadi kerinduan kepada jalan Hu adalah kerinduan untuk bersatu dengan-Nya.
Saya mengamini bahwa puisi adalah salah satu jalan untuk suluk kepada Tuhan. Sebagaimana Syekh Jalaluddin Rumi dengan magnum opusnya "Al Matsnawi"  yang menjadi secawan anggur di altar suci ketuhanan.
Saya rasa puisi-puisi Cak Sarib bisa menjadi "Bunga Kasih Menara Ma'rifat Rindu Jalan Hu. Sebagai jalan bersuluk untuk meraih ma'rifatullah dengan jalan bekerja dan berkarya yang didasarkan pada niat Lillahi Ta'ala, sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Titik Triwulan Tutik dalam prolognya di buku ini juga.
Membaca puisi Cak Sarib seperti berenang di sebuah telaga keteduhan. Kadang juga seperti berdiri mematung di pinggir pantai berkarang penuh gelombang. Saya tidak hendak memonopoli tafsir atas puisi beliau, silakan arungi dan jelajahi di setiap diksinya dan pembaca akan merasakan pengalaman batin dan sensasinya sendiri-sendiri.
Akhir kata, selamat untuk Cak Sarib yang telah memahatkan ujung penanya menjadi jariyah yang tak berkesudahan. Mengalir bersama gremicik sungai kata dan telaga makna dalam untaian bait-bait puisinya. Semoga.

Bangilan, 21 Juni 2020




Menempuh Jalan Sunyi* Sebuah Epilog pada Antologi Puisi "Bunga Kasih Menara Ma'rifat Rindu Jalan Hu"

[* Joyo Juwoto adalah penulis ekspresif, santri, guru, penyair, pekerja kreatif, penggerak “Komunitas Kali Kening” Bangilan Tuban]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar