Sabtu, 30 Maret 2013

Kebudayaan Jawa


Kebudayaan Jawa

Suku Jawa mendiami Pulau Jawa bagian tengah dan timur. Daerah yang merupakan pusat kebudayaan Jawa adalah dua daerah bekas kerajaan Mataram yaitu Yogyakarta dan Surakarta yang terpecah pada tahun 1775.

a.       Sistem Religi dan Kepercayaan
Mayoritas masyarakat Jawa adalah pemeluk ajaran Islam, disamping itu ada juga pemeluk Nasrani, Hindu dan Budha. Pada suku Jawa yang beragama Islam tidak semua orang melakukan ibadah sesuai dengan kriteria Islam. Secara antropologis menurut Clifford Geertz pemeluk agama Islam terbagi menjadi dua kelompok yaitu Islam Putihan (golongan santri) dan Islam Abangan ( Kejawen).
Orang Jawa mengaitkan upacara-upacara keagamaan dengan “Selametan”, antara lain :
·         Selametan dalam rangka lingkaran hidup seseorang seperti :
1.       Tujuh bulan kehamilan
2.       Kelahiran
3.       Potong rambut yang pertama
4.       Upacara turun tanah
5.       Upacara nindik bayi perempuan
6.       Upacara perkawinan
7.       Upacara kematian
·           Selamatan yang bertalian dengan kehidupan desa seperti :
1.       Bersih desa
2.       Penggarapan tanah pertanian
3.       Masa tanam dan panen
·           Selametan untuk memperingati hari-hari serta bulan-bulan besar Islam
·           Selametan pada saat yang tidak menentu dan berkenaan dengan kejadian-kejadian tertentu seperti :
1.       Melakukan perjalanan jauh
2.       Menempati rumah baru
3.       Menolak bahaya (ngruwat)
4.       Janji ketika sembuh dari sakit (kaul)

b.      Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan masyarakat Jawa didasarkan pada prinsip keturunan bilateral atau parental. Pada masyarakat Jawa, dilarang melakukan perkawinan dengan misan (saudara sepupu).
Pada umumnya masyarakat Jawa tidak mempersoalkan tempat tinggal menetap setelah pernikahan. Ada yang tinggal disekitar tempat mempelai perempuan (uxorilokal), dikediaman mempelai laki-laki (utrolokal). Namun umumnya mereka merasa bangga apabila menempati tempat tinggal baru (neolokal).

c.       Sistem Kesenian
Berdasarkan lokasi, sistem kesenian masyarakat Jawa  mempunyai dua tipe, yaitu tipe Jawa Tengah yang meliputi Banyumas sampai Kediri dan Jawa Timur daerahnya meliputi Jawa bagian timur sampai Banyuwangi dan Madura.
1.       Kesenian Tipe Jawa Tengah
a.       Seni Tari, meliputi tari Srimpi, tari bambang cakil dll.
b.      Seni Tembang, misalnya suwe ora jamu, Gek kepiye, Pitik tukung, dll.
c.       Seni Pewayangan, bentuknya wayang kulit, wayang orang, dan wayang purwa
d.      Seni Teater Tradisional, adalah kethoprak
2.       Kesenian Tipe Jawa timur
a.       Seni Tari dan Teater, diantaranya tari Ngremo, tari Tayuban,  tari Kuda lumping, Reog Ponorogo dan tari Langger.
b.      Seni Pewayangan, bentuknya adalah wayang beber
c.       Seni Suara, misalnya Tanduk Majeng dari Madura, Ngindung dari Surabaya.
d.      Seni Teater Tradisional, berupa ludruk dan Kentrung.
3.       Rumah Adat
Rumah model Jawa Tengah : Limasan dan Joglo. Joglo umumnya terdiri dari tiga ruangan yaitu pendopo, pringgitan, dan dalem.
Rumah model Jawa timur : Rumah model Madura (Model dara gepak dan empyakan )

d.      Sistem Kemasyarakatan dan politik
Dalam stratifikasi masyarakat Jawa terbagi menjadi dua golongan yaitu Priyayi/ bendara dan masyarakat biasa (wong cilik). Priyayi merupakan lapisan atas, sedang wong cilik merupakan lapisan bawah.
Secara administratif, suatu desa di Jawa disebut kelurahan yang dikepalai oleh seorang lurah. Sebutan lurah untuk tiap daerah berbeda-beda misalnya Petinggi, Bekel, Gelondong dll. Dalam menjalankan tugasnya lurang dibantu oleh pamong desa yang meliputi :
1.       Carik, bertugas sebagai  pembantu umum dan penulis desa
2.       Jagatirta, atau ulu-ulu bertugas mengatur air ke sawah-sawah penduduk
3.   Jagabaya, bertugas menjaga keamanan desa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar